My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Ini Darurat



Rumah kecil yang dihuni dirinya dan kedua orang tuanya terlihat. Kala berjalan memasuki gang sempit di pemukiman padat penduduk. Amplop dibawanya, dipenuhi dengan uang yang telah dibagi dengan rekannya.


Hingga tiba-tiba langkahnya terhenti mengingat sosok sepasang anak kembar yang merayakan ulang tahun, wajahnya tersenyum entah kenapa. Dua orang anak yang benar-benar manis, mirip seperti...


Lamunannya terhenti, tidak mungkin mirip dengan dirinya. Wajah aslinya telah berubah jauh dari aslinya, mungkin hanya kebetulan saja.


Hingga pemuda itu kembali berjalan ke dalam rumah. Membawa kantung yang dipenuhi makan enak, makanan yang mungkin tidak pernah dirasakannya semenjak semua memorinya terhapus.


"Dava, siapa yang memberimu ini?" Vanya, mulai menyisihkan beberapa hidangan yang dapat dihangatkan untuk dimakan besok.


"Ada ibu dari sepasang anak kembar, merayakan pesta ulang tahun tapi tidak mengundang siapapun. Jadi ibunya menyuruh pelayan untuk kami bawa pulang..." jawab Dava tersenyum."Enak..." lanjutnya, memakan daging ayam, hingga sudut bibirnya belepotan.


Banyak perubahan yang terjadi padanya, pemuda dingin, elegan yang berasal dari kalangan atas entah dimana. Seseorang yang mengiris daging steak, untuk kekasihnya, pandai berdansa, dan gemar bermain piano.


Kini yang tersisa seorang Dava yang hidup sederhana, namun semua memori yang terkurung entah kenapa mungkin menyebabkan gangguan kepribadiannya juga menghilang. Menyisakan seorang pemuda baik hati yang hanya mencintai kedua orang tuanya.


"Maaf..." Vanya menghela napas kasar, menahan air matanya yang hendak mengalir. Membohonginya, hidup bagaikan almarhum putranya, namun bukan pengganti Dava yang didapatnya. Putra angkat yang terlihat lebih mengasihi dari pada almarhum putra kandungnya.


Dirinya tidak dapat memberikan apapun sebagai balasan, hanya dapat memberinya makanan sederhana, hidup berpindah-pindah mengontrak rumah.


"Ibu kenapa?" tanyanya tidak mengerti.


"Ibu tidak bisa membahagiakanmu, ibu sekarang tidak memiliki apa-apa..." air mata Vanya akhirnya mengalir juga.


Dava segera bangkit memeluk tubuh renta ibunya. "Aku bahagia, hidup dengan kalian..." ucapnya tersenyum.


Damian yang baru selesai mandi menyaksikan adegan ibu dan anak, tersenyum,"Ayah boleh ikut?" tanyanya hanya mengenakan kaos kutang dan sarung, memeluk dua orang itu dalam kebahagiaannya sendiri.


Maaf sudah egois...tapi hanya kamu satu-satunya kebahagiaan yang kami miliki... mungkin memang almarhum Dava menginginkan ini. Hingga dia membimbing kami untuk melihat tubuhmu yang hampir tenggelam sempurna di lautan... wajahnya tersenyum, namun air mata Damian mengalir.


Satu-satunya semangat untuk pasangan renta itu menjalani hidup. Ditengah sepinya masa tua yang menanti, kala ingatan pemuda dalam pelukan mereka kembali. Takut kehilangannya? Tentu saja, mungkin pemuda ini akan meninggalkan mereka, pergi bersama keluarga sesungguhnya.


***


Dua porsi ayam goreng cepat saji dimakan dua orang anak di dalam mobil yang melaju. Sementara itu dua orang kakak mereka hanya dapat menghela napas kasar.


"Kenapa kalian ikut!? Kita akan ke club'malam!!" bentak Scott yang tengah menyetir mobil.


"Kami tidak ingin melewatkan satu celah kesempatan pun, untuk bertemu dengan papa," Ferrell memakan ayam goreng dengan mulut penuh.


"Ini mungkin bukan papa, aku yakin cosplayer yang tadi adalah papa..." Steven tersenyum, mengingat sosok Dava.


"Kenapa kak Steven yakin jika itu papa?" Febria mengenyitkan keningnya.


