
Yang mereka lakukan setelahnya? Bukan hal yang dapat disebut sebagai berkencan. Hanya menghabiskan waktu bersama hingga sore. Dua orang yang berasal dari dunia yang sama, berjalan-jalan di pasar tradisional.
"Ini bagus."Gin tersenyum, menatap kaos tangan panjang berwarna putih dengan bahan katun halus.
"Beli saja."Glory ikut meraba bahannya.
"Tapi pasti mahal, ayo kita pergi," ucapnya berjalan berlalu. Meraih phonecellnya, berjalan sambil membaca beberapa pesan yang masuk.
Hingga sekitar 10 langkah."Glory setelah ini kita..." kata-katanya terhenti, gadis itu tidak ada disampingnya. Gin menoleh ke belakang, bocah itu masih berada di kios tempatnya melihat pakaian. Berdebat dengan sang pedagang.
"Bocah ini..." geram Gin yang sejatinya tidak membawa banyak uang. Berbalik hendak menarik Glory yang masih menawar.
Tapi sejenak langkahnya terhenti."150.000," ucap sang pedagang telah jauh menurunkan harga.
"85.000, ibu tidak lihat, masih ada benang yang merembes, bahkan ada coretan di mereknya." Sang gadis pelit menawar, mencari titik kelemahan kaos yang sebenarnya nampak sempurna.
"Hampir semua ada benang yang sedikit terlepas, tinggal di gunting saja. Itu model terbaru, kalau kamu mau 125.000. Kalau tidak pergi saja!" geram sang pedagang pada sang bocah SMU.
"100.000! Lihat! Jahitannya miring!" Glory menunjuk kesalahan kecil jahitan bagian bawahnya.
"110.000 kalau mau ambil! Kalau tidak pergi sana!" teriak sang pedagang kesal.
Sementara Gin menipiskan bibir menahan tawanya, dari harga 230.000 tiba-tiba menjadi 110.000? Bocah ini, bahkan mengalahkan ibunya dalam hal menawar.
"110.000, kalau segini tidak terlalu mahal kan? Nanti katakan pada bibi Samun, kita tidak cocok sama sekali. Ceritakan tentang keburukanku ya?" pintanya, memelas.
Pemuda itu mengangguk, membayar kaos tangan panjang, kemudian kembali melangkah bersama Glory. Menariknya menatap mainan kotak, mesin capit yang dipenuhi dengan boneka kecil. Mengeluarkan uang 10 ribu rupiah untuk membeli koin dan hasilnya?
Glory mengenyitkan keningnya berusaha membawa 6 buah boneka kecil."Kamu hebat," ucapnya.
"Ini hadiah karena sudah menawar pakaian ini untukku," ucapnya tersenyum.
Benar-benar gadis yang tidak buruk sama sekali. Bagaikan menemukan seseorang yang dapat mengerti dirinya. Hingga di perjalanan pulang mereka, gadis itu tersenyum, membawa satu kantung plastik yang dipenuhi dengan boneka, dalam boncengan Gin.
"Kamu senang?" tanyanya.
Glory mengangguk."Aku akan menjual boneka ini di sekolah!!" suara tawanya terdengar, mengingat uang jajannya yang hanya 5000 rupiah per hari. Sementara Gin yang tengah memboncengnya menipiskan bibir menahan tawanya. Bocah manis yang menghibur, sesuatu yang membuatnya nyaman. Ibu dan bibinya lebih pintar menilai wanita dibandingkan dengan dirinya sendiri.
***
Malam semakin larut, Glory sudah membungkus beberapa boneka kecilnya ke dalam beberapa plastik transparan, bersiap menjualnya besok di sekolah. Sedangkan boneka beruang besar yang sempat di titipkannya pada Lily sudah diantar kembali ke rumahnya.
Boneka beruang sebesar tubuh manusia, perlahan dirinya mendekati sang boneka."Kalau dijual harganya pasti mahal,"
Namun tiba-tiba wajah Ferrell, orang yang memberinya boneka terbayang. Jantungnya berdegup cepat, menelan ludahnya sendiri, merindukan hal yang mereka lakukan di kios terbengkalai pinggir pantai.
Wajah rupawan sang idola remaja masih teringat jelas."Tidak! Tidak boleh! Pacarku saat ini adalah Ken! Oh... Ken-ku tersayang..." gumamnya, merebahkan diri, memeluk erat boneka pemberian Ferrell seolah-olah boneka itu adalah sang Superman dekil. Bahkan mencium pipi sang boneka beberapa kali.
Tok... tok...tok...
Suara ketukan pintu terdengar, Kamila masuk tanpa permisi, menatap tingkah aneh putrinya."Tidak bantu bapak jualan?" tanyanya.
