My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat: Prilaku Buruk



Seorang pemuda hanya dengan jubah mandi yang menutupi tubuhnya. Perlahan membelai leher Glory, satu? Tidak beberapa tanda diciptakannya dengan sengaja. Sialnya setiap suara yang keluar dari bibir sang remaja membuat dirinya bertambah sulit untuk mengendalikan diri.


"Glory...bisa kita melakukannya?" pintanya, berbisik perlahan di telinganya.


Glory mengangguk, sejenak kemudian menggeleng. Dirinya menikmati semua perlakuan Ferrell namun sekali lagi. Masa depannya lebih penting untuknya. Sulit bukan? Ketika napsu sudah dihadapkan dengan situasi yang mendukung.


"Benar tidak mau?" tanyanya mendekap tubuhnya hingga menempel sempurna. Membuat satu tanda lagi dan sialnya suara itu terdengar kembali."Ssshhh...hhh... Ferrell..."


Gadis ini benar-benar membuatnya gila. Apa sebenarnya keinginannya menolak untuk melakukannya? Namun, membuatnya gila dengan suara-suara indah yang keluar dari bibirnya.


"Ferrell," ucapnya lirih berbisik dalam dekapan pemuda itu.


"Em?" tanya Ferrell.


"Kamu sedang apa? Kenapa memelukku? Ayo bantu aku, aku ingin keluar..." pinta Glory, dengan posisi tubuh Ferrell berada di atas tubuhnya.


"Aku sedang menahan diri, diam dan jangan berteriak..." ucapnya dengan suara berat.


"Menahan diri?" tanya Glory tidak mengerti hingga baru menyadari bagian bawah yang bersinggungan dengan pahanya kini memanjang.


Pemuda ini sedang menahan diri untuk tidak meniduri dirinya? Mungkin itulah yang ada di benak Glory hingga tetap diam dengan wajah menahan malunya. Tidak ingin membuat cukup banyak gerakan yang akan mempersulit hidupnya.


Bagus, diam dan jangan bergerak... seseorang aku mohon segeralah datang sebelum aku benar-benar membuatnya menjerit... batinnya mengangkat sedikit tubuhnya, kembali menikmati sumber nutrisinya. Bermain lidah di tempat tidur? Benar-benar pria yang tidak tau situasi.


***


Sedangkan di lantai satu...


Sudah hampir memasuki jam makan siang, semakin lama berada di sana semakin banyak hal ditatap Kamila. Hal yang membuatnya kagum? Tentu saja.


Rumah yang lebih luas dibandingkan dengan rumah Ratna. Hingga dirinya mulai memasuki ruang tamu. Beberapa foto keluarga berada di sana, benar-benar keluaga yang besar. Tapi tunggu dulu, tidak mungkin rasanya wanita ini memiliki beberapa anak bukan?


"Usia ibumu sedikit lebih tua dariku. Tapi kenapa bisa mempunyai anak yang jauh lebih tua dari putriku?" tanyanya melirik ke arah Elina.


"Kami anak adopsi, lima dari kami diadopsi oleh papa. Sedangkan satu lagi yang tinggal terpisah diadopsi oleh mama. Disini hanya dua orang keturunan asli dari mama dan papa. Ferrell dan Febria yang terlahir kembar..." jawab Elina, mengantar mereka hingga ruang tamu.


Beberapa pelayan mulai menyajikan minuman dan cemilan. Sementara Amel? Wanita itu pergi ke dalam salah satu ruangan. Mengambil laptopnya terlihat mengerjakan sesuatu.


"Mama, aku akan meruntuhkan perusahaan keluarga dari..." kata-kata Elisha yang menghampiri Amel dengan suaminya terhenti.


"Kasus yang ditangani suamimu apa sudah selesai? Lebih baik selesaikan! Cucu mama yang baru lahir juga memerlukan perhatian. Kalian bekerja seperti agen mata-mata khusus. Jangan terlalu kaku, satunya jaksa satunya lagi, peretas..." keluhannya.


"Maaf ibu mertua..." suami Elisha sedikit membungkuk.


"Ini bukan salahmu..." Elisha menggeleng, menggenggam jemari tangan suaminya."Ini salahku, tidak menjadi ibu yang baik..." ucapnya menggenggam jemari tangan suaminya, dengan air mata, sang gadis cacat yang mengalir.


