
Pernikahan? Merupakan persiapan sesuatu yang sederhana, namun siapa sangka resepsinya? Semua fasilitasnya sudah dikembalikan, dirinya kini bagaikan burung yang bebas melayang.
Semua undangan telah dikirimnya, restu? Masa bodoh, Leon akan setuju asalkan anaknya tidak menikah dengan wanita seperti Keyla. Bahkan ayahnya hanya dikirimkan undangan.
Anak yang benar-benar tidak tahu diuntung. Memesan semuanya melalui phoncell pintarnya. Wajahnya tersenyum, dengan peluit tukang parkir masih berada di lehernya.
Masih menjadi tukang parkir? Benar, semua fasilitasnya sudah dikembalikan. Namun, dirinya masih ingin cuti beberapa minggu, tinggal di kost-kostan sempit kekasihnya yang akan dinikahinya beberapa hari lagi.
"Gedung, hotel, katering, semuanya sudah... tinggal meminta restu pada ayah mertua..." senyuman ganjil menyungging di bibir pemuda itu. Memasukan kembali phoncell pintar dengan lambang apel tergigit ke dalam sakunya. Peluit kembali ditiupnya menatap sebuah mobil yang baru masuk ke parkiran.
***
Hari sudah mulai senja, Gilang menatap penampilannya di cermin retak, yang tertempel asal di dinding menggunakan plaster. Sudah dua hari dirinya tinggal disana, tidur di lantai beralaskan bedcover tebal. Hingga, pandangan matanya beralih menatap ke arah Kristin yang baru datang.
Wajahnya tertunduk,"Aku dipecat..." gumamnya menghela napas kasar, usai memutuskan hubungannya dengan anak pemilik toko roti.
Gilang tersenyum, kemudian memeluknya,"Kalau begitu jadi ibu rumah tangga saja, lahirkan banyak anak untukku..."
"Tidak bisa begitu, nanti mereka mau makan apa? Besok aku akan cari kerja. Uang tabunganku mungkin cukup hanya untuk beberapa bulan kedepan..." Kristin menghela napas kasar, membalas pelukannya.
Jadi begini rasanya memiliki pasangan yang dapat hidup susah maupun senang. Mirip dengan ibu... gumam Gilang dalam hatinya. Ingin menjaga makhluk rapuh yang tidak memandang kelemahannya sama sekali.
"Aku ingin..." pemuda yang mulai nakal itu, menggerakkan bibirnya di leher Kristin. Menimbulkan nuansa geli yang aneh, mengecupnya gemas meninggalkan noda merah yang perlahan menjadi keunguan.
"Ti... tidak boleh!! Malam pertama kita..." kata-kata Kristin terhenti, Gilang melonggarkan pelukannya, menatap matanya dalam-dalam.
"Aku akan bersabar," ucapnya mengecup bibir Kristin singkat. Dua pasang mata yang kembali bertemu, menyatukan bibir mereka, menyalurkan rasa kasih yang memabukkan.
Deru napas yang memburu, menghirup udara dengan serakah kala pangutan itu terhenti,"Kapan kamu akan mengenalkan ku pada ayahmu untuk meminta restu?"
"Ayahku yang pedagang minuman keliling sudah meninggal..." ucap Kristin berusaha tersenyum.
"Baiklah aku ganti pertanyaannya, kapan kita akan meminta restu pada pria yang namanya ada di akte kelahiranmu?" tanyanya, mengecup pipi Kristin.
"Kita tidak perlu restu darinya...aku ..." kata-kata Kristin disela.
"Ibumu pernah mencintainya. Aku hanya memberitahukan, aku meminta putri dari wanita yang pernah mencintainya," Gilang berusaha tersenyum, tetap ingin melihat wajah menyebalkan dari ayah mertuanya.
"Baik, tapi jika mereka menghina kita, jangan merasa sakit hati dan membatalkan pernikahan," ucapnya, dijawab dengan anggukan oleh Gilang.
