My Kenzo

My Kenzo
Siapa Yang Berselingkuh



801 Amel berada di hadapan kamar tersebut saat ini. Mengepalkan tangannya, memberanikan diri membuka pintu. Kacau? Itulah keadaan di sekelilingnya saat perlahan melangkah sedikit demi sedikit. Banyak barang-barang yang tercecer di lantai dan tempat tidur.


Tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan, terkecuali dari kamar mandi. Ada suara seseorang disana, suara seorang wanita.


Serta suara seorang pemuda yang dikenalnya,"Aku tau, dan sudah berusaha tapi itu sulit..."


"Tapi kamu harus berusaha, jika tidak ini jalan lain, yang harus diambil..." suara sang wanita samar-samar.


Dalam fikiran Amel, cukup sulit? Apa yang cukup sulit? Dan berusaha, apa yang harus diusahakan dua orang berbeda gender di dalam kamar mandi?


Kenzo menyewa seorang wanita penghibur di hotel!! Aku akan memergokinya, kemudian... kemudian... Tidak dipungkiri hati Amel terasa sakit, namun dirinya harus melihat dengan mata kepalanya sendiri. Untuk meyakinkan hatinya tidak ada cinta yang tulus dari makhluk kelas atas. Dirinya hanya menjadi boneka tali mainan bagi seorang Kenzo. Jemari tangannya gemetar, menyentuh hendel pintu...


Brak...


Pintu digesernya dengan cepat, seorang wanita tua berada di sana, masih lengkap memakai pakaian kedokterannya. Sedangkan Kenzo, pemuda itu masih memakai jubah mandi, namun tubuhnya berada dalam bathtub, dengan sekujur tubuh yang basah.


"Ka...kamu mengencani wa... wanita tua?" tanyanya, mencerna, menerka-nerka.


Sang psikiater menipiskan bibir menahan tawanya, melirik ke arah Kenzo,"Dia pacarmu?"


"Memalukan," Kenzo mengenyitkan keningnya, memasukkan kepalanya sejenak ke dalam air. Benar-benar merasa ingin menyembunyikan dirinya dari psikiater di hadapannya.


Beberapa jam sebelumnya...


Jika senang, terlalu senang. Jika sedih cenderung mengarah pada depresi, begitu pula jika marah cendrung sulit mengendalikan emosinya.


"Menyewa gangster? Apa gangguan kepribadiannya kembali?" gumam Frans, dengan cepat, keluar dari hotel tempatnya menginap. Menyewa driver yang memang disediakan pihak hotel.


Cemas? Begitulah dirinya saat ini, mungkin Amel membuat masalah besar kali ini.


"Wanita sialan!! Jika bukan hanya dia yang dapat berpotensi menyembuhkan Kenzo. Tidak mungkin aku akan menjodohkannya. Masih banyak wanita di luar sana yang mau berbaring di atas ranjang, membuka pakaian mereka, hanya demi mendapatkan Kenzo," kumat-kamit mulut itu penuh kekesalan. Bagaikan seorang ibu mertua, kala anaknya mengadu disakiti oleh istrinya. Tidak sabaran menunggu taksi yang ditumpanginya segera sampai.


***


Tidak ada yang menyadari hal yang saat ini terjadi,"Minggir..." seorang pemuda yang tengah malas berdebat berucap tidak membentak, namun sorot matanya tajam, kala langkahnya dihentikan beberapa orang yang hendak merampok dompet serta handphonenya.


"Minggir? Berikan dulu semua barang berharga milikmu..." ucapnya mulai mendekati Kenzo.


Pandai berkelahi seperti semua CEO dalam novel yang sering bermain baku hantam? Tidak, Kenzo tidak pandai berkelahi sama sekali. Namun gangguan kepribadiannya cukup berguna dalam situasi mendesak.


Seekor kelinci jika merasa terdesak akan menggigit, seekor rusa yang dikepung kawanan hena akan menanduk. Tidak ada yang akan diam bukan? Apalagi dirinya saat ini memerlukan pelampiasan.


Pisau dipegang oleh salah seorang dari empat orang yang mengepungnya. Berjalan mendekatinya, "Tidak sayang nyawa?" tanyanya, tersenyum mengejek.


Berjalan mendekati Kenzo, hendak menodongkan belati padanya."Berikan semua milikmu, handphone dan dompet,"


"Tidak mau..." jawabnya tanpa ekspresi.


"Tidak? Kamu benar-benar tidak mencintai nyawamu!?" bentaknya, hendak melukai Kenzo untuk mengambil aksesoris berharga di tubuhnya. Jam tangan? Itulah tujuan utama mereka saat ini. Mengingat merk ternama, yang jika asli mungkin berharga ratusan ribu dolar.