"Sudah aku bilang aku bukan kakakmu!!" ucap Steven memijit pelipisnya sendiri, kemudian menghela napas kasar sembari tersenyum,"Hanya papa yang dapat memancing mama hingga benar-benar tersulut emosi..."


***


Mobil mulai terparkir, keempat orang itu turun diikuti mobil dua orang pengawal yang terparkir di dekatnya.


Mengikuti langkah mereka memasuki club'malam. Hingga langkahnya di hentikan dua orang security, menatap 2 orang anak dan seorang remaja di bawah umur yang dibawa Scott.


"Tunggu, kamu boleh masuk, tapi mereka tidak..." ucap sang security pada pemuda yang dari wajahnya terlihat memiliki darah keturunan Asia Timur.


"Kalian tunggu di sini, jika bukan ayah aku akan membawanya keluar. Kalian boleh memukulinya sesuka hati..." Scott tersenyum masuk ke dalam diikuti seorang pengawal.


***


Suara dentuman musik terdengar, seorang pria gemuk merangkul seorang seorang wanita, satu wanita lagi menyuapi dirinya dengan daging sapi wagyu berkualitas. Sedangkan satu orang lagi, menuangkan minuman untuknya memakai pakaian kelinci penggoda dalam salah satu private room club'malam tersebut.


"Tuan anda sudah senang bukan? Omong-omong tentang kerjasama proyek dengan W&G Company, bisa tolong dipercepat?" tanyanya yang telah menjamu sang pria gemuk berusia 35an tahun yang mengaku bernama Kenzo, pemilik W&G Company.


"Bisa saja aku akan bicara pada istriku nanti. Dia hanya boneka untuk mengurus bisnisku. Kekuasaan sepenuhnya ada di tanganku..." tawanya terdengar, setelah mengatakan kata-kata dustanya. Menipu beberapa perusahaan, dengan menggunakan nama Kenzo yang wajah aslinya tidak pernah tersorot media.


"Jadi kapan kita akan bekerjasama, atasan saya sudah tidak sabaran lagi ..." ucap sang pria yang memakai setelan jas kantor.


"Tapi sebelumnya, karena sulit menggunakan kartu kreditku di negara ini. Aku ingin meminjam uang cash, akan aku kembalikan, tiga hari lagi setelah istriku Amel mengurus kartu debitku di negara ini, akan aku kembalikan... hanya 600 juta tidak banyak..." ucapnya enteng, meraih minuman mahal di atas meja.


Tidak banyak kepalamu!! 600 juta, aku saja tidak pernah melihat uang sebanyak itu. Tapi lebih baik tanya bos dulu, selama memenangkan kerjasama dengan W&G Company semua masalah akan teratasi.... Seperti kata bos, jangan macam-macam pada iblis gemuk ini, jika tidak salah-salah perusahaan dapat diakuisisi... gumamnya dalam hati memendam rasa kesalnya.


"Sa...saya akan bicara pada bos saya besok mungkin saya akan datang ke hotel membawa uang cash..." ucap sang pria berjas.


Sementara sang pria gemuk terus tersenyum, menikmati hidupnya menggunakan nama Kenzo. Menipu banyak orang,"Baby kamu cantik sekali, mau aku jadikan istri kedua? Istriku Amel akan..." kata-kata dustanya terhenti.


Brak...


"Ka...kamu siapa!?" bentak sang pria gemuk.


"Aku akan melaporkan ini pada manager club!!" ancam sang pria kurus berjas.


"Siapa disini yang bernama Kenzo...?" ucap Scott tersenyum dengan wajah dingin.


"Aku!! Memangnya kenapa!? Dasar bocah tengil!!" sang pria gemuk hendak berjalan mendekatinya.


Namun...


Brak...


Satu tendangan melayang tepat di wajahnya, membuat sang pria gemuk tersungkur jatuh.


"A...aku adalah pemilik W&G Company, kamu akan tau akibatnya jika..." kata-kata sang pria gemuk terhenti, pipinya diinjak oleh sepatu tebal yang dipakai Scott.


"Kenzo? Kamu adalah papaku!? Sejak kapan papaku menyebut mamaku sebagai boneka yang dapat dikendalikannya..." wajah Scott terlihat tersenyum.


