
Lift mulai bergerak turun seiring dengan suara tangisan wanita itu yang terdengar. Sang pemuda hanya terdiam, kali ini memang cukup sulit, wanita itu mendengar semuanya. Bahkan menyaksikan sendiri Tio keluar dengan seorang wanita dari dalam kamar yang sama.
"Aaa ...nggg...." berpura-pura tegar, namun tetap tidak bisa, suara jeritannya terdengar lebih lirih. Bertahun-tahun, ingin segera menyelesaikan pendidikannya, hanya untuk pulang membangun keluarga kecil dengan kekasihnya. Tapi tidak ada yang didapatnya, selain pengkhianatan.
Gin menghela napas kasar."Aku akan dipecat oleh Tio, jangan lupa janji lowongan pekerjaannya. Aku tidak ingin kalah bersaing dengan Superman dekil, karena tidak punya uang untuk pergi bersama calon istriku. Kencan juga butuh modal, selain wajah tentunya, harus beli bunga mawar, coklat, boneka, bensin dan bayar karcis parkir 2.000,"jelasnya, yang memang hanya mengandalkan uang dari kerja sampingannya untuk uang bensin dan keperluan di luar kampus.
Grace menyeka air matanya."Iya! Iya! Nanti aku bicara ke bagian HRD tempatku bekerja!!" ucapnya, walaupun masih juga menunduk terisak.
"Jangan menangis lagi..." ucap Gin.
"Kamu tau apa!? Sudah bertahun-tahun aku menjalin hubungan! Ingin segera wisuda untuk menemuinya. Rasanya lebih buruk dari kematian...."Wanita itu menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak, berusaha menetralkan tangisnya.
Gin kembali mendekatinya yang masih tertunduk, menghela napas kasar."Kamu cantik, badanmu bagus, walaupun tidak secantik jodoh pilihan bibiku. Tapi aku yakin akan ada pria baik yang akan kamu temui nanti,"
"Mau aku antar pulang? Aku akan meminjamkan tubuhku sampai jam 12 malam, kita dapat berpura-pura aku adalah pacarmu. Ini untuk menghiburmu, aku tidak akan memanfaatkan kesempatan. Hanya untuk membuktikan, di dunia ini ada banyak pria baik, jangan sia-siakan hidupmu," lanjutnya, mengulurkan tangannya, tidak ingin melihat wanita yang terlihat tidak memiliki semangat hidup.
Grace terdiam sejenak mulai bangkit menerima uluran tangan pemuda yang baru pertama kali ditemuinya.
***
"Bagaimana rasanya!?" ucap Gin.
"Lumayan!!" Untuk pertama kalinya Grace menaiki motor, mendekap erat tubuh Gin. Mulai dapat tersenyum, menatap pemandangan malam di sekitarnya, merasakan angin menyibakkan rambut panjangnya.
Bukan dengan kecepatan tinggi, namun laju motor yang terasa pelan. Ingin menghapus penat gadis yang berada di boncengannya.
Hingga pada akhirnya motor berhenti sejenak, membeli beberapa kembang api air mancur kecil, hanya beberapa bungkus, serta cemilan dan minuman.
Hingga pada akhirnya motornya terhenti di depan gedung universitas.
"Kenapa kesini?" tanya Grace tidak mengerti.
"Aku pacarmu selama 2 jam ini. Jadi menurut dan ikut saja!!" perintahnya tersenyum, membimbing Grace ke atap gedung universitas.
Area kampus yang cukup sepi, hanya beberapa mahasiswa yang mengikuti kuliah malam yang masih ada disana, telah bersiap-siap untuk pulang. Tapi tidak dengan Gin dan Grace, dua orang yang menapaki tangga darurat. Hingga kala pintu terbuka, terlihat tempat lapang yang luas. Sakelar lampu dinyalakan Gin tempat yang terlihat cukup terang saat ini. Atap gedung kosong tidak begitu tinggi, di gedung lima lantai itu.
Dua orang mulai duduk di sana, menyalakan kembang api sembari memakan cemilan. Dadanya masih terasa sesak, tempatnya berat untuk melepaskan pemuda yang selama lebih dari 6 tahun ada di hatinya.
Ingin rasanya kembali untuk memaafkannya, namun apa bisa? Tidak ada jalan untuknya kembali saat bersandar. Ibu yang telah meninggal, ayah yang memiliki keluarga sah. Hanya Tio tempatnya bersandar.
Gin membimbing gadis itu agar berbaring menjadikan pahanya sebagai bantal. Mengelus pelan rambutnya."Pernah dengar cerita gadis korek api?" tanyanya.