Kenzo meraih belati dengan tangannya, mencengkramnya, membiarkan darahnya mengucur akibat terkena goresan pisau."Phonecell? Dompet? Itu lebih penting dari pada nyawaku..." ucapnya menatap tajam.


Tidak mempedulikan apapun, hadiah pertama dari Amel melekat di phoncellnya. Sementara satu-satunya foto almarhum kedua orang tuanya berada dalam dompet. Lebih berharga dari nyawa? Mungkin sejatinya tidak, phoncell dapat dibelinya lagi. Uang dalam dompet dapat dikumpulkannya dengan mudah. Tapi dua benda yang melekat pada benda tersebut? Pemuda itu tidak akan melepaskannya.


Salah satu dari mereka memancing kemarahannya lebih besar lagi. Handphone yang gantungannya menjulur ke luar dari saku celananya ditarik paksa. Dengan cepat Kenzo berusaha merebutnya. Namun, phonecell itu terjatuh, bahkan salah satu dari mereka menginjak gantungannya yang terbuat dari kaca.


Tidak tahan lagi. Hadiah pertamanya hancur berantakan? Segenggam pasir diambilnya dari pot depan rumah di tempat tersebut, menutup matanya sendiri melempar ke area sekitarnya. Membuat sementara mata dari keempat pria tersebut tidak dapat melihat, menahan rasa pedih.


Pisau segera direbutnya, bermodalkan nekat, dan kemarahan, salah seorang dari mereka dicekiknya. Menatap tajam penuh kebencian. Menggores sedikit pisau pada pipi orang yang menginjak gantungan handphonenya,"Aku akan mengingat wajah kalian..."


Pandangan matanya seakan tidak memikirkan nyawa, dapat membunuh mereka jika ingin. Tiga orang lainnya berlari ketakutan, mungkin mencari bantuan, mengingat gang yang sepi.


Sedangkan satu orang lainnya, masih dicekik jemari tangannya yang dingin, hampir kehabisan napas. Kenzo sedikit melirik gantungan phonecell yang telah hancur. Kesal? Tentu saja, namun ...


"Kenzo!! Hentikan, bagaimana jika dia mati!! Kamu mau terkena jeratan hukum!!" ucap Frans berusaha memeganginya, setelah mencari Kenzo didekat area tempat Amel bekerja.


Kenzo hanya diam masih memegang pisaunya.


Tidak ada obat, tidak ada psikiater, maka aku juga akan mati... gumam Frans dalam hati, menatap tingkat kemarahan Kenzo. Hingga satu ide ada dibenaknya... Tidak ada obat, tapi masih ada Amel....


"Kenzo, jika dia mati, Amel akan membencimu karena membunuh orang. Menghabiskan waktu yang lama dipenjara, dia akan menikahi si kacamata (Tatewaki). Saat kamu keluar, anak mereka sudah banyak..." ucapnya, penuh harap Kenzo dapat menekan emosinya.


Tang...tang...


Suara belati terjatuh, dengan ajaib Kenzo melepaskan cekikannya. Pria itu duduk di aspal terbatuk-batuk, menghirup napas dengan serakah. Bersyukur nyawanya masih bisa selamat.


Kenzo menghela napasnya berkali-kali, merogoh sakunya mengambil semua uang cash di dalam sana. "Uang ganti rugi untuk luka gores pada wajahmu. Pergi, atau kamu masih ingin melanjutkan yang tadi..."


Uang dilemparkannya di hadapan sang perampok. Pria itu meraih dengan tangan gemetar, segera berlari dengan cepat, bahkan hampir jatuh akibat ketakutan.


"Aku akan mencari Amel..." ucapnya ingin turun dari mobil.


"Diam!! Pergi ke hotel!! Tunggu Amel di kamarku, aku akan menjemputnya!! Atau kamu ingin si kacamata (Tatewaki) menikahi Amel!!" bentak, Frans.


Kenzo tertunduk, menghela napas kasar,"Punya obat penenang?" tanyanya.


"Nanti aku akan menghubungi psikiater, diam dan tinggal saja di kamarku..." Frans, menutup pintu mobil.


***


Banyak hal yang difikirkannya, air matanya mengalir. Tertinggal seorang diri dalam kamar Frans.


Apa dia akan menyukainya? Apa dia tidak akan kembali...


"Amel Anggraini, aku yang memberinya nama..." gumamnya terisak, menarik sebuah table clothes, semua benda yang ada diatas meja terjatuh. Hancur berantakan...


Raut wajahnya tanpa ekspresi? Hanya karena cemburu? Mungkin orang biasa akan berkata tidak mungkin, namun kondisi psikologis setiap orang berbeda.


