
"Em..." hanya itulah tanggapan sang pemuda tidak sopan. Pandangan matanya hanya tertuju pada cup cake milik Amel yang tidak kunjung habis.
Em? Orang tidak waras ini, tidak bisakah melihat pemandangan indah di hadapannya. Sabar Frans... sabar... itu pertanda Imposter gila ini pria setia. Masih memiliki sifat terpuji di balik kekejiannya... kesalnya berusaha untuk tetap tersenyum. Bagaimana caranya memanas-manasi Amel sementara Kenzo sendiri acuh.
"Kenzo bisa kamu menemani putriku berdansa, dia yang berulang tahun hari ini. Sayangnya tidak memiliki pasangan..." ucapnya pada Kenzo. Namun pemuda itu terlihat acuh, bagaikan tidak mendengar sama sekali.
Aika mengenyitkan keningnya, senyuman menyungging di bibirnya,"Namaku Aika, maaf..." gadis itu sedikit membungkuk berbisik pada Kenzo. Entah apa yang dikatakannya, namun situasi yang semula canggung, berubah.
Pandangan pemuda beralih, menatap ke arah Aika penuh senyuman,"Namaku Kenzo, mau menari bersamaku?" Kenzo bahkan berlutut, menadahkan, mengulurkan tangannya.
Aika tersenyum menyambutnya, berjalan berdua saling menjabat tangan, menjadikan pasangan yang paling diperhatikan. Tempo music klasik yang semakin cepat. Gerakan kaki dan tangan senada, tarian Waltz, yang mendekatkan tubuh mereka.
Gerakan piawai yang benar-benar dikuasai. Saling merangkul, mendorong, berputar dengan anggun. Pasangan yang benar-benar menjadi pusat perhatian.
Frans mengenyitkan keningnya melirik ke arah Amel. Sembari sengaja berucap dengan keras pada Hiasi,"Kenzo dan Aika terlihat cocok,"
"Iya, aku berharap mereka akan dapat mengenal lebih dekat lagi..." Hiasi tersenyum, tidak henti-hentinya menatap ke arah pasangan yang tengah menari dengan anggun.
Ayo cemburu lah.... gumam Frans dalam hatinya.
Tang...
Benar saja cup cake cantik yang dimakannya secara hati-hati ditusuk olehnya. Wajahnya terlihat kesal, aura dingin yang benar-benar menusuk ada disekitarnya. Cup cake dimakannya dalam sekali suapan.
Bagus!! Jambak dia!! Cakar dia... Frans yang sudah menanti-nantikan pertarungan Amel dan Aika terlihat bersemangat melihat Amel bangkit.
Dalam bayangannya, Amel yang emosi, akan berkelahi dengan Aika, hingga pada akhirnya secara gamblang mengakui perasaannya pada Kenzo.
Namun, apakah benar itu yang terjadi? Keringat dingin mengalir di pelipis Frans. Jemari tangannya gemetaran, terperangkap dalam permainannya sendiri.
"Mau menari denganku?" Amel berlutut, mirip seperti yang Kenzo lakukan sebelumnya. Mengulurkan tangannya di hadapan Frans.
Mampus!! Aku akan dipenggal... kesalnya dalam hati, ingin rasanya menolak. Namun, jika menolak akan mempermalukan Amel. Jika menerima, maka pisau untuk penjagalan tengah diasah.
"A...aku tidak bisa menari," alasannya.
Amel menunduk terdiam, terlihat kecewa. Mungkin karena tidak dapat mendekati keberadaan Kenzo. Tidak terima pemuda itu dekat dengan wanita lain.
Perasaan aneh yang berbeda, dirinya tidak dapat mengendalikan diri. Perasaan yang lebih dalam dan mengakar, bagaikan melumpuhkan akal sehatnya.
Mungkin perbedaan antara tanaman tidak terpelihara, tidak disiram, layu mati perlahan, seperti dahulu pada Gilang yang lebih memilih Marina atau Keyla.
Namun, entah sengaja atau tidak, satu tahun ini Kenzo membuat dirinya mengakar dalam hati Amel. Bertengkar, menggoda, dan tertawa bersamanya. Perasaan yang masih takut untuk disambut Amel, namun tidak ingin kehilangannya.
Frans menghela napas kasar, tidak tega rasanya menatap gadis itu tertunduk. Dengan tangan gemetar menyambut jemari Amel.
Matanya melirik kearah Kenzo. Pemuda yang masih konsentrasi pada gerakannya, tidak menyadari segalanya.
Aku akan mati...aku akan mati... komat-kamit Frans ketakutan berdoa dirinya akan baik-baik saja.
Pandai menari? Tidak, gerakan Amel benar-benar kaku. Menginjak kaki Frans beberapa kali.
"Maaf..."
"Maaf..."
"Maaf..."
Entah berapa kali mantra itu diucapkan Amel, Frans hanya dapat menahan sakit pada kakinya. Hingga, rasa dingin menderunya, matanya menelisik dan benar saja insting bertahan hidupnya terlalu tajam.
Kenzo masih bergerak dalam tariannya, menatap Frans yang menari bersama Amel seakan dapat menelan pria itu bulat-bulat.
"Aku akan dibunuh..." ucap Frans dengan suara kecil.
Sementara, Amel yang tidak konsentrasi, memperhatikan Kenzo dari jauh menginjak gaunnya sendiri. Terjatuh di atas lantai. Beberapa orang melirik dan mencibirnya, sementara Frans hendak membatunya bangkit.
Namun, gerakan Kenzo terhenti berjalan cepat meninggalkan Aika. Mendekati Amel yang terduduk jatuh di lantai, air mata yang mengalir menghancurkan penampilannya.
