
Anggaplah ini hari libur baginya, satu persatu adonan yang telah mengembang mulai digoreng. Minyak yang digunakan? Bukan minyak kelapa sawit, namun minyak kelapa murni, coconut oil yang jauh lebih sehat. Ingin rasanya memanggang kue membuat brownies. Namun mengingat listrik di rumah sewaan itu berdaya rendah, Amel mengurungkan niatnya.
Donat berbagai toping dengan isian coklat, green tea, dan strawberry dibuat olehnya. Cekatan? Amel menang seperti itu dari dahulu.
"Mama," Febria yang mencium aroma minyak kelapa murni berpadu harum toping selai buah seakan tidak sabaran.
Vanya yang membantunya membuat donat tersenyum, menggoreng satu-persatu."Ibu fikir kamu wanita karier yang tidak biasa dengan urusan dapur..." ucapnya.
"Aku dulu, mahasiswa miskin dengan IPK rendah. Berat badanku mencapai 95 kg, bekerja sambil kuliah, supaya menghemat uang dan tetap bisa kenyang, aku harus pandai-pandai memasak. Menyimpan kue supaya dapat dimakan berhari-hari," Amel tersenyum, menguleni adonan, kemudian membentuknya.
"Jangan bercanda..." Vanya tertawa kecil, tidak percaya tentang kehidupan wanita karir cantik dan cerdas di hadapannya.
"Aku serius..." Amel ikut tertawa,"Jika di fikir-fikir ini karena Kenzo. Saat-saat paling terpuruk dalam hidupku, kakakku membunuh ayah tiriku, karena hampir melecehkan adikku. Hanya tinggal di rumah petak kecil, dengan seorang putri yang ditelantarkan sahabatku,"
"Dia tiba-tiba ada, menolong, menyiksaku, menindasku, dan mengajariku banyak hal. Entah bagaimana dia bahkan menyukai Dugong gemuk dengan berat badan 95 kg..." lanjutnya, kembali tertawa.
"Lalu apa yang terjadi?" Vanya semakin tertarik, begitu juga dengan Febria yang ikut mendengarkan segalanya.
"Aku menolaknya...mana ada pangeran tampan yang akan menyukai monster. Tapi lambat laun semuanya berbeda, dia menunjukkan ketulusannya. Membuatku bahagia, penyebab aku gemuk? Sebenarnya karena setiap sedih aku tidak bisa berhenti makan. Mengenal dan mengingatnya membuatku bahagia..."
"Karena itu... karena itu setelah kabar kematiannya. Aku hanya bisa terus mengingatnya, menganggapnya berada di sampingku. Agar aku merasa bahagia, ingin memeluknya..." Amel menghentikan kata-katanya, mengambil tissue, menyeka air matanya.
"Terimakasih, karena kalian, aku dan anak-anakku bisa melihatnya lagi..." lanjutnya.
Vanya hanya tersenyum,"Terimakasih, tidak mengambilnya dari kami..."
Ferrell tiba-tiba berjalan masuk, menyodorkan phoncellnya pada Amel."Mama, kita ketahuan..." gumamnya.
"Ketahuan!?" tanyanya tidak mengerti.
***
Perbuatan Hugo, itulah informasi yang diberikan oleh Frans. Berita kematian Kenzo menyebar dengan cepat, bagaikan api yang membakar serbuk kayu kering.
Bahkan 7 tahun, yang lalu pemuda itu telah tiada. Istrinya yang selama ini mengatasnamakan almarhum suaminya. Semua kebohongan mereka terbongkar, Kenzo telah meninggal dari 7 tahun lalu.
Harga saham W&G Company sempat turun, kala bukti Kenzo yang menjatuhkan dirinya ke laut tersebar. Namun, harga saham dengan cepat dikendalikan Joe, Elisha dan Elina dibantu Lorenzo yang memang berada di kantor pusat.
Amel terdiam sejenak, menghela napas kasar, usai menghubungi Kenzo, agar segera ke rumah Damian, berfikir bagaimana rencana kedepannya.
"Kita tidak bisa kembali ke villa, kak Scott bilang beberapa wartawan majalah bisnis menunggu di depan villa..." ucap Ferrell dengan mulut penuh memakan donat di hadapannya.
"Mama, bagaimana jika kita tunjukkan pada media keberadaan papa?" usul Febria yang duduk di pangkuan sang nenek.
"Wajah Kenzo akan ter-expose media. Kita harus bertanya dulu pada ayah kalian. Dia akan setuju atau tidak," jawab Amel.
Hingga, seorang pemuda tiba-tiba masuk, dengan ransel hitam di punggungnya,"Ferrell!! Febria!!" panggilnya.
"Papa..." mereka berlari menyambut sang ayah."Apa kalian nakal saat menginap disini?" tanyanya di jawab dengan gelengan kepala, oleh anak kembarnya.
"Kenzo, ada yang ingin aku bicarakan..." ucap Amel.
Pemuda itu perlahan melangkah duduk di hadapan istrinya."Ada apa?"
"Hugo menyebarkan berita kematianmu. Apa kamu mau muncul di hadapan media?" tanyanya.
Kenzo menghela napas kasar, kemudian tersenyum,"Sementara waktu biarkan saja semua orang berfikir aku sudah mati. Diam dan jangan berikan penjelasan..."
