
Amel menghela napas kasar, mimpinya semalam terasa begitu nyata. Jemarinya, menyentuh kaca jendela pesawat, menatap ke arah laut. Menatap dengan tatapan kosong, teringat tentang sosok yang tenggelam dengan berurai air mata di dalamnya.
"Maaf..." Kenzo menggenggam jemari tangan Amel,"Katakan apa kesalahanku. Aku akan memperbaikinya..."
Amel hanya terdiam, tidak ada yang ingin dibicarakannya saat ini. Terlarut dalam fikirannya sendiri.
"Aku ingin dipeluk..." dengan manjanya pemuda itu menyender."Bagaimana jika sebuah ciuman?"
Amel mulai menipiskan bibir menahan senyumnya. Tersadar dari lamunannya.
"Kita bercocok tanam, setelah menikah. Tapi, sekarang aku boleh bernyanyi, bukan?" tanya Kenzo, kemudian mulai menyanyi,"Menanam jagung di kebun kita. Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam, tanahnya longgar jagung ku tanaman..."
"Kapan aku bisa menanam jagungku?" Kenzo bertanya dengan wajah polos penuh harap.
Hingga pada akhirnya Amel tidak dapat menahan tawanya lagi, mengecup wajah kekasihnya tiada henti, di setiap sudut.
"Tidak marah lagi padaku?" tanya Kenzo.
"Tidak bisa marah..." Amel kembali tertawa, menganggap mimpi tidak masuk akalnya, hanyalah bunga tidur.
***
Perjalanan mereka menggunakan pesawat sekitar 8 jam, dari Prancis menuju salah bandara di Afrika Tengah.
Nindy yang memang ingin berlibur sebelum pulang kembali bersama Amel, ikut dengan mereka. Menarik kopernya, serta menenteng paper bag besar, entah apa isinya.
"Kakak ipar kita akan kemana...?" Nindy berlari kecil mengejar mereka.
"Menjemput anak-anak yang aku adopsi," Kenzo menjawabnya, melangkah dengan cepat.
Sungguh pemandangan yang aneh bagi Nindy, mobil tentara melintas di jalan raya, dengan orang berkulit hitam membawa senjata laras panjang diatasnya.
Konflik bersenjata? Itu memang terjadi sejak tahun 2012. Karena itulah Kenzo memutuskan untuk memindahkan anak-anak yang diadopsinya ke Singapura. Sebagian besar dari mereka berusia di atas 7 tahun, dengan ras yang berbeda.
Mobil taksi yang mereka tumpangi mulai melaju meninggalkan bandara, butuh beberapa jam perjalanan hingga rumah itu terlihat, dengan beberapa pelayan menyambut, menurunkan barang-barangnya.
"Papa..." beberapa anak berlari dari dalam, memeluknya. Ada yang bermata sipit dengan kulit putih khas orang Asia Timur. Ada pula yang terlihat memiliki rambut pirang.
Ras yang berbeda? Seorang anak paling muda berusia 7 tahun tersenyum kearahnya, bermata biru, berkulit putih dengan rambut yang berwarna putih yang indah.
Tidak banyak, hanya 5 orang anak disana. Namun, semuanya diperlakukan dengan baik, diberikan pendidikan, makanan dan pakaian yang layak. Mungkin bagaikan memang anaknya sendiri, walaupun jarang mengunjungi, anak-anak itu cukup mengetahui tangan yang menyelamatkan mereka.
Tangan yang memberikan mereka makanan dan pendidikan.
"Aku merindukan kalian. Maaf, tidak ada oleh-oleh, karena kita akan pindah..." Kenzo menghela napas kasar, sembari tersenyum.
"Papa, kakak cantik ini siapa? Apa dia mama?" Scott yang berusia 15 tahun mengenyitkan keningnya, menatap curiga. Seorang anak yang terlihat memiliki ras Asia Timur.
"Jangan sembarangan bicara... nanti papa tersinggung. Papa kan tidak pernah dekat dengan wanita," Elina yang berusia 17 tahun berbisik pada Scott, tidak ingin membuat Kenzo sakit hati dengan statusnya yang tidak pernah punya kekasih.
"Aku mendengar semuanya!! Dasar anak nakal!!" bentak Kenzo kesal, menarik telinga Elina. Seorang remaja cantik dengan mata coklat, tubuh indah yang mulai terbentuk, bibir tebal terkesan menggoda dan rambut bergelombangnya. Hubungan mereka? Benar-benar bagaikan ayah dan anak.
Ingat ini bukan cerita tentang sugar Daddy yang celap-celup ke putri angkatnya yang cantik. Ini tentang seorang Kenzo, pemuda yang memiliki banyak luka berusaha menyembuhkannya perlahan.
"Sakit papa!!" bentak Elina tidak kalah sengit.
Steven yang termuda, berparas paling rupawan diantara mereka, mungkin sebuah kebetulan, mata birunya benar-benar indah, rambut putih, dengan warna kulit putih senada. Menarik ujung pakaian Amel,"Mama, apa sudah ada bayi di dalam sana? Laki-laki atau perempuan..." tanyanya polos, menonggakkan kepalanya, meraba perut Amel tanpa canggung.
"Tidak ada, kami bahkan belum menikah..." Amel tertawa kecil, mengacak-acak rambut Steven,"Memangnya kenapa? Kalau laki-laki atau perempuan..."
"Aku akan menikahinya jika perempuan..." jawab Steven penuh kesungguhan.
Kenzo mengenyitkan keningnya kesal, tidak sadar diri dengan prilaku buruknya ketika kecil. Mirip? Mungkin sama persis,"Dasar!! Belajar dulu yang rajin!!" prilaku yang sama, dengan Elina, Kenzo menarik telinga Steven hingga kembali masuk ke dalam rumah.
