
"Aku sudah kenyang, terimakasih atas makannya," Aika sedikit menunduk, mengikuti kebiasaan kebudayaan negara tempatnya dilahirkan.
"Istirahatlah..." Hiasi tersenyum pada putri kebanggaannya. Menatap Aika yang mulai melangkah menapaki tangga menuju lantai dua.
"Ayah, makanlah yang banyak!! Ayah sudah tua, harus makan banyak sayuran, jangan daging terus..." Aiko tersenyum, meletakkan sayuran dalam mangkuk ayahnya.
Putri yang tulus, polos dan baik hati, berbeda dengan Aika yang tegas. Pintar di bidang bisnis, kedua putri yang diberikan cinta yang sama besarnya oleh Hiasi.
Apakah benar seperti begitu? Aiko tersenyum, makan sedikit demi sedikit menunggu hari ini. Hari dimana dirinya tidak perlu berbagi pesta ulang tahun, berbagi kasih sayang ayahnya. Menjadi anak tunggal, tinggal bersama dengan Hiasi dan Tatewaki yang perlahan akan melupakan Seina.
***
Malam semakin larut, Aika meminum suplemennya tanpa ragu sedikitpun. Perlahan setelah beberapa puluh menit, gejala aneh dirasakannya
Hal yang dilakukannya? Menghubungi seseorang menggunakan panggilan cepat dengan kode satu, pada handphonenya.
"Tolong aku..." lirihnya, kepalanya dan perutnya terasa sakit. Namun, seseorang dari seberang sana, segera mematikan panggilan.
"Ayah..." Aika berteriak, menggunakan sisa tenaganya, sebelum pada akhirnya tidak sadarkan diri. Terjatuh di lantai kamarnya. Gadis cantik yang masih mengenakan setelan piamanya.
Hiasi segera mendatangi kamar putrinya,"Aika!!" tangan pria paruh baya itu mengangkat tubuh putrinya.
Sedangkan Aiko yang baru keluar dari kamarnya terlihat panik,"Ayah kakak kenapa?" tanyanya dengan air mata mengalir tiada henti. Mengikuti langkah ayahnya yang berlari menuruni tangga.
Hiasi tidak menjawab, dirinya benar-benar panik. Apalagi menatap bibir putrinya yang semakin putih saja, dengan keringat dingin memenuhi tubuhnya.
"Arata(nama supir Hiasi)!!" panggilnya.
"Arata, hari ini ijin tidak bekerja," Aiko mendekati ayahnya.
"Kamu yang menyetir," Hiasi memberikan kunci mobil pada Aiko, mulai memasuki mobil di kursi penumpang bagian belakang, memangku putri sulungnya. Namun, setelah Aiko berada di kursi pengemudi, berapa kalipun mobil itu coba dihidupkannya tidak membawakan hasil, mesin mobil mati.
"Sial!! Aika bertahanlah..." pria paruh baya itu turun dari mobil hendak menaiki mobil lain miliknya.
Hingga...
Tin...tin...
Mobil Kenzo memasuki gerbang setelah dibukakan penjaga. Pemuda itu turun dari sebuah mobil dengan wajah tidak berdosa. Diantar seorang driver hotel. Dapat sampai dengan cepat? Tentu saja, Frans yang ditugaskannya menjaga Aika harus tinggal di hotel yang dekat dengan rumah Aika. Hingga dirinya kini, meninggalkan Amel seorang diri dengan rambut setengah kering.
"Aika kenapa!? Kalian perlu tumpangan?" tanyanya dengan raut wajah berubah cemas.
Tanpa aba-aba Hiasi yang menggedong tubuh putrinya langsung masuk ke dalam mobil Kenzo. "Terimakasih..." ucapnya menitikan air matanya, memeluk tubuh lemas putrinya.
"Aku ikut..." Aiko hendak masuk.
Namun, Kenzo tersenyum sembari mendorongnya,"Jaga rumah, jadilah anak yang benar-benar baik," ucapnya sarkas, penuh penekanan, masuk ke dalam mobil yang melaju menuju rumah sakit.
Aiko mengenyitkan keningnya, kembali melangkah ke dalam rumahnya. Menghangatkan beberapa macam makanan menggunakan microwave, duduk seorang diri di kursi meja makan, dengan tenang.
Phoncellnya mulai dimainkan, sembari mengunyah beberapa potong daging sapi, mencari metode yang cocok untuk membuat pria sombong itu berduka. Sombong? Setiap kali bertemu partner bisnis ayahnya (Kenzo), pemuda itu selalu mengancamnya.
Bagaimana jika mayat kekasihnya putih pucat akibat tenggelam. Atau berlumuran darah dengan tubuh indahnya yang remuk, jatuh dari ketinggian. Wajah yang serupa, walaupun tidak mendekati Tatewaki harus segera disingkirkannya, bukan?
***
Pagi menjelang, Aiko merenggangkan otot-ototnya tersenyum di hadapan cermin. Memuja wajahnya yang rupawan. Tidak ada yang lebih baik dari dirinya. Kenapa orang lain harus beruntung? Karena mereka menggunakan cara curang. Seina yang menggoda Tatewaki dengan berpura-pura lemah dan baik hati.
Dan sekarang dua sampah baru telah muncul. Pria yang dengan terang-terangan mengancamnya, serta kekasihnya yang memiliki paras menyerupai Seina. Dua orang yang juga harus menerima hasil perbuatan munafik mereka.
