My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Father



"Ferrell, aku harus pulang, hari ini ada..." kata-kata Glory kembali terhenti, sudah beberapa menit sepasang bibir itu hanya berciuman. Saling menyesap dan memilin, lidah yang membelit, terkadang membuat jembatan liur.


"Diam jangan bergerak..." pintanya, berusaha melawan keinginan tubuhnya. Penyatuan? Mungkin hanya itulah puncak ujung kepuasannya."Glory..." bisiknya membuat satu tanda lagi.


Gadis yang menegang."Sshhh..." hanya desisan dari mulutnya, bukan suara laknat yang keluar. Namun berhasil membuat Ferrell menahan diri.


Mengangkat jemari Glory, menciumi telapak tangannya. Melakukan segala hal sebisanya untuk menahan diri.


Aku mohon!! Seseorang cepat datang, sebelum aku melucuti pakaiannya... batin Ferrell, menatap Glory yang sesekali memejamkan matanya, kala ciuman dan tanda itu tercipta.


"Jangan bergerak..." bisik Ferrell.


"Aku dari tadi tidak bergerak!! Cepat turun!!" perintah Glory.


Napas Ferrell terengah-engah."Tidak akan, jika sudah saatnya, aku akan turun..."


"Aku harus bekerja, kemudian mengikuti..." lagi-lagi bibir itu dibungkam, membuainya, mencium kening bahkan seluruh wajahnya.


Jemarinya gemetaran bimbang, menjalar mendekati kancing kemeja yang dipakai Glory. Mencoba bertahan tapi sulit, darah bagaikan mengalir semakin cepat di tubuhnya.


"Ferrell..." Glory memanggil namanya, menatap mata itu semakin sayu saja di setiap saat.


"Glory, aku menginginkanmu apa boleh?" tanyanya, sesaat kemudian menggeleng."Tidak kita tetap seperti ini saja dulu..." kata-kata labil terdengar dari mulutnya. Bingung harus bagaimana.


"Kenapa tetap seperti ini, aku mau turun!!" ucapnya, mulai memberanikan diri bergerak, mendorong tubuh Ferrell, namun bersamaan dengan Ferrell yang menarik tangannya. Hingga posisi mereka terbalik saat ini, Glory yang mendudukinya.


Tepat di tempat organ reproduksi itu berada."Maaf...!!" pekik Glory yang hendak kembali bangkit, namun Ferrell menahan tengkuknya kembali berciuman dengan brutal.


Aku tidak dapat bertahan lagi ... bagaimana ini ... batinnya, merasa lebih sulit lagi mengendalikan tubuhnya. Benar-benar gelisah rasanya.


Dan pada akhirnya tamu yang diundang datang."Ferrell bagaimana jika kita..." Steven menghentikan kata-katanya, terdiam sejenak,"Oh My God..." gumamnya.


Pemandangan yang benar-benar sensual, sang adik yang hanya mengenakan jubah mandi saja. Sedangkan seorang wanita berpakaian pelayan ada diatas tubuhnya. Dua mata yang terlihat terpejam, sepasang lidah yang membelit. Dengan cepat kedua pelaku membuka matanya, menoleh pada sang Ultraman yang selalu datang tepat waktu.


Terimakasih Steven... batin Ferrell bahagia.


"Mama!! Papa!! Febria!!" teriaknya, tersenyum berhasil memergoki dokter yang sok bersih. Berjalan dengan cepat menuju tangga.


Semua orang mulai naik ke lantai dua, termasuk Kamila yang melangkah paling belakang. Penuh rasa penasaran.


Dengan cepat Glory turun dari atas tubuh Ferrell."Bagaimana ini...? Suruh dia diam!!" ucapnya mencari tempat bersembunyi, hingga akhirnya masuk sempurna ke dalam lemari pakaian.


"Kakakku tidak akan bisa diam..." ucap Ferrell menatap pintu lemari pakaiannya yang tertutup.


Sementara itu, Steven melangkah mendekati ujung tangga lantai dua."Ada apa?" Febria mengenyitkan keningnya.


"Sebentar lagi kalian juga melihatnya kelakuan seorang dokter yang katanya tidak pernah menyentuh wanita..." jawaban Steven ambigu, berusaha mati-matian menahan tawanya.


Pintu yang setengah terbuka didorong oleh Amel. Putranya terlihat berbaring di sana, memelas."Mama, aku sudah tidak perjaka lagi..." ucapnya tertunduk menyesal bagaikan pihak yang dilecehkan dan disakiti.


Glory yang mendengar semuanya dari dalam lemari mengenyitkan keningnya... Tidak perjaka lagi? Sudah aku duga pergaulan kaum selebriti terlalu bebas, entah berapa wanita yang mungkin sudah ditidurinya, mungkin selebriti? Atau Grisella... batinnya, dengan wajah tersenyum, namun menggigit kesal salah satu pakaian Ferrell.


