
...Apakah perasaan berdebar ini cinta? Aku tidak ingin berharap lagi, karena terlalu menyakitkan......
...Namun, dia terlalu terang, menarikku bagaikan sinar lampion malam yang cantik, bersinar di tengah malam yang gelap......
...Sedangkan aku hanya seekor serangga kecil, mungkin jika aku mendekat lampion indah itu akan menghangatkanku......
...Atau sebaliknya membakarku terjebak akan sebuah harapan palsu......
...Aku ingin melangkah, namun terlalu takut untuk melangkah. Tolong yakinkan aku......
...Lampionku ... Aku mencintaimu, sebuah kata yang tertahan hingga kini......
Amel...
***
Alunan suara dari beberapa musisi terdengar. Seorang tamu yang tidak dikenal statusnya hadir. Langkah demi langkah perlahan memasuki ballroom hotel.
"Kenapa aku harus ikut?" Amel berbisik padanya.
"Kita harus sering keluar bersama untuk membiasakan diri..." jawab sang pemuda rupawan penuh senyuman.
"Membiasakan diri?" Amel mengenyitkan keningnya tidak mengerti. Kita anggap saja tidak mengerti, mungkin gadis itu mengerti namun masih ragu untuk menjatuhkan dirinya dalam pelukan pemuda yang menurutnya terlalu pandai menggoda.
Mata Hiasi menelisik, mengamati dua orang yang datang bersama Frans. Muda? Terlalu muda memang, dalam fikirannya Kenzo setidaknya berusia di atas 35 tahun ke atas. Namun orang yang datang bersama Frans, terlihat berusia di bawah 30 tahun.
Bagaikan, rupa, usia, bukan masalah untuk sebuah bakat. Sang pria paruh baya mulai berjalan mencari keberadaan putrinya Aika, guna membawanya berkenalan dan mendekatkan putrinya dengan Kenzo.
***
Kenzo mengenyitkan keningnya kesal, seorang pemuda kini berdiri di hadapannya.
"Amel, kamu kemari?" ucapnya tersenyum.
"Iya, aku mengikuti bos..." kata-kata Amel terhenti, Kenzo merangkul bahunya posesif.
"Aku yang membawa pacarku kemari, iya kan sayang?" Kenzo tersenyum, menatap Amel, senyuman yang menyiratkan Amel untuk ikut berbohong.
"I...iya, dia pacarku," Amel menatap balik pada Kenzo, berusaha untuk tersenyum, namun kesal dalam hatinya.
"Perkenalkan namaku Tatewaki..." Tatewaki mengulurkan tangannya, penuh senyuman keterpaksaan.
"Kenzo..." Kenzo membalas uluran tangannya, membalas sersenyumannya. Namun apa benar penuh senyuman? Cukup lama mereka bersalaman jemari tangan saling menekan. Menahan rasa sakit, saling membenci tapi harus memaksakan diri untuk tersenyum. Itulah mereka.
Tak... tak...tak...
Langkah demi langkah seorang gadis datang menghampiri mereka, menghela napas kasar dengan raut wajah secerah malaikat.
"Kak Tatewaki, mereka siapa?" tanyanya, dengan mata menelisik, sejenak kemudian menangis penuh senyuman haru, bagaikan kebahagiaan terpancar dalam raut wajahnya,"Seina..."
Aiko memeluk Amel erat bagaikan almarhum sahabatnya sendiri yang telah tiada 10 tahun lalu kembali hidup. Air matanya mengalir tiada henti,"Seina, Aku dan Tatewaki mencarimu di gunung tiada henti. Tapi..." isakan tangisannya terhenti.
Amel melepaskan pelukan Aiko,"Perkenalkan namaku bukan Seina, namaku Amel. Mungkin kamu salah orang..."
"Benar, Seina sudah dimakamkan 10 tahun yang lalu. Aku terlalu merindukannya, dia satu-satunya sahabatku," ucap Aiko terisak.
"Amel, perkenalkan dia Aiko, Aiko perkenalkan namanya Amel..." Tatewaki berusaha tersenyum, memperkenalkan Amel pada Aiko. Hatinya belum menerima, jika Amel adalah nama asli gadis itu. Anggaplah dirinya gila, namun dalam hatinya masih berharap jika wanita di hadapannya adalah Seina.
Hilang ingatan atau semacamnya? Deduksi yang gila bukan? Padahal dirinya sendiri yang menemukan jazad kekasihnya dengan tubuh tidak utuh. Berlumuran darah segar, walaupun setelahnya tidak dapat menghadiri pemakaman akibat sempat tidak sadarkan diri, mengalami syok dan histeris selama dua hari.
"Aku Aiko..." ucapnya mengulurkan tangan.
"Amel..." Amel yang hendak membalas uluran tangannya dihentikan oleh Kenzo. Pemuda itu menatap tajam pada sang gadis berwajah lugu di hadapannya.
"Ini kado ulang tahunmu..." Kenzo tersenyum, sedikit menunduk, menepuk bahunya bagaikan iblis, berbisik di telinga Aiko,"Jangan berada didekat Amel lagi, sedikit saja pacarku terusik. Aku pastikan hidupmu akan lebih buruk dari kematian..."
Takut? Tidak, raut wajah Aiko sedikit berubah,"Terimakasih..." kata-kata tenang dari mulutnya, tersenyum cerah bagaikan seorang gadis polos tanpa dosa, menerima kado dari Kenzo.