***
Sebuah angkot berhenti di depan kediaman terbesar di wilayah tersebut. Rumah megah dengan beberapa kamar. Aset yang dimiliki Antoni? Tentu tidak ini saja, rumah istri keduanya dan yang saat ini ditempatinya rumah yang dibelikannya untuk istri ketiganya, Keyla. Serta beberapa bidang tanah dan toko.
Almarhum Mika, selaku istri pertama? Seumur hidupnya tinggal di tempat kecil. Istri pengusaha? Siapa yang sangka, mendukung suaminya berjualan kopi dan snack mengelilingi kota di tengah perantauan mereka.
Hingga berkembang menjadi toko, sang suami mulai menikah lagi dengan wanita yang lebih muda. Semakin menjauh kala sang suami menjual beberapa tokonya untuk investasi di bidang batubara. Doa istri pertama yang berhasil, mengantarkan suaminya menjadi pria mapan yang dapat dibanggakan, doa yang juga mengantarkan sang suami untuk melupakannya. Hingga ajal menjemput, seorang Antoni semakin menyakiti hati Mika.
Wanita yang memejamkan matanya menghadap-Nya dengan hati yang terluka.
"Kristin, ayo..." Gilang menggengam jemari tangannya, meyakinkan untuk melangkah masuk.
"A...apa jika kamu menjadi kaya, suatu hari nanti akan meninggalkanku?" tanyanya menahan air mata yang hendak mengalir.
"Tidak, karena aku memang tuan muda kaya dari awal. Bukan OKB (Orang Kaya Baru) yang kampungan..." Gilang tersenyum, seolah-olah bergurau.
"Dasar tukang parkir..." cibir Kristin mulai tertawa, menghapus air matanya, tidak menganggap serius kata-kata Gilang, memukul lengan calon suaminya.
"Sudah, tuan muda kaya ini akan menemui mertuanya..." ucapnya melangkah arogan dengan masih menggunakan pakaian lusuh yang warnanya memudar terkena cahaya matahari.
"Kalau kamu benar-benar tuan muda seperti yang di film-film, berarti aku keturunan ratu Elizabeth yang tertukar..." Kristin kembali tertawa, mengikuti langkah Gilang, memasuki gerbang rumah besar yang telah dibukakan security.
***
Hanya seluas salah satu villa miliknya, tidak ada yang istimewa menurut pendapat Gilang. Namun, pria semapan ini membiarkan putrinya hanya lulusan SMU bahkan untuk hidup harus bekerja di toko roti? Membukakan sebuah toko untuk Kristin bukan merupakan hal yang sulit bukan? Untuk pengusaha yang memiliki rumah di pemukiman kalangan atas ini.
Asisten rumah tangga menatap sinis pada pasangan yang baru datang, tidak ada hormat-hormatnya sama sekali. Bahkan minuman pun tidak disuguhkan.
"Apa tuan Antoni ada?" tanya Kristin.
"Mau minta uang ya? Tuan tidak ada..." cibirnya masih menyapu.
"Kacung!! Kamu itu kacung, ini anak majikanmu! Tidak takut dipecat," Gilang tersenyum menatap sinis.
Wanita paruh baya itu tersenyum, tertawa kecil,"Gaji saya 3 juta perbulannya. Dulu untuk mantan istri pertama dan anaknya tuan Antoni hanya dikirim 1,5 juta setiap bulan. Jadi kedudukan saya walaupun hanya pembantu lebih tinggi dari pada anak yang tidak dianggap,"
Gilang mengenyitkan keningnya kesal, duduk di sofa tanpa permisi,"Jika majikan jatuh miskin, pembantunya juga akan kehilangan pekerjaannya. Aku doakan majikanmu akan jatuh miskin sampai-sampai mengemis numpang hidup pada putrinya,"
"Sudah miskin!! Belagu!!" komat-kamit mulut pembantu itu berucap menatap Kristin dan calon suaminya. Berjalan hendak memanggil Antoni.
