My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Siapa Tau Berjodoh



Dua orang security yang berjaga diluar berjalan cepat hendak masuk ke dalam setelah mendengar mereka dipanggil.


Bug...


Seorang pemuda melompati tembok tinggi, merapikan jasnya yang sedikit kusut, mengenakan earphone di telinganya,"Tuan muda memanggil, tidak perlu bantuan. Tidak ada hal yang berbahaya disini..." ucapnya pada seseorang di seberang sana seakan memberi laporan.


"Ka...kamu siapa?" sang security mengalihkan perhatiannya pada Kevin. Bersiap untuk menangkap dan melumpuhkannya. Mengingat pemuda aneh itu, masuk dengan cara melompati tembok tinggi.


"Prajurit? Kacung? Bawahan? Istilah mana saja boleh, atau bisa dibilang pengawal setia..." jawabnya bergerak cepat. Enggan membuang-buang waktunya.


Bukan serangan fatal, kepalan tangan security yang hendak memukulnya dicengkeram erat olehnya. Tangan itu diplintir, dikunci ke bagian belakang, punggung sang security di tendangnya hingga membentur tiang lampu.


"Sakit!!" sang security duduk di tanah memegangi gusinya yang mengeluarkan darah. Dua buah gigi yang terlepas dari mulutnya akibat benturan.


Security lainnya hendak membantu, mengambil sebuah balok kayu.


Bug...


Dengan satu tendangan balok kayu terjatuh dari tangan security. Dipungut oleh Kevin, perut dan lengan security itu di pukul beberapa kali olehnya hingga kesulitan bergerak. Terjatuh memegangi tubuhnya, berbaring meringis di atas rumput.


"Menghalangi saja, pakaianku kusut lagi kan?" gerutunya kembali membenahi setelah jas yang di pakainya.


Suara di earphone yang melekat di telinganya kembali terdengar,"Yakin tidak perlu bantuan?"


Kevin menghela napas kasar,"Hanya melindungi nona dan tuan muda dari sarang berang-berang. Jika berani macam-macam tinggal tembak kepalanya saja ..." gumamnya tersenyum, sembari kembali berjalan masuk.


Tentara bayaran? Membunuh orang dalam perang sudah terbiasa baginya. Hanya semenjak bekerja pada Kenzo dirinya tidak pernah membunuh lagi. Tersenyum hendak berjalan ke kolam samping rumah, tempat pesta diadakan.


***


Beberapa orang tamu mulai tertarik dengan pertengkaran yang terjadi, termasuk Kiki dan kekasihnya yang mulai mendekat.


Apalagi dengan dipanggilnya sang security, yang belum juga datang menuju kebun samping dekat kolam renang.


"Security!!" jerit Diah kembali dengan pakaian yang telah basah didampingi Praba, putranya.


Febria hanya tersenyum, merekam semua dengan kamera phonecellnya.


"Kiki? Kamu disini? Atur anak harammu agar tau tatakrama!!" cibir Diah masih belum menyerah juga mempermalukan mereka.


"Anak?" Kiki mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"I...ini bukan anak Kiki, ibu mereka..." kata-kata Vanya disela.


"Jadi Dava punya hubungan dengan banyak wanita? Pantas saja, memang pria urakan yang membuat bisnis orangtuanya pailit," mulut Diah kembali berkicau tidak tentu arah.


Febria mulai berbisik pada neneknya,"Apa dia gila?" tanyanya.


Vanya mengenyitkan keningnya tidak dapat menjawab, entah dimana kedua cucunya yang polos beberapa jam lalu.


"Dava mempunyai hubungan dengan wanita lain?" Kiki memastikan pendengarannya.


"Mereka adalah cucu Damian dan Vanya. Berarti anaknya Dava bukan? Benar-benar aib..." Kata-kata yang keluar dari mulut berbisa Diah."Putraku Praba memang tidak bisa dibandingkan dengan Dava..." lanjutnya.


"Dimana putra bibi akan bekerja setelah lulus kuliah?" tanya Ferrell berjalan mendekat.


"Aku bekerja dimana bukan urusanmu. Hanya anak kecil bisa apa? Ayahmu memang kenyataannya pecundang," gumam Praba.


"Sayang?" tunangan Praba tiba-tiba datang menyender di lengannya.


"Maaf ya Selly (tunangan Praba) ada keributan," ucapnya tersenyum membelai rambut kekasihnya.


"Tante apa benar Dava sudah punya anak?" Kiki masih saja ingin memastikan.


"I...iya..." Vanya menjawab dengan ragu.


Anak yang berusia sekitar 7 atau 8 tahun. Tidak mungkin, saat itu Dava menghabiskan setiap waktunya bersama dengannya.


"Kamu bukan anaknya Dava kan..." Kiki mencoba mencengkram lengan Ferrell, tidak dapat menerima pria dingin yang ingin didekatinya telah memiliki anak.


Brak...


"Maaf, tuan muda saya baru datang..." Kevin menunduk pada Ferrell.


"Tidak apa-apa. Febria, kamu sudah merekam semuanya?" tanya Ferrell pada saudarinya.


"Sudah..." jawabnya tersenyum, memasukkan handphone ke dalam tas kecilnya.


"Kevin, kita pulang..." Ferrell ikut tersenyum, hendak pergi, menggandeng jemari tangan kakeknya.


