My Kenzo

My Kenzo
Pupus Bagian 2



Bug...


Salah satu dari mereka roboh, kacamata Leon retak, usai terjatuh kala menghadapi salah satu dari mereka. Bangku kayu yang telah hancur masih di tangannya.


"Kamu siapa!? Jangan ikut campur!!" bentak salah seorang dari mereka.


"Ini pelanggaran hukum!! Aku sudah menghubungi polisi, kantor polisi berada didekat sini!! Jadi lepaskan dia, atau kalian ingin membusuk di penjara!!" Leon berteriak, melempar salah seorang dari mereka menggunakan kayu bekas bangku yang patah di tangannya.


"Sialan!!" geram salah seorang dari mereka, melarikan diri, diikuti yang lainnya. Takut jika ancaman Leon terbukti pihak kepolisian akan datang. Meninggalkan Harnum tergeletak seorang diri dengan pakaiannya yang terbuka.


"Kita pulang ya..." ucap Leon terdengar lembut.


"Terimakasih," Harnum terisak, memeluk tubuh Leon erat. Menutupi area dadanya yang terlihat, hanya berbalut pakaian yang telah terkoyak.


Hujan deras menerpa tubuh mereka, Harnum masih berada di punggung kokoh Leon. Dalam gendongan pemuda itu. Berjalan hingga tempat kost mereka yang berada di area samping kampus.


Perlahan kunci pintu yang biasa diletakkan Harnum di fentilasi atas pintu dibukanya. Kamar gadis itu terlihat juga, sakelar lampu tidak dapat dinyalakan mungkin sekring nya turun lagi. Mengingat banyaknya orang yang tinggal dalam satu gedung tempat kost berlantai tiga itu.


Harnum mulai membuka matanya, semua terlihat gelap, hanya ada lilin kecil di ruangan itu sebagai penerangan. Namun, sentuhan seseorang terasa kala Leon mulai melepaskan pakaiannya yang basah kuyup. Tidak memiliki maksud lain, pemuda itu hanya tidak ingin Harnum kedinginan, mengingat hujan deras di luar sana.


"Leon...?" ucapnya setengah sadar, akibat pengaruh obat yang diberikan.


Pemuda itu hanya tersenyum,"Kamu sudah aman..."


"Tolong aku..." bisiknya tidak dapat menahan diri lagi. Tubuhnya menggeliat, bibir Leon tiba-tiba dibungkamnya.


Bertautan perlahan di tengah udara dingin serta suara petir yang menyambar.


"Hentikan... aku..." ucap Leon memegang tangan Harnum kala hendak membuka kancing kemejanya.


"Aku tidak diinginkan?" air mata Harnum mengalir mengingat, Roman yang pergi tanpa berbalik padanya.


"Aku menginginkanmu, jangan menangis. Jika itu dapat membuatmu percaya, maka kita akan lakukan..." ucapnya membungkam bibir Harnum, melepaskan kacamatanya yang retak. Kemeja basah miliknya juga ditanggalkan, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sempurna.


Tidak terburu-buru, ini yang pertama bagi mereka. Melepaskan pakaian Harnum perlahan, menghangatkan tubuh mereka yang kini bergesekan tanpa penghalang.


"Siapa aku?" tanyanya kala menjelajahi leher Harnum.


"Leon..." jawabnya, masih dapat mengenali. Leon hanya memastikan tidak akan ada penyesalan setelahnya.


Tubuh indah di bawah kungkungannya dihujam, suaranya memekik hendak menjerit tertahan oleh gerakan bibir Leon.


"Aku mencintaimu..." bisiknya, dengan deru napas tidak teratur, dua pasang bola mata itu saling menatap dalam tempat kost sempit berpenerangan sebatang lilin.


Tubuh Leon mulai bergerak, seiiring lenguhan mereka yang bersautan. Decitan tempat tidur terdengar jelas, bayangan pergerakan mereka mereka terlihat.


Salah? Dirinya mengetahui tindakannya saat ini salah. Gadis yang kini berada dalam kungkungannya mungkin akan menyesal nanti. Namun dirinya tidak kuasa menahan debaran di hati kala Harnum, menginginkan lebih dan lebih.


"Ugh...." pekiknya lemas, berbisik,"Aku akan bertanggung jawab, kita akan menikah..."


Harnum mengangguk, dengan kesadaran yang sudah mulai pulih. Air matanya mengalir, andai saja Leon tidak ada entah bagaimana nasibnya. Tidak mengenal siapa saja yang menggagahi tubuhnya. Roman? Perasaan itu telah menghilang tanpa bekas, jikapun Roman bersedia menikahinya, Harnum tidak akan kembali padanya. Sudah cukup rasanya menjadi kekasih yang tidak dianggap selama tiga tahun.


Belajar mencintai Leon? Itulah yang akan dilakukan Harnum, pria yang menolongnya kala berada dalam posisi paling terpuruk di hidupnya.


Pagi menjelang, Leon membuka matanya, tidak mendapati keberadaan Harnum di tempat tidur, tempat mereka melakukan perbuatan yang tidak seharusnya mereka lakukan.


Tubuhnya yang berbalut selimut, matanya menelisik mengingat segalanya. "Aku melakukannya, dengannya?" gumamnya.


