
🍀🍀🍀🍀 Maaf, aku sudah berusaha, tapi Brandon dalam penjabarannya, pria yang kulitnya lebih halus daripada kulit wanita. Karena kebetulan ketemu, inilah sosok Brandon ketika berumur 17 tahun, dengan baju karatenya.
Seperti biasa, karena gambar aku ambil sembarangan. Aku minta maaf dan di hapus jika ada pihak yang merasa dirugikan 😉😉🍀🍀🍀🍀
🍀🍀🍀🍀 Happy Reading 🍀🍀🍀🍀
Senyuman indah terlihat menyungging di wajahnya. Tepatnya berpura-pura tersenyum, keringat dingin mengalir di pelipisnya, yang kini tengah melayani customer.
"Jadi kalian ingin gaun dengan hiasan kristal?" tanyanya, kini tengah berada di ruangan VVIP, memegang pensil serta buku sketsa desainnya.
"Iya, bagian bawahnya bervolume, tapi jangan terlalu berat, jangan terlalu mengembang. Agar lebih mudah melangkah, jangan juga terlalu panjang. Satu lagi, harus terkesan modern..." jelas sang calon mempelai wanita.
Brenda menggambar dengan cepat, desain indah terkesan natural dan sedikit terbuka terlihat. Desain yang benar-benar sempurna.
"Seperti ini? Apa kalian suka? Bahannya juga halus tidak terlalu berat. Menonjolkan lekuk tubuh, tapi tidak terlalu terbuka. Memberi kesan modern..." ucap Brenda penuh harap, pasalnya entah sudah design ke berapa, calon mempelai wanita ini tidak pernah terlihat puas. Sedangkan calon mempelai pria, sibuk memainkan phoncell, tanpa peduli.
"Tidak, ini kurang bagus, aku ingin yang lebih modern. Ini terlihat kuno, aku ingin desain yang membuat kecantikanku terpancar ribuan kali lipat..." sang calon mempelai wanita terlihat tidak senang menatap desain yang dibuat Brenda.
Sialan!! Kurang modern apa? Ini sudah desain ke berapa!! Mereka mungkin sudah pergi bersama, tanpa ijinku. Makan berdua saling menyuapi, kemudian... kemudian... merencanakan pernikahan... bibirnya dapat tersenyum, namun hatinya cemas setengah mati, membayangkan Nindy yang akan dibawa pergi.
Tidak mendengarkan kata-kata customer lagi, dengan cepat Brenda menggambar sesuai imajinasinya. "Bagaimana dengan ini?" tanyanya dengan nada datar, bahkan membuat desain gaun pernikahan yang lebih indah daripada yang sebelumnya. Mengerahkan semua kemampuannya.
"Tidak, ini terlalu kampungan..." ucapnya.
Kampungan? Bagaimana bisa kampungan! Lalu yang indah dan modern itu bagaimana? Apa pakaian ratu Elizabeth, baru bisa dikatakan modern... kekesalan dicampur rasa cemas yang benar-benar diubun-ubun. Brenda menutup buku sketsanya, menggebrak meja.
"Kalau tidak puas, kamu gambar sendiri!! Jahit sendiri..." ucapnya geram.
Namun sang calon mempelai wanita tiba-tiba tertegun, terlihat kagum."Aku ingin yang seperti ini!! Terlihat nyaman untuk berjalan di altar. Terkesan modern, memperlihatkan aura kecantikanku, hingga memancar secara sempurna," ucapnya menunjuk sampul buku sketsa yang baru ditutup Brenda, dengan covernya bergambar tokoh animasi Disney, Cinderella.
Cinderella? Yang gaunnya mengembang besar tidak karuan? Nyaman berjalan di altar apanya... Modern darimananya... astaga, tekanan darahku bisa naik ... batinnya. Brenda memijit pelipisnya sendiri, kehilangan kata-kata.
"Bisa kamu buatkan? Aku akan membayar berapapun..." lanjut sang mempelai wanita penuh harap.
"Lalu kristalnya diletakkan dimana? Apa di balik gaunnya?" tanya Brenda memendam amarahnya.
"Iya boleh juga, simpel di luar, dan mewah di dalam ketika membukanya..." jawaban yang benar-benar aneh, entah berada dimana otak calon mempelai wanita, pantaslah calon mempelai pria terlihat acuh.