"Kenapa!?" Vanya menghela napas, tidak mengerti dengan perubahan jalan fikiran Kenzo, yang dahulu ragu dan cenderung polos.
Amel tidak berkomentar, mengikuti keinginan Kenzo. Jemari tangannya mengirimkan pesan pada anak-anaknya dan Frans agar tidak memberikan pernyataan, dan menghindari media.
"Siapa yang menyebarkan berita kematianku?" tanya Kenzo, mengambil salah satu donat di atas meja.
"Paman Hugo..." Ferrell menjawab, naik ke pangkuan ayahnya.
Kenzo tersenyum, jemari tangannya gemetar, meremat donat di tangannya hingga hancur,"Orang yang ingin jadi papa kalian?"dijawab dengan anggukan oleh Febria.
***
Seorang pemuda menatap deretan gedung pencakar langit dalam apartemen miliknya, meminum segelas wine di tangannya yang hanya terisi seperempat. Tubuhnya hanya berbalut jubah mandi.
Seorang wanita duduk di tempat tidur hanya berbalut selimut putih tebal. Tubuhnya dipenuhi bekas cambukan, dan beberapa tanda pukulan, menatap wajah rupawan seorang pengusaha berdarah Eropa. Robekan gaun berceceran di lantai, bahkan ada alat-alat aneh yang meningkatkan napsu wanita disana.
Ada beberapa orang yang memiliki perilaku menyimpang ketika berhubungan. Mencambuk pasangannya, mengikat, memukul, memberikan kepuasan tersendiri bagi mereka. Itulah yang sering dilakukan Hugo.
"Tuan berkata masih singgel. Hari ini kita menghabiskan waktu bersama. Bahkan melakukannya berkali-kali, bagaimana jika hubungan ini..." kata-kata wanita itu disela.
"Tidak ada yang menarik darimu selain tubuhmu," Hugo berjalan mendekat, menuangkan winenya ke tubuh sang wanita bibirnya menjelajah, mulai menikmatinya. Seakan tubuh itu adalah wine glass-nya.
"Ta...tapi aku anak pemilik perusahaan..." kata-kata wanita itu disela.
"Benarkah? Tapi sayangnya, kamu hanya pandai menghabiskan uang orang tuamu," bisiknya, sedikit menggigit leher wanita di bawah tubuhnya.
"Aku bisa memasak..." ucapnya cepat.
"Aku tau, mantan istriku seorang supermodel. Kamu tau apa yang kurang darinya? Dia hanya cantik, tidak memiliki kepandaian. Hingga hanya menghasilkan bibit yang gagal. Putraku selalu peringkat tiga dari bawah..." pemuda itu kembali bangkit membuka laci, menyiapkan pengaman untuk dipakainya nanti.
"Awalnya, aku fikir dengan memberikan bimbingan belajar padanya, putraku akan berubah. Tapi sama saja, malah semakin urakan sama seperti ibunya. Hingga... aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Ibu tunggal, menjadi wanita karier cerdas, yang lebih cantik dari mantan istriku, memiliki anak-anak yang masih berusia muda. Namun, dapat membantu sang ibu di perusahaan milik almarhum suaminya..."
"Apa kamu bisa sesempurna dia? Aku menginginkannya, menginginkan anak-anaknya, bahkan ingin memiliki anak darinya..." gumamnya, kembali menanggalkan jubah mandinya.
Tubuh atletis itu terpampang jelas. Tangan sang wanita kembali diikatnya,"Berlutut!! Buka mulutmu..." perintahnya mengambil cambuk.
Wanita itu mengepalkan tangannya, ini untuk kariernya di dunia hiburan. Selain itu juga untuk perusahaan ayahnya. Pria rupawan, dan kaya ini harus menjadi suaminya.
"Aku bisa sepertinya, memberi anak dan menjadi istri sempurna yang kamu inginkan..." ucapnya menonggakkan kepalanya masih dengan tangan terikat, berlutut di hadapan Hugo yang berdiri tidak mengenakan sehelai benangpun.
Hugo tersenyum,"Aku tidak percaya, kamu seperti wanita murahan yang picik, berfikiran sempit. Anak yang dihasilkan juga akan sama, lebih baik aku tutup mulutmu!! Karena kita akan mencoba hal yang lebih menyenangkan..."
"Ugh..." gumamnya, menarik rambut wanita yang berlutut di hadapannya.
***
Kesal? Tentu saja, mobil Kenzo sudah sedari tadi menunggu di depan gedung apartemen milik Hugo. Meminum sekaleng soda berwarna merah.
"Tuan..." seseorang memakai rambut palsu yang lumayan panjang dengan jaket wanita, serta celana panjang, berusaha tersenyum. Syal melilit di lehernya menutupi jakunnya.
Aku seharusnya menolak menjadi depth collector... jadi cantik begini kan... gumam Kevin merutuki kebodohannya.
"Besok aku harus mulai bekerja. Selesaikan malam ini, aku tidak ingin dia mengganggu istri dan anakku lagi..." ucapnya, meremat kaleng soda, hingga tidak berbentuk.
"Akan kita bunuh? Atau sekalian saja potong pisangnya..." Kevin terlihat antusias.
"Tidak boleh, itu tidak begitu menyakiti mentalnya. Kita buat dia tidak memiliki keinginan berhubungan lagi..." ucapnya melempar kaleng sodanya yang telah kosong dari dalam mobil. Memasuki tempat sampah daur ulang.
Bersambung