
Cinta Romeo dan Juliet yang terhalang perbedaan kasta. Hati yang berdebar cepat saling menatap berbatasan dengan jendela."Kamu cantik," ucapnya menelan ludah, berusaha tidak masuk ke rumah gadis itu. Tidak ingin memasuki kamarnya, kemudian khilaf, menghujam gadis centil di bawah umur tiada henti. Membuatnya merasa kesakitan dan kenikmatan bersamaan.
Sialnya adrenalinnya terpacu setiap berhadapan dengannya. Tangan Glory dipegangnya, jemari tangannya dicium olehnya. Sungguh benar-benar sebuah siksaan menahan diri untuk tidak mengambil asupan nutrisinya.
"Aku merindukanmu juga," ucap Glory salah tingkah.
"Glory aku..."
"Ken aku..."
Kata yang mereka ucapkan bersamaan, kembali mengalihkan pandangannya, terlihat ragu dan malu untuk berucap.
"Kamu duluan," ucap Glory ingin rasanya menjerit bahagia.
"Tidak kamu saja duluan." Ferrell ikut-ikutan salah tingkah kali ini.
"Aku mencintaimu." Lagi-lagi kata-kata itu yang terdengar.
"Aku juga mencintaimu," ucapnya tidak bosan rasanya mengucapkannya.
Dua orang yang masih canggung, bingung dan salah tingkah."Boleh aku mencium pipimu?" tanya Ferrell padanya.
Ken ingin mencium pipinya? Meminta ijin untuk mencium pipinya? Sangat romantis bagi seorang Glory, bahkan terlihat sangat manis.
Glory mengangguk setuju.
"Keluarlah!" ucap Ferrell.
Glory keluar melalui jendela kamarnya, perlahan Ferrell menariknya menuju dekapannya. Pemuda berkacamata itu tersenyum, mencium pipi Glory, kemudian keningnya.
"Jangan lupa belajar agar bisa lulus tahun ini," bisiknya.
Glory mengangguk, entah disebut murahan atau bagaimana. Dirinya tiba-tiba ingin memeluk tubuh itu. Tubuh berbalut kaos murah biasa, sangat nyaman benar-benar sangat nyaman, perasaan familiar. Punggung Glory dielusnya, membuatnya lebih nyaman lagi.
Keduanya lalu melepaskan pelukan, terdiam canggung."Ken kita, benar-benar pacaran?" tanyanya, seakan tidak percaya pemuda impiannya kini resmi menjalin hubungan dengannya.
Ferrell mengangguk."Kamu tidak suka? Aku hanya berjalan kaki, sementara orang yang dijodohkan denganmu menaiki motor,"
"Aku suka, sangat suka..." ucapnya antusias.
"Benar?" Ferrell mendekatkan dirinya kembali, merapikan anak rambut Glory."Aku tidak bisa membelikan bunga mawar hanya bunga kamboja yang aku petik dekat kuburan, apa tidak apa-apa?" tanyanya semakin gemas.
"Tidak apa-apa, aku menyukai kamboja," jawaban dari mulut Glory tersenyum.
"Aku ingin menikah denganmu, setelah usiamu 19 tahun. Apa boleh?" bisiknya.
Jantungnya berdegup cepat bingung harus menjawab."Aku harus kuliah, apa tidak apa-apa?"
Ferrell mengangguk."Ibuku tipikal orang yang membebaskan anak-anaknya, tapi tetap dalam pengawasannya,"
"Ayahmu berprofesi sebagai apa?" Glory mengenyitkan keningnya.
"Dia? Dia..." Ferrell berfikir sejenak, ayahnya bukan CEO maupun komisaris W&G Company. Namun kesibukannya benar-benar melebihi pemimpin perusahaan.
"Pengangguran," hanya itu kata yang tepat, untuk menggambarkan pria yang memang tidak memiliki profesi tetap itu. Investor? Tidak mungkin kan dirinya mengatakan ayahnya adalah pemilik W&G Company, bahkan memiliki banyak aset bergerak hingga tidak tinggal menetap di satu negara.
Ferrell tertunduk, bagaikan sudah akan mengetahui reaksi Glory, mungkin akan kecewa dengan sosok Ken, karakter yang diciptakannya.
Namun...
"Lalu kamu dapat biaya sekolah dari mana?" tanyanya memegang jemari tangan Ken.
"Kakekku yang memasukkan ku ke sekolah SMU," jawabnya jujur.
"Tidak apa-apa, setelah lulus nanti kita akan menikah. Lalu berjuang bersama dari awal," ucap Glory penuh rasa simpati.
"Omong-omong, kamu mempunyai berapa saudara?" tanyanya lagi antusias.
"Aku anak ke 6 dari 7 bersaudara. Kakak tertuaku usianya sudah lebih dari 40 tahun," jawab Ferrell, mengatakan kebenaran.
"Usia orang tuamu mungkin diatas 65 tahun. Tidak apa-apa, kita akan merawat orang tuamu bersama," gumam Glory membayangkan sosok calon mertuanya. Seorang nenek dan membawa tongkatnya, serta seorang kakek yang kesulitan berjalan menepuk-nepuk lututnya.
Ayah dan ibuku yang awet muda, maafkan anakmu yang durhaka ini, dia yang salah mengartikan kata-kataku... batinnya.
Hati Glory berdegup cepat, beginilah rasanya jatuh cinta? Entahlah, sangat indah.
