
...Bahkan lautan yang tenang, suatu saat badai akan mengusiknya...
...Tidak mempercayai manusia sepenuhnya, mungkin itulah aku. Yang aku percayai sepenuhnya 'Hatiku yang mencintai mereka...' hanya itu......
Kenzo...
Senyuman terlihat di wajahnya, tidak dapat membenci adiknya. Namun, tidak dipungkiri dirinya merasa rendah diri. Mengetahui segalanya, berpura-pura tersenyum dalam keegoisannya. Selepas Amel bahagia atau tidak bersamanya.
Mulut istrinya mengatakan, mencintainya...itu sudah cukup untuknya.
Pemuda itu melangkah mendatangi sebuah cafe. Menatap ke arah Gilang, yang duduk di kursi meja di dekat jendela. Kepribadian, masa lalu, keluarga, semua yang dimiliki adiknya terasa lebih sempurna, air hujan membasahi jendela berembun. Pemuda itu tersenyum, duduk berhadapan dengan adiknya.
"Sudah lama menunggu? Maaf, Amel beberapa hari ini tidak enak badan jadi..." ucapnya mulai duduk berhadapan dengan Gilang.
"Dia sakit?" tanya Gilang terlihat cemas.
Bibir Kenzo bergetar, berusaha tersenyum menahan perasaan sakitnya. Adik yang mencemaskan istrinya? Apa hubungan mereka dahulu sedekat itu? Banyak pertanyaan di batinnya.
Marah? Kenzo tidak dapat marah, mengumpat juga tidak dapat dilakukannya. Pria yang diam-diam menyukai istrinya adalah adiknya sendiri. Hutang nyawa? Rasa persaudaraan? Sesuatu yang masih diingat olehnya.
Pemuda itu mengangguk,"Iya, katanya siklus bulanannya mungkin akan segera tiba..." Kenzo berbisik, tertawa kecil, menyembunyikan perasaan tidak percaya diri dan tertekannya seorang diri.
"Waiters..." panggil Gilang, memesan dua cangkir kopi hangat untuk mereka. Terdiam sejenak, berfikir apa yang harus dikatakan pada sang kakak.
***
Beberapa menit berlalu, dua cangkir minuman hangat terhidang. Gilang tertunduk, kemudian tersenyum,"Kakak, ingat janji kita ketika kecil?" tanyanya.
"Ja... janji?" Kenzo berpura-pura tersenyum, jemari tangannya yang masih memegang cangkir kopi sedikit gemetar.
Amel mencintainya bukan? Lalu apa yang perlu ditakutinya. Tidak akan sendiri lagi, keluarga kecilnya akan ada, memenuhi rumah yang akan dimilikinya.
"Kakak, aku ingin meminta maaf padamu. Entah kamu ingat atau tidak tentang janji kita, aku ingin meminta Amel..." ucapnya, menatap ke arah Kenzo. Menunggu jawaban sang kakak.
Marah? Mungkin Kenzo akan memukulinya, itu akan diterima oleh Gilang. Tapi, perasaannya pada Amel masih ada hingga kini, tidak hanya hati yang baik, namun rupa fisiknya pun kini telah berubah. Semakin ingin memilikinya, memberanikan dirinya meminta pada sang kakak.
Sang kakak yang dikenal sisi luarnya saja olehnya, pemuda tegar, keji, seseorang yang tidak akan gentar hanya karena kehilangan satu orang saja di hidupnya. Itulah sosok Kenzo dimata Gilang.
Adik? Bahkan Gilang tidak mengetahui, betapa kesepiannya hidup Kenzo. Salah paham tentang sosok sang kakak yang sebenarnya, pemuda yang hanya melindungi dirinya sendiri, berpura-pura tegar, memiliki hati bagaikan cermin yang telah retak.
"Meminta Amel, kamu bercanda kan..." Kenzo tertawa, bagaikan itu semua adalah lelucon. Berharap adiknya akan ikut tertawa, masih menyembunyikan segalanya. Bahkan harapannya, Gilang tidak akan pernah mengatakannya. Berharap Gilang mencoba melupakan Amel, untuk dirinya.