Selain Scott, Elina, dan Steven. Disana juga ada Joe dengan mata coklat dan rambut pirangnya. Satu anak lagi Elisha, anak yang duduk di kursi rodanya, akibat cacat yang dialami ketika berada di dalam sekapan orang-orang yang menjualnya.
Tidak semua anak yang diperjual belikan di pasar gelap seberuntung mereka. Ada yang berakhir di rumah bordil, ada pula yang diambil seluruh organ tubuhnya untuk diperdagangkan, ada pula yang berakhir menjadi buruh dipekerjakan tanpa istirahat.
Mustahil? Dunia bawah, bukanlah hal yang hanya menyangkut alkohol, perjudian dan wanita, perdagangan senjata ilegal maupun narkotika. Namun yang terkeji dari itu semua adalah human trafficking (perdagangan manusia).
***
Mereka tidak akan tinggal lama disana, Kenzo tersenyum, setelah memberi uang pesangon untuk pelayan-pelayan yang bertugas mengurus anak-anaknya. Membantu anak-anak yang telah mandiri itu berkemas, memasukan barang satu persatu.
Sekarang sosoknya terlihat bagaikan seorang ayah dengan kepribadian yang hangat. Siapa yang menyangka pria keji sepertinya mengumpulkan anak-anak untuk diasuhnya.
Tidak dapat memberikan kasih sayang penuh, namun memberikan mereka tempat berteduh dari dunia yang tidak berpihak pada mereka.
Kagum? Begitulah Amel menatap kekasihnya saat ini. Siapa bilang antagonis itu selalu keji, mungkin ada banyak sisi baik yang disembunyikannya. Alasannya melakukan hal buruk, semua pasti ada.
Elina sebagai yang tertua tiba-tiba berjalan mendekati Amel, tersenyum padanya."Jadi benar-benar calon mama kami?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Amel.
"Papa bekerja tanpa henti, tidak pernah tinggal menetap. Dia kesepian..." Elina menggengam jemari tangan Amel,"Papa bukan orang yang jahat, dia hanya kesepian. Tapi tidak pernah ada orang yang dibukakan hati olehnya. Bisa mama, menjaga papa?" tanyanya.
Amel tersenyum,"Aku juga kesepian, tapi tidak saat bersama dengannya," tangan Elisa ditariknya,"Ayo kita membantu mereka berkemas..." berjalan menuju kamar tempat Kenzo berada.
***
Malam menjelang, hanya satu malam mereka ada disana. Amel menghela napas kasar, melihat pantulan dirinya di cermin.
"Aku seperti wanita bayaran..." gumamnya, memakai paket honeymoon berwarna hitam yang kontras dengan kulit putihnya.
"Perfect..." Nindy tersenyum, penuh perencanaan."Ayo kembali ke kamar kalian!!"
"Tidak mau!! Aku akan memakai pakaianku kembali..." Amel hendak mengambil pakaiannya. Namun, sialnya, tangan Nindy lebih cepat. Mengambil gunting jahit, memotongnya tidak beraturan.
"Lemariku sudah aku kunci. Pilihanmu, hanya kembali ke kamar dan pakai-pakaianmu disana..." ucapnya tersenyum.
"Nindy!!" teriak Amel penuh kekesalan.
Waktu telah menunjukkan pukul 12 malam, semua anak-anak pastinya telah tertidur. Amel berjalan mengendap-endap dengan saringan tahu kekurangan bahannya. Berawal dari Nindy yang berkata meminta bantuannya untuk mencoba. Ternyata ini hanya akal busuknya saja, untuk memastikan Kenzo akan menikahi kakaknya.
Kriet...
Amel membuka pintu perlahan, menatap keberadaan Kenzo yang terdiam di balkon, dengan sekaleng soda di tangannya. Menatap ke arah bintang.
Aku tidak terlihat, aku tidak terlihat... jangan menerkamku. Karena aku tidak dapat menahan godaan untuk masuk ke mulutmu... gumam Amel dalam hatinya, berusaha berjalan perlahan.
Namun pemuda itu tiba-tiba mengalihkan pandangannya, mungkin sudah menyadari kedatangan Amel. Berjalan mendekatinya, detak jantung Amel terasa tidak karuan ketakutan. Disudutkan tepat di depan lemari pakaian, matanya terpejam tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi.
Tidak dapat membayangkan? Tepatnya menginginkan apa yang akan terjadi.
Kriet...
Bukan suara tubuhnya di jatuhkan di tempat tidur yang berdecit. Tapi suara pintu lemari yang terbuka, sebuah baju tidur wanita berbentuk yukata tipis diraihnya. Dipakaikan pada tubuh Amel, pemuda itu berjongkok, masih mengikatkan tali piama.
Kemudian menonggakkan kepalanya,"Cantik, Amel-ku adalah yang tercantik. Tapi bukan sekarang saatnya..." ucapnya, menatap bagaikan mendamba, memejamkan mata, menahan tengkuk Amel. Kembali menjelajahi bibir, seakan tidak pernah puas.
Sapuan lidah terasa, jemari Amel menggengam erat piama yang dikenakan Kenzo. Tidak ingin ciuman memabukkan ini berakhir.
Namun, kala napas itu telah hampir habis. Sentuhan bibir juga harus terlepas,"Aku mencintaimu, ingin menyentuhmu. Tapi setelah menyematkan cincin di jari manismu..."
Amel mengangguk, kemudian tersenyum,"Kita akan menikah. Membesarkan anak-anak kita bersama..."
"Tentu..." Kenzo tersenyum, sebuah kebahagiaan yang didapatkannya dalam hidupnya yang gelap.
Bersambung