Hingga mimpi indahnya menjadi kenyataan, wanita itu datang tersenyum padanya membawa lagi-lagi makanan gosong untuk sarapan, serta segelas teh manis.


Wajahnya terlihat murung, namun masih berusaha tersenyum,"Ayo sarapan..." ucapnya canggung.


"Apa orang tuamu akan setuju jika kita menikah?" tanyanya tertunduk ragu.


Leon yang baru mulai akan makan mengangguk,"Jika tidak setuju pun, aku akan membujuk ayahku..."


"Kalau begitu, aku harus siap-siap tinggal di desa denganmu," sang wanita cantik tersenyum padanya, membuat Leon terbatuk-batuk. Haruskah dirinya mengatakan bahwa Harnum akan menjadi nyonya besar? Memasuki pergaulan yang mungkin akan asing baginya.


"I...iya ..." ucap Leon gugup.


"Aku sudah memikirkannya, aku punya sedikit tabungan dari bekerja sampingan. Aku akan membeli sepasang kambing, kita akan memeliharanya..." ucapnya dengan khayalan tingkat tinggi.


Rumah besar yang didesain arsitek ternama, akan ada kambing di halamannya... Leon tertegun diam hampir menjatuhkan sendoknya.


"Ayam juga, ayahmu pasti akan setuju jika memiliki menantu yang rajin dan pandai beternak bukan?" tanyanya, memegang tangan Leon erat.


A...ayam? Rumahku di penuhi ayam, ayah akan marah besar. Agra dan Adrian akan mati karena tertawa, melihat kakak iparnya... gumamnya dalam hati, tidak habis fikir dengan wanita lugu di hadapannya.


"Aku belum mencintaimu, tapi akan berusaha bersungguh-sungguh untuk mencintaimu," ucapnya tersenyum mengecup pipi Leon. Pemuda yang tersenyum, akhirnya tidak menginginkan ini segera berakhir.


Dirinya akan tetap hidup sederhana bersama wanita ini, sebagai pasangan suami-istri. Setidaknya hingga lulus kuliah, biarlah Harnum berfikir dirinya adalah pria miskin dari desa. Pria yang menganggap masakan gosong plus asinnya terasa lebih enak daripada koki hotel bintang lima.


***


Sudah tiga hari mereka tidak kuliah, mempersiapkan pernikahan mereka. Mengenal keluarga Harnum lebih dekat, meminta restu Suki walaupun hanya via telepon, mengingat pria itu tengah berada di negara lain.


Namun semua ditutup rapat-rapat olehnya. Harnum masih mempercayai, ketika lulus nanti dirinya akan tinggal di desa terpencil menemani suami dan mertuanya.


Foto pernikahan mereka telah terpajang, pasangan itu saling mengecup, berangkat ke kampus bersama berjalan dari tempat kost mereka.


Bahagia? Itulah yang dirasakannya, setelah bertahun-tahun menjalani cinta yang sulit. Terus memberi tanpa menerima, namun dengan Leon berbeda, dirinya menerima dan memberi. Kasih yang tulus telah tumbuh diantara mereka.


Hingga langkah mereka terhenti, Roman berdiri di hadapan pasangan suami-istri itu.


Jangan kembali padanya, dia sudah membuangmu...aku mohon... pinta Leon dalam hati menggengam erat jemari tangan istrinya.


"Harnum, maaf...aku akan menepati janjiku. Aku yang akan bertanggung jawab, tidak peduli mereka telah menidurimu. Aku akan tetap..." kata-katanya terhenti.


Harnum berjalan melewatinya, menggandeng Leon sembari tersenyum bersandar pada lengan pemuda yang kini berstatus suaminya. Bagaikan Roman tidak ada, hanya sesuatu yang tidak dapat dilihatnya.


"Tunggu!! Itu untukku kan? Aku akan memakan apapun yang kamu buatkan. Aku minta maaf, jangan marah padaku..." tangannya menahan lengan Harnum, untuk pertama kalinya gadis itu mengacuhkannya entah kenapa.


Merasa bersalah? Tentu saja, dirinya akan bertanggung jawab, membalas perasaan Hanum, wanita yang tulus menunggu dan mencintainya.


Saat kejadian itu Roman tidak tidur, berlari dengan cepat, dirinya mendatangi kampus, setelah memanggil teman-temannya untuk membantunya.


Dia tau ini akan terlambat, sudah tiga jam, kekasihnya mungkin sudah digiliri. Tapi apapun yang terjadi pada Harnum dirinya akan tetap menikahinya. Hingga, ketika dirinya datang area belakang kampus telah kosong, gadis itu menghilang selama tiga hari. Dicari dimanapun tidak ditemukannya.


"Harnum?" tanyanya seakan meminta gadis itu untuk bicara. Menerima permintaan maafnya, kembali seperti dahulu menjadi gadis yang mencintainya tanpa kenal lelah.


Bersambung


...Cinta sejati tidak mudah pudar, sulit untuk ditemukan. Namun kala, rasa kasih itu telah terkoyak habis. Maka tidak akan ada yang tersisa setelahnya...


...Tidak dapat pudar, namun dapat kandas seketika. Melangkah dengan kakinya yang terluka, hingga menemukan hati yang lain. Hati yang lebih mengagungkannya...


...Saat itulah cinta sejati akan pudar, cinta yang sulit ditemukan akan menghilang bagaikan debu...


Author...