
Lorong panjang ditelusurinya mengikuti langkah kaki seorang anak yang memegangi kepalanya, mengeluarkan darah segar dari keningnya.
Hingga langkah sang anak terhenti, di hadapan pintu yang setengah terbuka.
"Hari ini anak itu mencuri, aku tidak bisa mendidiknya. Wajah itu, aku tidak bisa melihatnya lagi..." suara seorang pria tua dari dalam ruangan terdengar.
"Tuan, sebaiknya bawalah ke panti asuhan. Berikan beberapa aset padanya, untuk hidupnya setelah keluar dari panti. Jika anda tidak sanggup melihat wajahnya lagi..." orang lainnya menyahut.
"Tapi aku sudah salah menuduh ayahnya. Arman meninggal di penjara karena aku...dia..." kata-kata sang pria tua terhenti.
Kilatan petir menampakan cahaya, menerangi ruangan kamarnya yang gelap. Hanya sekilas, cahaya yang hanya sekilas. Membuat sang pria tua melihat dengan jelas wajah anak itu pucat pasi.
Menatap ke arahnya dengan pandangan kosong, darah mengalir dari dahi sang anak menuju area matanya. Darah yang bercampur dengan air mata menetes. Bagaikan air mata darah yang menetes membasahi pipinya.
"Kenzo..."
Anak itu terpaku diam, matanya terasa pedih terkena aliran darah yang mengalir dari keningnya.
Dava mencoba menyentuh sang anak, meraba keningnya. Namun jemari tangannya menembus kulit putih itu. Hanya sebuah ingatan, seorang anak yang kesepian dengan banyak luka, saat tinggal di rumah Suki.
Alam bawah sadar, yang bagaikan mimpi baginya...
***
Tubuh Dava telah di letakkan Amel dan Scott di atas sofa. Sementara tiga orang lainnya hanya mengamati.
"Aku akan menghubungi ambulance..." Scott merogoh sakunya, hendak mengambil phoncellnya.
"Tunggu! Papa jatuh dari tangga bukan? Mungkin setelah sadar nanti ingatannya kembali seperti di film-film. Jika saat sadar belum kembali juga, kita pukul saja menggunakan tongkat baseball..." gurauan Steven.
"Kamu mau papa mati!?" Febria, memukul bahu sang kakak.
"Ini demi kelangsungan hubungan kita, hanya papa yang tidak setuju. Setelah kita cukup umur aku akan menikahimu. Kita akan punya banyak anak seperti mama dan papa..." ucapnya memegang jemari tangan Febria.
"Aku juga tidak setuju!! Dasar brother complex! Belajar dulu yang benar!" Scott menarik telinga Steven.
"Sakit!!" pekiknya, memegangi tangan Scott yang menjewer telinganya,"Aku cuma bercanda!! Mana mungkin aku ingin papa sekaligus calon mertuaku mati!!"
"Omong-omong diantara kita, hanya kamu yang tidak pernah menceritakan masa lalumu. Dari mana asalmu? Bagaimana bisa papa membawamu kembali?" tanya Scott penasaran, pasalnya hanya Steven yang dibawa Kenzo secara tiba-tiba.
Satu-satunya anak yang terasa ganjil baginya, rambut putihnya, sudah perlahan sedikit hitam tapi tidak sepenuhnya, warna putih masih dominan, alisnya yang semula putih sempurna juga telah berubah warna menjadi hitam, berubah perlahan selama 7 tahun ini. Mata biru, khas orang Eropa masih terlihat.
Hal yang ganjil? Mereka semua sama, berasal dari tempat perdagangan manusia. Terkecuali Steven, Kenzo membawanya ketika pulang dari membeli bahan makanan, setelah tiga hari kepergiannya, ketika melewati daerah konflik bersenjata.
Tidak, Steven tidak mungkin tiba-tiba dibeli Kenzo seperti membeli sayuran atau tepung, mengingat Kenzo yang selalu berhati-hati. Hanya membawa sedikit uang jika melewati daerah konflik bersenjata, alasannya? Tidak ingin dirinya terancam jika membawa uang begitu banyak.
Masih teringat jelas di benaknya, kala Kenzo mengatakan membeli Steven secara tiba-tiba, masih dengan kantong belanja di tangannya. Ayahnya berbohong? Mengapa? Siapa sebenarnya Steven?
Dibeli di salah satu wilayah konflik bersenjata? Mereka sebelumnya berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya di Afrika. Alasannya, untuk mempermudah Kenzo yang belum menikah memiliki ijin adopsi. Mereka tinggal dengan pengasuh, selama Kenzo harus pergi mengurus perusahaannya.
Satu kejanggalan lagi, Steven yang terlihat lugu cendrung sering bergurau, pernah melempar pisau pada seorang warga sipil berkulit hitam yang ingin menjarah rumah mereka. Ketika konflik bersenjata terjadi.
