My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : One Night Stand With Steven



Suara tepuk tangan terdengar, jemari tangan seorang gadis cantik bersiap memetik harpanya. Matanya terlihat fokus, sedangkan sang komposer sekaligus dirigen mulai mengayunkan tongkat kecil.


Para musisi memainkan melodi senada yang indah. Suara dua piano klasik, beberapa pemain biola, serta beberapa seruling dan alat musik lain meramaikan pertunjukan yang dihadiri kalangan atas.


Hingga beberapa belas menit, sang komposer sekaligus dirigen menaikkan tongkatnya. Bersamaan dengan melodi yang terhenti. Tertunduk memberi hormat pada penonton yang bertepuk tangan.


Seorang wanita cantik membawakan bunga untuk sang komposer muda, tapi diluar dugaan, sang komposer berjalan menghampiri pemain harpa yang berwajah rupawan yang duduk dengan anggun.


"Aku akan membantingmu karena sudah mempermalukanku..." bisik sang pemain harpa, berusaha tersenyum, meraih bunga di hadapannya.


"Ini perintah kakekku, isu hubungan kita akan menguntungkan untuk perkembangan investasi," Hitoshi ikut berusaha tersenyum, masih berlutut memberikan bunga pada sang pemain harpa.


Gadis dengan gaun putih indahnya itu, perlahan meraih kemudian tersenyum. Menerima uluran tangan Hitoshi, berdiri ke bagian tengah panggung. Membungkuk memberi hormat dengan pakaian putih senada, mendapatkan tepukan tangan dari penonton kalangan atas yang hadir.


Tidak menyadari seorang pemuda yang baru masuk mengenakan setelan jas serta celana panjang krem dengan dasi dan kemeja hitam yang telah lama tidak pakainya. Softlens hitam menutupi mata birunya, rambutnya tidak putih sempurna, seperti dulu lagi, namun kecoklatan.


Wajah rupawan yang tersenyum, menyenderkan punggungnya di pintu masuk ruang pertunjukan.


"Kamu menyukai putri pengusaha?" Eden menahan tawanya, melirik ke arah adiknya.


Steven mengangguk, masih tetap tersenyum, menatap sang pemain harpa yang bergandengan tangan dengan sang komposer.


"Nanti usai pertunjukan, aku kerahkan orang-orang kita. Culik, sekap, akan aku pastikan dia ada di tempat tidurmu malam ini," ucap Eden tersenyum, tidak pernah melihat adiknya yang hanya fokus mengikuti pelatihan tertarik pada wanita.


"Tidak mau, aku hanya ingin melihatnya dari jauh saja. Lagipula aku belum selesai merestorasi bisnis ayah," Steven menguap berjalan pergi.


"Kamu benar-benar ingin melegalkan bisnis pabrik senjata dan menghentikan perdagangan narkotika!?" tanya Eden mengikuti sang adik yang berjalan menelusuri lorong.


Steven tersenyum,"Aku hanya punya waktu sampai ayah bangun dari komanya. Kita akan membuka pabrik obat legal dan mengerahkan beberapa aset untuk menjadi bisnis legal. Kakak tidak bosan terus menerus melarikan diri dari kepolisian? Dan mempertaruhkan nyawa menghadapi kelompok mafia lain?"


"Tapi jika ayah bangun nanti dia akan menembak mati kita..." Eden menggerakkan kursi rodanya menyusul sang adik.


"Ayah suka pada uang dan kekuasaan, jika kita berhasil mengumpulkan uang lebih banyak daripada hanya mengandalkan Dark Wild tidak akan ada masalah," jawaban yang benar-benar enteng dari mulut Steven.


"Tapi Dark Wild memiliki banyak musuh, kita..." kata-kata Eden terhenti, menatap Steven menghentikan langkahnya.


"Karena itu, semua anggota Dark Wild, harus bersikap direstorasi untuk masuk dalam perusahaan, atau pegawai pabrik. Jika ada kelompok yang menyerang salah satu dari anggota kita. Tinggal habisi hingga tidak bersisa..." gumamnya menghentikan langkahnya, sembari tersenyum.


***


Sang pemain harpa menghela napas kasar, menatap ke arah cermin ruang ganti."Bisa berhenti pura-pura bersikap manis?" tanyanya pada Hitoshi, sembari menghapus riasan wajah.


"Bisa, tapi buat kesan buruk di hadapan kakekku," pinta Hitoshi, berusaha tersenyum.


"Itu namanya mencemarkan nama baik sendiri, keluarga kita bersahabat. Bagaimana membuat kesan buruk!? Seharusnya kamu yang membuat kesan buruk di hadapan ibuku!!" geramnya, melemparkan kapas usai membersihkan wajahnya.


"Sama! Aku juga tidak bisa melakukannya, keluarga kita sama-sama mempunyai hubungan yang terlalu baik," Hitoshi memijit pelipisnya sendiri.


Dua orang yang sama-sama tidak memiliki perasaan saling suka, menghela napasnya.


Febria mulai meraih phonecell pintarnya, membuka media sosial. Kemudian menunjukkannya pada Hitoshi, foto mereka diatas panggung yang menjadi daftar pencaharian teratas, pasangan dari dua keluarga konglomerat."Pacarmu akan mengamuk ke apartemenku lagi..."