"Berarti desain sudah deal, karyawanku akan mengukur tubuh kalian. Silahkan dinikmati minumannya dahulu. Selagi melakukan pengukuran, selain itu ini katalog kami..." ucap Brenda, penuh senyuman. Melayani customer VVIP.
Brenda menghela napas kasar mulai bangkit, membiarkan karyawannya yang mulai bekerja, hingga langkahnya terhenti mendengar kata-kata dari mempelai pria. "Sayang, kenapa tidak yang ini saja, terlihat bagus..." ucapnya, menunjuk salah satu foto pada katalog.
"Terlihat bagus, karena pasangan fotomodelnya terlihat cocok. Aku bertaruh mereka adalah pasangan kekasih asli ..." sang calon mempelai wanita menghela napas kasar.
Katalog yang mereka tunjuk? Katalog dengan Breda dan Nindy yang menjadi pasangan pemotretannya. Entah, kenapa senyuman menyungging di wajah Brenda, meninggalkan ruangan VVIP.
"Model prianya sangat tampan, seperti selebriti. Coba kamu bisa sedikit saja tampan sepertinya..." gerutu sang calon mempelai wanita.
Sang mempelai pria mengenyitkan keningnya,"Ini? Ini jika diperhatikan, bukannya desainer waria yang tadi..." ucapnya tertegun.
"Benar..." wajah sang calon mempelai wanita seketika pucat pasi.
"Walaupun aku tidak setampan dia. Setidaknya aku pria sejati, masih menyukai kue apem..." ucapnya membanggakan diri.
***
Di tempat lain Brenda mulai melangkah, berada di sekat kaca. Menatap calon keluarga kecil yang akan terbentuk.
"Nona Brenda?" pegawai yang dibayarnya mendekat.
"Apa mereka hanya seperti itu saja dari tadi?" tanyanya dengan pelan, namun menggunakan suara bariton pria.
"Iya, anda pasti mencemaskan Nindy, mereka terlihat serasi. Mungkin akan menjadi calon suaminya..." ucap sang karyawan menatap kagum, pada pemuda yang menggulung setengah lengan kemejanya. Memperlihatkan otot-otot yang digilai wanita pecinta pria perkasa.
Sedangkan Brenda mengenyitkan keningnya,"Tenanglah, aku tidak mampu, jadi lepaskan saja seperti yang lain..." gumamnya.
Namun Nindy terlihat merapikan tuxedo yang dipakai Bara, mengancingkan bagian luarnya. Darah Brenda berdesir hebat, kali ini bukan karena hormonnya sebagai pria dewasa. Namun karena hatinya yang panas dingin ingin memisahkan mereka.
"Ibu apa kami cocok!?" tanya Bara, menarik pinggang Nindy merangkulnya di hadapan sang ibu.
Aku tidak main-main ketika mengatakannya. Aku ingin mencabik-cabikmu. Hentikan tanganmu yang menyentuh Nindy-ku atau kamu akan aku belah seperti batu bata ... gumamannya dalam hati, masih berusaha tersenyum, mengamati segalanya dari kaca pembatas ruangan.
Nindy sedikit melirik, mengetahui keberadaan Brenda yang menatap mereka tanpa henti. Senyuman menyinggung di wajahnya.
Bara dipakaikan dasi kupu-kupu olehnya, sedikit berjinjit merapikan rambut pemuda itu, memangkas jarak antara wajah mereka, yang hanya berjarak beberapa centimeter saja.
Kak Brandon, sampai kapan kamu dapat bertahan. Ayo keluarlah!! Katakan kamu menyukai seorang Nindy... gumamnya dalam hati.
Wajah jelly nata de coco itu terlihat mulai gusar, berjalan cepat memasuki ruangan,"Anak kecil, kakakmu ingin aku mengawasimu. Jangan berbuat genit..." ucapnya menarik tangan Nindy.
"Aku tidak genit!! Dia ini Bara temanku dari SMU!! Kak Brenda, jangan coba-coba mengatur hidupku," bentak Nindy.
