My Kenzo

My Kenzo
Bunga Dan Coklat



Beberapa hari berlalu seperti biasanya. Namun, ada yang berbeda dengan hari ini, Kenzo menghubungi beberapa orang. Masih mengenakan seragam office boy-nya. Membersihkan beberapa ruangan bersama Amel.


Sejenak pemuda itu menghela napasnya,"Amel, aku harus pergi selama beberapa jam dari kantor. Jaga diri baik-baik, jangan terlibat masalah selama aku pergi. Ini, hari terakhir kita bekerja disini..." Kenzo tersenyum mengecup kening Amel.


"Sudah aku bilang, jangan menciumku sembarangan!!" ucapnya kesal mengusap-usap keningnya.


Kenzo hanya kembali tersenyum, berjalan cepat meninggalkan area kantor. Entah kemana tujuannya...


Sementara itu, George mengenyitkan keningnya, jemari tangannya gemetar,"Plagiat? Tapi design laptop yang kita buat, disusun sendiri. Pabrik juga sudah memproduksi dalam jumlah besar. Bagaimana ini bisa terjadi..." ucapnya dengan mata memerah menatap salah satu bawahannya.


"Kita akan resmi meluncurkannya satu minggu lagi. Design produk sudah kita ekspose, sangat mirip dengan design perusahaan pesaing, yang rilis ke pasaran kemarin. Bahkan hak cipta mereka duluan yang mendaftarkannya," sang bawahan gemetar, menyodorkan dokumen di tangannya, dokumen berisikan tuntutan hukum atas tuduhan plagiat.


Siapa yang melakukannya? Tentu saja sang Antagonis yang mengirim design produk pada perusahaan pesaing. Ingin membuat harga saham serendah-rendahnya. Bagaikan membawa pedang samurai, menebas tanpa belas kasih, penuh napsu.


"Satu lagi tuan, karyawan di seluruh pabrik mogok bekerja, menuntut perusahaan, tentang jaminan sosial dan keamanan kerja mereka..." lanjutnya, menyodorkan tab, dimana beberapa stasiun TV menyiarkan langsung beberapa wakil karyawan membawa pengacara mereka ke pengadilan untuk menuntut perusahaan.


George memijit pelipisnya sendiri,"Pabrik di luar negeri juga?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh bawahannya.


"Sial!!" kesalnya, menemukan jalan buntu, cepat atau lambat, para pemegang saham pasti akan meminta pertanggungjawaban nya.


Dering suara handphone berbunyi, George merogoh sakunya, mengangkat panggilan.


"Tuan George..." ucap seseorang dari seberang sana.


"Kamu siapa!?" tanyanya.


"Pemilik W&G Company, aku ingin membeli perusahaanmu yang akan pailit..." jawab Kenzo, dengan earphone di telinganya, kini tengah menggati pakaiannya. Sedang, Frans menunggu di luar kamar membawa beberapa dokumen.


"Ini perbuatanmu!? Kenapa harus perusahaanku!? Bedebah!!" bentaknya emosi.


"Karena jika tidak bertindak, lebih banyak lagi karyawan pabrik yang akan mati. Lebih baik aku menjadikan perusahaanmu anak cabang bukan? Maaf, salah, itu akan segera menjadi perusahaanku," senyuman menyungging di bibir Kenzo, memakai jam tangannya. Merapikan sedikit model rambutnya yang menutupi kening.


Kali ini dirinya memakai pakaian formal, salah satu meja terbaik restauran Itali telah dipesannya. Tujuannya, setelah mengambil alih perusahaan, membawa Amel makan di luar untuk pertama kalinya.


Beberapa kali dirinya telah menggati pakaian, mencocokan warna dasi. Benar-benar tenang penuh senyuman, sebagai pria yang akan berkencan untuk pertama kalinya.Tidak menyadari seseorang yang dihubunginya kini tengah mengeluarkan keringat dingin. Benar-benar pangeran antagonis, yang sudah terbiasa berbuat keji.


"Jadi apa maumu?" George kembali bertanya.


"Sebentar lagi aku akan ke kantormu. Kita bicara disana..." ucapnya, mengakhiri panggilan, telah siap dengan penampilan sempurnanya, menuruni tangga diikuti Frans.


***


George menghela napas kasar, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Imposter itu tiba-tiba memasuki perusahaannya? Benar-benar nasib sial...


"Tuan?" sang bawahan menunggu keputusannya.


"Sebentar lagi pemilik W&G Company akan datang. Kita harus secepatnya menjual perusahaan, membiarkan mereka mengambil alih, jika tidak. Seluruh aset pribadiku akan habis untuk ganti rugi..." ucap George yang menunggu kedatangan Kenzo untuk bicara. Satu-satunya harapannya, perusahaan segera diambil alih, sebelum dirinya harus menanggung kerugian yang cukup besar.


Hingga pintu terbuka, Sera masuk tanpa mengetuk pintu.


