
Kesal? Begitulah perasaan Febria saat ini, kunci motor matic diambilnya. Kebiasaannya belakangan ini memang lebih senang menggunakan kendaraan roda dua dibandingkan dengan mobil.
Dengan cepat melajukan motornya, mengejar mobil pemuda yang berani menghinanya. Namun tanpa diduganya mobil dengan kecepatan tinggi mulai melaju ke luar kota, mendekati area hutan.
Entah apa tujuan sang pengendara...
Dor...Dor...Dor...
Suara tembakan terdengar, salah satu ban mobilnya pecah. Steven yang ada dalam mobil tersenyum, meraih senapan laras panjangnya.
"Tuan, biar saya yang menjadi umpan. Lebih baik tuan melarikan diri diam-diam..." ucap Alex, mulai mengeluarkan senjata api, mengisi pelurunya hingga penuh.
"Tidak perlu, aku mancing mereka keluar karena sudah mempunyai rencana tersendiri. Hanya sekitar 20 orang," cibirnya tersenyum.
Kaca mobil anti peluru itu, dibukanya. Satu persatu, orang yang ada di atas, daerah terjal itu ditembaki olehnya. Semua bidikan sempurna tepat sasaran mengenai bagian kepala.
Sementara Febria yang melihat segalanya hendak memutar balik motornya. Namun dengan cepat sasaran tembakkan terbagi pada dirinya. Sebagai saksi yang mungkin akan melapor pada petugas kepolisian.
Steven menyadari ada yang aneh, sasaran tembakan terbagi, matanya menelisik, menatap seorang gadis yang bersembunyi berjongkok dibalik motornya berharap dapat melindungi diri.
"Sial!! Alex hubungi Eden!! Tetap diam di mobil dan jangan keluar! Kecuali mereka melepar bahan peledak!" perintah Steven, membawa senjata laras panjangnya. Berlari sedikit menunduk, dengan cepat, menyadari dirinya kini menjadi sasaran penembakan.
Gadis yang tengah berlindung di balik motornya, gemetar, tidak berani berdiri sama sekali. Dengan cepat Steven duduk di aspal berlindung di sampingnya, dibalik motor matic.
Dor...dor...dor...
Steven membalas tembakan, darah mulai mengalir, terlihat pada orang-orang yang mati di tangannya. Mata yang terlihat fokus membidik sasaran. "Aku tau, kamu merindukanku. Tapi tidak seharusnya mengikuti mobil seorang pria. Pertahankanlah harga dirimu," ucapnya masih membalas tembakan.
Febria tertegun diam, merasa ada seseorang yang melindunginya.
"Sebaiknya kita bersembunyi!! Mereka akan menghubungi bantuan..." lanjutnya. Jemari tangan gadis yang masih memakai helmnya itu ditarik, merasa suara tembakan yang sedikit mereda.
Namun, dengan bukan menuju daerah aman, Febria ditariknya menuju jurang yang memiliki sisi landai di bagian atasnya. Berdiri, kembali membidik sasaran sembari berlindung di sana, menghindari tembakan dari atas.
"Ma...mama..." gumamnya gemetaran, air matanya mengalir ketakutan. Helmnya tiba-tiba dilepas oleh Steven.
"Jangan takut, ada aku yang melindungimu, peluk aku..." ucapnya tersenyum sejenak, kembali membidik sasaran dari bawah jalan raya. Menembak sasaran dengan tepat, mata yang benar-benar terlihat fokus.
Jemari tangan Febria gemetar, dengan ragu memeluk tubuh sang pemuda yang tidak dikenalnya. Hudson? Bawahannya berkata pemuda itu bernama Hudson bukan?
"A...aku takut ini...bu... bukan karena menyukaimu, tuan Hudson..." kata-kata yang keluar dari mulut Febria mempertahankan harga dirinya, memeluk erat tubuh Steven.
Steven hanya tersenyum, matanya masih fokus membidik sasaran. Hingga sebuah mobil Jeep, dan dua mobil hitam tiba. Bersamaan dengan Alex yang keluar dari mobil melarikan diri tidak ingin tertangkap sebelum Eden datang.
Merestorasi bisnis gelap yang besar bukanlah hal yang mudah. Akan ada banyak pembelot yang tidak setuju, merebut tampu kekuasaan pemimpin mereka. Itulah yang terjadi saat ini.
Seekor *njing pelacak ada di atas mobil Jeep. Bersama dengan orang-orang bersenjata.
Wajah Steven seketika pucat pasi, mungkin seorang diri, dirinya masih dapat melarikan diri. Tapi bagaimana dengan Febria?
*njing pelacak akan segera menemukan jejak mereka. Steven melihat ke arah danau di bawah jurang dengan arus yang tidak begitu deras."Kamu masih ingat caranya untuk berenang?" tanyanya, sebagai orang yang mengajari Febria berenang di masa kecil gadis itu.
"Aku tau, caranya berenang..." jawaban dari mulutnya, masih memeluk erat tubuh Steven.