"Anak iblis!! Aku akan membuat perhitungan dengamu!!" bentak Diah hendak menghentikan kepergiannya mereka.


Plak ...


Satu tamparan mendarat di pipinya."Kamu boleh menghinaku, menghina suamiku, menghina anakku, tapi jangan menghina cucuku..."


"Dengar ini baik-baik kamu yang menyuruhku kemari dengan dalih akan membayar hutangmu 1,5 juta. Tapi mana? Uangnya tidak ada, tapi mulutmu terus berkicau! Aku akan mengadukan ini pada menantuku..." kekesalan Vanya benar-benar diubun-ubun. Dirinya dipermalukan tidaklah mengapa, tapi kenapa harus kedua cucunya.


"Memang wanita malam darimana menantumu?" tanyanya arogan, hendak menjambak rambut Vanya. Namun dengan cepat Kevin mendorongnya.


Praba yang hendak menolong ibunya melawan Kevin, dikejutkan dengan pemuda yang melempar pisau menggores sedikit wajahnya. Jemari tangannya gemetar meraba darah di pipinya.


Febria tersenyum kemudian berbalik sembari menunduk,"Aku menunduk untuk tamu yang berada disini. Namaku Febria dan kakakku Ferrell, mungkin nama yang asing bagi kalian. Kalau begitu kami perjelas lagi, ibuku Amel Anggraini, ayahku bernama Kenzo..." beberapa orang mulai berbisik-bisik, sedikit tidaknya orang yang sering berbisnis di negara lain mengenali nama tersebut.


"Belum jelas juga? W&G Company..." lanjutnya.


Orang-orang yang mendengar nama perusahaan besar, mulai mendekat. Bersamaan dengan Ferrell dan Febria menarik kakek neneknya untuk pergi.


Tamu-tamu yang mulai mengikuti langkah mereka, meminta berbagai hal...


"Nak, bagaimana jika makan malam bersama keluarga paman. Sekalian undang orang tuamu ya..."


"Aku dari wartawan news wind...bisa minta orang tuamu untuk kami wawancarai secara live. Aku akan belikan tiket ke taman hiburan untuk kalian!! Tidak, tiket liburan ke Bali..."


"Nak, aku dari perusahaan Sajaya, bisa minta kedua orang tuamu mengatur perjodohan dengan putriku? Ini fotonya"


Seketika suasana hening, semua orang menoleh pada sang pria yang mengajukan permintaan tidak masuk akal.


"Apa!? Kenapa melihatku begitu!? Ini kesempatan sekali seumur hidup, siapa tau anakku berjodoh ketika dewasa nanti dengan putra konglomerat..." ucapnya pada semua orang yang menatapnya.


Para tamu yang kembali berkerumun mengejar dua orang anak, bagaikan pejabat yang dikerumuni wartawan. Atau selebriti idola yang dikerumuni fansnya. Hingga mereka masuk ke dalam mobil yang mulai berlalu meninggalkan kediaman itu.


***


Sementara pesta yang telah hancur mulai kosong, para tamu yang menyaksikan pertengkaran tadi bagaikan enggan berada disana. Enggan bersinggungan dengan perusahaan raksasa yang berbasis di luar negeri itu.


"Kenapa mereka percaya kata-kata anak kecil!! Tidak mungkin mereka..." kata-kata Diah disela. Seseorang pria yang awalnya hanya menyaksikan dari jauh berdiri di belakangnya, menatap tajam padanya.


"Mereka asli!! Apa yang kamu lakukan!?" Virgo menampar wajah istrinya.


"A... apa maksudnya?" tanyanya gelagapan.


"Amel Anggraini ada di negara ini, ini bukan kebetulan. Dua orang itu anak kembarnya!! Ini seharusnya jadi kesempatanku untuk berjaya!!" ucapnya geram mencengkram leher pakaian istrinya."Jika mereka memiliki hubungan dengan keluarga pemilik W&G Company, aku tidak mau tau!! Entah kamu merangkak, menjilat sepatu Vanya!! Cari perhatiannya!! Dasar istri tidak berguna!!"


Sementara Kiki yang dipapah kekasihnya tersenyum, mendengar segalanya. Amel Anggraini? Apa mungkin wanita yang mencium Dava di taman hiburan. Pria Simpanan wanita kaya? Itukah status Dava saat ini? Tidaklah mengapa, Dava hanya mencintai dirinya.


Mungkin memang sebaiknya Dava menjadi simpanan wanita kaya. Sama sepertinya dan Baron. Keruk hartanya lalu melarikan diri pergi.


Dirinya akan melakukannya bersama Dava. Mempengaruhi Dava untuk mengeruk harta milik Amel, kemudian melarikan diri.


Dirinya akan menikah dengan Dava, meninggalkan segalanya. Hidup di tempat lain sebagai kalangan atas.


Satu hal yang tidak disadarinya selama 7 tahun, yang dirinya kejar bukan Dava melainkan Kenzo, suami dari Amel Anggraini.


***


Sementara itu di tempat lain. Kenzo membangunkan tidur istrinya, usai menerima panggilan dari Febria yang berpura-pura menangis. Mengirimkan sebuah video, mengundang kemarahan sang ayah.


"Ada yang menghina anak kita. Boleh aku bertindak..."


Bersambung