Anak yang paling janggal, menyembunyikan sesuatu...
"Kamu bukan orang Afrika kan? Dari negara mana kamu berasal..." tanyanya tiba-tiba, mendekati Steven.
"Sebenarnya aku... sebenarnya aku..."
Semua orang memasang telinga mereka baik-baik termasuk Amel...
"Dari Jepang, aku adalah Ultraman..." ucapnya tertawa.
Plak...
Scott mengenyitkan keningnya kesal, memukul bahu Steven. Sementara Amel, Febria dan Ferrell, hanya dapat menghela napas kasar. Tidak dapat berkata-kata.
"Aku akan mencincangmu..." gumamnya, kembali menarik telinga Steven.
"Febria!! Tolong suamimu!! Jika telingaku copot, kamu akan memiliki suami yang cacat ...!!" teriak Steven pada Febria.
"Aku tidak akan menikah denganmu..." Febria kembali menghela napas, melepaskan jemari tangan Scott."Biarkan Ultraman menyebalkan ini, sementara. Jika dia berbuat kesalahan lagi. Biar aku tendang..." Febria menghentikan kata-katanya, bersamaan dengan Steven memegangi bagian bawah perutnya.
"Ini alat kita untuk berkembang biak nanti ..." ucap Steven gelagapan.
"Papa bagun!!" teriak Ferrell yang melihat pergerakan mata Dava yang hampir terbuka berteriak.
Mata pemuda itu terbuka perlahan, mulai duduk, bermimpi? Dirinya bermimpi lagi. Sesuatu yang aneh baginya, hingga tangan kecil Febria menggengam jemarinya,"Paman tidak apa-apa?" tanyanya.
"Tidak apa-apa," Dava menggeleng, mengusap pucuk kepala putrinya.
"Apa yang terjadi?" Amel mulai duduk di sampingnya, menyodorkan teh hangat.
"Terimakasih...aku hanya bermimpi, atau berimajinasi, ini seiring terjadi," jawabnya tersenyum.
Mimpi? Sejatinya tidak, alam bawah sadarnya perlahan menggiringnya untuk kembali. Villa, keberadaan Amel, dan anak-anaknya menjadi pemicu.
Steven berusaha tersenyum, menatap ke arah Dava... Kembalilah mengingat semuanya! Hanya papalah harapan untuk melindungi diriku. Jika tidak suatu saat mereka akan datang membawaku, aku tidak ingin berpisah dengan kalian, terutama Febria...
Asal usul Steven? Hanya Kenzo dan Steven sendiri yang mengetahuinya. Anak itu masih teringat kala Kenzo yang pandai menipu membatunya melarikan diri, dari salah satu kediaman tersembunyi ayahnya yang berkebangsaan Eropa dengan sang ibu yang berasal dari salah satu negara di Asia Timur.
Tidak takut akan senjata laras panjang, menerobos kediaman besar tempatnya tinggal. Tujuannya? Kenzo hanya ingin mengetahui tentang salah satu perusahaan pesaingnya dengan menyamar sebagai pengawal.
Namun siapa sangka, Steven yang dikurung orang tua kandungnya karena memiliki kelainan Albinisme memohon untuk ikut pergi dengannya, tidak tahan dianggap tidak normal oleh orang tua dan saudara-saudaranya yang lain. Menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri banyak pembunuhan yang terjadi di keluarga pengusaha yang memiliki jaringan di dunia bawah (mafia).
Hanya berbekal sebuah senjata kecil, Kenzo dengan mudah melewati penjaga, membawa sang anak serta data kejahatan perusahaan pesaing di tangannya. Meninggalkan kediaman besar yang terletak di salah satu negara di Afrika tersebut.
Pintar dan tangguh, itulah sosok Kenzo dimatanya. Sejak saat itu Steven menginginkannya, ingin mengikat ayah angkatnya. Menikahi putrinya? Mungkin dengan begitu hidupnya dapat terlindungi.
Tidak peduli kata-kata 'brother complex' yang sering diucapkan saudara angkatnya. Atau ejekan cinta monyet. Dirinya dan Febria manusia, bukan monyet kan?
Belajar menyukai bagaimanapun putri Kenzo nanti, termasuk Febria. Jemari tangan yang ingin digenggamnya bukan sebagai seorang kakak. Tapi pria dewasa pada wanita dewasa suatu saat nanti.
Steven mengenyitkan keningnya, kemudian tersenyum. Berjalan mendekati mereka,"Mama kapan pertunanganku dengan Febria akan diadakan?" tanyanya.
"Tidak akan..." Amel bersungut-sungut kesal, pada Ultraman aneh berambut putih.
Bersambung