
🍀🍀🍀🍀 Maaf kalau ada typo, besok aku perbaiki. Good night 🍀🍀🍀🍀
Suasana makan malam yang hangat, Kenzo sedikit melirik ada piring lebih disana."Itu milik siapa?" tanyanya.
"Satunya Scott yang pulang terlambat, satu lagi milik Diah..." jawab Amel tersenyum.
Seketika suasana hening, Damian menghentikan kunyahannya."Diah?" tanyanya memastikan.
"Iya, Kenzo hari ini aku harus ke club'malam. Aku berjanji tidak akan mabuk, tidak akan menggoda pria, akan diikuti diam-diam oleh pengawal..." ucap Amel tersenyum.
"Tapi club'malam... kamu tidak boleh kesana. Bagaimana jika ada yang memaksamu mabuk, suatu hari nanti kamu sakit. Dan...dan..." Damian mengepalkan tangannya, teringat akan tubuh almarhum putranya, pria yang berwajah pucat, sering menggigil dan mengalami delusi entah kenapa.
"Sudahlah, Amel pergi membawa pengawal, lagi pula dia bisa dipercaya..." ucap Vanya yang benar-benar menaruh kepercayaan penuh pada menantunya.
"Kenzo tolong jangan ijinkan istrimu..." kata-kata Damian terpotong Amel tersenyum padanya.
"Kenzo?" Amel mengedipkan sebelah matanya, mencari simpati.
"Boleh...tapi katakan dulu alasanmu ke club'malam dan apa yang harus aku lakukan saat Diah datang?" Kenzo mulai meletakkan alat makannya, tidak mungkin Amel bertindak aneh tanpa alasan,"Satu lagi, pulang pukul satu pagi, berarti satu kali hukuman, pulang pukul dua pagi, dua kali hukuman, pulang pukul tiga pagi, tiga kali hukuman..."
"Aku akan pulang pukul 12 siang..." ucap Amel antusias, ingin dihukum.
***
Penjelasan? Amel menjelaskan semuanya, namun walaupun begitu Damian tetap saja khawatir berusaha menyakinkan dirinya sendiri. Tidak akan terjadi apa-apa pada menantunya.
Hingga tamu itu datang juga membawa koper yang cukup besar. "Amel!!"
"Tante ..." ucapnya tersenyum mencium pipi kanan pipi kiri. Ala sosialita kelas atas yang akrab.
"Kami akan sedang makan malam. Tante mau ikut makan?" tanya Amel. Namun mata Diah menelisik mengamati Vanya yang tertunduk dan tatapan tidak suka dari Damian.
"Tidak, bagaimana jika kita makan di perjalanan saja? Kita ke tempat teman-temanmu dulu..." ucapnya.
"Pelayan...taruh kopernya di kamar paling depan..." ucap Amel hendak melangkah pergi setelah mengambil tas dan kunci mobil.
Raut wajah Kenzo berubah,"Amel kamu mau kemana?" tanyanya.
"Terserah aku mau kemana, uang yang aku habiskan uang almarhum suamiku, bukan uang-mu. Lagipula jika kamu tidak bisa mengikuti pergaulanku, lebih baik tinggal di rumah jaga Ferrell dan Febria..." sinisnya berjalan pergi, bersama Diah.
Senyuman penuh percaya diri terlihat di wajah wanita paruh baya itu. Menatap hubungan Dava dan Amel yang berjalan tidak begitu baik. Mungkin jika bertemu Praba yang terbiasa dengan pergaulan kalangan atas, Amel akan luluh dan lebih memilihnya.
Kenzo tertunduk beberapa saat bagaikan kecewa. Namun dengan cepat raut wajahnya berubah,"Sampai kapan aku harus dipanggil almarhum. Aku akan membuatnya tidak bisa bangun dari tempat tidur jika pulang terlambat..." ucapnya bersungut-sungut kesal.
"Kalian?" Damian mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
Steven yang melihat semuanya, masih mengambil lauk lain, meletakkannya dalam piringnya dan Febria."Ibuku siluman rubah putih yang sering membuat orang terpana akan ilusinya lalu memakan jantung dan hatinya. Sedangkan ayahku adalah iblis, bergerak di belakang layar, menggerogoti mereka tanpa ada tubuh yang tersisa," penjabaran mengerikan darinya.