Tangan Kristin yang duduk di samping Gilang menggenggamnya erat. Takut kehilangannya? Takut akan semua hinaan akan membuat Gilang menyerah untuk menikahinya.
Hingga beberapa menit, pria paruh baya itu turun juga. Pria yang masih mengenakan jubah mandinya, menatap putrinya yang duduk bersama seorang pemuda berpakaian lusuh.
Duduk berhadapan dengan mereka,"Ada apa? Katanya tidak menganggap ayah ada lagi! Kenapa kemari? Butuh uang..." cibirnya menghina putrinya sendiri.
Air mata Kristin yang tertahan mengalir juga pada akhirnya. Tangannya mengepal, mencoba melupakan semua dendam agar dapat hidup bahagia dengan lebih baik bersama pemuda yang dicintainya. Mengikhlaskan semua dendamnya untuk Gilang.
"Tidak, saya kemari untuk meminta ijin menikahi Kristin. Sekaligus meminta ijin pada anda agar dapat meminta orang lain menjadi pendamping mempelai wanita ..." senyuman menyungging di bibir Gilang.
"Profesimu apa?" tanya Antoni.
"Sekarang tukang parkir, beberapa minggu lagi CEO..." jawab Gilang jujur.
Wajah Kristin pucat pasi, tidak habis fikir dengan jawaban Gilang."Chef Executive Officer?" tanyanya memastikan. Dijawab dengan anggukan tidak berdosa oleh pemuda itu.
Gadis itu berusaha tersenyum... Kebohongan indah, tidak masuk akal, kalau berbohong juga fikir-fikir dulu.... batinnya kesal.
"Aku sebenarnya tidak ingin sombong, kakekku pendiri Bold Company, almarhum kakak angkatku yang sudah meninggal pemilik W&G Company..." ucapnya tersenyum tanpa dosa.
Antoni mengenyitkan keningnya mengingat sosok Kenzo yang pernah menghajarnya habis-habisan. Orang ini adalah adik dari iblis itu? Bahkan kakek dari pemuda ini adalah pemilik Bold Company?
Satu kata yang menjabarkan segala,'Mustahil,'
"Kamu akan menikah dengan penipu ini?" tanya Antoni, dijawab dengan anggukan oleh Kristin.
"Terserah kalian, aku tidak peduli. Tapi satu hal jangan mencoba meminta hak waris atau kekayaanku walaupun hanya secuil..." lanjutnya.
"Baik, anda juga, jangan mencoba meminta pertolongan putri anda. Mengemis atau memohon padanya, karena..." kata-kata Gilang terpotong.
"Kristin apa sebenarnya profesinya?" tanya Antoni enggan bicara pada makhluk halu di hadapannya.
"Tukang Parkir..." jawab Kristin.
"Hanya tukang parkir, miskin, kelas rendah," Antoni tertawa lepas, penuh hinaan pada Gilang.
"Antoni!! Anda sendiri dulu pedagang minuman keliling! Saat masih kecil, saya melihat sendiri, ibu saya yang mengaduk kopi membantu pekerjaan anda, sambil sesekali menyuapi putrinya di pinggir jalan!!" bentak Kristin menatap tajam.
"Apa salahnya dengan tukang parkir!! Yang penting tidak meninggalkan istri dan anaknya!! Dasar suami durhaka..." lanjutnya, yang mengikuti kata-kata pedas Gilang.
"Anak tidak tau diuntung..." tangan Antoni terangkat hendak menampar putrinya, bersamaan dengan tangan Gilang yang dengan cepat mencegahnya.
"Anda juga ayah yang durhaka, tidak takut dikutuk menjadi batu?" guraunya.
Entah darimana seorang wanita seumuran Kristin, masih memakai jubah mandinya datang,"Gilang? Kamu kemari karena merindukanku?" tanyanya tanpa malu, berusaha mendekatinya.
Bersambung