My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Keberuntungan



Surat putusan pengadilan sudah diterimanya, dirinya kini resmi bercerai. Virgo menghirup napasnya dalam-dalam, setengah dari kekayaan masih menjadi miliknya.


Penangkapan Kiki dan Praba yang menyerahkan dirinya ke pihak kepolisian diketahui olehnya. Begitu Kiki tertangkap, maka pasokan narkotika pada Imah, sang ART juga terputus.


Menikahi sang ART? Sejatinya tidak, itu hanya alasan untuk membalas perasaan sakitnya pada Diah. Uang kompensasi, telah diberikannya pada Imah, dirinya telah menjalani rehabilitasi, melepaskan diri dari zat adiktif yang tidak sengaja di konsumsinya.


Tidak bahagia, itulah anggapannya tentang hidupnya. Ingin melihat kebahagiaan Praba putra tunggalnya, hanya itu kini keinginannya. Walaupun dirinya tidak tahu, apakah akan masih hidup ketika putra tunggalnya bebas dari penjara nanti.


"Ini untukmu penjahat nakal..." ucapnya menyodorkan sekotak makanan dari restauran cepat saji.


"Ayah tidak marah padaku, tidak membenciku? Karena menyerahkan diri?" tanya Praba menatap satu-satunya orang yang menjenguknya dengan baju tahanan.


"Sebenarnya ayah juga kecewa saat dulu kamu mengatakan, sudah menghancurkan kehidupan Dava. Tapi ibumu mengatakan itu demi kebahagiaanmu di masa depan,"


"Menjalani kehidupan yang tidak sesuai dengan hati nurani menyakitkan, bukan? Karena itu ayah menjadi pengecut dan mengikuti keinginan ibumu, perlahan menjadi kasar padanya. Memendam rasa bersalah, berubah menjadi keserakahan dan takut akan balas dendam dari Damian," ucapnya tersenyum.


"Jadi?" Praba mengenyitkan keningnya, tidak mengerti dengan kata-kata ambigu dari ayahnya.


"Jadi, ayah bangga padamu, memiliki seorang anak yang berani mengakui kesalahannya. Tidak seperti tindakan pengecut ayah dulu..." jawabnya tersenyum.


"Ayah masih bekerja di sana (perusahaan pesaing yang menghancurkan perusahaan Damian dulu)?" tanya Praba, mulai membuka kotak bungkusan makanan cepat saji yang dibawakan ayahnya, seakan tidak sabaran. Sama seperti ketika Praba kecil dahulu. Bahagia hanya dengan ayam goreng, tidak memiliki ambisi atau iri hati.


"Tidak, ayah hanya seorang pemilik toko sekarang. Ayah baru membukanya, omsetnya memang tidak sebanyak gaji ayah ketika bekerja di perusahaan. Tapi cukup untuk menjamin hidupmu dan cucu ayah saat kamu keluar dari penjara nanti," jawabnya tersenyum.


"Baguslah, aku memiliki ayah dengan keberuntungan gila-gilaan!!" teriaknya mencubit pipi keriput ayahnya.


"Kenapa? Ayah berhenti karena merasa bersalah pada Damian jika terus bekerja di sana. Karena kamu bersedia mengakui kesalahan, ayah juga harus mengakui kesalahan, bukan!?" ucap Virgo mengusap-usap pipinya sendiri.


"Tidak sesederhana itu, jika Dava sudah meninggal 7 tahun yang lalu. Ayah tau siapa yang tinggal sebagai Dava dengan Damian selama ini?" tanyanya sembari tersenyum.


Virgo tersenyum, mulai tertawa sendiri, menertawakan pemikiran gilanya."Amel Anggraini suaminya meninggal 7 tahun lalu, mendekati pemuda yang hidup bagaikan Dava. Jangan-jangan itu suaminya Kenzo..." ucapnya memegangi perutnya, menganggap itu sebuah lelucon.


"Kiki mengatakan dia Kenzo..." Praba menghela napas kasar.


"Ke... Kenzo!? Iblis yang tidak pernah terlihat wajahnya itu menjadi badut di taman hiburan!?" Virgo memastikan pendengarannya, dijawab dengan anggukan oleh Praba.


TV yang masih menyala di ruang besuk penjara tersebut, akan menyiarkan sebuah wawancara eksklusif. Dimana surat kabar ternama, untuk pertama kalinya bekerja sama dengan stasiun televisi.


Seorang reporter berpakaian rapi, mewawancarai keluarga sendiri? Itulah yang akan dilakukannya. Wajahnya baru selesai diberi polesan sedikit make up.


Bug...


Terdengar suara seorang masuk, kemudian pintu kembali tertutup.


"Aku sudah memberikan semua informasi, tentang Dava dan keluarganya. Serta hubungannya dengan keluarga Virgo. Jadi tahu bulat digoreng 500 an, wawancara eksklusif bersamamu memang pantas aku dapatkan," gumamnya tanpa menoleh siapa yang datang ke ruang rias, sembari menggunakan jam tangannya.


