
Hari ini cerah seperti biasanya, gadis itu terbangun dari mimpi indahnya dengan penuh semangat. Setelah membersihkan dirinya, segera memakai seragam SMU-nya. Meraih ransel, tidak sabar rasanya kembali bertemu dengan pujaan hati. Entah apa kabarnya, Glory hanya berharap dia baik-baik saja.
Berjalan dengan membawa kantong plastik berisikan boneka yang telah dikemas rapi olehnya. Hingga melangkah melewati ruang tamu rumahnya yang tidak begitu luas."Glory," ucap Kamila, mengenyitkan keningnya menatap tajam.
"Ibu, uang jajan..." pintanya menadahkan tangannya tersenyum.
"Ken kemari tandi malam kan? Kalian melakukan apa saja!?" tanyanya tegas.
Kali ini bukan Kamila, namun Glory yang membuka kancing kemejanya."Bersihkan!?" Kemudian remaja itu melompat-lompat dan berjalan."Aku masih perawan. Kami hanya sekedar bicara, tidak lebih,"
"Ciuman bibir?" tanya Kamila menyelidik, dengan cepat putrinya menggeleng, sambil kembali merapikan pakaiannya.
"Pelukan?" tanyanya lagi.
Kali ini Glory tersipu-sipu malu."Hanya pelukan,"
Sang ibu memijit pelipisnya sendiri, menghela napas kasar berusaha untuk bersabar."Cium pipi atau kening?"
"Hanya cium pipi dan kening. Ibu jangan melihat begitu, aku kan jadi malu..." jawabnya tersipu.
Kamila mendekati putrinya, memeluknya erat."Glory kamu seharusnya menjaga diri untuk calon suamimu kelak. Kasihan Gin jika dia tau apa yang kamu lakukan," nasehatnya.
Glory mengenyitkan keningnya, melepaskan pelukan Kamila."Gin sudah tau, aku sudah punya pacar. Dialah yang orang ketiganya, logika dari mana harus kasihan pada orang ketiga?"
"Jadi Gin sudah tau!? Mulai sekarang Ken dilarang datang ke rumah ini lagi. Gin akan mengantar jemputmu," ucap Kamila kesal.
"Tidak bisa begitu, ibu sudah janji kalau aku bersedia keluar bersamanya, Ken boleh kembali belajar di kamarku!" Glory mengalihkan pandangannya tidak terima.
"Itu kemarin saat kalian belum berkenalan, Gin belum tertarik. Tapi sekarang dia sudah tertarik, jadi lain cerita. Undang-undang saja bisa di amandemen oleh pemerintah, apalagi aturan yang ibu buat,"
"Ingat! Putuskan hubungan cinta monyetmu dengan Ken. Terima Gin, dia anak yang baik, kalian hanya belum saling mengenal. Cinta bisa tumbuh seiring waktu," lanjutnya.
"Ibu ceraikan ayah, duda pemilik toko di depan gang selalu curi pandang ke ibu, bahkan memberikan diskon saat ibu belanja disana. Cobalah bersamanya, dia lebih gagah, tampan, dan kaya dibandingkan dengan ayah yang kerempeng penjual tahun bulat. Cinta bisa tumbuh seiring waktu," kata-kata yang keluar dari mulut putrinya yang cerdas.
Kamila kembali memijit pelipisnya sendiri."Anak nakal! Berangkat sana!!" geramnya memberikan uang 5000 rupiah pada putrinya,"Ingat jauhi Ken!"
Glory berjalan pergi tersenyum hingga pintu depan,"Ingat jauhi ayah!" ucapnya meniru kata-kata sang ibu kemudian melarikan diri tidak ingin dimarahi.
Sedangkan Kamila menghela napas kasar, menatap suaminya yang baru saja selesai membersihkan diri. Hendak berjalan keluar mempersiapkan dagangannya.
Cantik? Tentu saja, kecantikan Glory menular dari ibunya, bentuk tubuh indah seorang ibu berusia 41 tahun yang benar-benar terjaga. Tiba-tiba berjalan dengan daster murah mendekati suaminya,"Hasan... mau kemana?" tanyanya.
"Siapin dagangan," jawab suaminya, baru saja keluar dari kamar mereka.
"Glory sudah berangkat, sekarang masih pagi, masih dingin..." ucapnya genit, memeluk tubuh suaminya.
"Dasar genit? Ingin lagi?" tanyanya mengelus rambut istrinya. Dengan malu-malu Kamila mengangguk.
***
Tidak menyadari putrinya yang tengah berjalan menuju sekolah mengumpat,"Ibu sendiri sama, kenapa aku tidak boleh memilih pasangan hidup sendiri. Ken itu baik, bertanggung jawab, tidak macam-macam, pemalu, pintar," gumamnya berjalan sendiri menyebutkan kelebihan kekasihnya. Pria idaman yang sempurna di matanya.
Hingga sosok itu terlihat, Grisella yang dikagumi semua orang. Turun dari mobil milik seorang pemuda yang dulu pernah dilihatnya bersama Grisella. Apa itu kekasihnya? Lalu bagaimana dengan pertunangannya dengan Ferrell?
