My Kenzo

My Kenzo
Rara Dan Rambo



Manager butik tersenyum, menunduk di hadapan dua orang pelanggannya. Sedikit? Tidak, sifat Keyla masih sama seperti dahulu, puluhan gaun dan sepatu dibelinya dari butik yang cukup besar tersebut.


Sang manager butik menghela napas kasar tersenyum, mungkin target penjualan bulanan ini akan melebihi dari yang seharusnya. Tentunya bonus besar untuk dirinya.


Keputusan tepat dirinya menjual gaun pada Keyla. Tidak membuat pelanggan yang berbelanja terbanyak, tersinggung.


"Malam ini kita makan malam bersama!! Aku yang teraktir!!" ucap sang manager pada para bawahannya penuh semangat. Semua bertepuk tangan, dan berterimakasih padanya.


Tapi mungkin hanya sementara, hingga pemilik butik yang sejatinya adalah waria datang. Memakai pakaian tidur wanita, masih dengan rambut panjang tidak disisirnya. Suaranya biasanya terdengar anggun lemah gemulai, kini menunjukkan suara aslinya. Bentakan suara bariton seorang pria, menggebrak meja di hadapan sang manager penuh amarah.


"Hari ini wanita mana saja yang datang ke butik!?" kekesalannya hingga ke ubun-ubun. Jadilah waria berwajah tampan, berambut panjang dengan dress wanita. Namun tanpa tubuh oplas itu mengeluarkan aura maskulinnya.


Bahkan terlalu maskulin, bagaikan ketua geng mafia.


"Ti... tidak banyak, hanya beberapa pelanggan dari kalangan atas..." ucap sang manager yang notabene seorang pria sejati gelagapan.


"Baj*ngan!! Ada diantara mereka rombongan tiga orang wanita yang kamu usir!?" bentakannya dengan nada bariton yang benar-benar tinggi. Suara menggelegar bagaikan petir memenuhi seisi ruangan.


Sang manager mengenyitkan keningnya, keringat dinginnya bercucuran, menatap bosnya yang dari Rara lemah gemulai, berubah menjadi Rambo lengkap dengan basokanya. Namun, sekeras apapun mencoba mengingat satu-satunya pelanggan yang tidak puas hanya tiga orang wanita aneh berpakaian kelas menengah.


"A...ada tapi mereka tidak berbelanja. Hanya mencoba, membeli satu barang, pergi setelah menyinggung pengunjung lain..." jawabnya gelagapan.


Tidak bisa, tidak murka lagi, kerah pakaian sang manager butik ditariknya, bahkan memukul wajahnya dengan kencang. Hingga memar, waria itu bagaikan pria normal saat ini.


"Tuan...eh salah, nyonya...saya tidak bersalah, mereka yang mencari gara-gara..." sang manager toko masih duduk di lantai, setelah tersungkur dengan luka lebam di wajahnya.


"Siapa yang salah, tidak penting!! Kamu tau siapa tiga orang wanita yang datang!?" kakinya yang masih memakai sandal tidur bulu motif kelinci, diletakkan pada bahu sang manager, penuh penghinaan.


"Si... siapa...?" tanya manager gelagapan.


"Tiga orang yang seharusnya menjadi tamu VVIP, jika dapat bekerja sama dengan suami mereka. Butik kita beruntung kedatangan mereka, kini menjadi sebuah kesialan!! Istri pemilik JH Corporation, istri komisaris Bold Company, satu lagi calon istri pemilik W&G Company..." kerah pakaiannya kembali ditarik.


Sang manager tertegun, rombongan istri pengusaha membawa wadah dari jajanan makanan pinggir jalan kemana-mana? Bahkan berjalan kaki, tanpa pengawal? Tidak!! Tidak mungkin pasti salah orang tidak mungkin tiga orang wanita aneh itu.


"Tidak mungkin mereka punya koneksi. Me... mereka, bahkan tidak menaiki mobil dan membawa pengawal..." ucapnya kembali ketakutan.


Wajah bengis itu terlihat lagi,"Dengar!! Ayahku bekerja di JH Corporation. Beruntung bawahan yang ditugaskan pemiliknya untuk mengambil butik ini bagaimana pun caranya adalah sahabat karib ayahku. Jadi ayahku bisa memperingatkanku lebih awal,"


"Pergi!! Cari ketiga wanita itu sekarang!! Minta maaf!! Berlutut!! Cium kakinya!! Terserah apa yang mau kamu lakukan, agar mereka bersedia kembali lagi kemari!!" Kata-kata tegas, layaknya kapten militer, membentak anak buahnya. Keluar dari mulut sang Rambo, maaf salah Rara.


"I...iya..." sang manager, berlari dengan cepat, bahkan sempat jatuh akibat lantai yang licin.


