My Kenzo

My Kenzo
Bonus Chapter Musim Pertama 3



Tidak terbiasa? Itulah yang terjadi setelah kesadarannya kembali. Dengan cepat Brenda berkumur berkali-kali, sedang Nindy hanya menghela napas kasar. Setidaknya pria idamannya tidak muntah seperti sebelumnya.


Hingga, ketukan pintu itu terdengar kembali,"Nindy!?" panggil Glen.


Brenda segera menggenggam tangan Nindy erat, "Jangan khawatir, biar aku bicara dengan pacarmu. Kamu menyukaiku kan?" tanyanya penuh harap.


Seketika bagaikan terjun di lautan bunga, hatinya berdebar tidak karuan, dengan cepat Nindy mengangguk, membenarkan.


"Bagus, biar aku yang bicara dengannya. Aku akan menghadapinya..." kali ini bukan dengan suara bagaikan bunga Peony mendayu-dayu, namun Brandon dengan keseriusannya. Brandon? Kita panggil saja nama aslinya.


Sudah bersiap untuk menghadapi Glen, berkelahi pun tidak apa. Brandon menghirup napas dalam-dalam, tangannya mulai membuka pintu. Menatap tajam pemuda yang ada di hadapannya.


Tangannya mengepal, salah? Dirinya tahu perbuatannya salah, mencium, bahkan menyukai kekasih orang lain. Namun, sekali lagi, logikanya bagaikan lenyap.


"Apa yang kalian lakukan di dalam bersama?" Glen mengenyitkan keningnya.


Nindy mengedipkan sebelah matanya,"Biasa anak muda, kami..."


"Anak nakal!! Baru 20 tahun sudah berani berbuat mesum di kamar mandi!!" telinga Nindy ditarik Glen.


"Sa... sakit maaf aku..." Nindy meringis.


"Lepas!!" Brandon berucap dengan nada tinggi.


"Kamu bilang apa? Sudah tau salah, masih meninggikan nada bicaramu, padaku...?" Glen masih menarik telinga adiknya, kemudian beralih menarik pergelangan tangannya."Ayo tidur!! Anak kecil harus tidur lebih awal..."


Tangan Brandon mengepal. Tangan Nindy ditarik paksa? Benar-benar pria yang kasar, bahkan memaksanya tidur bersama. Ingin menyentuhnya?


"Lepas!!" Brandon kembali membentak, sembari melayangkan tendangan berputarnya. Tepat mengenai wajah Glen, hingga pemuda itu tersungkur dilantai.


"Bagus!! Untuk pertama kalinya ada calon adik ipar yang berani menendangku!!" Glen yang tersungkur di lantai meninggikan intonasi suaranya penuh kemarahan, dengan bekas tendangan masih membekas di wajahnya.


Nindy memejamkan matanya, menepuk jidatnya sendiri.


"Ca... calon adik ipar?" Brandon mengenyitkan keningnya.


"Dia kakak tertuaku Glen," ucap Nindy mengalihkan pandangannya dari Brandon. Dengan perasaan benar-benar malu dan dongkol.


"Bahkan Kenzo yang pernah menolongku, tidak pernah menendang wajahku..." gerutu Glen penuh kekesalan pada puding warna-warni.


"A...aku minta maaf...aku..." tangan Brandon yang hendak membantu di tepis, Glen bangkit seorang diri, mengelus-elus pipinya yang memerah, berjalan ke dekat kulkas. Hendak mengompres pipinya agar tidak bengkak.


***


Dua orang yang tertunduk diam di hadapan Glen. Tangan keduanya gemetaran, bagaikan pasangan mesum yang tertangkap pak RT. Atau tersangka kasus pemukulan, dengan yang dipukul adalah pejabat negara sekelas mentri.


"Sekali lagi aku tanya apa yang kalian lakukan bersama di kamar mandi?" Glen berusaha menetralkan emosinya. Masih memegang handuk kecil, mengompres pipinya dengan air es.


"Ha... hanya mengantarku saja..." Brandon berbohong, tidak ingin pemuda di hadapannya bertambah murka.


"Kak Amel bahkan tidur bersama setiap malam dengan kak Kenzo. Kami hanya masuk ke toilet bersama, jadi..." kata-kata Nindy terhenti, Glen menatap tajam padanya. Seakan dapat menerkamnya kapan saja.


"Kalian berbeda, si tahu bulat 500an tidak memiliki terlalu banyak fikiran mesum. Sedangkan kamu otakmu hanya terpaku pada adegan 21 tahun keatas..." Glen berusaha tersenyum, menahan geramnya.


"A...aku akan menjaga Nindy!" ucap Brandon tegas.


"Menjaganya dari apa? Aku melihat semuanya, kamu sendiri yang menariknya ke dalam toilet," Glen menghela napas kasar, sementara Brandon langsung tertunduk. Penuh rasa bersalah.