"Amel, aku harap kita bisa berteman lebih dekat. Seperti dulu aku berteman dengan sahabatku yang sudah meninggal, wajahnya mirip denganmu..." Aiko tertunduk bagaikan menahan rasa dukanya.
"Iya senang dapat mengenalmu..." Amel tersenyum padanya.
Aiko tidak berbalik, senyuman ganjil menyungging di bibirnya. Berjalan menembus kerumunan para tamu undangan.
"Kamu kenapa masih disini!?" Kenzo masih berucap dengan nada ketusnya, kembali.
"Ini tempat umum, iya kan Amel kita dapat berbincang bersama?" Tatewaki masih setia berada disana. Tersenyum seakan tidak akan membiarkan Kenzo berdua bersama pasangannya.
Pemuda dengan tuxedo hitamnya itu, menggengam erat jemari tangan Amel, tangannya sedikit gemetaran. Wajahnya terlihat dingin menusuk, namun sejatinya dirinya saat ini ketakutan.
Ada yang tidak beres... begitulah Amel saat ini melihat kondisi Kenzo. Matanya melirik ke arah Frans yang sedari tadi diam saja.
'Bawa Kenzo pergi...' ucap Frans tidak mengeluarkan suara hanya gerakan bibir, yang mudah dibaca Amel.
Amel tersenyum, tidak mengerti situasi aneh saat ini,"Aku belum cukup beradaptasi, maaf kami harus berkeliling dulu..."
"Iya, ini kartu namaku. Aku ..." Tatewaki menyodorkan kartu namanya, dengan cepat Kenzo merebut.
"Aku akan menghubungimu jika memerlukan konsultan..." ucapnya, menarik tangan Amel pergi.
Kesal? Tentu saja, namun rasa takutnya lebih besar. Tidak ingin ada yang mendekati wanita dicintainya, tidak ingin kehilangannya, tidak ingin Amel terluka sedikitpun.
"Kenzo?" Amel menghentikan langkah pemuda yang berjalan didepannya.
"Berhati-hatilah padanya dia (Tatewaki) menginginkanmu..." ucapnya tanpa berbalik.
"A...aku lapar, kita makan ya?" Amel terlihat gugup saat ini.
Berubah? Benar, dengan satu kalimat saja dapat merubah hati dingin seorang Kenzo. Pemuda yang awalnya suram itu tersenyum, mengecup kening Amel, seakan tidak peduli pada sekitarnya."Kita makan..."
"Jangan menciumku di depan umum!!" ucapnya kesal, menunduk malu.
Malu? Beberapa orang melirik ke arah mereka, entah kagum, iri atau mencibir. Namun, tetap saja orang yang lebih suka hidup datar tanpa tantangan seperti Amel akan risih.
"Dengar! Derajat, kepandaian, dan rupamu diatas orang lain. Jangan menunduk atau mengalah pada mereka," saran keji dari mulut Kenzo, tersenyum pada Dugong yang terlalu lama menunduk bersembunyi di lautan dalam.
Amel diam tertegun, kemudian tersenyum,"Iya," ucapnya mengangguk, entah kenapa setiap detik lebih mengenal pemuda di hadapannya. Di detik itu pula hatinya bagaikan semakin diikat.
Hal yang dilakukan Kenzo satu tahun ini, bagaikan menanam benih di lahan tandus. Menggemburkan tanahnya, memupuk, menyiramnya dengan air, hingga benih perlahan bertunas. Tidak terburu-buru, sabar menunggunya berakar hingga berharap suatu saat nanti menjadi pohon yang kokoh. Menjaga hati Amel untuk tetap menjadi miliknya.
***
Pesta masih terus berlanjut, musik klasik mengalun dengan nada yang berbeda. Ritme, yang memang diatur, agar tamu undangan dapat menikmati musik sembari menari. Beberapa orang yang sebagian besar dari kalangan atas mulai berdansa dengan anggun.
Namun tidak dengan Kenzo, imajinasinya hancur, Amel masih menikmati cup cake, menggunakan dessert spoon menyendoknya perlahan. Mengunyah sedikit demi sedikit, menikmati sensasi lezat kue mahal berkelas di hadapannya.
Bagaimana tidak, lumeran maple sirup ada diatasnya, dengan parutan coklat kelas atas. Bagian dalamnya begitu lembut, adonan cokelat dengan isian selai blueberry. Berhiaskan potongan buah strawberry di bagian atasnya. Sungguh sebuah karya dari sebuah kue kecil yang hanya boleh dinikmatinya satu buah.
Satu buah? Makhluk penindas disampingnya membatasi lagi jumlah makannya.
"Sudah selesai?" tanya Kenzo kesal.
"Belum..." Amel kembali menyendok sedikit kue. Yang bahkan belum habis setengah.
Hingga Frans datang bersama dua orang, menatap mereka. Seorang pria paruh baya serta putrinya Aika, berwajah serupa dengan Aiko, namun memakai gaun hitam. Sedangkan Aiko memakai gaun putih.
"Kenzo, perkenalkan ini tuan Hiasi dan putrinya. Tuan, inilah majikan saya, namanya Kenzo..." Frans berucap penuh senyuman memuakkan, melirik kearah Amel yang tetap makan dengan tenang.
Wanita datar!! Tidak peka!! Sialan!! Aku ingin lihat bagaimana rupa wajah cemburumu, saat melihat Kenzo didekati wanita lain. Cinta bilang cinta!! Aku gemas ingin memasang microfone pada hati dua makhluk idiot ini...
Frans tetap memaksakan dirinya tersenyum, Menguji seberapa tidak pekanya Amel.
Bersambung