My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Imajinasi Dan Fakta



Hampir tengah malam, waktu tidur baginya. Tidak henti-hentinya meraba bibirnya sendiri setiap ada kesempatan. Dirinya benar-benar sudah gila...


Tidak, tidak boleh begini, pagi-pagi sekali Ferrell harus sudah ada di rumah sakit. Hingga tiba-tiba Damian, mengetuk pintu kamar cucunya.


"Ferrell..." panggilnya.


Pemuda yang telah membersihkan dirinya itu, memakai setelan piama lengkap membukakan pintu."Kakek?" ucapnya memberi jalan Damian yang membawa teh jahe hangat untuk masuk.


"Terimakasih..." Ferrell tanpa sopan santun samasekali menyambar teh jahe yang dibawakan kakeknya. Meminumnya dengan cepat.


"Dasar..." gumam Damian hanya dapat tersenyum, menertawakan cucunya.


"Kenapa kakek belum tidur?" tanyanya setelah menghabiskan setengah gelas.


"Nenekmu tidak berani bicara secara langsung denganmu. Jadi kakek putusan kakek sendiri yang bicara, begini berliburlah sebulan saja..." pintanya cemas, pasalnya selama tinggal dengannya. Dua tahun ini Ferrell hanya pergi ke rumah sakit kemudian ke stasiun TV. Tidak ada istilah keluar bersama teman seperti pemuda seusianya.


"Kakek, kita sering membicarakan ini, aku seorang dokter mengerti tentang kesehatan. Tidur yang cukup, makan makanan sehat, bukan pecandu rokok atau sering meminum minuman keras. Aku sehat dan baik-baik saja, untuk apa berlibur? Bekerja adalah liburan untukku..." ucapnya tersenyum, menyakinkan Damian.


Wajah yang terlihat segar bugar, namun tetap saja, tanggung jawab yang tidak sesuai dengan usianya. Ini terlalu berat untuk pemuda berusia 21 tahun. Bahkan menantunya (Amel) pernah mengeluh tentang Ferrell yang jenius, tapi tidak pernah bersedia menghabiskan masa remajanya dengan baik.


Apa itu salah? Tidak, namun cukup membuat Damian cemas, bagaimana jika suatu hari nanti cucunya terkena serangan jantung, atau mengalami gangguan kepribadian?


Kenzo juga jenius kan? Tapi mengalami gangguan kepribadian. Sedangkan Amel, bisa dibilang hampir menyaingi suaminya, dan hasilnya? Mereka sama kejinya. Syukurlah dua orang itu adalah anak dan menantu yang mencintai Damian.


"Kakek hanya memberi saran saja, lakukan apapun yang kamu inginkan. Tapi jaga kesehatan, beristirahatlah jika sudah lelah," ucapnya, menghela napas kasar enggan berkata lebih banyak.


Takut? Tentu saja, Febria sudah menikah dan tinggal dengan suaminya di negara lain. Sedangkan Amel dan Kenzo jarang dapat kembali, karena kesibukan mereka mengelola bisnis di negara lain.


Satu-satunya yang dapat diandalkan untuk tinggal dengan mereka hanya Ferrell yang telah memiliki rumah sakit sendiri di negara ini. Tidak ingin membuat cucunya tersinggung, tapi sekaligus mencemaskannya.


Seorang kakek yang hanya dapat menghela napasnya saja...


***


Wajah yang tersenyum, tengah tersenyum-senyum sendiri, sembari membaca hasil laboratorium dan rongen. Duduk di kursi kebesarannya, masih teringat jelas dibenaknya kala bibirnya bersentuhan dengan bibir remaja yang entah siapa namanya tidak diketahui olehnya.


Matanya terpejam sesaat, perasaan kala darahnya berdesir hebat. Menginginkan hal lebih dari sang remaja. Ferrell kembali meraba bibirnya mondar-mandir di ruangannya, bagaikan remaja kasmaran.


Entah apa yang terjadi pada sang dokter muda...


Sedangkan di tempat lain, seorang remaja membuka matanya dengan handphone android second disampingnya. Gambar di wallpapernya? Tentu saja gambar Ferrell yang didapatkannya asal di internet.


Yang jelas ini nyata, pemberian Ferrell dari uang sekitar satu juta rupiah yang didapatkan sang remaja. Handphone android second impiannya, walaupun harus menempel di tembok ruang tamunya. Menggunakan WIFI tetangganya hanya karena tidak memiliki sisa uang untuk membeli kuota.


Yang jelas pemuda ini berjasa dalam kehidupan remajanya yang indah. Karena telah menghadirkan handphone Android dalam hidupnya. Akhirnya dirinya dapat aktif di Facebook, dapat mencari informasi di google tanpa membuka buku.