Glory menggeleng."Aku sudah ijin libur sehari pada CEO perusahaan tahu bulat," lagi-lagi jawaban aneh keluar dari mulutnya.
Kamila menghela napas kasar, duduk di tepi tempat tidur putrinya."Mulai besok, jaga sikapmu! Jangan biarkan Ken masuk ke kamarmu,"
"Setelah lulus SMU nanti kalian akan segera menikah. Ibu tidak mau terjadi hal yang bisa membatalkan perjodohan kalian," jawaban dari mulut Kamila tersenyum.
"A...aku menolak keras perjodohan!! Lagipula Gin juga tidak setuju! Itu sudah jelas!!" tegas Glory, menoleh ke arah lain, kesal.
Senyuman terukir di wajah Kamila."Tadi saat kamu mandi, Samun datang kemari setelah dihubungi Gin dan orang tuanya. Katanya Gin menyukaimu, setuju dengan perjodohan kalian. Akhirnya aku akan punya menantu seorang perawat," ucapnya yang tidak memiliki cita-cita terlalu tinggi, keinginan muluk-muluk. Hanya ingin putrinya menikah dengan pria baik-baik, memiliki mertua yang baik juga.
"Se... setuju!? Pria sialan itu menipuku!!" geramnya melemparkan salah satu boneka kecil hingga membentur dinding."Ibu aku sudah punya pacar. Aku dan Ken saling mencintai, tidak ada yang bisa memisahkan kami,"
Glory mulai menunduk, menitikkan air mata palsunya."Ibu..." pintanya.
Kamila mendekati putrinya."Gin itu tampan, pintar, mempunyai masa depan yang cerah, calon mertuamu juga orang yang baik,"
Glory menatap wajah ibunya dengan pipi yang dibasahi air mata."Ken itu tampan, pintar, baik hati, pemalu. Aku menyukainya..."
Sang ibu mendekap tubuh putrinya, memeluknya erat."Tenang, kita ke dukun ya? Entah dukun mana yang digunakan bocah itu pada putriku yang cantik,"
Seketika Glory melepaskan pelukan ibunya."Aku tidak di guna-guna! Ken memang tipeku! Kenapa ibu tidak mengerti?"
"Ken tidak punya kelebihan di bandingkan dengan Gin. Sudah! Besok siang kita ke dukun saja..." ucap Kamila memijit pelipisnya sendiri.
Glory menghela napas kasar, menghapus air matanya."Nenek bilang ibu pernah dilamar seorang tentara yang tampan berbadan gagah. Tapi kenapa ibu tolak, lebih memilih ayah yang berbadan kerempeng, penjual tahu bulat?"
Sang ibu tersenyum, dengan hati berbunga-bunga."Dia tidak kasar, baik, tidak pernah selingkuh, tidak tertarik pada wanita lain, walaupun tidak pintar dan kerempeng. Tapi ayahmu rela bekerja dari pagi hingga larut untuk kita. Ibu mencintainya dari dulu, dari saat dia berjalan kaki hanya memakai sandal jepit ke rumah ibu,"
Gadis itu mengenyitkan keningnya."Ibu bahagia menikah dengan ayah hingga kini?"
Kamila menggangguk."Ibu bahagia,"
"Lalu apa bedanya denganku? Ken juga berjalan kaki. Tapi dia terlihat bertanggung jawab dan mencintaiku." Glory tidak mau kalah.
"Itu berbeda, seorang ibu selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dan Gin yang lebih baik daripada Ken," ucapnya tersenyum, mengelus rambut putrinya.
"Curang..." geram Glory.
"Memang! Sudah tidur sana!" ucap Kamila meninggalkan putrinya.
Glory menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur."A...aaaa..." teriaknya.
Tidak bisa tidur? Begitulah dirinya malam ini. Hingga tepat pukul 12 malam...
Tok...tok...tok...
Suara ketukan terdengar tengah malam dari jendela kamarnya. Ketakutan? Tentu saja, namun tangannya mengepal, perlahan membuka tirai jendela."Ken?" ucapnya terkejut.
Jendela kamar dibukanya, namun pemuda itu hanya berdiri diam disana.
"Aku mencintaimu, aku merindukanmu..." ucapnya, memberikan batang berbisi beberapa bunga kamboja, lengkap dengan getahnya. Entah dipetiknya dari mana, menjadi Superman dekil tanpa modal.
Jantung Glory berdebar cepat, bahagia dengan hanya bunga kamboja hasil curian."Aku juga ..." ucapnya tertunduk malu-malu, menyelipkan rambut di belakang telinganya.
Tahan Ferrell, jangan menciumnya jika tidak kamu akan ketahuan. Tapi dia terlalu manis...
Bersambung