My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Kacang



Seorang pria berpakaian supir, telah usai menghubungi seseorang, memasukkan earphonenya, bersamaan dengan itu seorang pengawal mengatakan bos besar memanggilnya. Kenzo hanya menurut berjalan mengikuti pengawal, hingga sampai pada pintu kamar yang cukup besar.


Doom berdiri disana tersenyum padanya, perlahan sang supir memasuki ruangan."Tidak aku sangka, pemilik W&G Company, menjadi supirku..." ucapnya bertepuk tangan.


Kenzo menghela napas kasar, ikut tersenyum,"Jadi identitasku sudah terbongkar? Kenapa tidak langsung saja membunuhku? Takut?"


"Aku bukan orang bodoh, anak-anak angkatmu tidak akan tinggal diam. Apalagi kamu memiliki hubungan yang baik dengan JH Corporation dan Bold Company. Membunuhmu!? Sama artinya mencari mati," jawab Doom, menyodorkan segelas anggur yang baru dituangnya.


Kenzo meraihnya, menghela kasar."Aku tidak bisa berpihak padamu,"


"Terserah, setelah aku menjadi ketua Dark Wild aku juga tidak memiliki tujuan lagi ..." gumamnya tertawa kecil.


"Jadi kamu tidak memiliki ambisi lagi?" tanya Kenzo.


Doom terdiam sejenak, kemudian tersenyum,"Ini karena seorang wanita, Victor menikahi Viona, wanita yang aku cintai. Melahirkan banyak anak untuknya. Karena Viona terlihat bahagia aku merelakannya,"


"Tapi semua berubah, saat Viona mengidap kanker otak. Pria egois itu tidak membawanya ke rumah sakit, hanya memberinya obat pengurang rasa sakit saja. Sedangkan dirinya mulai membawa wanita muda ke rumah besar miliknya. Meninggalkan istrinya yang sakit," lanjutnya tertawa nyaring, dengan air mata yang mengalir.


"Lalu?" Kenzo mulai mengambil kursi kayu duduk disana, meraih kue kering yang ada di atas meja. Memakannya tanpa sungkan.


"Dia berpura-pura tegar, menangis seorang diri. Hingga akhirnya mati, tanpa mendapatkan perawatan dari rumah sakit," jawabnya.


"Lalu?" tanya Kenzo kembali, bagaikan teman curhat yang baik. Mengunyah kacang pilihan yang dipanggang, tidak digoreng dengan suhu yang tepat.


"Aku ingin membalas kematian Viona, karena itu... karena itu...aku mengadu domba anak-anak Victor, dari yang semula persaingan bertahan hidup di dalam hutan untuk memperebutkan kekuasaan. Menjadi pertarungan membunuh atau dibunuh," ucapnya meminum red wine di gelasnya.


"Lalu?" lagi-lagi kata-kata menyebalkan sebagai pendengar yang baik itu terucap. Benar-benar terlalu santai untuk berbicara dengan seseorang yang berbahaya.


"Steven sudah mati dibunuh kekasihnya sendiri, tinggal Eden dan Victor, maka ..." kata-kata Doom disela.


Kenzo mengenyitkan keningnya, otak orang ini benar-benar tidak beres,"Maka Viona yang kamu cintai akan bangkit merangkak dari kuburannya. Mengetahui anak-anak yang dilahirkannya dengan bertaruh nyawa mati di tanganmu. Ibu mana yang rela anak-anaknya saling membunuh, bahkan mati tanpa sisa..."


"Tapi ini untuk Viona..." gumamnya mengepalkan tangannya.


"Hanya untuk seorang wanita? Aku pernah membalas dendam kematian kedua orang tuaku. Kamu tau apa yang aku dapatkan? Hanya rasa sakit, tidak ada kebahagiaan disana. Tapi jika kamu ingin mencoba balas dendam hingga tuntas, silahkan saja..." ucapnya tidak meminum sedikitpun wine yang ada di gelas. Hanya membawa setoples kacang pilihan yang dipanggang tidak digoreng dalam suhu yang tepat.


Mulai bangkit hendak berjalan pergi, hingga beberapa langkah kakinya bergerak.


"Kamu mau kemana!?" suara Doom terdengar.


"Pulang, kamu tidak bisa membunuh atau melukaiku. Jadi tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi..." jawabnya tersenyum tanpa dosa.


***


Sebuah mobil sport dengan kaca anti peluru menabrak gerbang villa berhenti memarkirkan mobilnya secara paralel. Seorang wanita cantik bertubuh menggoda turun dari sana, kulit seputih susu, rambut panjang sedikit bergelombang.


