
"A... Amel, Tante..." Diah gelagapan, mengingat hotel dan club'malam merupakan milik wanita di hadapannya.
Amel menghela napas kasar,"Mereka menjerat tante ya? Ini salahku, seharusnya aku menemani tante disini. Tapi kepalaku tiba-tiba sakit..." ucapnya tertunduk terlihat menyesal bagaikan baru menatap tanda keunguan di leher Diah.
"Ti... tidak apa-apa," Diah bertambah gugup, lebih menaikkan syalnya lagi.
"Tapi..." Amel terlihat ragu.
"Tidak apa-apa, tapi tolong jangan katakan pada siapapun," pintanya.
Amel mengangguk sembari tersenyum,"Untuk menebus semuanya, apa tante mau ke butik adikku? Biar aku yang bayar..."
"Iya..." Diah tersenyum, mulai mengikuti langkah Amel ke mobil miliknya.
***
Butik yang sudah berkembang pesat, 7 tahun ini, Amel hanya mengenakan desain adiknya. Alasannya? Dari pada pakaian bermerek lebih baik memajukan usaha adiknya sendiri bukan?
Butik yang cukup besar, telah memiliki banyak cabang di beberapa kota. Diah tertegun, tidak seperti butik-butik kelas menengah yang didatanginya. Tempat yang begitu luas terlihat berkelas. Bahkan desain pakaiannya lebih rinci dan indah. Matanya menelisik, terdapat pasangan selebriti ternama disana, tengah melihat-lihat kemudian di bimbing seorang desainer ke ruangan VVIP.
"Itu bukannya pasangan selebriti..." kata-kata Diah disela.
"Mungkin mereka lebih memilih menentukan desain berbeda, karena itu dibawa desainer ke ruangan VVIP guna menentukan sketsa design..." ucap Amel tersenyum.
Menentukan sketsa desain? Berbeda dengan butik kelas menengah yang sering dimasuki Diah. Memilih gaun, kemudian fitting, setelahnya tinggal tunggu jadi, sesuai ukuran. Tapi ini? Bahkan bisa menentukan design?
"Kakak..." hingga seorang wanita datang menyambut kakaknya, memeluknya erat.
Lebih dari lima tahun mereka tidak bertemu, mengingat Amel yang berpindah dari satu negara ke negara lainnya. Jika ke villa pun mungkin hanya seminggu atau dua minggu, memantau aset dan sahamnya di beberapa perusahaan di negara ini.
Pemesanan pakaian? Biasanya Amel hanya memesannya melalui pengiriman. Mengingat ukuran tubuhnya yang tidak berubah begitu jauh.
"Kamu bertambah cantik, dimana jelly nata de coco?" mata Amel menelisik.
Nindy tertunduk menghela napas kasar, wajah wanita itu nampak pucat, entah kenapa.
***
5 tahun lalu...
Dua tahun, dari mereka memulai hubungan. Namun, tidak pernah ada perkembangan lagi. Brandon malah semakin terlihat menjauh. Memakai pakaian pria? Percuma saja, malah semakin banyak wanita yang mendekatinya.
Siapa wanita yang tidak ragu, bahkan saat akan berciuman pun dirinya di dorong. Tapi tidaklah mengapa, Nindy masih dapat tersenyum, berusaha menunggu dengan sabar hingga kekasihnya melupakan trauma masa kecilnya.
Tapi apakah akan sama begitu,"Kak Brandon..." ucapnya tersenyum, membawa kotak bekal buatannya sendiri.
"Aku tidak lapar," Brandon menepis kontak bekal buatan Nindy. Hingga jatuh berceceran di lantai.
"Maaf, ruanganmu jadi kotor," Nindy mengepalkan tangannya, berusaha agar air matanya tidak mengalir. Memungut satu-persatu makanan, menaruhnya kembali ke dalam kotak untuk dibuang. Hingga karyawan butik lainnya datang, membawa alat kebersihan.
Pemuda berwajah dingin itu tetap acuh, menggambar sketsa desainnya. Jenuh? Apa pemuda itu sudah jenuh padanya. Tidak boleh...
Dengan cepat Nindy berjalan mendekatinya, mencium bibirnya. Tapi seperti biasa, dirinya di dorong."Jangan menggangguku, aku sedang sibuk..." ucapnya.
"Aku tau..." Nindy tertunduk, berjalan pergi melangkah dengan cepat. Tidak ingin tangisannya terdengar.
Bersamaan dengan Brandon yang mulai menatap padanya,"Nindy..." pemuda itu mengepalkan tangannya, membuka lacinya, menatap tiket pesawat dengan tujuan Singapura.