"Bagus, turuni jurang, berhati-hatilah! Kemudian berenang di danau menghilangkan jejak bau dari *njing pelacak. Aku akan segera menyusulmu... cepat!!" ucapnya melepaskan pelukan Febria.
Steven, berencana akan mengalihkan perhatian mereka sementara, menunggu Febria berhasil mencapai danau dengan selamat.
***
Doom, nama yang aneh namun itulah nama seorang pria paruh baya yang baru turun dari mobilnya. Rokok masih bertengger di mulutnya, memakai setelan jas berwarna gelap. Hingga akhirnya melangkah turun dari mobil, membuang puntung rokok ke aspal, lalu menginjaknya.
"Cari dan bunuh dia..." perintahnya.
*njing pelacak yang dikerahkan dengan cepat membuat mereka mengetahui lokasi Steven dalam beberapa menit. Pemuda itu melempar asal senjata laras panjangnya. Mulai berkelahi menggunakan tangan kosong.
Salah satu pria menyerangnya menggunakan pisau namun dengan cepat Steven mengelak, memegang pergelangan tangannya. Pisau direbutnya, sedikit melirik ke arah Febria yang berjalan di jalan kecil, di sisi jurang yang landai hampir sampai ke danau.
Tempat berupa jalan setapak yang sempit, membuatnya lebih mudah berkelahi, mereka hanya dapat maju satu persatu. Steven memukul, bahkan berakhir membanting mereka. Lengannya memar terkena tendangan, salah satu lawan. Kaki lawannya yang menendang dipegangi, lalu didorongnya ke jurang.
Tidak banyak bicara... Febria, tolong cepatlah sampai... gumamnya dalam hati melihat ke arah bawah jurang.
Dor...
Satu tembakan, mengenai kaki Steven. Dilayangkan salah satu orang yang dihadapinya. Kaki yang kesulitan bergerak, kepala pria paruh baya itu diraih Steven, tengkuknya dipukul menggunakan siku, hingga roboh.
Byur...
Febria telah memasuki danau, bersamaan dengan Doom yang baru turun ke daerah landai jalan setapak kecil dengan jurang dan danau dibawahnya, tempat yang berada tepat di bawah jalan raya. Tujuannya? Tentu saja untuk membunuh Steven dengan tangannya sendiri.
"Ini akhir bagimu..." Doom tersenyum, menodongkan senjatanya.
"Pak tua, nanti kita akan bertemu lagi," Steven ikut tersenyum, menjatuhkan dirinya, berguling meredam efek lukanya mengingat jurang yang memiliki kemiringan sekitar 60 derajat.
Dor...dor...dor...
Tubuh yang masih terjatuh terguling itu masih berusaha ditembak oleh anak buah Doom juga. Namun tidak ada peluru yang mengenainya, hingga tubuh Steven masuk ke dalam air danau yang cukup dalam.
Beberapa orang yang membawa *njing pelacak hendak turun mencari Steven, melalui jalan setapak kecil tempat Febria sebelumnya turun.
"Tunggu..." Doom menghentikan langkah mereka, "Temukan mayatnya aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri. Bocah sombong sepertinya mati..." ucapnya, kembali merogoh saku, mengambil puntung rokok kemudian membakarnya. Menghisap, mengeluarkan kepulan asap dari mulutnya.
"Bocah bodoh... kelebihanmu hanya dapat mengalahkan kelompok Dragon. Ingin merestorasi Dark Wild? Jangan bermimpi..." gumamnya.
***
Sekujur tubuhnya terluka, begitu sakit rasanya, tenggelam perlahan di dasar danau. Kakinya yang baru terkena peluru sulit digerakkan, kesulitan untuk berenang. Dirinya hampir kehabisan oksigen, menatap kearah atas, sinar matahari yang memasuki celah-celah air.
Apa ini akhir hidupku? Aku adalah Steven, seseorang yang mencintaimu dari waktu yang lama. Sekarang aku melepaskanmu... gumamnya dalam hati seolah bicara pada Febria.
Namun, tanpa diduga, gadis itu berenang mendekatinya. Mengulurkan tangannya, bagaikan tidak ingin Steven tenggelam dalam kegelapan. Wajah gadis yang dicintai seorang Steven, gadis memakai gaun putih, meraih tangannya yang mengenakan sweater serta jeans hitam.
Aku tidak akan melepaskanmu, tidak akan membiarkanmu mati... batin gadis yang tengah berusaha meraih tangan pemuda yang diketahuinya bernama tuan Hudson. Berenang menuju ke dasar.
Steven tersenyum, mengulurkan tangannya ke atas, berusaha meraih tangan Febria. Tangan yang bertemu di tengah dinginnya air danau.
Karena inilah aku selalu mencintaimu, ingin mempertaruhkan hidupku untuk menemuimu...aku mencintaimu... batinnya dalam senyuman, menerima uluran tangan gadis yang dicintainya.
Bersambung