
"Si... siapa kamu! Aku peringatkan, aku..." kata-katanya terhenti.
Pemuda itu menatapnya tajam, berjongkok masih memegang stik golf di tangannya,"Pernah dengar nama Kenzo?" tanyanya.
Entah bagaimana caranya, berapa orang yang dibayarnya. Pria itu kini tengah meringkuk, dengan tangan dan kaki terikat, lengan, punggung bahkan perutnya terlihat memar ditelanjangi tanpa sehelai benangpun.
"Ke... Kenzo, aku minta maaf!! Aku tidak pernah menyinggungmu..." tangannya gemetar saat ini, orang keji yang selalu bersembunyi, berpindah dari satu negara ke negara lainnya. Itulah Kenzo, pemilik W&G Company, nama yang diketahuinya, namun rupa yang baru pertama kali ditemuinya.
"Tidak pernah!?" Kenzo menepuk pipi pemuda yang berkulit sawo matang, dengan menggunakan ujung stik golfnya."Aku dengar kamu meludahi wajah pacarku?"
"A...aku tidak pernah..." ucapnya ketakutan.
"Menawarkan mobil dan gaun untuk tidur satu atau dua malam dengannya," pemuda itu, menadahkan tangan, mengembalikan stik golf pada orang sewaannya. Kini pemuda keji itu membawa rotan, berniat menumpahkan emosinya, benar-benar memukul menggunakan tenaganya kali ini.
"Tidak berani...a...aku bahkan tidak mengenal..." kata-katanya terhenti, merasakan rasa perih yang teramat sangat.
Plak...
Suara rotan yang benar-benar kencang membelai punggungnya, bukan luka memar kali ini, kulit itu bahkan terlihat lecet.
Aku tidak pernah menggoda gadis kalangan atas atau dari keluarga berkuasa. Kapan aku pernah merayu pacarnya? Sial sakit... pria berbadan besar itu meringis, bahkan air matanya mengalir menahan rasa sakit yang menjalar.
Kenzo mengguncang tubuh besar itu menggunakan kakinya, "Bau badanmu menjijikkan, tidak dapat dibayangkan aroma liurmu yang mengotori wajahnya..."
Plak...
Tubuh besar itu kembali dipukuli menggunakan rotan. Seluruh tenaganya digunakan, kekesalan yang tidak tertahankan. Mungkin jika Kenzo tidak menukar stik golfnya dengan rotan, orang yang terbaring di lantai itu telah mati akibat pukulan bertubi-tubi.
"Aku benar-benar tidak tau..." tangisannya terdengar, tidak ingat sama sekali. Sosialita kelas tinggi mana yang sempat diludahi bahkan ditawari gaun dan mobil olehnya.
"Mengaku!!" Kenzo kembali, mengayunkan rotannya. Tidak dapat mengontrol emosinya, menatap pria yang dengan mudah ingin mempermainkan wanita menggunakan uang.
Hal yang menimpa Dewi masih diingatannya. Tidak bisa membayangkan jika kejadian serupa terjadi pada Amel.
"Aku tidak tau!!" jeritannya ketakutan, meringis, menangis menahan rasa sakit.
Kenzo menghela napas kasar,"Ambil sarung tangan karet dan pisau bedah, kita amputasi saja, agar tidak bisa bermain di ranjang lagi..."
Pria paruh baya itu membulatkan matanya, melirik ke arah bagian paling sensitif nya. "Aku tidak pernah menghina pacarmu!! Kamu salah orang..." tangisannya menggema satu ruangan. Membengkakan telinga, tidak rela jika dirinya yang memiliki dua istri sah dan satu istri simpanan yang paling pandai memuaskannya, tidak akan pernah dapat bisa diberikan jatah lagi.
"Tidak ingat? Pacarku bahkan sempat menendang..." kata-kata Kenzo terhenti sejenak melirik salah satu bagian tubuh pria itu,"Buah kenarimu..." lanjutnya, mengenyitkan keningnya, melirik ukurannya yang kecil.
Pria itu terdiam sejenak. Teringat perbuatannya, beberapa jam yang lalu, gadis yang lebih cantik dari pada istri simpanannya, peristiwa di butik. Dirinya benar-benar mencari mati meludahi pacar orang kaya gila ini.
"Aku minta maaf, aku tidak tau!! Aku akan mengembalikan gaunnya!! Ini karena istriku, dia yang berebut gaun. Aku tersulut emosi..." ucapnya menyesal, tertunduk sembari menangis sesenggukan. Menggeliat, mendekati kaki Kenzo.
"Kembalikan gaunnya dalam 20 menit... satu lagi, beri pelajaran dan didik Istrimu!! Jika sekali lagi kejadian seperti ini terulang. Aku tidak akan segan-segan..." kata penuh penekanan dari Kenzo terhenti. Bunyi phonecellnya terdengar, dengan cepat pemuda itu merogoh sakunya. Menatap nama pemanggil Amel.
Mimik wajahnya berubah, Kenzo menjauh, mengangkat telpon salah tingkah, bagaikan anak SMU.
"Kenzo, aku sedang memilih pakaian. Mungkin akan pulang terlambat..." ucap seseorang di seberang sana.