Kamila menghela napas kasar, berada di posisi paling belakang, menatap kelakuan keluarga abnormal ini.


"Aku keperjakaanku direbut..." kata-katanya terhenti sejenak. Glory memasang telinganya baik-baik mendengarkan.


"Glory, kami baru saja melakukannya, bahkan dia yang diatas. Dia sedang berada di dalam lemari sekarang," kata-kata yang keluar dari mulut tanpa dosanya."Jadi nikahkan kami..."


Seketika Glory mundur, hingga punggungnya membentur bagian dalam lemari. Benar-benar pria yang tidak tahu malu. Menutup mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara.


Sedangkan Kenzo tidak banyak berkata-kata mengetahui sifat putranya yang mungkin menghalalkan segala cara."Amel aku harus menyelesaikan beberapa dokumen sebelum makan siang. Phil mengirimkan beberapa dokumen padaku..." ucapnya, melangkah pergi.


Kamila berjalan dengan cepat, melewati beberapa orang yang tidak dikenal akrab olehnya. Bahkan melewati Ferrell membuka pintu lemari dengan cepat. Dan benar saja Glory berada di sana tersenyum pada ibunya."Kenapa kamu berada di kamar seorang pria!?" tanyanya.


"A...aku...aku..." Glory tertunduk.


"Bangun!!" perintah ibunya.


Dengan cepat Glory segera bangkit, masih menunduk ketakutan. Menatap senyuman kemenangan dari Ferrell, memang suatu kebodohan baginya mengira Ferrell akan membantunya.


"Leher sudah tidak bersih..." sang ibu menarik telinga putrinya."Kamu itu masih 18 tahun!! Apa yang akan ibu katakan nanti pada Samun!?" bentaknya.


"Sakit..." pekik Glory, mengusap-usap telinganya. Kemudian sang ibu meraba dada putrinya yang masih berbalut pakaian lengkap, menghela napas kasar, masih ukuran yang sama.


"Berjalan!!" perintahnya, dan hasilnya Glory berjalan seperti biasanya."Melompat!!" perintahnya lagi, wanita itu juga melompat dengan lancar."Sekarang kita pulang!! Bekerja, dan nanti sore mengikuti ujian masuk universitas!" perintah terakhirnya, menarik tangan putrinya.


"Ta... tapi kami benar-benar melakukannya!! Tanya saja Steven!! Seharusnya kami dinikahkan kan?" ucap Ferrell hanya berbalut jubah mandi, gelagapan, menghalangi jalan Kamila.


"Anakku masih perawan! Aku yakin, jika aku ragu, aku bisa membawanya ke rumah sakit untuk melakukan tes." Kamila mendorong tubuh Ferrell.


"Tu... tunggu aku seorang dokter!! Biar aku yang memeriksa dia masih perawan atau tidak..." ucapnya belum dapat menerima kenyataan.


"Tidak perlu! Jika kamu yang memeriksa dalam waktu satu jam hasil masih perawan akan berubah menjadi tidak perawan lagi!!" kata-kata pedas dari mulut Kamila, kembali menarik jemari tangan Glory yang terlihat benar-benar malu.


"Kamila, ini bisa dibicarakan baik-baik, Ferrell anak yang baik dia tidak bermaksud..." kata-kata Amel terhenti.


Kamila menghela napas kasar."Aku tidak bisa membatalkan perjodohan secara sepihak. Kamu seharusnya mengerti, aku juga perlu membicarakan ini dengan suamiku..." ucapnya, kembali menarik tangan putrinya.


Ferrell mengejarnya menatapnya pergi melalui pintu gerbang besar rumahnya. Sesekali gadis itu melihat ke belakang menatap dirinya.


Sementara kakak-kakaknya dan saudara iparnya hanya dapat menertawakannya. Pergi kembali masuk ke dalam menuju meja makan.


Steven berjalan mendekatinya, menepuk bahunya."Seharusnya kamu bobol saja langsung agar dia tidak bisa bangun dari tempat tidur..." ucapnya tertawa kencang.


"Lalu kenapa kamu menunggu untuk menikahi Febria baru menidurinya!?" tanya Ferrell mengenyitkan keningnya.


"Selain mencintainya hingga takut untuk merusaknya, aku juga takut pada papa..." ucapnya melirik ke atas, bagian bangunan paling timur. Terlihat jendela kamar Kenzo dengan tirai tersingkap. Bayangan pria itu terlihat samar-samar dari jendela. Sungguh mengerikan, bagaikan ayah yang mengawasi anak-anaknya. Mengetahui apapun yang dilakukan mereka.


"Sama..." jawaban dari Ferrell.


Bersambung