"Kembalilah ke kamarmu. Tidurlah yang nyenyak, banyak-banyak belajar, agar setelah lulus aku dapat segera membawa orang tuaku kemari..." ucapnya, tersenyum.
Glory mengangguk, mengecup pipi Ferrell. Kemudian kembali ke kamarnya, saling melambaikan tangan, menatap kepergian sang pemuda.
Ferrell menghela napas kasar, tersenyum-senyum sendiri kemudian berjalan pergi. Tidak menyadari Ratna yang mengambil barang di garasinya, menatap kepergian Ken yang melompati tembok rumah Glory.
"Astaga, anak muda jaman sekarang. Jangan sampai Grisella seperti Glory, salah pergaulan. Sampai-sampai tengah malam bawa pacar ke rumahnya," komat-kamit mulut itu berkicau seorang diri.
Tidak menyadari apa yang dilakukan putrinya saat ini. Entah kali ini alasan apa lagi yang diucapkannya pada ibunya. Suara dentuman musik terdengar, bau alkohol tercium menyengat. Memiliki Tio sebagai kekasihnya saat ini, pria yang tengah memeluk dirinya dari belakang. Ikut bergoyang limbung mengikuti dentuman musik.
"Aku ingin," lirih Tio menghisap lehernya kuat. Grisella tersenyum, kemudian mengangguk.
***
Salah satu bilik toilet pria menjadi tempat mereka berada saat ini seakan tidak dapat menahan diri. Mini dress yang dipakai Grisella kacau balau. Mencengkram gantungan pakaian dari besi yang ada di sana erat.
Bibir wanita itu ditutup dengan tangannya agar suara laknat itu tidak terdengar. Satu tangannya lagi mencengkram salah satu area sensitif bagian atasnya secara bergantian. Grisella masih berdiri namun membungkuk 90 derajat, membiarkan Tio mengguncang tubuhnya dari belakang.
"Sssshhh..." sulit menahannya lagi, hingga akhirnya menebarkan benihnya dalam rahim sang remaja belia. Untuk pertama kalinya, merasakan sensasi melakukannya tanpa pengaman dalam keadaan mabuk.
Sensasi yang berbeda bagi Tio, bergerak di tempat sempit yang hangat menerima sentuhan tanpa penghalang.
"Ahhhh...hhh..." napasnya tidak teratur, mencium punggung Grisella."Ini nikmat..." lirihnya.
"Iya, tapi bagaimana jika aku hamil?" tanya Grisella, cemas.
"Tidak akan, jika hamil tinggal menikah atau gugurkan. Ingin lagi?" bisiknya.
Grisella hanya terdiam merapikan pakaiannya. Tidak dipungkiri olehnya merasakan sensasi yang berbeda, kala benih itu keluar dalam rahimnya.
"Kita lakukan lagi, tanpa pengaman, lagipula sudah kepalang tanggung. Kali ini aku menyewakan kamar terbaik," suara Tio yang terdengar berat, memakai gespernya.
Takut? Tentu saja, kamar hotel terbaik disewa olehnya. Bahkan mereka membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum memulai titik kenikmatan yang lebih besar.
"Akh..." pekiknya bersamaan, entah berapa kali, hari ini semua terjadi membiarkannya semuanya mengalir. Menyemai benih, yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Namun ini benar-benar sulit untuk menahannya. Tanpa pengaman terasa lebih berbeda ketika tubuh yang telah menyatu berguncang bergesek.
Tidak menyadari, seorang wanita menyewa kamar di sebelah kamar yang mereka sewa. Cincin pertunangan terselip di jarinya, air matanya mengalir menahan sesak di dadanya. Ini bukan pertama kalinya Tio tidur dengan wanita lain. Semua telah diketahui olehnya dari awal.
Empat tahun kepergiannya untuk menimba ilmu. Mendapatkan beasiswa, pulang kembali untuk menikah, namun kenyataan ini yang didapatkannya. Pria yang dicintainya telah jauh berubah. Grace perlahan berjalan menuju balkon, duduk di lantai menyandar pada tralis seorang diri. Mengetahui apa yang terjadi di sebelah kamar yang disewanya.
Pandangan matanya kosong, bagaikan dunianya telah runtuh...
Bersambung
...Bayangan masa remaja kita masih ada di benakku, kala kita menaiki sepeda bersama. Menertawakan hal yang tidak lucu untuk mengusir rasa canggung......
...Perlahan dua tangan saling bersinggungan, saling menggenggam, hingga berakhir mengenakan cincin, mengikat janji akan menjadi ibu dan ayah suatu hari nanti......
...Sekarang semuanya menghilang seperti es yang mencair, menjadi air memasuki tanah yang kotor......
...Memiliki mulut, tapi enggan bicara......
...Memiliki telinga, tapi berpura-pura tidak mendengar......
...Memiliki mata, tapi aku menutupnya......
...Berpura-pura bodoh tidak mengetahui apapun, alasannya? karena aku mencintaimu......
...Hingga ada kalanya, perasaan ini, membuatku putus asa. Jika suatu hari nanti aku pergi, jangan mencariku......
...Jika suatu hari nanti aku menangis lagi, jangan menghapus air mataku......
...Jika suatu hari nanti, aku memutuskan untuk meninggalkan dunia ini karena tidak dapat melupakanmu......
...Bahagia lah bersamanya, jangan mengingatku lagi......
Grace...