"Iya ... sudah makan?" tanyanya duduk di atas kotak kayu menatap ke bawah, tersenyum mengerak-gerakkan salah satu kakinya, salah tingkah, dengan bibir tersenyum-senyum sendiri.
Pria yang masih terikat tanpa busana, terbaring di lantai, mengenyitkan keningnya. Menatap ke arah Kenzo, orang yang dengan keji memukulinya seketika hilang entah kemana, berganti menjadi remaja SMU.
Bahkan orang-orang sewaannya, terdiam dengan wajah tegap, terlihat menipiskan bibir, mati-matian menahan tawanya.
"Aku sudah makan tadi, emmm..." Kenzo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, menghela napas kasar,"Sudah menyukaiku?" tanyanya untuk yang kesekian kalinya.
"A...aku harus mencoba pakaian lain!! Aku tutup..." arah pembicaraan yang dihindari Amel, menutup panggilannya dengan cepat, jantungnya berdegup kencang, namun masih saja bimbang.
Kenzo kembali menghela napas, mengelus wallpaper handphonenya, foto kebersamaan mereka saat berada di Jepang. Melirik ke arah pria bertubuh besar yang terbaring di lantai dan orang-orang profesional yang disewanya.
Orang-orang yang mati-matian menahan tawanya.
"Apa lihat-lihat!! Mau aku potong!?" bentak Kenzo. Seketika raut wajah mereka kembali tegang, ketakutan.
"Lepaskan ikatannya..." perintahnya berjalan mendekat.
"Ini bukan ancaman tapi nasehat. Melapor ke polisi berarti perusahaanmu akan menjadi milikku. Mengulangi perbuatanmu lagi, berarti mati. Satu lagi, menyentuh pacarku bahkan membawanya ke tempat tidur, aku akan mengajakmu ke neraka bersamaku, merebus dan menggoreng mu disana..." ancamnya menendang tulang kering pria di hadapannya.
"Sakit..." pekik sang pria paruh baya.
"Dalam 20 menit gaun itu harus sudah kembali kemari. Satu lagi, aku tidak ingin ada yang merasa lebih sempurna dari istriku. Jadi, perhatikan luka di sekujur tubuhmu!! Berikan luka yang sama pada istrimu. Agar dia sadar diri, sebagai kaum hina..." ucapnya mencengkram pipi sang pria, sembari tersenyum.
"Perusahaanku, kamu tidak akan..." kata-kata sang pria paruh baya terpotong.
"Bisnis adalah bisnis, masalah pribadi adalah masalah pribadi. Selama perusahaanmu bergerak sesuai aturan, memberi kesejahteraan bagi karyawan terbawah. Aku akan hanya diam, menonton..." ucapnya tersenyum, bagaikan iblis, melepaskan pria itu pergi. Mundur kembali duduk dalam ruangan gelap, menunggu kedatangannya dengan gaun yang diinginkan Amel.
***
Tidak diberikan pakaiannya kembali, berbekal uang hanya untuk menaiki bus. Sang pengusaha batubara hanya menggunakan kardus menutupi tubuhnya. Berlari dengan cepat menuju rumahnya, bahkan menahan malu menaiki bus. Menjadi bahan cibiran orang-orang, harapan dalam hatinya? Tidak akan ada yang melaporkan sebagai orang gila pada petugas kepolisian. Atau rumah sakit jiwa, mengingat penampilannya saat ini. Tidak ingin terlambat mengantarkan gaun sialan milik Keyla.
Hal yang terjadi setelahnya? Pertengkaran hebat, usai mengembalikan gaun tersebut pada Kenzo.
Tangan dan kaki Keyla diikat, mengikuti perintah Kenzo sebelumnya. Memberi luka yang sama dengan yang ada di tubuhnya, pada istrinya.
"Sakit..." pekik Keyla.
"Bersabarlah, aku tidak ingin perusahaanku hancur..." kata-kata yang keluar dari mulut sang pengusaha batubara,"Setelah ini aku akan membelikanmu apartemen..." ucapnya, kembali mencambuk.
Hingga di akhir cambukan, tubuh Keyla dilepaskan ikatannya. Digagahinya, melakukan hubungan suami-istri.
Keyla, menghela napas kasar, merelakan tubuhnya. KDRT? Tidak dipedulikannya, setelah bertemu kembali di pesta pertunangan dengan Gilang, dirinya akan kembali bersama Gilang. Menjalani hidupnya bagaikan bangsawan, kembali berfoya-foya, memiliki suami rupawan dari keluarga konglomerat.
Saat itu, bandot tua ini, akan diinjak di bawah kakinya. Merangkak, memohon belas kasih untuk sesuap nasi padanya. Ini hanya sementara, hingga Gilang kembali padanya... Mungkin itulah yang ada dalam fikiran Keyla.
***
Beberapa puluh menit berlalu, Kenzo kembali membawa sebuah paperbag dengan raut wajah jauh lebih baik.
"Apa yang kamu bawa?" Tomy mengenyitkan keningnya.
"Hadiah untuk Amel...." jawabnya.
Bersambung
...Kebahagiaan bagiku, sesuatu yang sederhana. Tidak memerlukan kekayaan, kekuasaan, atau kecantikan......
...Cukup hanya dengan melihat senyumanmu......
Kenzo...