Yang ada difikirkannya sekarang bukan bonus lagi. Tapi bagaimana caranya membayar cicilan rumah, cicilan mobilnya, biaya hidup kedepan. Jika ketiga wanita polos nan cantik itu tidak ditemukan.


Sementara pegawai lainnya mematung ketakutan. Untuk pertama kalinya melihat bos mereka dalam mode Rambo.


Tapi bagi pegawai wanita, andai saja bos mereka yang tampan setiap hari berada pada mode Rambo mungkin mereka akan menjerit akibat aura maskulinnya.


***


Sang manager masih berlari kencang, hingga satu jam dirinya menghabiskan waktu menelusuri jalanan. Tiga wanita itu terlihat juga, kali ini lebih parah, membawa lebih banyak cemilan jalanan lagi, bermain di hadapannya mesin capit boneka.


Pasangan mereka orang kaya tujuh tanjakan, delapan tikungan. Apa benar? Tidak, bos tidak akan berubah menjadi Rambo jika mereka benar-benar orang biasa... sang manager mengepalkan tangannya. Berjalan mendekati mereka, tersenyum ramah memberanikan dirinya.


Namun ketiga wanita itu acuh, masih setia mengunyah. Sembari mencoba mengambil boneka dari mesin capit.


"Dua buah gaun gratis per orang..." tawarannya lagi.


"Biar aku saja...!!" Jeny meraih kendali dari Amel. Mereka bertiga masih acuh, tidak menganggap keberadaan sang manager butik.


"Tiga buah gaun gratis per orang...aku mohon, kembali ke butik kami ya!? Aku akan memberikan pelayanan terbaik. Demi istri dan anakku yang berusia dua tahun..." pintanya, memelas.


Ketiga wanita itu menoleh serempak, mengenyitkan keningnya.


Sang manager meraih dompetnya, memperlihatkan foto istri dan anaknya,"A...aku mohon, kembali ya... aku minta maaf..." pria yang putus asa itu, tertunduk.


Ketiga wanita yang saling melirik, berusaha tersenyum, kemudian mengangguk.


Taksi dihentikan mereka, kembali ke lokasi butik yang seharusnya sudah akan tutup. Pintu dibukakan seorang pegawai butik, butik terbesar di tempat itu terlihat lagi.


"Aaaaaa... cantiknya... maaf karyawanku memperlakukan kalian dengan buruk. Sebagai sesama wanita aku sedih..." mode Rambo sang bos kembali berubah menjadi mode Rara mencium pipi kanan, pipi kiri ketiga wanita itu secara bergantian.


Langkah kaki sangar tidak ada lagi, hanya pijakan gemulai bagai model cantik di catwalk. Kini suara bariton yang menggelar itu berubah menjadi lembut bagaikan bunga Peony yang mendayu-dayu tertiup angin musim semi.


"Kalian memaafkan aku kan? Kalau tidak aku akan sedih...!?" lanjutnya merajuk, dengan raut wajah manja.


"Sebenarnya kami kemari karena..." kata-kata Amel terpotong, wanita jadi-jadian itu merangkulnya dan Frea.


"Kita harus cantik, untuk cantik perlu pakaian yang bagus. Kita akan jadi teman yang cocok, nanti aku traktir pedicure...kita ke salon sama-sama..." tidak sedikitpun kesempatan bicara, diberikan olehnya.


"Gadis cantik yang disana, ayo!! Kita akan mencoba pakaian yang aku buat khusus..." kata-katanya tertuju pada Jeny, yang menghela napas ikut masuk lebih dalam.


Berbicara tanpa henti, tidak ingin ada penolakan, bagaikan pelanggan yang telah terjebak sarang laba-laba. Untuk menjadi temannya...


Bosku ketika berada dalam mode Rambo bagaikan mafia... Tapi ketika ada dalam mode Rara, tidak akan ada wanita yang bisa berkutik... siluman laba-laba sejati... sang manager mengangkat kedua jempolnya pada sang bos, dengan wajah masih memar akibat pukulan bosnya yang emosional.


***


Di tempat lain...


Farel masih tersenyum, menahan kekesalannya. Setelah menghubungi karyawannya, sekitar satu jam yang lalu.


"Sudah?" senyuman aneh memuakan juga menyungging di bibir Tomy.


Farel menganggukkan kepalanya, meletakkan kembali phonecellnya.


"Jika di negara ini tidak ada hukum, aku ingin menembak kepala mereka..." Tomy menusuk daging di hadapannya.


"Omong-ngomong Kenzo dimana?" Farel mengenyitkan keningnya.


"Katanya keluar sebentar..." jawab Tomy polos.


Seketika suasana hening, mengingat Amel yang mengalami situasi paling buruk. Apa yang akan dilakukan si Antagonis? Entahlah...


Bersambung