Namun tidak, Gilang tidak ikut tertawa sedikitpun. Menatap Kenzo penuh keseriusan,"Aku mencintainya, dia juga menyukaiku sejak lama. Tapi aku terlambat menyadarinya. Amel bahkan selalu membuatkan kue untukku. Melindungiku dari Keyla, tidak membiarkan dia..." kata-kata Gilang disela.
"Dia istriku sekarang..." Kenzo tertunduk, tawanya terhenti.
"Kakak tidak mengerti, kamu yang tiba-tiba muncul berada diantara kami!!" bentaknya.
"Aku bilang dia istriku. Kami sudah berjanji di altar akan saling mencintai hingga maut memisahkan!! Dia istriku..." ucapnya tersenyum, senyuman yang terasa janggal. Tangannya mengepal menahan air matanya yang hendak mengalir.
Ingin rasanya berteriak pada Gilang, untuk menghentikan kata-katanya, tidak ingin mendengar semua, kata-kata yang hanya akan menimbulkan keraguan, bagaikan cambuk yang menyakitinya. Dirinya yang tiba-tiba muncul diantara mereka? Orang ketiga? Tidak, Amel adalah miliknya.
"Kalian jauh berbeda, Amel perlahan akan menyadari, dirinya tidak dapat bersama dengan kakak. Hidup berpindah-pindah, memiliki banyak musuh, bipolar. Bagaimana jika suatu saat nanti kakak melukainya atau anak kalian..." Gilang menatap tajam ke arah kakaknya.
"Dia adalah istriku..." gumamnya kembali, mengepalkan tangannya lebih erat.
Hentikan!! Aku dapat membahagiakannya, a...aku bisa....Apa aku bisa... keraguan mulai ada dalam dirinya, kata-kata Gilang satupun tidak ada yang salah. Melukai Amel? Apa dirinya suatu saat nanti akan kehilangan kendali?
"Jangan mengikat perasaannya dengan rasa terimakasih. Dia terlihat tersenyum, tapi sebenarnya menyembunyikan perasaan sakitnya. Amel terlalu baik, dia tidak akan terang-terangan mengatakan 'tidak pernah mencintaimu'..." kata-kata Gilang terhenti.
Hentikan, mengatakan kenyataannya padaku... Kenzo mulai bangkit.
"Dia istriku, aku sudah berjanji kami akan bersama hingga Tuhan memanggil salah satu dari kami..." ucapnya mengepalkan tangannya berjalan beberapa langkah.
Hingga, Gilang ikut bangkit,"Kenzo, bagaimana jika kita membuat pembuktian. Agar dapat membuka matamu!!"
"Habiskan waktu dengannya seharian besok, tepat pada pukul 10 malam, aku akan mengalami kecelakaan. Dia akan tetap tinggal denganmu, atau pergi menemuiku..." lanjutnya.
***
Cinta? Sesuatu yang indah baginya, hari ini tidak banyak kegiatan yang mereka kerjakan bersama. Hanya memotong rumput dan menyiram tanaman di halaman. Selebihnya, bekerja di ruang belajar, perangkat komputer, mesin fax, fotocopy semua berada di sana.
Tiket pesawat, pasport, visa, semua sudah disiapkan oleh Kenzo tanpa sepengetahuan Amel. Kembali tinggal di Jepang mungkin itu tujuannya, diam-diam tersenyum, menatap tiga buah tiket yang ada di lacinya. Untuk dirinya, Amel dan Sany. Tiket menuju Singapura, guna menjemput ke lima anak lainnya. Menuju rumah kecil mereka di Jepang, rumah yang akan direnovasi olehnya.
Tinggal tanpa diusik siapapun, seperti dahulu. Memakan kue ikan hangat yang murah di musim dingin bersama keluarga kecil mereka. Membuat Amel benar-benar mencintainya, membuat perasaan istrinya hanya tertuju padanya.
Amel akan mencintainya, bahagia seperti dulu... itulah yang ada dalam fikirannya. Tersenyum, dalam imajinasi indahnya, memasukan kembali ke tiga tiket ke dalam laci.
Udara dingin hawa pegunungan terasa, suara jangkrik terdengar nyaring. Pasangan yang telah mengenakan piyama mereka.