"Ka...kamu siapa?" sang pria gemuk menonggakkan kepalanya.


"Ayahku adalah iblis, ibuku siluman rubah, artinya aku teman sekolah dewa kematian..." jawab Scott, penuh senyuman.


"Jangan macam-macam!! Kamu siapa!? Aku akan lapor polisi!!" ancam pria berjas mengeluarkan phoncellnya.


"Aku anak angkat pemilik W&G Company. Dia bukan ayahku, Kenzo. Menggunakan nama ayahku berarti cari mati..." ucap Scott, menjambak rambut sang pria gemuk.


Sang pria berjas menjatuhkan phoncellnya. Entah berapa puluh juta uang yang dikeluarkan perusahaannya untuk mengundang seorang Kenzo. Memberinya jamuan beberapa hari ini, ternyata yang dijamunya hanya penipu?


"Ja... jadi dia bukan Kenzo?" sang pria berjas memastikan, dijawab dengan anggukan oleh Scott."Hajar dia!!" pintanya yang memang sudah benar-benar bersabar memendam kekesalannya.


"Tolong aku..." sang pria gemuk berucap lirih.


"Setelah dia memberimu pelajaran. Siapapun kamu, aku akan membawamu ke kantor polisi, untuk mengganti semua uang yang kami pergunakan untuk menjamumu..." ucap sang pria berjas penuh kekesalan, memungut phoncellnya yang terjatuh hendak menghubungi bos-nya.


Pria gemuk itu diseret paksa dua orang pengawal, mengikuti langkah Scott. Menembus kerumunan orang-orang yang tengah menikmati hentakan musik. Beberapa orang mulai berbisik-bisik, ingin mengetahui apa yang terjadi.


Hingga area depan club'malam, sang bodyguard melemparkan tepat di hadapan Steven, Febria dan Ferrell.


"Hanya b*bi tua penipu..." ucap Scott sinis.


"Wah... menggunakan nama ayah ..." cibir Steven.


"Hajar!! Patahkan beberapa tulangnya!!" Ferrell mundur menutup matanya sendiri, setelah memberi perintah pada bodyguard. Seolah takut dirinya yang masih kecil tidak berdosa dan tidak berdaya, melihat adegan kekerasan.


"Aku kembali ke mobil, tolong telanjagi, siram, rekam dan foto, aku akan membuat media massa mencetak fotonya, hingga tidak ada yang berani menggunakan nama papa lagi." Febria menghela napas kasar, kemudian tersenyum tidak berdosa, memberikan handphonenya pada seorang bodyguard lainnya.


Entah dua kecebong itu menuruni sifat siapa, terlihat polos tidak berdosa, namun benar-benar keji...


***


Di tempat lain, seorang gadis cantik berjalan membawa sampel bekas darah dan rambut. Mendatangi laboratorium sebuah rumah sakit.


Sang petugas laboratorium mengenyitkan keningnya, menguap beberapa kali, usai dihubungi tengah malam oleh atasannya.


"Butuh waktu berapa lama?" tanya Amel tidak sabaran.


"Ada sampel darah mungkin sekitar lima hari... kalau hanya menggunakan rambut 8 minggu..." jelasnya dengan nada malas. Pasalnya jika mempercepat proses malam ini dirinya harus bergadang hingga pagi.


"Aku sudah menghubungi kepala rumah sakit, jika ada setitik saja sampel darah, cukup memerlukan waktu satu kali 24 jam. Kamu mau menipuku..." Amel mengenyitkan keningnya.


"Ta ...tapi itu hanya untuk keadaan darurat, seperti jika kepolisian ingin..." kata-kata petugas lab disela.


"Ini darurat, menyangkut hidup dan mati sumber pendapatanmu, aku memberi cukup banyak investasi malam ini pada rumah sakit ini ..." Amel berucap dengan nada dingin.


"Satu kali 24 jam akan selesai!!" mata petugas lab yang layu segera terbuka sempurna. Berlari ke dalam lab dengan cepat.


"Ini darurat, menyangkut bulan maduku yang tertunda selama 7 tahun..." komat-kamit mulut Amel kesal, menghela napasnya menatap wallpaper handphonenya. Foto dirinya dan Kenzo ketika di Jepang.


Bersambung