"Aku mencintaimu..." ucap suaminya yang berprofesi sebagai jaksa tulus, mensejajarkan tingginya berlutut di hadapan istrinya yang hanya dapat duduk di atas kursi roda.


"Aku juga..." jawaban Elisha, menarik tangan suaminya memeluknya dengan erat. Banyak ujian hidup yang telah mereka lalui, kala menangkap para pelaku tindakan kejahatan.


Bahkan ada kalanya sang istri menjadi sandra. Suaminya berbekal sebuah senjata api akan berusaha keras menyelamatkannya, mengorbankan nyawanya. Untuk wanita yang menangis, meramaikan harinya, bahkan melahirkan dua orang anak untuknya.


"Dimulai lagi...aku iri pada kalian..." ucap Amel menatap anak dan menantunya saling memeluk. Menggeleng-gelengkan kepalanya heran.


Hingga di bagian akhir sang Ultraman mulai turun demi menjaga perdamaian dunia, melangkah pasti dengan cepat."Mama..." panggil pria berambut putih itu, berlari dengan cepat.


Tapi dengan cepat juga Amel menatap tajam padanya."Febria sedang mengandung, dan kalian masih memaksakan menaiki pesawat kemari? Mau mama tendang pisangmu?" tanyanya geram.


"I ... ini keinginan Febria. Aku sudah membawa dokter pribadi jadi..." kata-kata Steven disela.


"Jadi apa?" Amel mengenyitkan keningnya. Bersamaan dengan putra angkatnya yang tertunduk.


"Aku ditaklukkan oleh monster ..." ucap sang ultraman tertunduk memelas.


"Benar mama aku yang memaksa Steven. Lagi pula ini penting. Ada orang yang berani mengada-ada, Ferrell menghamili anak SMU? Sungguh sebuah lelucon jika..." kata-kata Febria disela.


Amel memijit pelipisnya sendiri."Kakakmu memang menjalin hubungan dengan anak dibawah umur..."


Seketika Febria membatu, kakak kebanggaannya sang peraih gelar Doctorate termuda di keluarganya ternyata memiliki perilaku menyimpang. Menyukai remaja SMU yang berpakaian putih abu-abu. Kala masih banyak wanita cantik berpakaian minim menggoda di dunia ini, kenapa harus dengan anak SMU?


"Jadi dia benar-benar meniduri seorang remaja hingga hamil?" tanya Febria memastikan.


Dengan cepat Amel menggeleng."Tidak, wanita yang ada di media bukan pacarnya. Sebenarnya dia ditolak tidak mendapatkan restu, wanita itu calon mertuanya. Ferrell belum sempat meniduri pacar kecilnya," ucap Amel tersenyum.


Kamila hanya mendengarkan pembicaraan mereka dari jauh dengan Elina yang tiada hentinya mempromosikan adik kebanggaannya. Beberapa belas menit, hingga sang tuan rumah akhirnya datang juga.


Seorang pria yang melangkah turun, setelah menatap semuanya dari lantai dua. Mengenakan kemeja dan celana hitam panjang, dengan tatanan rambut rapi terlihat lebih dewasa. Perlahan berjalan...


"Dia siapa? Apa juga adikmu?" tanya Kamila yang mulai akrab dengan Elina, sembari memakan kue keringnya.


"Dia papa kami..." jawabannya, membuat Kamila tersedak terbatuk-batuk.


Wanita itu dengan cepat meraih secangkir teh,"Papa kalian?" tanyanya memastikan pendengarannya.


Elina mengangguk, beberapa saat kemudian pria itu, memang berjalan menghampiri Amel."Ayo kita makan siang, Steven tolong panggilkan Scott dan Ferrell di lantai dua ..."


"Siap papa ..." ucapnya tersenyum pada ayah angkat rangkap ayah mertuanya. Berjalan dengan pasti menuju kamar Scott yang berdampingan dengan kamar Ferrell.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu terdengar, namun Scott tidak menjawabnya. Perlahan Steven mendekatkan telinganya, mendengar suara yang membuat wajahnya memerah seketika."Bisa-bisanya, siang-siang begini..." gumamnya heran.


Dengan cepat Steven tersenyum, bermaksud mengajak Ferrell untuk mendobrak paksa pintu kamar kakak mereka. Namun...


"Ferrell ayo kita..." kata-katanya terhenti bibirnya terasa kelu, kala pintu telah dibuka. Menatap adiknya yang ternyata berprilaku lebih buruk."Oh My God..." ucapnya dengan wajah pucat.


Bersambung