"Apa kepalamu masih sakit?" Kenzo mengenyitkan keningnya, memeluk istrinya erat.
"Terkadang, mungkin kekurangan kadar gula..." Amel tersenyum membalas pelukannya, dalam selimut yang hangat.
"Jika besok masih sakit juga, kamu harus mau ke dokter," tegasnya.
"Siap kapten..." Amel tersenyum, mengangkat salah satu tangannya, bagaikan memberi hormat.
"Bagus," Kenzo mengecup keningnya, terdiam sejenak."Amel...."
"Em?" wanita itu masih tersenyum dalam dekapan suaminya.
"Apa mungkin kamu menerimaku, hanya karena rasa terimakasih?" tanyanya.
Amel mengenyitkan keningnya, menonggakkan kepalanya,"Jangan berfikiran aneh-aneh, aku adalah istrimu. Sudah pasti aku mencintaimu..."
Kenzo hanya mengganguk, namun keraguan masih ada di hatinya. Ragu akan istrinya yang memiliki hati terlalu baik.
Terlalu baik? Mungkin kata-kata Gilang memang benar, hanya rasa terimakasih. Tapi dirinya ingin tetap egois, menutup mata, dan telinganya. Berpura-pura tidak mengetahui segalanya, suami yang baik tanpa mengetahui masa lalu istrinya.
Hingga handphone Amel tiba-tiba berbunyi, dengan nama pemanggil seseorang bernama Marina.
"Siapa?" Kenzo mengenyitkan keningnya.
"Marina, ibu kandung Sany. Aku angkat dulu," ucapnya, duduk di atas tempat tidur mengangkat panggilan.
"Halo, Marina?"
Suara seseorang di seberang sana terdengar panik,"Amel, Gilang mengalami kecelakaan mobil. Aku dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Golongan darah kalian sama, untuk berjaga-jaga. Bisa kamu datang?"
"Aku akan kesana, kirimkan alamat rumah sakitnya..." ucap Amel mematikan panggilannya, setelah Marina mengiyakan.
Wanita itu segera bangkit, meraih jaketnya,"Kenzo, Gilang mengalami kecelakaan. Golongan darahku kebetulan sama, aku akan..."
Kenzo berusaha tersenyum,"Bagaimana kamu bisa tau golongan darah kalian sama?" tanyanya, menahan perasaan tercekatnya, menunggu kata-kata dari bibir istrinya.
Tangan Amel mengepal, namun mungkin ini saatnya dirinya untuk jujur. Tidak ingin Kenzo salah paham akan hubungannya. Lagipula dirinya dan Gilang hanya sahabat sampai akhir, bukan? Walaupun dulu pernah menyukainya, namun kini segalanya untuk Kenzo, suaminya.
"Maaf, sudah berbohong, kami dulu saling mengenal. Menjadi sahabat baik selama dua tahun, saat aku masih kuliah di kota ini..." ucap Amel, memasukkan phoncell dan dompet ke dalam tasnya. Menatap dan menunggu ekspresi wajah suaminya. Berharap tidak ada kecurigaan atau kesedihan dalam raut wajahnya.
"Bisa kamu tetap tinggal?" tanya Kenzo dengan nada lemah.
"Apa?" Amel yang teburu-buru mengenyitkan keningnya tidak mendengar dengan jelas.
"Tidak apa-apa, kita ke rumah sakit bersama," Kenzo berusaha tersenyum, meraih kunci mobilnya, menggengam jemari tangan istrinya erat.
Ini tidak membuktikan apapun, tidak ada yang dapat memisahkan kita kecuali kematian. Kita akan tinggal di Jepang, menunggumu untuk melupakannya. Karena aku adalah antagonis yang egois... aku mencintaimu...
Dirinya berusaha melangkah seakan tidak terjadi apa-apa. Baik-baik saja? Jika kondisi psikologis orang biasa mungkin iya. Namun untuk pengidap bipolar...
Senyuman? Baik-baik saja, mungkin hanya topeng untuknya. Menyembunyikan luka yang semakin membusuk saja di hatinya. Menggerogoti hingga kematiannya...
Bersambung