Gerakan Frans yang hendak membantu Amel bangkit terhenti, menatap Kenzo mendekati gadis itu.
"Menarilah denganku..." ucapnya berlutut pada Amel masih saja tertunduk duduk di lantai, menangis akibat terlalu malu.
"Lama..." Kenzo meraih jemari tangannya, mendapatkan sorakan dari orang-orang yang berada disana. Bagaikan kagum dengan pasangan tersebut.
Kenzo tersenyum, memperlambat tempo gerakannya. Mendekap tubuh Amel, mengajarinya perlahan.
"Aku sudah mulai bisa..." Amel tersenyum, dengan maskara melumber.
Kenzo mengganguk,"Tetap ikuti gerakanku perlahan..." ucapnya.
Musik yang memang sudah mulai memasuki tempo lambat membuat mereka bergerak leluasa. Senyuman menyungging di bibir Kenzo, tidak henti-hentinya menatap wajah Amel yang berlumuran maskara, mencintainya apa adanya. Baik maupun buruknya. Tidak mempedulikan cibiran orang hanya kebahagiaannya saat ini saja.
Wajah gadis yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
Frans tersenyum, sudah menepi, mengambil minuman mengamati beberapa pasangan masih berdansa dengan tempo musik pelan.
Belum menjadi kekasih? Tidaklah mengapa, dirinya tidak cemas lagi. Alasannya? Amel mulai mencintai Kenzo, hingga nekat berbuat apapun, perasaan kasih yang begitu dalam.
Kenzo telah menemukan rumah untuknya pulang...
Handphone Frans tiba-tiba berbunyi, dengan kode nomor negara lain. Pertanda panggilan internasional, pria itu menghela napas kasar. Berjalan keluar ballroom mengangkat teleponnya, menggunakan earphone.
"Maaf ini siapa?" tanyanya.
"Frans? Ini aku Gilang, bisa aku bicara dengan kakak?" ucap seseorang dari seberang sana.
"Tidak, jangan menghubunginya lagi! Kamu masih ingat? Satu tahun yang lalu Kenzo hampir mati tertembak karena menyelamatkan nyawamu!! Dia lebih menyayangi mu dari pada nyawanya sendiri!! Berhenti menggagu hidupnya, jika kamu memang mau mengenang budinya," Frans meninggikan intonasi suaranya.
Suara helaan napas terdengar,"Apa kak Kenzo baik-baik saja?"
"Iya, dia sudah hidup dengan lebih baik ..." Frans sedikit melirik ke arah ballroom, menatap Kenzo masih tersenyum, mengajari Amel menari Waltz sedikit demi sedikit. Kaki pemuda itu bahkan sampai terinjak beberapa kali.
"Syukurlah..." Gilang tersenyum penuh kelegaan, mengingat dirinya memang sudah satu tahun tidak dapat menghubungi Kenzo usai insiden penembakan. Mencari informasi keberadaan dan nomor kontak kakaknya itu pun sulit.
"Jika tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku tutup telponnya..." Frans hendak mengakhiri panggilan.
"Tunggu!! Aku tau ini memalukan. Tapi Tomy (saudara sepupu Gilang, dari pamannya Adrian yang dahulu tinggal terpisah), mengatakan jaringan informan kalian di luar negeri lebih darinya. Bisa bantu aku mencari seseorang..." ucapnya ragu.
"Siapa?" Frans mengenyitkan keningnya.
"Begini, aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Keyla. Masalahnya wanita yang benar-benar aku sukai menghilang. Sulit untuk menemukan jejaknya," Gilang menghela napasnya.
"Jadi wanita bayaran beli satu gratis satu, sudah putus denganmu?" tawa mengejek terdengar dari mulut Frans, beberapa menit, sejenak tawanya terhenti,"Wanita murahan mana lagi yang kamu sukai sekarang!?"
Kesabaran Gilang benar-benar diuji saat bicara dengan Frans. Mengalah? Tidak ingin berdebat itulah yang dilakukannya.
"Sudah, aku baru saja mengirim fotonya..." kata-kata yang terdengar dari earphone di telinga Frans.
Sebuah pesan masuk, senyuman di wajah Frans perlahan memudar, menatap foto orang yang dikenalnya.
"Namanya Amel Anggraini, ayah (Leon) sudah mengirim orang untuk mencari alamatnya. Tapi tidak ada hasilnya hingga sekarang. Jika kamu tidak bisa, boleh aku minta bantuan Kenzo secara langsung?" tanyanya.
"Ja... jangan!! A...aku akan mencarinya. Jangan pernah membahasnya di depan Kenzo..." Frans mematikan panggilan, menatap foto Amel yang masih gemuk, memakan roti bersama Gilang.
Menyembunyikan? Itulah yang akan dilakukan Frans, berharap Kenzo tidak akan pernah tau. Atau berkorban lagi untuk adiknya. Mungkin sang kakak akan mengalah, mendorong Amel ke sisi adiknya.
Tangannya gemetar, menatap senyuman di wajah Kenzo saat ini, terlihat bahagia walaupun melakukan hal sederhana dengan Amel. Tidak pernah tersenyum secerah ini. Berharap selamanya akan seperti ini...
Namun, apakah senyuman itu akan tetap bertahan? Atau lebih memilih menjadi buih yang menghilang? Mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan orang-orang yang dicintainya?
Entahlah, Frans hanya ingin Antagonis sepertinya berakhir hidup dengan tenang. Membangun keluarga kecil, tidak terpuruk akan rasa sakit lagi...
Bersambung