Beberapa pengawal menodongkan senjata padanya. Namun wanita itu hanya terdiam, hingga Kenzo datang dari dalam dengan seorang pengawal mengikutinya.


"Tuan memberikan instruksi agar membiarkan mereka pergi," ucapnya.


"Ayo pulang..." Amel mengecup pipi suaminya tanpa ragu. Meraih toples kacang di tangan Kenzo, kemudian menyuapi suaminya.


Hingga mobil yang bagian depannya telah penyok karena menabrak gerbang besi melaju. Para pengawal Doom mengenyitkan keningnya,"Apa mereka tidak takut mati!?" gumamnya.


***


"Kenapa tidak mengatakan tentang pernikahan Febria?" tanyanya, masih fokus ke jalanan.


Amel menghela napas kasar, beralih menyuapi dirinya sendiri terlihat kesal."Kamu lupa!? Ketika ingin dijemput baru menghubungi istrinya. Kamu tidak merindukanku..."


"Maaf, aku lupa, hanya aktif mengirimkan e-mail saja. Maklum sudah tua ..." suara tawanya terdengar.


"Tua? Tapi masih saja sering didekati wanita muda, bisakah kamu melakukan operasi agar ada keriput di wajahmu," ucap Amel bersungut-sungut.


"Tidak mau, jika aku menjadi tua, maka istriku yang cantik akan didekati banyak pria muda..." Kenzo masih tetap setia tersenyum, gemas pada tingkah istrinya yang terkadang posesif.


Jemari tangan Amel merayap memegang tangan Kenzo yang ada pada kendali gigi mobil. Pasangan yang sama-sama tersenyum, kemudian tertawa.


Sejenak tawa Amel terhenti, menghela napas kasar,"Elina menikah dengan Eden kakak kandung Steven..."


"Jika kamu merestui mereka maka mereka juga akan mendapatkan restuku," ucap Kenzo tersenyum.


"Ada satu masalah, Steven mengalami gagal jantung. Memerlukan donor segera, keluarganya ingin mendapatkan donor dari pasar gelap atau dari salah satu bawahan mereka. Tapi Steven menolak..." Amel menghela napas kasar mencemaskan kedua anaknya.


"Itu baru menantuku, kukuh pada pendiriannya. Aku akan membatunya mencari donor, nanti. Masalah akan mendapatkannya atau tidak aku tidak bisa menjamin," ucapnya menghela napas kasar, terdiam sejenak,"Apa kita perlu, mempersiapkan pernikahan Febria dengan Hitoshi jika Steven meninggal..."


"Kenzo!!" pekik Amel menarik telinga suaminya.


***


Barang-barang branded ada dalam beberapa paperbag yang dibawanya. Diikuti seorang supir yang juga membawa belanjaan, berupa barang-barang menumpuk.


Hidup terasa lebih mudah, menginginkan apapun tinggal menunjuknya. Wanita cantik ala sosialita, itulah kehidupannya dari dulu. Berfoto di pesawat jet sewaan yang hendak lepas landas, patungan untuk membeli tas dengan harga ratusan ribu dolar. Sekarang tidak lagi, inilah kehidupannya saat ini. Apapun barang yang diinginkannya tinggal tunjuk saja. Hingga langkahnya terhenti oleh suara seorang anak.


"Mama..." Aqila berlari memeluk ibunya.


"Kenapa kamu disini? Apa papamu yang menyuruhmu untuk mempermalukanku!?" bisiknya melepaskan paksa pelukan anaknya.


"Mama..." panggil Aqila mulai menangis.


"Mama? Nak mungkin kamu salah orang aku bukan mamamu..." ucap Fransisca melepaskan paksa tangan putrinya.


Yessi terdiam sejenak menatap segalanya. Seharusnya dirinya menyetujui keinginan Zen, membesarkan Aqila bersama-sama dahulu.


Namun sudah tidak dapat dirubah lagi, Aqila tetap tidak mendapatkan cinta dari seorang Ibu. Jemari tangannya mengepal, berjalan mendekatinya.


"Ini putriku. Maaf, dia salah mengenali mamanya..." kata-kata yang terucap dari mulut Yessi, tersenyum menatap sinis. Memeluk Aqila yang tengah menangis terisak.


"Jadi kalian kembali bersama? Si pecundang miskin dan tunangannya yang jelek," cibir Fransisca.


"Jadi ini sebenarnya kelakuanmu? Bintang film dewasa yang menjual tubuhnya," jawaban dari mulut Yessi.


Bersambung