"Aku dulu begitu?" tanya Kenzo pada Steven.
"Benar, kalian baru menikah saat itu, jadi mama tidak begitu terlibat masalah perusahaan. Tapi papa yang dulu, menyusup masuk mencuri data seorang diri, berpura-pura bodoh dalam kedudukan yang paling rendah. Penuh strategi, hingga berakhir, menyapu bersih perusahaan-perusahaan yang tamak..." jelasnya, mengelap saus yang sedikit mengotori bibir Febria."Sifat papa yang dulu sudah sedikit kembali kan?"
"Kalau mama, semenjak papa tidak ada, dan kami masih terlalu muda. Bersahabat dengan musuh, mencari kelemahannya perlahan, seperti siluman rubah putih yang menggoda dengan ekor putih lembutnya. Setelah terbuai, cakar-cakarannya akan merobek jantung dan hati mangsanya. Dalam artian sesungguhnya, menghancurkan sandaran hidupnya sampai tidak bersisa," jelasnya.
***
Malam semakin larut Damian tidak dapat tidur sama sekali, duduk seorang diri di sofa ruang tamu. Hal yang dilakukannya? Tidak ada, hanya saja dirinya mencemaskan Amel menantunya.
Hingga tiba-tiba Kenzo duduk di sampingnya, membawakan cemilan keripik singkong Kusuka."Ayah sedang apa?" tanyanya.
"Menunggu Amel pulang, bagaimana jika dia mabuk dan berakhir sakit seperti..." Damian tiba-tiba tertunduk menghentikan kata-katanya.
Damian mengangguk pelan,"Dia sering meminum alkohol. Tapi memang tidak terlalu banyak. Jika tidak mengkonsumsinya, tubuhnya sering menggigil, keringat dingin keluar, gelisah, aku..."
"Seberapa banyak sekali minum? Apa setiap hari?" tanya Kenzo merasa adanya kejanggalan.
"Dua hari sekali mungkin, aku tidak melihat dengan jelas. Karena Dava mengkonsumsinya saat dengan Kiki. Tapi dari tagihan kartu kreditnya, untuk minuman keras mungkin dalam waktu satu bulan dia menghabiskan satu botol wine..." jawab Damian mengingat-ingat pasalnya semenjak memiliki hubungan dengan Kiki tagihan kartu kredit almarhum Dava memang diawasi olehnya.
"Apa Kiki tidak mengkonsumsi alkohol?" Kenzo mengenyitkan keningnya. Jika iya, mungkin kehidupan Dava memang dengan sengaja dirusak oleh seseorang.
Mengingat minuman berakohol yang dikonsumsi Dava masih dalam batas wajar. Sebagian besar orang yang tinggal di negara dengan musim dingin berkepanjangan memang mengkonsumsi alkohol sebagai penghangat. Namun tidak terlalu banyak, tidak melewati batas wajar. Dalam artian terbiasa mengkonsumsi sedikit dalam tentan waktu lama, tidak akan membuat mereka mabuk.
"Kiki memiliki kebiasaan belanja yang buruk. Tapi bukan peminum alkohol yang baik. Karena kami dulu tinggal satu rumah, aku tau biasanya dia hanya minum sedikit, kemudian tertidur. Tapi berbeda dengan Dava, dia hanya mengkonsumsi setengah gelas. Tapi meracau tidak ada hentinya. Bahkan terkadang tertawa sendiri, seperti mengalami ilusi..."
"Pernah aku melarang Kiki memberinya minuman, tapi yang terjadi. Dava menangis histeris mengatakan sekujur tubuhnya kesakitan, tubuhnya menggigil. Aku pernah ingin membawanya ke rumah sakit. Tapi sayangnya dia selalu menolak, dengan alasan Kiki bisa merawatnya..." ucapnya mengingat-ingat kejadian kala almarhum putranya masih hidup.
Kenzo menghela napas kasar, mengepalkan tangannya, namun ini juga harus ditanyakan olehnya,"Apa Dava pernah menjadi pecandu?"