Perasaan cemas yang segera ditepisnya, menatap Grisella yang tersenyum acuh berjalan meninggalkannya.
Sedangkan Glory menghela napas kasar kembali melanjutkan perjalanannya. Hingga Tio tiba-tiba turun dari mobil, menghampirinya."Kamu Glory kan? Kita pernah bertemu sebelumnya, saat Grisella membeli tahu bulat. Perkenalkan, aku Tio teman Grisella," ucapnya mengulurkan tangan.
"Kakak yang baik hati, mau beli boneka? Murah hanya 10.000," ucapnya menyodorkan satu kantong plastik berisikan 6 buah boneka.
Tio tersenyum, mengeluarkan dompetnya memberi uang 600.000 rupiah. Harus royal untuk mendapatkan seorang gadis itulah yang diketahuinya."Khusus untuk gadis secantikmu, 100.000 per boneka. Mau makan siang bersama denganku? Aku yang traktir," tanyanya.
Glory hanya mengambil satu lembar uang dengan gambar tokoh proklamator."Kembaliannya, aku anggap sebagai traktiran dari kakak. Terimakasih kak Tio," ucapnya tersenyum.
"Bukan begitu, nanti kita makan di ..." kata-kata Tio terpotong, sekantung boneka itu diberikan padanya.
Sedangkan Glory melambaikan tangannya, berlari ke arah seorang pemuda berseragam SMU, mereka terlihat lengket seperti lem. Kemudian berbisik pada sang pemuda yang baru datang, entah apa yang diucapkannya, jemarinya menunjuk ke arah Tio.
Pasangan yang berjalan bergandengan ke arahnya. Bukan pemuda rupawan, yang terlihat tapi seorang pemuda dengan rambut ala superman, memakai kacamata, dengan tahi lalat lumayan besar di wajahnya, berkulit kusam, kontras dengan kulit Glory yang putih alami.
Sang pemuda yang tersenyum mengejek, tertunduk berterimakasih,"Kak terimakasih sudah memberikan uang kembalian pada Glory. Kami jadi bisa makan bakso bersama di warung depan sekolah..."
"Kamu siapa?" tanya Tio mengenyitkan keningnya.
"Ini pacarku Ken," jawab Glory bergelayut manja.
Ferrell mencubit hidungnya gemas."Ayo kita ke kelas," ucapnya.
"Boleh aku panggil sayang?" tanya Glory penuh harap.
Ferrell tersenyum malu-malu, kemudian mengangguk.
"Sayang..." ucapnya Glory dengan suara kecil, mengalihkan pandangannya ke arah lain, terlihat sama malunya. Memendam perasaan bahagianya.
"Iya sayang, kita ke kelas," Ferrell menarik tangan kekasihnya meninggalkan Tio.
Tio mengenyitkan keningnya menatap pasangan itu dari jauh."Aura bucin yang benar-benar menyengat..." gumamnya menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
Memasukkan keenam buah boneka itu dalam bagasi."Orang yang membuat Gin tertarik masih SMU, mungkin aku berikan saja ini pada Gin. Sebagai ganti rugi sudah mengambil Grisella..." lanjutnya mengingat perjodohan temannya yang berjalan lancar.
Perlahan dirinya mengambil phoncellnya, membuka sandi disana. Tersenyum mulai menghubungi seseorang."Halo Grace, kamu sudah bangun. Selamat pagi, malaikat cantikku..."
"Pagi, kamu sudah sarapan?" tanya wanita di seberang sana.
"Sudah, kamu juga jangan sampai lupa sarapan. Wajahmu setelah datang dari Inggris bertambah pucat," jawab Tio, tersenyum memasuki mobilnya.
"Tio, apa kita akan menikah?" tanyanya.
"Tentu saja, sudah 4 tahun aku menunggumu datang dari luar negeri..." jawab Tio tersenyum, mengingat tentang kekasihnya yang menjalani hubungan jarak jauh dengannya.
"Em..." hanya itulah jawaban yang didapatkannya sebelum sambungan telfon terputus. Mencoba menghubunginya lagi, namun percuma nomor phonecell itu mati.
"Mungkin baterai phonecellnya habis..." gumam Tio meninggalkan sekolah SMU, kembali melajukan mobilnya menuju kampus.
Tidak menyadari phoncell itu terjatuh masuk ke dalam air bathtub yang cukup luas. Bersamaan dengan Grace yang menenggelamkan kepalanya. Tidak bernapas beberapa saat, berharap dapat melupakan rasa sakitnya, berpura-pura baik-baik saja.
Namun...
"Hah...hah..." suaranya terdengar menghirup udara dengan serakah."Tio..." ucapnya menjerit, terisak. Hubungan yang terjalin dari 7 tahun lalu seakan tidak ada artinya.
"Aa...aaa...ngg..." teriakan lirihnya, menggema dalam kamar mandi hotel.
Bersambung