"Pastikan, pakai makeup yang waterproof, dan bawa beberapa lembar tissue. Tunjukkan raut wajah sedihmu atas kepergian Kenzo 7 tahun lalu..." Glen menghela napasnya sejenak, konsentrasi menatap catatan kecil hal-hal yang nantinya akan ditanyakannya pada Amel.


Kemudian memberikan sedikit saran,"Amel, aku tau Kenzo sangat baik. Kamu juga begitu mencintainya, tapi sudah saatnya kamu melepaskannya. Mencari cinta yang lain, aku hanya tidak ingin kamu kesepian. Biarkan Kenzo tenang di sisi-Nya..." ucapnya tanpa melihat orang yang menyenderkan diri di dinding.


Tapi suara dari penyelamat hidupnya, adik ipar kebanggaannya, pria idolanya, seseorang yang seharusnya sudah mati 7 tahun lalu. "Setan..." teriaknya kala berbalik, hingga jatuh tersungkur di lantai. Menatap wajah itu lagi.


Seorang pemuda rupawan berdiri, mengenakan setelan jas yang bernilai tinggi. Tatanan rambut sama seperti 7 tahun dahulu, menutupi bekas luka di keningnya.


"Kakak ipar, aku kembali dari neraka, untuk menjadi narasumbermu," ucapnya tersenyum.


"Ja... jadi ini kejutan dari Amel!? Kamu masih hidup?" tanyanya memastikan.


Kenzo hanya mengangguk, Glen segera memeluk tubuhnya erat."Adikku tidak menjadi janda!! Syukurlah, semula aku bingung, bagaimana tahu bulat digoreng 500an akan mendapatkan jodoh sebaik dirimu nanti..."


Pemuda itu menghela napas kasar membalas pelukannya,"Ada beberapa hal yang tidak aku ingat. Jadi jangan menyulitkanku saat sesi wawancara nanti,"


"Iya...tapi dimana si tahu bulat digoreng 500an, kenapa dia tidak ikut kemari?" tanyanya.


"Dia sedang sibuk..."


***


Sesi wawancara eksklusif dimulai pada akhirnya, tempat yang ramai? Tidak, hanya tempat tenang di studio dengan dua orang pembawa acara dan Kenzo selaku narasumber disana.


"Maaf, jadi anda adalah Kenzo, pemilik W&G Company yang dikabarkan meninggal?" tanya seorang reporter yang menemani Glen setelah pembukaan acara dimulai.


"Iya, tapi saya masih hidup sampai sekarang..." jawabnya lugas.


Reporter yang sungkan, tertawa canggung, tidak ingin menyinggung Kenzo, mulai menggati pertanyaannya,"Apa anda memiliki rencana membuka cabang perusahaan di negara ini?"


"Rencananya iya, ada perusahaan yang tengah diakuisisi pagi ini, untuk menjadi cabang baru W&G Company. Pemimpin kantor cabang yang baru adalah ayah angkatku. Istriku sedang mewakiliku untuk mengambil alih..." jawabnya tersenyum.


***


Kantor perusahaan, tempat Virgo bekerja sebelumnya...


Mobil sport berwarna merah, berhenti di depannya. Kaki halus yang tertutup stoking terlihat, memakai sepatu hak tinggi, dengan rok selutut. Amel tersenyum, memakai pakaian berwarna merah berpadu dengan warna hitam. Lipstik berwarna merah menghiasi bibirnya, terlihat kontras dengan kulit putihnya, kacamata hitam dilepaskannya.


Dua mobil lain yang mengikutinya berhenti tepat di belakang mobilnya. Beberapa petinggi W&G Company turun dari sana. Sedangkan satu mobil lainnya yang baru tiba, menurunkan Damian.


"Ini kelengkapannya, tuan Kenzo sudah mengirimkan datanya. Lebih dari 50% saham sudah menjadi milik kita..." ucap salah seorang petinggi W&G Company.


"Amel ini...." Damian yang tiba-tiba diminta mengenakan pakaian resmi, tertunduk ragu.


"Sudah aku bilang, suamiku menganggap kalian sebagai orang tuanya. Sebagai anak yang berbakti, dia akan melakukan apapun untuk kalian, termasuk mengambil kembali milik kalian..." ucapnya tersenyum, kembali mengenakan kacamata hitamnya, berjalan cepat diikuti para petinggi W&G Company, guna menuju ruangan CEO.


Damian, menatap punggung wanita itu, wanita yang berlalu berjalan cepat dengan pakaian merahnya. Anak yang berbakti, menantu yang sempurna, serta cucu-cucu yang lucu. Semua telah dimilikinya, hanya karena menyaksikan seorang pemuda yang terjatuh dari sebuah kapal Cargo.


"Dava tenanglah di sisi-Nya..." ucapnya menatap ke arah langit. Merindukan putranya yang telah tiada, putra yang bahkan mayatnya pun ingin mengantarkan kedua orang tuanya pada kebahagiaan.


Bersambung