
Gilang terdiam sejenak,"Dulu aku memang mengecewakannya, tapi di kali ini aku akan lebih berusaha membahagiakannya..."
"Mereka sudah menikah, bahkan tidur bersama, mungkin kakakku juga akan mengandung," Nindy mulai bangkit, memang tidak ingin membicarakan banyak hal dengan pemuda di hadapannya."Kakakku tidak mungkin meninggalkan Kenzo. Begitu juga Kenzo, tidak mungkin..." kata-kata Nindy terhenti, Gilang menyelanya.
"Kenzo adalah kakakku, dia pernah berjanji akan memberikan apapun yang aku inginkan..." ucapnya, membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
"Menyayangi adiknya? Memberikan apapun yang dia inginkan?" suara gadis itu bergetar, air matanya mengalir tidak terkendali, mengingat Glen yang rela mengorbankan masa depannya untuk menjaga kehormatannya."Apa Kenzo mengetahui perasaanmu pada kakakku?" tanyanya.
"Dia belum mengetahuinya, dan akan segera tau..." jawabnya, mengepalkan tangannya.
"Apapun yang akan kamu lakukan, jika mengganggu hubungan mereka, aku tidak akan pernah tinggal diam...." Nindy menghapus air matanya, berjalan meninggalkan ruangan. Membanting pintu dengan kencang.
Leon kembali menghela napas,"Apa Amel masih menyukaimu? Apa dia ingin memberimu kesempatan?" tanyanya menatap kearah putranya.
Gilang tersenyum, kembali memeriksa berkas di hadapannya,"Belum, dia terikat pernikahan dengan kakak hanya karena rasa terimakasih. Aku sedang mencari kesempatan berbicara berdua dengan Kenzo..."
"Rasa terimakasih? Ibumu mencintai ayah, tetap setia hingga kematiannya, berawal dari rasa terimakasih. Jika mereka saling menyukai, lepaskan mereka bersama, belajarlah lebih dewasa..." Leon kembali mengalihkan perhatiannya pada pekerjaannya yang tidak kunjung habis.
"Aku mengenal sifat Amel dan Kenzo. Mereka dua pribadi yang bertolak belakang. Hanya rasa terimakasih yang mungkin membuat Amel berubah, mungkin Amel menipu dirinya sendiri, dapat belajar menyukai Kenzo yang dingin," jawab Gilang menatap ke arah ayahnya.
Kepribadian yang bertolak belakang? Kenzo yang penuh dendam, tidak mudah ditindas dalam pemikiran adiknya. Disukai oleh Amel yang tidak berani mengambil resiko dalam hidupnya? Gadis baik hati yang mudah ditindas oleh orang?
Tidak mungkin, itulah yang ada di benak Gilang. Dua orang yang bagaikan hidup di dunia yang berbeda. Amel, orang biasa yang baik hati dengan Kenzo yang keji, pria kaya memiliki sejuta pesona namun tinggal seorang diri dalam dunia yang kelam. Mereka tidak memiliki kecocokan sama sekali.
"Amel tidak mungkin memiliki pendapat serupa dengan ibu. Karena ibu dan Ayah sama-sama memiliki pribadi yang hangat..." lanjutnya.
"Semoga saja ..." Leon tidak menjawab lagi, enggan berdebat dengan putranya.
***
Nindy melangkah dengan cepat menelusuri lorong. Dirinya cukup rapuh saat ini, bagaimana jika yang dikatakan Gilang benar? Kenzo akan meninggalkan Amel. Pengorbanan seorang kakak, semua masih terlintas di benaknya. Kala mereka yang tidak memiliki uang sedikit pun.
Kala dirinya merengek ingin kue ulang tahun pada kedua kakaknya. Amel dan Glen bergantian menjaganya, salah satu dari mereka akan menghilang dari rumah dari siang hingga petang.
Ada saatnya Nindy tahu, sang kakak yang masih memakai seragam sekolah mengorek-ngorek tempat sampah. Mencari botol dan kardus bekas bergantian, di sela waktu menjaganya. Benar, itu semua untuk membelikannya kue murah. Kue yang tidak pernah mereka rasakan bahkan pada ulang tahun mereka sekalipun.
Air matanya mengalir, Amel dan Glen hanya saudara tirinya. Memiliki adik yang susah payah mereka manjakan. Punggung lebar Glen yang kelelahan mengangkat tabung gas, mengumpulkan uang agar Nindy dapat sekolah.
Amel yang harus tinggal di kota lain, tidak ingin membebani ibunya dan Glen. Terkadang bahkan meminjam uang, mengirimkannya kala salah satu dari mereka sakit. Padahal hidup Amel sendiri termasuk kekurangan, bekerja sembari berusaha melanjutkan pendidikannya.
"Kenzo tidak mungkin akan mencampakkan kakakku kan? Kakak sudah mencintainya, apa yang akan terjadi pada kakakku jika dia dicampakkan..." gumamnya berjalan sendiri, hingga tubuhnya menabrak seseorang.
Brenda berdiri di hadapannya,"Kenapa menangis? Apa dia melecehkan mu?" tanyanya.
Nindy menggeleng, berusaha tersenyum,"Aku bosan, bagaimana jika kita kencan..."
"Kencan?" Brenda mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
***
Bukan kencan lebih tepatnya duduk berdua di bangku taman sepi, mengingat waktu yang hampir menunjukkan tengah malam.