Membuka YouTube? Maka loading-lah yang didapatkannya karena singal WIFI dari rumah Grisella tidak lancar.


Tapi berkat Grisella dan Ferrell yang katanya tunangannya. Akhirnya dirinya memiliki benda pipih ini.


Pagi ini juga sama, bagun pagi, cari singal WIFI, buka komentar di Facebook, baru mandi, dan mempersiapkan keperluan sekolahnya.


"Hanya digigit semut!!" itulah yang selalu diucapkannya kala sentuhan bibir itu diingatnya. Kala mata tajam dengan air linier riasan panggung sedikit pucat itu terlihat, mendekati bibirnya. Bagaikan vampir dingin rupawan.


Beberapa kali Glory menampar dirinya sendiri, membayangkan betapa playboy-nya. Pemuda yang langsung menciumnya tanpa saling mengenal bagaikan seekor bebek.


Remaja dengan pakaian SMU-nya itu sudah siap berangkat. Berjalan beberapa langkah, hingga pembicaraan itu terdengar lagi, di depan pagar rumahnya.


"Grisella selalu ikut les balet dan piano. Nilai-nilainya juga bagus, suaranya juga bagus. Dan satu lagi, suami saya yang bekerja sama dengan W&G Company, akan menjodohkan Grisella dengan Ferrell," ucap Ratna (ibu Grisella)


Sementara Kamila (ibu Glory) hanya bisa mengangguk penuh rasa kagum menelan mentah-mentah kata-kata Ratna.


Khayalan tingkat tinggi yang semakin melambung tinggi lagi...


"Kamu pernah menonton di TV kan? Artis yang bernama Ferrell? Dia itu jenius muda punya gelar Doctorate, rumah sakit sendiri juga punya. Masa depan Grisella sudah terjamin..." komat-kamit mulut Ratna berbicara.


Kenyataan aslinya? Suaminya memang bekerja sama dengan anak cabang W&G Company yang kini dikelola Damian selaku CEO. Namun untuk perjodohan, bahkan untuk bertemu dengan Ferrell juga sulit. Mendekati Damian tengah berusaha dilakukan Erlang (suami Ratna) untuk mengabulkan keinginan putri dan istrinya untuk memiliki seorang Ferrell sebagai menantu.


"Pasti akan dinasehati lagi..." gumam Glory sudah mendengar ibunya bergosip. Karena inilah dirinya dan Grisella saling bersaing, Grisella yang senang merendahkan Glory. Dan Glory yang tidak ingin direndahkan.


Hingga mengendap-endap perlahan, dan benar saja.


"Glory..." suara Kamila terdengar.


"Iya," remaja itu menghentikan langkahnya.


"Contohlah Grisella, sudah pintar, peringkat umum pertama. Memangnya kamu peringkat berapa?" tanyanya kesal.


"Dua," jawab Glory.


Peringkat pertama hasil suap, aku peringkat dua hasil tidur, bangun dengan buku. Sudah begitu dia mengikuti les private mahal lagi... geramnya dalam hati masih berusaha tersenyum.


"Grisella pintar ballet dan bermain piano!! Kamu pintar apa!?" tanya ibunya lagi.


"Pintar goreng tahu bulat," jawaban dari anaknya.


Kamila memijit pelipisnya sendiri,"Kamu punya pacar!? Atau kenalan dari kalangan atas yang bisa dijadikan calon suami. Bisa menanggung biaya hidupmu nanti!?"


"Pacar tidak punya, kalau berciuman dengan pria kalangan atas dihitung tidak!?" Glory bertanya balik.


"Kamu pernah berciuman? Anak kecil jaman sekarang!! Dengan siapa? Apa orang kaya!?" tanya sang ibu menatap fisik anaknya yang sejatinya cantik, tidak kalah dari Grisella hanya saja kekurangan uang untuk perawatan dan pakaian.


"Dengan orang ini..." Glory tersenyum, menunjukkan wallpaper handphonenya. Yang berisikan foto Ferrell. Fotonya diatas panggung tentunya yang diambil dari screen shot di internet."Bahkan dia memberikan uang untuk membeli handphone sebagai imbalan berciuman,"


Wajah antusias Kamila menghilang, berubah muram."Kalau mimpi jangan ketinggian!!" ucapnya menarik turun topi abu-abu putrinya hingga menutupi wajah Glory. Tidak mempercayai kata-katanya yang tidak masuk akal. Mungkin kata-kata Ratna-lah yang lebih masuk akal.


"Aku jujur!" Glory menaikkan topinya kembali, agar wajahnya terlihat. Kemudian mulai berangkat berjalan kaki ke sekolah,"Beginilah nasib anak perempuan penjual tahu bulat di goreng 500-an," keluhnya.


Bersambung