Brenda yang benar-benar sudah menahan emosinya sedari tadi tiba-tiba meninggikan intonasi suaranya,"Sebegitu inginnya kamu punya pacar!! Sampai-sampai semua pria kamu goda!! Seperti wanita murahan di pinggir jalan!!"
Air mata Nindy mengalir, diseka dengan cepat oleh tangan sendiri, wanita murahan di pinggir jalan? Apa begitu Brenda menilainya.
Brenda terdiam sejenak, menatap wajah gadis kecil di hadapannya, salah bicara? Dirinya memang salah bicara,"Nindy maaf...aku ..." kata-katanya terhenti.
Nindy tidak memperhatikannya lagi, seolah Brenda tidak ada,"Bara, maaf... jika sudah selesai mencocokkan ukurannya. Kita coba pakaian yang lain ya?" ucapnya mengambilkan pakaian lain untuk sang pemuda.
Sedangkan tangan Brenda lemas, ini kesalahannya. Nindy memang harus dilepaskannya. Tapi kenapa terasa menyakitkan.
Senyuman dan mulut gadis itu yang tidak bisa diam, semua dirindukan olehnya. Hingga, dirinya melangkah pergi, menjernihkan fikirannya.
***
Malam mulai menjelang, seluruh karyawan telah pulang. Terkecuali Nindy yang masih mengerjakan beberapa sketsa, bayangan kejadian siang tadi masih ada di benaknya.
Apa dirinya serendah itu? Wanita murahan di pinggir jalan. Lampu ruangannya dimatikan, Brenda menghilang dari siang entah kemana. Mungkin masih di dalam ruangannya mengingat lampu yang masih menyala.
Hingga Nindy memberanikan dirinya, membuka pintu. "Kak Brenda..." panggilnya.
Namun bukannya jawaban, bau alkohol yang menyengat tercium. Tubuhnya di peluk erat, seseorang menangis terisak memeluknya, seakan putus asa.
Rambut panjang berserakan di lantai, seorang pemuda dengan rambut pendek dipotong dalam kondisi mabuk tidak beraturan, masih mengenakan pakaian wanita.
"A...a...aku akan mencoba berubah untukmu. Jangan meninggalkanku seperti mereka, jangan memarahi dan mengacuhkanku..." ucapnya gelagapan, dalam isakan tangis.
Semua bagaikan terulang baginya, kala sang ibu membentak dan mengacuhkannya. Perasaan yang sama ketika Nindy melakukan hal serupa. Merasa memiliki? Mungkin iya, hingga Brenda takut kehilangan.
"Berubah? Berusaha melakukan apapun untukku?" tanyanya pada Brenda yang sejatinya setengah sadar.
Nindy tersenyum menyeringai, akhirnya dapat bersama Brandon. Pria impiannya, walaupun hanya satu malam.
***
Pagi menjelang, Brenda membuka matanya. Dengan kepala yang benar-benar terasa sakit.
Namun bukan sosok cross dressing yang terlihat. Tapi, seorang pemuda yang telah memakai pakaian yang terlihat stylish. Potongan rambut? Nindy memotongnya dengan rapi. Pemuda rupawan idamannya.
Bahkan seluruh tubuhnya sudah dilihat Nindy ketika mengganti pakaiannya. Setengah sadar? Memang, namun sentuhan tangan Nindy yang mengganti pakaiannya. Membuat basoka yang tertidur sempat berdiri tegak.
Nindy hanya dapat menelan ludahnya, menatap benda yang masih berfungsi dengan sempurna. Namun syukurlah, Brandon tidak menerkamnya, mungkin karena fobianya. Rasa trauma yang masih ada, namun hormon sebagai pria masih berfungsi.
Kembali pada Brenda yang baru membuka matanya. Dirinya kembali mengingat-ingat kejadian kemarin. Seketika mengamati penampilannya pada cermin. "Rambut panjang berhargaku!? Mesum kecil sialan!!" kesalnya.
Sedangkan Nindy yang baru selesai mandi di toilet ruangan Brenda, mengenakan kemeja pria kebesaran. Dengan rambut setengah kering.
"Kak Brandon... bertanggung jawablah..." ucapnya memelas dengan nada menggoda.
"Ber...bertanggung jawab!?" Brenda kembali mengeluarkan suara baritonnya kehabisan kata-kata.
Bersambung