"Aku akan menjelaskannya pada pacarku. Bagaimana dengan pacarmu?" tanyanya menoleh ke arah Febria.


"Kami putus beberapa hari yang lalu," jawab Febria tertunduk.


"Kenapa bisa putus?" Hitoshi mengenyitkan keningnya.


"Tidak ingin menyentuhnya?" Hitoshi mendekatkan dirinya, tertarik dengan arah pembicaraan Febria.


"Benar, dia bukan tipeku. Saat makan bahkan tidak pernah sekalipun menyuapiku, tidak pernah membuatku malu di hadapan umum dengan mengatakan, kapan kita bertunangan? Kapan kita menikah? Tidak ingin selalu menempel padaku,"


"Bahkan ketika aku tidur dia begitu bernapsu ingin menyentuhku, ingin melakukan perbuatan mesum. Bukannya mengelus kepalaku sampai tertidur. Jadi aku tentang saja pisangnya, dia langsung minta putus," Febria tersenyum tanpa dosa.


"Kamu mencari pacar atau seorang pelayan!? Pantas saja dia minta putus darimu... rasanya pasti...gilu..." ucap Hitoshi berdidik ngeri.


"Aku tidak menendangnya dengan keras, beberapa hari setelah putus dia pacaran dengan temanku. Bahkan terang-terangan berciuman di hadapanku," gadis itu menghela napas kasar.


Menatap ke arah jendela yang menampakkan langit malam."Aku ingin menunggu Steven, tapi dia tidak pernah pulang..." gumamnya.


"Anak angkat ayahmu yang menghilang 14 tahun lalu?" tanya Hitoshi dijawab dengan anggukan kepala oleh Febria."Menurutku kakak angkatmu sudah meninggal, tapi mereka tidak tega mengatakannya padamu. Setidaknya orang menghilang akan meninggalkan sedikit saja jejak digital, tapi bahkan jejak digitalnya pun tidak ada,"


Air mata Febria tiba-tiba mengalir, sesak rasanya jika memang Steven sudah tidak ada. Remaja yang selalu berkata ingin menikahinya."Aku sudah memiliki asumsi yang sama, mereka mengatakan Steven sekolah di luar negeri, kemudian tiba-tiba mengatakan Steven menghilang 14 tahun lalu tanpa jejak," ucapnya menunduk terisak, mencengkram gaun putih yang dikenakannya.


***


Suntuk? Dirinya benar-benar suntuk. Mencintai seseorang yang seharusnya bersetatus kakak angkatnya. Menunggu selama bertahun-tahun. Kini Febria diam seorang diri dalam sebuah cafe di tengah hujan deras yang mengguyur diluar sana.


Seorang pelayan membawakan minuman yang dipesannya. Pelayan dengan senyuman yang ganjil.


Sudah tiga tahun Febria tinggal terpisah dengan orang tua dan saudaranya. Ingin hidup mandiri, sebelum kembali ke perusahaan suatu hari nanti.


Menjadi pemain harpa profesional, terkadang menjalankan hobinya meretas beberapa situs. Tinggal seorang diri sebuah apartemen yang tidak begitu besar.


Kopi mulai diminumnya, banyak hal yang ada di fikirannya saat ini. Hingga perlahan penglihatannya kabur. Berusaha fokus, menggunakan handphone menghubungi seseorang untuk menjemputnya.


Namun, phoncellnya tiba-tiba direbut, oleh seseorang, yang duduk di kursi roda. "Tolong..." lirih Febria sebelum kesadarannya menghilang sepenuhnya.


***


Bug...


Febria membuka matanya, pakaiannya telah berganti dengan pakaian menggoda memperlihatkan lekuk tubuhnya. Tangan dan kakinya diikat bibirnya diikat dengan kain, hingga tidak dapat bicara dengan jelas.


Apa ini? Aku diculik dan akan dilecehkan... batinnya. Ketakutan, akan pintu yang masih tertutup.


Ceklek... ceklek...


Suara hendel pintu hendak dibuka, jantungnya berdegup cepat ketakutan. Dirinya benar-benar akan kehilangan keperawanannya kali ini. Seperti di novel-novel yang pernah dibacanya.


Jika ikatan ini dilepaskan, aku akan menendang pisangnya hingga pria mesum ini mandul... rencananya yang masih ketakutan.


Hingga pintu akhirnya terbuka, seorang pemuda rupawan dengan rambut coklat dan bola mata hitam masih mengenakan softlensnya berdiri disana.


"Dasar masih muda tapi otak sudah mesum!" omelan yang tidak terdengar jelas, akibat mulut yang masih terikat. Namun masih dapat diduga apa yang dikatakan Febria saat ini, tidak mengenali remaja yang dulu mengambil ciuman pertamanya.


Steven terdiam kehabisan kata-kata, menatap Febria yang meronta-ronta, menggeliat di atas tempat tidurnya, dengan pakaian tipis, seluruh lekuk tubuhnya bahkan terlihat. Pemuda itu memijit pelipisnya sendiri kesal.


"Kakak..." geramnya bingung bagaimana harus menjelaskan pada gadis yang menggeliat erotis di tempat tidurnya nanti.


Bersambung