***
Bahkan dirinya lebih rendah dari pelanggan butik di hati kekasihnya.
Hari itu tiba juga, kala dirinya mendatangi apartemen Brandon. Cup cake dibuatnya sendiri, dihias sedemikian rupa khusus untuk kekasihnya, turun dari mobilnya.
Tapi dunianya seakan runtuh, pemuda yang dicintainya berciuman dengan wanita lain. Wanita cantik dari keluarga kaya, salah satu pelanggan butiknya.
Air mata Nindy mengalir menahan sesak di dadanya. Jemari tangannya mengepal, meninggalkan area parkir, menangis seorang diri di area berumput depan apartemen. Memikirkan kelanjutan hubungannya.
Dimana kesalahannya? Apa karena dirinya bukan dari keluarga kaya? Entahlah, tapi ini benar-benar menyakitkan baginya. Dua tahun bukan waktu yang singkat, dirinya bersabar menunggu, menjadi kekasih yang baik. Tapi, kini seorang Nindy sudah kalah...
Matanya menelisik mengamati seorang security yang berdiri di sana, perlahan air mata yang membasahi pipinya dihapus olehnya.
"Pak...ini untuk bapak...dari pada terbuang..." ucapnya tersenyum.
"Terimakasih, boleh minta nomor phoncellnya?," sang security yang seumuran Nindy membalas senyumannya.
"Saya tidak punya phoncell..." gumamnya melangkah pergi, sembari tertunduk dengan tubuh yang terlihat lemas. Sudah letih menjalani cinta sepihak.
***
Hari berganti, Nindy berubah semakin dingin saja. Tidak ada lagi kotak bekal dengan kehangatan di dalamnya. Wanita yang hanya fokus pada design dan pelanggan. Brandon sesekali menatap padanya, entah memiliki maksud dan tujuan apa.
Tapi terlalu menyakitkan untuk menanyakan pada pemuda itu, terlalu menyakitkan membayangkan perasaannya selama 2 tahun ini hanya dianggap omong kosong.
Hingga...
Pemuda itu berjalan mendekat,"Aku akan kembali ke Singapura. Jadi sebaiknya kita..." kata-kata Brandon terhenti.
"Kita akhiri saja, aku sudah lelah..." ucapnya dengan air mata yang mulai mengalir, tidak tertahankan.
"Nindy...?" Brandon mendekat hendak menghapus air matanya.
Nindy memalingkan wajahnya, menghapus air mata dengan tangannya sendiri. Berjalan pergi melayani pelanggan lainnya. Senyuman dipaksakan terlihat di wajahnya. Brandon hanya terdiam, entah apa yang ada di fikirannya saat ini.
Setiap pertemuan memang sudah seharusnya ada perpisahan. Begitupun hubungan mereka, deru suara mesin pesawat terdengar. Brandon meraba kaca jendela perlahan. Terdiam terlarut dalam fikirannya sendiri.
Meninggalkan semua yang ada di negara ini. Kembali ke kehidupannya yang dulu, mungkin sisi teraman baginya.
Namun hubungan yang dijalin selama 2 tahun? Gadis itu menangis tiada henti terlalu banyak kenangan dan perasaan sakit yang ditoreh cinta pertamanya. Duduk seorang diri di lantai kamarnya.
Prang...
Frame foto dilemparkannya, membentur tembok kamarnya. Dirinya juga memiliki hati, apa kesalahannya? Kenapa semenyakitkan seperti ini?
"Brandon," Nindy mendekati pecahan kaca, hendak memunguti foto mantan kekasihnya.
Darah mengucur dari jemari tangannya yang terluka. Hingga Glen yang mendengar keributan di kamar adiknya tiba-tiba masuk. Memeluk tubuh adiknya yang menangis terisak.
"Jangan menangis..." kata-kata hangat terdengar dari bibirnya.
"Dia pergi...dua tahun...dua tahun tidak cukup, dia menolakku. Tapi berciuman dengan wanita lain, apa karena aku bukan orang kaya..." Nindy semakin menjerit dalam tangisan kakaknya.
"Tidak, kedua adikku begitu cantik. Dia hanya puding warna warni, dia tidak pantas untukmu. Kakak akan menjagamu... jangan menangis..." gumamnya, ikut menitikan air matanya. Memeluk tubuh Nindy semakin erat, untuk pertama kalinya gadis tegar itu menangis terisak.
Mengingat pemuda yang pergi, tanpa ada keinginan memperbaiki hubungan mereka...
Bersambung