Sang gadis menonggakkan kepalanya, menatap ke arah pemuda itu.
"Gadis kecil yang tidak memiliki keluarga, ibunya telah meninggal, memiliki ayah yang hanya ingin mempekerjakannya, memaksanya berjualan korek api di tengah musim dingin. Gadis yang berjualan, iri melihat kebahagiaan orang lain di hari bersalju yang dingin,"
"Hingga pada akhirnya menemukan keajaiban, saat berjuang untuk hidup di tengah musim dingin. Menyalakan korek api yang dijualnya, ketika korek api pertama menyala yang terlihat adalah sofa dan perapian hangat. Namun, setelah korek api padam semua keajaiban itu juga ikut menghilang,"
"Dia menyalakan korek api kedua, keajaiban kembali terjadi, ada pohon natal, banyak mainan dan makanan. Anak itu benar-benar bahagia, tapi korek api kedua juga perlahan akan padam,"
"Semua kebahagiaannya akan menghilang setelah korek api ketiga padam kan?" tanya Grace.
Gin menggeleng, dia tetap bahagia."Tubuhnya ditemukan mati kedinginan dalam keadaan tersenyum. Dengan tiga batang korek api berserakan di sekitarnya, anak itu benar-benar bertemu dengan ibunya. Tenang berada di sisi-Nya,"
"Kamu dikalahkan oleh gadis korek api..." lanjutnya tersenyum.
"Kenapa!? Dia hanya anak kecil miskin, tidak pintar, seharusnya kabur saja dari ayahnya yang jahat..." ucap Grace sinis.
Gin kembali menggeleng."Dalam situasi yang sulit dia tetap menghargai hidup, berusaha bertahan hidup di tengah dinginnya musim salju. Karena itu kebahagiaan yang didapatkannya. Sedangkan kamu, dengan entengnya mengatakan lebih menyakitkan daripada kematian. Kamu mau mati!? Maka saat kamu mati tidak akan mendapatkan apapun,"
"Tapi jika kamu memiliki semangat hidup entah bagaimana akhirnya. Tuhan akan memberikan kesempatan padamu untuk bahagia, entah saat berada di dunia bertemu pada akhirnya dengan orang yang benar-benar mencintaimu. Atau saat di sisi-Nya nanti, bertemu dengan orang yang mengasihimu. Wanita tanpa semangat hidup sepertimu, akan berakhir mati tidak bahagia..." lanjutnya.
"Mati tidak bahagia?" Grace mengenyitkan keningnya, tidak mengerti.
"Seperti ini," Gin mulai menirukan suara hantu wanita."Tolong saya, saya kedinginan habis bunuh diri loncat dari sungai... atau tolong potong tali di leher saya, saya sesak karena gantung diri, tidak ada yang memutuskan talinya..."
Grace mulai kembali tersenyum, bangkit dari paha pemuda yang dijadikan bantal olehnya. Entah kenapa pemuda ini benar, mungkin jika dirinya menghargai hidup, dirinya akan menemukan orang yang dapat membahagiakannya di masa depan. Atau Tuhan dapat mempertemukannya dengan ibu yang menyayanginya kala ujung usianya sudah tiba nanti.
"Dasar!" cemooh Grace, memukul bahunya, dua orang yang sama-sama tertawa.
Sepasang kembang api kecil kembali dinyalakan mereka. Grace sedikit melirik wajah sang pemuda. Wajah yang nampak cerah dengan senyumannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.45, sebentar lagi tengah malam. Kebahagiaan ini juga akan menghilang seperti gadis korek api.
Pemuda ini bukanlah pacarnya, hanya seseorang yang tidak sengaja dimanfaatkannya. Namun, tidak rela rasanya kehilangan kebahagiaan ini, tangan Grace bergerak memegang jemari tangan Gin.
Pemuda itu menoleh padanya, kemudian tersenyum. Hanya itu, tidak ada sesuatu yang istimewa. Tapi hati dinginnya terasa hangat...
Hanya 15 menit saja, hanya 15 menit lagi. Waktu untuk dirinya meminjam pemuda ini dari wanita yang dicintainya akan berakhir...
Bersambung
...Gadis korek api? Itulah aku, memiliki cahaya korek yang kecil yang akan menghilang......
...Cahaya kecil hangat yang akan segera padam, cahaya yang sejatinya adalah milik orang lain......
...Menghangatkanku sejenak dari dunia yang terasa tidak adil......
...Hanya ilusi yang indah, jika saja aku memilikimu, andai saja dia sepertimu......
...Tangan dan senyumanmu......
...Seperti sebatang korek api kecil, di tengah hujan salju......
Grace...