"Honey..." Sera berjalan mendekatinya, dengan pakaian yang dibasahi tumpahan orange juice.


"Ada apa?" George mengenyitkan keningnya.


"Ada office girl yang dengan sengaja menyiramku. Menyebutku sebagai pelakor..." wanita itu menangis seolah lemah tidak berdaya.


"Siapa orang yang berani memperlakukanmu dengan buruk!?" George meninggikan intonasi suaranya tidak terima.


"Name tag-nya bertuliskan Amel Anggraini. Aku tidak dapat terima di hina olehnya..." gumamnya masih menangis sesenggukan.


Harapannya? Tentu saja, membuat Amel dipecat sehingga lebih mudah mendekati Kenzo. Menjadikannya, mainan baru yang menarik.


George mengambil gagang telepon menghubungi departemen kebersihan,"Panggil office girl bernama Amel Anggraini ke ruanganku..." perintahnya.


***


Komat-kamit bibir Amel tidak berhenti mengomel. Profesi Kenzo? Sama sekali tidak diketahuinya, yang pasti pemuda itu adalah orang kaya gila yang senang tidur di jalanan bahkan menjadi office boy.


Tidak peduli? Itulah seorang Amel, berharap dapat kembali ke kehidupannya yang tenang dan datar.


Usai kontrak kerjanya dengan Kenzo berakhir, menjadi pegawai kantoran biasa sesuai ijazah S1-nya, membesarkan putri angkatnya. Jika beruntung bertemu jodoh yang setia, kang cilok, kang parkir, kang siomay pun tidak apa-apa. Hidup sederhana memakan kangkung dengan keluarga kecilnya.


Hingga pintu besar itu terlihat, pintu ruangan sang komisaris.


Apa akan ada adegan dewasa lagi? Tapi body Sera memang menggoda. Tidak sepertiku panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume... Kali ini aku hanya cicak seorang diri yang menempel di dinding. Menyaksikan bos besar, bermesraan... gumamnya dalam hati.


Tok ...tok...tok...


"Masuk..." suara seorang pria terdengar dari dalam sana.


Amel sudah bersiap membawa troli kebersihan, mengira dirinya harus membersihkan sesuatu. Matanya menelisik Sera duduk di samping George, sofa ruangan terbesar di kantor tersebut.


Namun ada yang aneh, tidak ada angin, tidak ada hujan. Pakaian serta rambut Sera basah.


"Kenapa kamu menyiramnya!?" George menyenderkan dirinya di sofa, menatap tajam ke arah Amel. Office girl gemuk yang tidak menarik sama sekali.


Setelah bercocok tanam harus disiram bukan? Biar cepat tumbuh... Tapi rasanya aku tidak menyiramnya... batin Amel mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Saya hanya mengantarkan minuman, tidak menyiramnya sama sekali..." Amel tertunduk tidak melawan. Tidak membuat masalah? Itulah yang dikatakan Kenzo sebelum pergi, jika melanggar, mungkin hukuman menantinya.


Hukuman yang hangat...tapi tidak boleh, Amel tidak ingin perlahan menyukai makhluk play boy penindas itu.


"Kamu dipecat..." George memutuskan, dengan cepat, tidak ingin masalahnya ditambah lagi. Terlebih sebentar lagi pemilik W&G Company akan datang.


Dipecat? Dia tidak bercanda kan!? Syukurlah, aku bisa tinggal di villa seharian. Tanpa harus menempel pada Kenzo... gumamnya dalam hati penuh syukur.


"Terimakasih, anda adalah salah satu orang terbaik yang pernah saya temui," kata-kata tidak lazim keluar dari mulut Amel, penuh senyuman, tanpa ada kesedihan sedikitpun."Saya mohon pamit..." lanjutnya berjalan beberapa langkah.


Namun, apakah Sera akan membiarkan Amel lolos begitu saja?


Byur....


Air pel bekas yang berada di troli kebersihan, disiramnya pada tubuh Amel...


Asem!! Mungkin satu kata itu dapat menggambarkan jutaan umpatan dalam hati Amel saat ini.


***


Pemilik W&G Company turun dari sebuah mobil hitam, diikuti beberapa mobil lainnya yang ditumpangi beberapa petinggi yang didatangkannya dari luar negeri. Bawahannya yang kompeten, orang-orang berbakat yang akan mengambil alih perusahaan cabang mereka.


Stelan jas dirapikannya, bersiap untuk kencan nya hari ini, setelah urusannya usai. Frans membawa buket bunga serta coklat low kalori, berjalan dibelakangnya. Mengenyitkan keningnya, belum mengerti siapa sebenarnya yang disukai seorang Kenzo.


Apa karyawan perusahaan ini? Siapa sebenarnya pacar dari Imposter gila ini... batin Frans penuh tanya. Menaiki lift bersama Kenzo serta beberapa orang dari kantor pusat W&G Company. Menuju ruangan komisaris FIG Group.


Bersambung