My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Perjodohan



Tidak ada yang istimewa, mereka kembali makan bersama. Membuka kotak bekal di bawah rindangnya pohon beringin belakang sekolah. Masa-masa yang tidak pernah dilewati Ferrell, yang menempuh percepatan pendidikan, hingga menjadi salah satu pemegang gelar Doctorate termuda.


"Kamu mau?" tanyanya menyodorkan, nugget pelengkap kotak bekalnya.


Dengan cepat Glory mengangguk, satu? Tidak Ferrell memberikan seluruh nugget di kotak bekalnya.


"I...ini," dengan ragu Glory menyodorkan sebungkus tahu bulat yang sudah dingin.


"Terimakasih," ucap Ferrell tersenyum, jemari tangannya merayap, kembali menggengam tangan Glory malu-malu. Sama-sama mengalihkan pandangan mereka.


Tangan pemuda itu mengusap pelan tangan Glory dengan jarinya. Merindukannya? Di jarak sedekat ini Ferrell masih merindukannya. Ingin memangkunya, ingin mencium bibir cerewetnya, bermain lidah, dengan bocah ini.


Tapi tidak bisa, penampilan dirinya saat ini kurang maksimal. Entah berapa kali Ferrell bercermin, kulit sawo matang, dengan tahi lalat di bawah bibir yang besar, model rambut seperti superman, memakai kacamata. Dengan pesonanya yang maksimal sebagai Ferrell saja masih ditolak, apalagi sebagai Ken.


Orang seperti apa yang sebenarnya dicintai bocah centil ini. Sejenak pandangan matanya beralih pada gadis-gadis yang berteriak-teriak menonton pertandingan basket. Beberapa remaja cukup tampan dengan tubuh tinggi dan kulit putih disoraki disana.


Ferrell mengenyitkan keningnya curiga,"Apa yang kamu sukai dari tim basket?" tanyanya.


"Dia lebih dari mereka, memiliki etika dan sopan santun, pintar, walaupun tidak kaya, tapi dia menghargai wanita, hidup sederhana sama sepertiku..." jawaban dari mulutnya, menatap wajah Ferrell lekat.


Itu adalah kamu!! Aku ingin berteriak, menyatakan cinta, tapi malu... batinnya, tersenyum-senyum sendiri.


"Apa dia tampan? Anak pejabat?" tanya Ferrell kembali.


Glory menggelengkan kepalanya cepat, sambil memakan nuggetnya.


"Budi!?" Ferrell mengenyitkan keningnya.


"Bukan!" jawabnya lagi, tertunduk memakan bekalnya. Sesekali melirik ke arah Ferrell yang tengah konsentrasi pada makanannya.


***


Siang menjelang, hari ini Caca ikut berjalan menuju rumah Glory, melintasi jalan tempatnya biasa bertemu dengan Ferrell.


Namun, nihil mobil itu tidak ada disana, hingga Caca memilih pulang terlebih dahulu, menemui Glory saat membantu ayahnya berjualan nanti malam.


Menatap kepergian Glory dari jauh dengan Ken yang berada di samping Glory. Mengikuti ke rumah gadis itu dengan alasan belajar kelompok.


Caca menghela napas kasar, menatap kepergian Glory,"Andai saja Glory dari keluarga kaya, Grisella tidak akan pernah menjadi si peringkat pertama," gumamnya.


Namun, sejenak menyipitkan matanya, menatap hal yang aneh. Tangan sepasang remaja yang berjalan bersama itu bersinggungan, perlahan saling bergandengan, masih juga terlihat malu-malu menatap ke arah lain.


"Glory menyukai Ken!? Pesona Ferrell tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan superman dekil!?" gumamnya, menatap kepergian Glory dan Ken. Dua orang berpakaian SMU yang saling bergandengan salah tingkah.


***


Hari ini tidak seperti biasanya, rumah Glory dipenuhi dengan ibu-ibu yang tengah mengocok arisan disuguhkan teh dan beberapa jajanan cemilan murah. Mungkin sekitar 15 orang termasuk Ratna dan Kamila.


Berpakaian serasi, bagaikan seragam bagi mereka, tertawa bergosip membicarakan istri dan anak mereka. Serta janda cantik kampung sebelah yang sering pulang malam.


Tapi memang begitu bukan, jika sudah berkumpul dapat melupakan waktu, hingga lupa tujuan awal mereka hanya untuk arisan.


"Ibu, aku pulang," suara Glory terdengar telah melepaskan gandengan tangannya dari Ferrell yang masih memakai rupa kucelnya.


Mata ibu-ibu arisan itu segera melirik ke arah Glory yang berjalan diikuti seorang pemuda.


"Terimakasih," Kamila menerimanya, matanya menyipit mengamati baik-baik wajah Ken, tidak ingin dirinya kembali berhalusinasi wajah itu berubah menjadi wajah Ferrell, calon menantu kebanggaan tetangganya.


"Aku dan Glory permisi belajar kelompok," ucapnya Ferrell sopan, penuh kecanggungan.


"Em..." Kamila mengangguk, membiarkan pemuda berpakaian SMU itu masuk ke dalam kamar bersama Glory.