Banyak hal yang terjadi dalam hidupnya, termasuk kehilangan orang-orang yang dikasihinya. Dirinya terlalu protektif? Memang, karena satu satunya kunang-kunang kecil yang dimilikinya dapat terbang kemanapun keinginannya.


Kunang-kunang kecil dalam hatinya yang gelap dan sepi.


Amarah hanya membuat masalah. Pakaiannya dibuka olehnya hanya mengenakan boxer, serta jubah mandi memasuki bathtub.


Menghubungi psikiater? Frans melakukannya, seorang wanita tua, psikiater yang hampir pensiun. Membuka pintu kamar hotel yang tidak terkunci, masuk perlahan menuju arah asal suara kucuran air dalam kamar yang hening.


"Permisi..." ucapnya.


"Masuk," suara seorang pemuda terdengar, dari dalam kamar mandi.


Pintu dibuka oleh sang psikiater, Kenzo hanya diam menghela napas berkali-kali, air mata masih terlihat jelas ada di wajahnya.


"Nama saya Matsumi," ucapnya ramah.


"Aku Kenzo, mana obatnya?" tanya Kenzo to the points.


"Begini, lebih tenang jika konseling terlebih dahulu. Boleh aku tau apa yang terjadi padamu?" Matsumi duduk setelah mengambil sebuah kursi dari luar kamar mandi. Mencari posisi yang lebih nyaman untuk bicara. Matanya sedikit melirik luka di tangan pemuda itu.


"Semua orang akan pergi, dia juga..." jawabnya ambigu. Sedangkan sang psikiater hanya diam saat ini mendengarkan.


"Aku tidak memiliki keluarga, satu persatu dari mereka akan datang dan pergi. Begitu juga Amel, tapi apa boleh aku serakah tidak ingin dia meninggalkanku selamanya?" tanyanya dengan air mata mengalir.


"Tenang dulu, Amel yang kamu bicarakan apa dia sudah meninggal?" Matsumi mengenyitkan keningnya.


"Dia masih hidup, tapi lambat laun akan menyukai pria lain. Pergi tidak akan pernah pulang..." jawabnya.


"Jadi dia pergi dengan pria lain," Matsumi memastikan, dijawab dengan anggukan oleh Kenzo.


"Ada beberapa orang yang akan tetap tinggal denganmu apapun yang terjadi. Ada pula orang-orang yang harus pergi. Satu-satunya jalan merelakannya," lanjutnya.


Kenzo tersenyum getir,"Lebih baik aku mati. Saat merelakannya bersama pria lain..."


"Kalau begitu jadilah egois, buat dia mencintaimu dengan cara apapun. Jika tidak mencintaimu, tetap ikat dia bersamamu," saran tidak lazim keluar dari mulut psikiater. Tersenyum dengan wajah keriput eksentriknya pada Kenzo.


"Apapun yang terjadi, jangan mengalah. Mengorbankan kebahagiaan untuk orang lain? Jika mencintainya jangan lakukan, tunjukkan dirimu lebih dapat mencintainya dari pada pria manapun," entah kenapa tidak terdengar seperti psikiater lagi. Nenek penuh semangat itu, tidak tahan melihat Kenzo bagaikan bunga layu.


"Dia tidak mempercayai kata-kataku, berapa kalipun aku mengatakan bahwa aku menyukainya. Aku tau, dan sudah berusaha tapi itu sulit..." ucapnya.


"Tapi kamu harus berusaha, jika tidak ini, jalan lain yang harus diambil..." Matsumi tersenyum pada Kenzo. Pembicaraan yang bagaikan Amel memiliki kekasih dan tidak akan pernah kembali pada pemuda yang terdiam masih tertunduk.


Hingga...


Brak...


Pintu terbuka dengan cepat, seorang gadis cantik terlihat dengan wajah pucatnya,"Ka...kamu mengencani wa... wanita tua?" tanyanya, mencerna, menerka-nerka.


Sang psikiater menipiskan bibir menahan tawanya, melirik ke arah Kenzo,"Dia pacarmu?"


"Memalukan," Kenzo mengenyitkan keningnya, memasukkan kepalanya sejenak ke dalam air. Benar-benar merasa ingin menyembunyikan dirinya dari psikiater di hadapannya.


Malu? Tentu saja, dirinya terlanjur berprilaku bagaikan Romeo yang patah hati. Kelainan mental yang ingin disembuhkannya. Benar-benar penyakit sialan, yang mempermalukannya di depan sang psikiater.


Sementara sang psikiater tersenyum, perasaan emosional dan depresi yang tadinya terlihat, kini menghilang setelah kehadiran gadis di hadapannya.


"Kenzo!! Kenapa menyewa wanita penghibur!!" bentak Amel penuh amarah. Seperti biasa, dia tidak cemburu, hanya....


Bersambung