
Hup...
Darah mengalir dari lubang di dadanya. Dirinya ditembak dari belakang oleh seseorang. Tepat menembus punggung ke bagian dada.
Beberapa orang berpakaian perawat menembakinya dan orang-orangnya. Situasi yang tidak kondusif dirinya juga kesulitan bergerak setelah tubuhnya tertembus peluru. Doom di papah salah seorang anak buahnya. Berjalan menelusuri lorong melarikan diri.
"Sial!!" umpatnya menatap orang-orangnya yang mulai mati. Kewalahan menghadapi para penebak jitu berpakaian perawat.
Dengan cepat pria itu dibawa ke dalam mobil, oleh pengawalnya. "Cepat pergi!!" perintahnya dengan mulut mengeluarkan darah segar, mungkin peluru sempat melukai lambungnya.
"Baik tuan," ucap sang supir, tidak tersenyum ataupun ketakutan. Melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.
***
Sementara Victor mulai membuka matanya, melepaskan alat bantu pernapasannya. "Mereka sudah pergi?" tanyanya pada seorang perawat.
"Iya, kami sedang menyelidiki penyokong dana terbesar mereka. Mohon bersabar, dan tetaplah seperti ini," jawabnya.
"Mereka memiliki persenjataan lengkap, kalian harus berhati-hati. Bantu lindungi kedua putraku," ucapnya, menghela napas kasar.
"Akan kami lakukan..." ucapnya.
"Memiliki besan sepertinya tidak buruk juga. Steven cukup pintar, menempel pada Kenzo dari usia 7 tahun, bahkan memiliki rencana menikahi putrinya untuk melarikan diri dariku," Victor tertawa nyaring, mulai meraih hidangan, mengiris daging di hadapannya. Selagi Eden belum pulang.
Tidak pernah mengalami koma? Tentu saja, ini adalah sebuah taruhan antara dirinya dan Kenzo. Bagaimana mereka bisa saling mengenal?
Berawal dari satu tahun yang lalu...
Sudah 13 tahun Steven menghilang, namun tidak satu informasi pun yang diingat Kenzo. Semua informasi tentang bulan saat dirinya membawa Steven kecil dikumpulkannya. Namun tetap tidak ada petunjuk, hingga Frans memberinya arak beraroma bunga, hadiah dari Hiasi di hari ulang tahunnya.
Sedikit ingatannya kembali, almarhum ibu Steven adalah kolektor arak beraroma bunga. Wanita itu memiliki rak besar dengan beberapa botol cantik berwarna indah.
Tempat dirinya pertama kali bertemu dengan Steven yang meringkuk terkurung di ruangan tersebut. Wajahnya terkena cipratan darah, ingatan sekilas yang memberinya petunjuk, ada lambang keluarga yang berada di pakaian Steven saat itu.
"Hudson..." gumam Kenzo mentap hadiah arak beraroma bunga yang diberikan Hiasi. Wajahnya tersenyum, menemukan penunjuk tentang anak angkatnya yang menghilang.
Matanya menelisik mengamati Febria yang tengah mengemasi kopernya kembali dengan dalil akan hidup mandiri.
"Kamu akan meninggalkan papa? Untuk menemui pramugara (Benjamin) ..." tanya Kenzo menghela napas kasar.
"Aku sudah bilang, akan hanya menginap satu hari saja saat ulang tahun papa. Setelah ini aku akan kembali menjalani hidupku sebagai Febria pemain Harpa, bukan nona muda dari W&G Company," jawabnya, tersenyum pada sang ayah.
"Jika papa membawa Steven pulang, apa kamu mau akan tetap tinggal di rumah?" tanyanya tersenyum menyeringai.
"Steven pulang!? Papa sudah menemukannya?" Febria yang antusias mendekati papanya penuh harap.
Kenzo menggeleng,"Jika sudah ditentukan takdir, kalian akan bertemu," ucapnya tersenyum. Bersamaan dengan kedatangan Amel.
"Kenzo, hari ini kita menunda semua pekerjaan, jangan menyia-nyiakan waktu. Ayo..." ucapnya mengedipkan sebelah matanya, membawa dua gelas wine berserta botol yang masih tersegel, dengan pakaian tidur berbentuk yukata pendek, diatas lutut."Aku tunggu di kamar..." lanjutnya menggigit bagian bawah bibirnya sendiri, berjalan berlalu.
Febria mengenyitkan keningnya menatap tingkah ibunya yang bagaikan tergila-gila pada sang ayah. Wanita cantik bertubuh menarik, hanya menempel pada suaminya bagaikan pengantin baru.
"Ayah, aku ingin bertanya hal ini dari lama. Ada yang mengatakan semakin tua, semakin bijaksana. Kalian semakin tua tapi tetap saja ..." kata-kata Febria disela.
"Tidak ada istilah tua diantara kami. Karena itulah mamamu masih cantik hingga kini, dan papamu masih tampan sampai sekarang..." gumam Kenzo melepaskan kacamata minimalisnya.
"Kalian berdua bukan siluman atau vampir kan!?" Febria mengenyitkan keningnya tidak mengerti, dengan wajah ayah dan ibunya yang menyaingi bintang film usia 30 tahun.
"Bukan, sudah!! Papa harus tidur dulu ..." Kenzo berpura-pura menguap beberapa kali, mulai bangkit, dari tempatnya duduk.
"Tidur? Kalian akan mengunci kamar kan? Olahraga tempat tidur, membuat anak, membuat ibu menjerit atau aku harus bilang berhubungan..." kata-kata Febria disela.