"Aku sekarang bertanya dengan serius, kenapa kamu berpakaian seperti wanita jika itu masih berfungsi dengan baik?" lanjutnya.


"A...aku tidak mampu menjalin hubungan dengan wanita," jawabnya tertunduk ragu untuk bercerita.


"Tidak mampu? Kamu terkena penyakit menular?" tanya Glen kembali.


"Aku...aku..." kata-katanya disela.


"Jika tidak ingin, tidak usah bercerita. Aku tidak akan mengijinkan adikku, bersama dengan puding warna-warni tidak tegas, sepertimu," Glen menatap sinis.


Air mata Brandon mengalir, ini harus dikatakan olehnya cepat atau lambat. Jika ingin Nindy tetap bersama dengannya,"A..aku tidak bisa mencium ataupun melakukan hubungan layaknya suami-istri..."


Glen menipiskan bibir menahan tawanya,"Kamu impoten?" tanyanya.


Brandon menggeleng,"Aku tidak tau, karena memang tidak pernah aku fungsikan. Tapi setiap melihat orang berciuman atau melakukan hal..." pemuda itu terdiam sejenak memendam rasa jijiknya.


"Apa yang terjadi? Dari mana semuanya berawal?" tanya Glen semakin tertarik.


"Dari usia 5 hingga 10 tahun aku diasuh oleh baby sitter yang sering membawa kekasinya ketika mengasuhku. Me... mereka melakukannya di sofa, dia bahkan menghisap..." kata-kata Brandon terhenti, mulutnya bagaikan hampir muntah. Masih berusaha memendam rasa mualnya.


Glen mulai tersenyum, "Begini saja, kalian boleh pacaran. Tapi tidak ada acara lebih dari ciuman. Dengar itu Nindy!?"


"I...iya ..." Nindy tersenyum menampakan deretan gigi putih ala Pepsodentnya.


"Kamu tidak boleh menggoda atau membuatnya cemburu hingga hilang akal lagi!! Singa buas tetap saja singa buas walaupun memakai pakaian ballet..." ucap Glen.


"Ta ... tapi kakak!? Bagaimana aku bisa menyembuhkan traumanya jika..." kata-kata Nindy disela.


"Kamu ingin menyembuhkan traumanya, atau memancingnya membuatmu terbang ke langit ke tujuh. Membobol...ah sudahlah..."


"Yang jelas, berpacaran lah yang sehat. Jangan menggodanya..." lanjut Glen.


Mata Nindy berkaca-kaca,"Kakak bagaimana caranya aku membuatnya menjadi pisang berkualitas jika terlalu banyak larangan,"


Glen tersenyum cerah,"Jangan berbohong!! Kamu mengatakan pernah melihatnya berdiri tegak kan? Saat kalian menikah nanti, malam pertama, tidak mungkin akan gagal..."


Brandon mengenyitkan keningnya, melirik ke arah Nindy."Ka ... kamu pernah melihatnya?" tanyanya.


"Waktu menggati pakaian kakak..." gadis tidak tahu malu berontak mesum itu tersenyum tanpa dosa.


Brandon terdiam wajahnya pucat pasi berusaha mengingat kejadian malam itu. Bayangan Nindy mengganti pakaian dalamnya terlintas. Bahkan ketika hormon sebagai pria normal sempat menguasai tubuhnya.


Malu... dirinya benar-benar malu... ingin rasanya menyembunyikan diri di lubang semut. Atau mengubur dirinya hidup-hidup.


"Kak Brandon?" Nindy mencoba mendekat memegang tangannya. Namun, Brandon segera menarik tangannya.


"A...aku harus pulang!!" ucapnya cepat menahan rasa malu dengan wajah yang memerah. Berlari dengan cepat, keluar dari apartemen, menutup pintu dengan kencang.


"Aku kira dia serigala berbulu domba!! Tapi memang benar-benar domba yang dipaksa menjadi seekor serigala," Glen tertawa dengan kencang. Mulai berjalan memasuki kamarnya.


***


Pagi menjelang, kantung mata Nindy berkantung akibat tidak dapat tidur semalaman. Mengingat Brandon yang pergi dengan membanting pintu bagaikan kesal.


Pintu depan butik dibukanya, beberapa karyawan terlihat sibuk. Namun satu hal mengalihkan perhatiannya.


Punggung seorang pemuda yang memakai kemeja serta jeans hitam. Model rambut yang terlihat pendek rapi. Perlahan berbalik berjalan kearahnya.


"Aku belum terbiasa, tapi aku akan mencoba..." ucapnya tersenyum, berbicara dengan suara bariton seorang pria. Mencium pipi Nindy yang masih tertegun mencerna segalanya.


Kemudian sang pemuda segera berjalan menghampiri pegawai lainnya. Memendam rasa malunya.


Aku punya pacar... gumam Nindy dalam hati, melompat lompat bagaikan seekor domba. Mengikuti langkah Brandon.


"Kak Brandon..." ucapnya hendak kembali menggoda.


Bersambung