Nindy tertunduk sembari terisak meminum botol jus kemasan di tangannya, bagaikan enggan untuk bicara. Hingga satu kalimat, keluar dari bibirnya...
"Aku ingin minta pendapatmu..." kata-kata Nindy terhenti sejenak,"Jika orang yang kamu cintai, juga dicintai oleh saudaramu. Apa kamu akan melepaskannya?"
"Iya, karena aku tau, aku tidak akan bisa membahagiakannya..." jawabnya.
Nindy bertanya pada orang yang salah. Brenda? orang yang tidak pernah kehilangan logikanya karena cinta. Tidak pernah merasa memiliki hingga takut kehilangan, tidak pernah merasa putus asa akan hidupnya kala kehilangan seseorang yang berarti baginya.
"Begini, setiap pasangan saling memerlukan satu sama lain, bisa menerima harus dapat memberi. Jika merasa orang lain lebih mampu memberinya kebahagiaan, maka aku akan mundur..." Brenda kembali menjawab.
"Begitu ya? Aku tidak pernah menjalani hubungan, sesuatu yang disebut menyukai terlalu dalam. Mungkin benar-benar hanya orang gila yang bodoh akan mati karena perasaan sukanya..." Nindy menghela napas kasar, senyuman di wajahnya benar-benar tidak terlihat.
Apa nilai cinta begitu murah? Dengan mudah dapat meninggalkan dan melupakan... gumamnya yang masih awam.
"Mungkin, hanya orang bodoh yang mengorbankan dirinya demi cinta," Brenda membenarkan.
Nindy menghelat napas kasar, tidak dapat mengendalikan hati seseorang, itulah yang ada dalam fikirannya. Semua keputusan ada di tangan Amel dan Kenzo, dirinya hanya dapat melindungi hubungan mereka saja.
Hingga perlahan Nindy mulai memikirkan tentang hidupnya sendiri. Gadis itu terdiam sejenak kemudian tersenyum,"Kak Brandon, aku menyukaimu semenjak pertama kali bertemu denganmu. Tapi aku menyadari, perasaan seseorang tidak dapat dipaksakan. Namun dapat berubah dengan mudah,"
Dada Brenda terasa sesak entah kenapa, mengetahui arah pembicaraan Nindy. Gadis yang baru dikenalnya beberapa minggu. Makhluk pengganggu yang selalu membuatnya kehabisan kata-kata.
"Karena itu, aku memutuskan untuk belajar menyukai orang lain. Mencari orang yang mungkin akan aku sukai, agar tidak menggangu hidup kak Brandon lagi..." lanjutnya menitikkan air mata, sejenak menghapusnya kemudian tersenyum.
Kata-kata yang seharusnya membuat Brenda senang. Tapi sekarang tidak, tangannya mengepal menahan rasa sakit yang aneh baginya. Bagaikan terdapat lubang menganga di hatinya.
"Kita ulangi dari sekarang. Perkenalkan namaku Nindy, partner bisnismu. Kak Brenda, aku harap kita dapat bekerja sama dengan baik ..." gadis kecil itu mengulurkan tangannya, ingin berjabat tangan, berkenalan dari awal. Bagaikan akan merubah semua prilakunya mulai saat ini. Tidak memperlakukan Brenda layaknya pria yang disukainya.
Kak Brenda? Untuk pertama kalinya Nindy memanggilnya dengan nama Brenda. Dirinya tertegun, bukankah ini bagus? Bukannya ini yang diinginkannya?
Tangan Brenda gemetar, membalas jabatan tangannya,"Brenda... kita akan bekerja sama. Agar butik dapat berkembang lebih baik,"
"Iya..."
***
Bug...
Brenda menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Foto yang diambil beberapa hari lalu masih terpajang di sana. Seorang pria yang memakai tuxedo putih, dengan mempelai wanitanya yang bagaikan hampir berciuman.
Hatinya terasa sakit entah kenapa, menginginkan hal yang ada di foto itu menjadi kenyataan? Aneh bukan? Namun, kata-kata Nindy hari ini bagaikan menutup semua harapannya. Air matanya mengalir, apa Brenda yang menangis atau Brandon yang menyadari ketidak mampuannya.
***
Tidak menyadari seorang gadis di tempat lain sedang berkirim pesan pada teman prianya ketika SMU.
'Jadi kamu membuka butik?' isi pesan yang baru dibacanya.
'Iya...' Nindy tersenyum sendiri mengirim balasan.
'Bagus, aku akan datang bersama ibuku, memperkenalkan calon menantu idamannya,' pesan kembali masuk ke handphonenya.
'Borong semua isi butik nanti aku pertimbangkan menjadi menantunya...' Nindy masih setia tersenyum sembari membalas.
'Dasar, orang judes tidak akan berubah...' balasan kembali didapatkannya.
Nindy tertawa kencang, tersenyum menghela napas, mengingat wajah Brandon tanpa henti."Jika sudah kehilangan, akan merasa memiliki," senyuman penuh rencana, usaha terakhirnya, jika tidak berhasil juga, mungkin Brenda menang tidak memiliki perasaan padanya.
Gadis itu masih berusaha menaklukkan jelly nata de coco. Agar menjadi pisang berkualitas. Pisang yang akan membuatnya menjerit di tempat tidur tanpa henti.
Menjerit di tempat tidur? Maksudnya menjerit karena merindukannya. Menatap foto wajah rupawannya yang mengenakan tuxedo putih.
Bersambung