Tidak memiliki fikiran negatif pada putrinya, lagipula pintu kamarnya tidak pernah dikunci ketika temannya berada di dalam sana. Tidak pernah mengawasi? Jangan kira, terkadang setiap ada kesempatan Kamila diam-diam mengintip apa saja yang dilakukan sepasang remaja itu didalam sana. Dan benar, hanya belajar saja.


Para ibu-ibu itu mulai kasak kusuk, dimulai dari ibu Samun (Istri ketua RT),"Ibu Kamila, itu siapa? Calon mantunya ya?" tanyanya.


Kamila menghela napas kasar,"Bukan, teman sekolah Glory, sudah pernah kemari, sering belajar bersama,"


Ratna mulai mendekat, mengenyitkan keningnya,"Kenapa dibiarkan belajar berdua di kamar? Bagaimana kalau mereka macam-macam? Grisella saja tidak pernah membawa teman laki-lakinya ke kamar,"


Ibu Ifa semakin tertarik,"Omong-ngomong katanya Grisella mau bertunangan dengan Ferrell, penyanyi terkenal itu, anak saya fans beratnya lho. Jangan lupa undang-undang..."


Ratna tersenyum, lebih antusias lagi menceritakan hal yang belum pasti terjadi,"Pernah dengar nama Damian? Perusahaan suamiku, bekerja sama dengan perusahaannya. Dia kakeknya Ferrell, nanti Erlang (suami Ratna) akan bicara untuk menjodohkan mereka. Hubungan Damian dengan Erlang cukup dekat, ini sudah pasti, mungkin setelah pertemuan pertama, pertunangan akan segera diatur,"


Wanita yang tidak menyadari, perusahaan suaminya yang tidak sebanding dengan anak cabang W&G Company yang dikelola Damian. Seorang kakek yang akan mengikuti keinginan cucunya, asalkan tetap tinggal bersama dengannya.


Sementara Kamila menghela napas kasar, pada kenyataannya, Glory memang tidak sebanding dengan Grisella. Kecantikan, kepandaian, pergaulan, anaknya tidak dapat diharapkan. Apa Glory bisa menemukan pria yang baik untuknya nanti? Entahlah, tidak kaya juga tidak apa-apa, yang terpenting tidak kasar dan bertanggung jawab...


Hingga Samun mendekatinya, duduk di samping Kamila,"Buk, kalau saran saya, batasi pergaulan Glory, jangan biarkan dia membawa temannya masuk ke kamar. Begini saja, Glory itu pintar dan baik, walaupun tidak seperti Grisella,"


"Saya punya keponakan, dia masih kuliah, jurusan keperawatan, sudah ganteng, baik pula, cocok dengan Glory. Pertemukan saja dulu, dijodohkan, kalau cocok, setelah Glory lulus SMU, kita nikahkan. Kuliah bisa setelah menikah, Glory rencananya mau masuk jurusan hukum kan? Kalau mereka cocok, keponakan saya dan keluarganya pasti juga dukung," jelasnya mempromosikan keponakannya.


Ratna ikut mendekat,"Benar! Terima saja, kalau Glory sudah terikat tidak perlu cemas lagi. Teman-temannya yang lain juga akan menghindar. Apalagi yang dibawa Glory ke kamarnya, ganteng juga tidak, standar. Beda dengan keponakan bu Samun, sudah pasti ganteng, calon perawat masa depan Glory akan cerah,"


Kamila menghela napas kasar,"Nanti biar aku bicara dengan Glory dulu, omong-ngomong nama keponakannya siapa?" tanyanya.


"Gin, mereka pasti cocok, ganteng dan cantik, sama-sama pintar..." jawab Samun gemas ingin menjodohkan dua orang yang serasi jika dipertemukan menurutnya.


Sedangkan Kamila terdiam, menatap pada pintu kamar putrinya yang tertutup namun tidak terkunci.


***


"Yang mana yang sulit?" tanya Glory.


Tangan Glory dipegangnya, menunjuk ke arah salah satu soal. Sepasang hati yang berdebar malu."Yang ini," jawab Ferrell.


"Bi...biar aku jelaskan, masukan rumusnya, lalu," jelas gadis itu berusaha bertindak senormal mungkin. Sementara salah satu tangannya masih digenggam Ferrell. Ferrell menggerakkan jemarinya, menggesekkan pada punggung tangan sang gadis centil, menggenggamnya semakin erat.


Astaga, beginikah rasanya jatuh cinta? Ingin rasanya Glory melompat kegirangan sembari tersenyum-senyum bahagia.


Sementara Ferrell menggigit bagian bawah bibirnya, tiada hentinya menatap bibir gadis itu yang komat-kamit menjelaskan. Entah apa yang dikatakannya, Ferrell tidak peduli.


Tidak peduli? Tentu saja, dirinya hanya berpura-pura tidak dapat mengerjakannya. Ingin menikmati masa hukumannya dengan baik, merasakan perasaan berdebar, nyaman ini lebih banyak.


Malam ini, satu ciuman lagi, aku mohon... batinnya, penuh strategi untuk menemui Glory malam ini.


Bersambung