"Sttt...kamu masih terlalu kecil," ayah yang bagaikan jika berjalan dengan putrinya, akan dianggap pacar atau kakak oleh orang lain itu melangkah pergi.
Benar-benar gila, membuat anak-anaknya yang beranjak dewasa iri pada kedua orang tua mereka."Semakin tua, papa dan mamaku semakin lengket..." cibirnya.
***
Victor Hudson, itulah namanya kini tengah mengawasi salah satu pabrik senjata ilegalnya. Mencoba satu persatu seri yang baru dibuat, markas yang terletak sebagiannya di bawah tanah. Sedangkan dari atas hanya terlihat seperti pabrik tua yang sudah tidak beroperasi.
"Pemicunya terlalu sulit untuk ditarik," ucapnya memberikan senjata pada Doom. Orang kepercayaannya.
"Akan aku sempurnakan nanti..." Doom menunduk sembari tersenyum.
"Baik..." Doom tertunduk berjalan menelusuri lorong berpenerangan minim.
Pria itu berjalan seorang diri mulai tersenyum. Mengirimkan pesan pada seseorang. Isinya, informasi lokasi markas dan ruangan tempat Victor berada saat ini.
Menyenderkan dirinya di dinding bata salah satu sudut lorong. Cerutu mulai dinyalakannya, kepulan asap menyeruak dari mulutnya.
"Tuan..." salah satu penjaga markas menunduk, memberi hormat.
"Kita lakukan rencana kita hari ini. Suruh orang-orang kita untuk pergi. Biarkan markas ini kosong, hanya dengan dua orang penjaga yang setia pada Victor saja," perintahnya, berjalan pergi diikuti para pengawal.
Perintah mulai diberikan pada orang-orang yang bertugas membuat senjata untuk meninggalkan markas. Perintah dari mulut ke mulut secara lisan oleh Doom. Bukanlah sebuah perintah resmi.
Seorang pria yang memakai pakaian pabrik mengenyitkan keningnya, bergerak berlawanan arah dengan orang-orang yang pergi. Diikuti dua orang pengawal profesional yang juga mengenakan seragam serupa dengannya.
"Tuan, kita kemari untuk menjemput Steven. Jika tidak ada sebaiknya jangan terlibat lebih jauh..." kata-kata dari salah seorang pengawalnya pada Kenzo.
"Kita sudah disini jadi aku ingin bertemu dengan Victor Hudson secara langsung," ucapnya, masih berjalan mencari ruangan tempat Victor Hudson berada.
***
Sementara di lorong yang lain, orang-orang bersenjata dari kelompok Dragon sudah mulai menelusuri lorong. Guna membunuh Victor Hudson, sekaligus meledakkan salah satu markas Dark Wild.
Dor...dor...dor...
Suara letusan senjata terdengar, dua orang pengawal yang ada di depan ruangan Victor terlihat kewalahan. Hingga akhirnya meregang nyawa dengan belasan luka tembak.
Victor mulai bangkit dari tempat tidurnya. Menyiapkan senjatanya, mengarahkan tepat pada pintu yang terlihat akan di dobrak.
Jantungnya berdegup cepat, dirinya mengetahui ini benar-benar situasi yang tidak menguntungkan.
Brak...
Pintu ruangannya berhasil di dobrak, dirinya bersembunyi menggunakan lemari sebagai perisainya.
Dor...dor...dor... tembakan di layangkan Victor.
Berhasil membunuh beberapa orang, tapi jumlah mereka terlalu banyak. Hingga tinggal tiga peluru yang dimilikinya.
Dor...
Pergelangan tangan Victor yang memegang senjata berhasil tertembak. Bersamaan dengan datangnya seseorang, orang yang setia pada kelompok Dragon. Petinggi yang ada langsung dibawah kelompok Dragon.
"Wah...wah..." pria paruh baya itu tersenyum, bertepuk tangan, menatap Victor yang memegangi luka pada pergelangan tangannya.
"Maaf, tapi kesombonganmu hanya sampai disini," ucapnya meraih tongkat baseball.
Bug...
Kepala Victor dipukulnya hingga mengeluarkan darah segar. Pria itu hanya memegangi kepalanya, berusaha melawan dengan mata yang mulai berkunang-kunang.
"Aku sengaja tidak membunuhmu dengan sekali hantaman, menyenangkan membuatmu mati tersiksa perlahan," ucapnya menghindari serangan yang hendak memukulnya Viktor.
"Aku tidak akan mati..." gumam Victor, memukul ke arah yang tidak tepat.
Bug...
Punggung Victor kembali dipukul menggunakan tongkat baseball, hingga roboh tidak dapat bangkit, namun masih sadarkan diri.
Tidak menyadari bom asap menyebar, diikuti dengan teriakan beberapa orang di luar sana.
"Siapa!?" suara bentakan dari orang yang memukuli Victor, petinggi kelompok Dragon yang menyerang Dark Wild.
Tubuh pria yang membawa tongkat baseball itu tiba-tiba tubuh, seseorang membawa jarum suntik. Menyuntikan obat bius di area belakang lehernya.
Victor berusaha memfokuskan matanya, seorang pria berdiri di sana ditengah efek bom asap yang menghilang dengan seragam orang-orang yang bertugas membuat senjata di pabriknya. Seseorang yang tersenyum padanya,"Apa kamu Victor Hudson?"
Wajah Kenzo tersenyum, menemukan orang yang mungkin dicarinya.
Bersambung