Damian menggeleng, "Dia selalu di rumah. Jarang keluar kecuali dengan Kiki..." namun, tiba-tiba pria paruh baya itu terdiam tidak yakin.
Gejala yang dialami putranya memang bagaikan kecanduan narkotika. Dulu tidak ada kecurigaan? Tentu saja, pengeluaran Dava dengan kartu kredit miliknya, sama dengan pengeluaran yang digunakan untuk Kiki. Jadi tidak ada celah untuk menggunakannya.
"Apa ayah mengingat hal lain lagi?" Kenzo menghela napas.
"Rekaman video panas yang tersebar. Dava tidak menyukai dirinya direkam atau difoto. Tapi di dalam video dia menatap ke arah kamera, mengetahui ada kamera disana..." ucapnya dengan banyak kejanggalan pada almarhum putranya.
Kenzo berjalan menuju lemari pendingin, meraih sekaleng soda berwarna bening. Terdiam beberapa saat sambil, meminumnya.
Hingga kaleng soda itu dirremasnya, dilempar dalam tempat sampah."Seingatku dari cerita orang-orang, video tersebar sebelum perusahaan pailit. Jika deduksiku tidak salah, entah kenapa Dava mengkonsumsi narkotika saat melakukan adegan dalam video..."
"Di...dia tidak cukup bodoh untuk mengkonsumsi narkotika. Jika mengkonsumsinya syaraf tangan akan rusak dan cita-citanya untuk menjadi seniman tembikar terkenal..." jemari tangan Damian mengepal tidak dapat menerima almarhum putranya mengkonsumsi sesuatu yang paling dijauhi sang anak.
"Kapan terakhir kali Dava membuat tembikar?" tanya Kenzo kembali.
"A... aku... Dava...10 tahun lalu..." jawabnya terbata-bata.
"Dava berhenti membuatnya bukan karena tidak ingin. Tapi tidak bisa, syaraf tangannya sudah mulai rusak, dia hanya menyukai karya yang menurutnya sempurna. Aku pernah melihat salah satu peninggalannya di rumah, karena itu aku sempat ragu jika aku adalah Dava,"
"Jangankan membuat tembikar kemudian membuat lukisan rumah pedesaan di atasnya. Menggambar di buku saja aku hanya bisa mengimbangi gambar anak sekolah dasar..." Kenzo kembali menghela napas.
"Tapi narkotika..." Damian masih terlihat ragu.
"Bukan dia sengaja mengkonsumsinya, tapi narkotika dicampur dalam minuman beralkohol. Ini trik biasa yang dilakukan pengedar, untuk menambah konsumennya. Namun Dava jarang keluar rumah, tidak ada pengeluaran kartu kredit yang janggal. Berarti hanya satu hal..."
"Kiki, yang melakukan segalanya..." Kenzo sedikit tersenyum.
"Ta... tapi kenapa? Dava mencintai Kiki dengan tulus. Bahkan rela membungkuk dengan statusnya lebih tinggi..." air mata Damian mengalir, tidak dapat menerima ketidak adilan yang diterima almarhum putranya.
Perlahan Kenzo memeluk pria paruh baya yang menangis tidak terkendali, menjerit menyesalkan kehidupan Dava. Mungkin sebuah ikatan batin, dirinya hidup sebagai Dava selama 7 tahun. Kiki? Wanita tidak tahu terimakasih? Narkotika? Apa pagi dosanya?
Dirinya akan membalas segalanya menggantikan Dava yang baik hati. Seniman tembikar yang telah tenang di sisi-Nya."Berani-beraninya p*lcur..."
Kenzo tersenyum, senyuman dingin untuk mencabik-cabik makhluk bernama Kiki...
Dua orang yang berbanding terbalik. Sosok almarhum Dava memakai pakaian putih seniman yang tersenyum cerah, pria yang berhati baik, namun memiliki nasib naas...
Dengan Kenzo memakai baju hitam, sosok pengusaha yang ambisius, tersenyum, bagaikan siap menebas, menyingkirkan orang-orang yang menyakiti almarhum Dava...
Sisi hitam dan putih yang berlawanan, dua orang yang memakai pakaian dengan warna berbeda. Jatuh ke dalam lautan 7 tahun lalu, bagaikan takdir untuk bertemu...
Bersambung