Aiko turun ke lantai satu, disana terlihat ayahnya yang memakan sarapan dengan wajah murung.
"Ayah bagaimana keadaan Aika? Aku ingin menjenguknya," tanyanya, terlihat cemas duduk di hadapan Hiasi.
"Aika mengalami koma, kecil kemungkinannya untuk dapat sadar kembali. Ayah sudah membayar perawat untuk menjaganya. Kamu tenang saja, persiapkan saja dirimu untuk masuk ke perusahaan menggatikan Aika.
Aiko menghela napas kasar, bagaikan enggan atau ragu berucap,"Ayah ingat Kenzo? Dia sepertinya memiliki niatan buruk pada Aika. Aku takut... dia yang mengatur Aika agar mengalami keracunan, waktu dia sampai ke rumah terlalu tepat,"
"Mungkin... mungkin dia memanfaatkan nyawa kakak agar ayah berhutang budi padanya..." Aiko mengepalkan tangannya, meneteskan air matanya. Hanya terlihat bagaikan gadis lugu tidak berdosa.
Hiasi mendekatinya memeluknya erat. Air matanya ikut mengalir,"Ayah akan menyelidiki hal yang sebenarnya terjadi pada kakakmu..."
***
Sementara di tempat lain, Aika mengenyitkan keningnya, menatap ke arah pria yang jauh lebih tua darinya."Dimana Kenzo?" tanyanya.
"Dia sudah pulang, tidak dapat meninggalkan wanita sialan itu terlalu lama..." geram Frans, kembali memasukkan sesendok bubur ke dalam mulut Aika.
"Padahal aku ingin mendekati Kenzo. Bukan perjaka tua sepertimu!!" bentaknya dengan mulut penuh.
"Pisang mentah itu tidak enak, malah pisang yang masak, lebih enak..." kekesalan Frans bertambah, memasukkan pisang, maaf typo memasukkan sesendok besar bubur ke dalam mulut Aika, agar gadis itu berhenti mengomel.
Berbohong? Hiasi memang berbohong pada Aiko. Dirinya memiliki alasan tersendiri.
Beberapa jam sebelumnya, saat Aika dan Hiasi baru saja sampai di rumah sakit...
Hiasi menjambak rambutnya sendiri, menunggu di depan ruangan tunggu unit gawat darurat. Seorang pemuda, menyodorkan kopi hangat untuknya.
"Aku sedang tidak ingin..." ucapnya, tertunduk fikirannya terlalu kacau.
"Anda mengenal Seina?" tanya Kenzo duduk di samping Hiasi.
Hiasi menoleh padanya, menatap ke arah Kenzo,"Wanita yang kamu bawa ke pesta ulang tahun putriku, wajahnya mirip dengan Seina. Apa dia Seina? Tapi aku sendiri yang mengurus proses kremasi nya. Seina sudah meninggal, sahabat dari kedua putriku..."
"Aku tau, Aika sempat bercerita melalui sambungan telfon. Tapi apa tuan tidak curiga pada kematiannya? Jurang tempatnya jatuh tidak begitu dalam. Tapi menyebabkan cidera fatal, sebuah kebetulan? Kita anggap saja sebuah kebetulan..." ucap Kenzo, merogoh saku sweater-nya mengambil minuman kaleng bersoda berwarna merah.
"Apa maksudmu?" tanya Hiasi kembali.
"Kebetulan kabel hairdryer milik Aika mengelupas, kebetulan rem mobilnya rusak, kebetulan ada ular derik di kamarnya, kebetulan juga Aika keracunan, satu lagi... kebetulan juga handphone milik Aiko yang pecah 10 tahun lalu terdapat noda darah kering..." Kenzo tertawa kecil menghina, mulai meminum sodanya.
"Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan..." tangan Hiasi gemetar bayangan Aika yang pernah mengadu padanya tentang kecurigaannya pada Aiko terlintas.
"Anggaplah kamu bukan ayah dari Aika ataupun Aiko, namun seorang polisi yang menyelidiki kasus pembunuhan. Seorang wanita jatuh ke dasar jurang, alibi? Tatewaki menempuh perjalanan jauh menemui sepupu Seina, Aika masih berada di perkemahan, tidak dapat berjalan terlalu jauh saat kedatangan Tatewaki,"
"Satu-satunya orang yang tidak memiliki alibi?" lanjut Kenzo kembali tersenyum.
Hiasi yang tersulut emosi, tidak dapat menerima putrinya yang polos di curigai melakukan pembunuhan, menarik kerah sweater yang dikenakan Kenzo,"Dia memiliki alibi, dia sedang melukis!! Aku tidak peduli siapapun kamu!! Berani menuduh putriku, aku akan membuat hidupmu lebih buruk daripada kematian..." bentaknya.
"Memihak..." cibirnya."Sebuah lukisan dijadikan bukti? Lukisan dapat dibuat dengan waktu yang singkat oleh seorang profesional. Sebuah lukisan dari kertas tipis," tawa Kenzo kembali terdengar, menepis tangan Hiasi yang mencengkram kerah sweater-nya.
"Jika Aika selamat dan kembali pulang maka dia akan mati sia-sia. Saat itu anda sebagai ayahnya akan menyesal di pemakamannya. Membenci pembunuh sebenarnya yang anda lindungi mati-matian..." lanjut Kenzo tersenyum.
Bersambung