
Pria manapun menginginkan ibu yang baik untuk calon anak-anaknya kelak. Menjadi panutan bagi mereka nantinya, memberikan kasih sayang yang tulus.
Namun pemuda itu tertegun saat ini, dirinya mengikuti perjodohan karena orang tuanya. Belajar menerima kelebihan dan kekurangannya perlahan. Mengingat Marina yang sering dekat dengan teman-temannya. Dekat? Tepatnya terlalu dekat, menutup mata dan telinganya.
Kala teman-temannya menasehati, Marina tidak sebaik yang diduga olehnya. Mempercayai kata-kata orang tuanya dan gadis yang tengah belajar untuk dicintainya. Gadis yang katanya pacaran untuk pertama kalinya, wanita mandiri, pandai memasak, lembut dan pekerja keras. Calon menantu dan ibu yang baik.
Tapi ini apa? Wanita yang belajar dicintainya. Bukan hanya sudah tidak perawan, bahkan memiliki anak di luar nikah, menitipkannya pada orang lain.
"Paman, bibi, sebaiknya kita mempertimbangkan kembali untuk pernikahan. Aku akan bicara terlebih dahulu kepada kedua orang tuaku," ucapnya berusaha tersenyum, mengepalkan tangannya.
"Sayang!! Dia hanya ingin menghancurkan hidupku setelah aku menolongnya!! I... itu bukan anakku..." Marina meninggikan intonasi suaranya, membuat sang anak terbangun, menangis, memeluk tubuh Amel erat.
"I... iya, dia hanya penipu. Kami..." kata-kata Subroto terhenti. Amel tersenyum menatap tajam ke arahnya.
"Kalian tidak ada yang menerima keberadaan Sany? Jika begitu, dia akan ada tetap berada dalam asuhanku. Tapi ingat ini, kalian tidak berhak lagi atas dirinya. Tidak diperkenankan menemuinya lagi, jika berani ikut campur dengan caraku merawatnya. Maka, akan aku membuat, keluarga kalian tinggal di jalanan..." ucapnya mulai bangkit, mengambil seluruh berkas, hendak meninggalkan rumah, mengelus punggung Sany pelan.
"Wanita sialan!! Itu putrimu!! Kenapa membawanya kemari!!" Marina berteriak membentak dengan intonasi tinggi. Tidak ingin kehilangan tunangannya.
"Marina, Gilang sudah mundur sementara waktu dari Bold Company. Sebaiknya fikirkan kariermu yang akan segera berakhir. Plagiat? Aku menemukan salah satu pakaian yang di produksi Bold Company, berada di majalah lama. Milik desainer ternama di Paris..." cibirnya melangkah pergi.
Wajah Marina seketika pucat pasi, tidak ada Gilang yang dapat menolongnya. Plagiat? Dirinya memang sempat meniru salah satu desain majalah lama yang terbit di paris pemberian kenalannya. Berharap tidak akan ada yang tau, tapi Amel dapat mengetahuinya?
Entah kemana Dugong gemuk, baik hati, mudah di tindas, pemilik IPK terendah saat ini.
Sedangkan tetangga yang melintas di depan rumah Marina mulai berbisik-bisik bagaikan dapat menatap kemiripan wajah Sany dengan Marina ketika kecil. Serta bentakan Marina yang menolak kehadiran anak itu sebagai putrinya.
Mulut tajam para tetangga yang mulai mencibir, Amel hanya tersenyum. Keluar dari rumah, menunggu taksi online yang baru dipesannya. Sembari menenangkan putrinya yang menangis.
"Dek, kenapa ada ribut-ribut?" tanya salah seorang tetangga Marina mendekat.
"Teman saya yang tinggal di rumah itu, hamil di luar nikah. Menitipkan anaknya pada saya, tapi saat saya kembalikan ibunya menolak, tidak mengakui anaknya..." Amel menghela napas kasar, sembari tertunduk. Padahal dalam hatinya tersenyum lebar.
"Amel!! Kamu jangan keterlaluan!! Aku bisa menuntutmu atas pencemaran nama baik!!" Subroto berjalan keluar rumah, mencengkram lengan wanita yang tengah menggendong cucunya.
"Coba saja!!" Amel tersenyum menyeringai,"Semua bukti tertulis ada di tanganku, tidak mengakui anaknya? Ibu-ibu disini bisa menjadi saksinya..."
Tetangga Subroto yang berlalu lalang mulai mencibir, berbisik-bisik seolah aib keluarga terhormat itu adalah bahan diskusi yang menyenangkan. Anak perempuan satu-satunya yang terhormat diagungkan dielukan Pipit, setiap bertemu dengan mereka, ternyata memiliki aib besar.
Orang-orang yang kagum, menginginkan calon menantu seperti Marina, menginginkan anak perempuan seperti Marina, mulai mensyukuri putri dan calon menantu mereka sendiri. Tidak cantik, atau tidak memiliki karier yang bagus. Namun, moral yang baik lebih penting, bagaikan mencibir dan menghujat keluarga itu.
Subroto tidak dapat menahan emosinya, tangannya terangkat. Hendak memukul wanita rupawan di hadapannya. Namun tangannya ditahan Amel.
"Anda mencoba memukul saya? Ini bisa termasuk dalam penganiayaan..." Amel masih setia tersenyum, mengurungkan niatnya menyerahkan Sany. Mau jadi apa putrinya jika diasuh oleh keluarga yang hanya mementingkan nama baik.
Pemuda berpakaian PNS, mulai berjalan keluar pagar, meraih motor bebeknya.
"Sayang?" Marina berjalan mengejarnya.
Sang pemuda menyerahkan salah satu helmnya pada Amel,"Naiklah... atau mereka akan menuduh dan menganiayamu lebih banyak lagi. Aku akan mengantarmu..." ucapnya.
Amel tersenyum mengejek, melirik ke arah Marina, meletakkan kopernya di bagian depan motor bebek. Sementara dirinya berada di bagian belakang bersama Sany.
"Amel!! Turun!!" Marina menarik tangan wanita yang sudah duduk di bagian belakang motor.
"Marina!! Hubungan kita sudah berakhir mulai saat ini!!" sang pemuda menepis tangan Marina, yang hendak menarik Amel.
Melajukan motornya, tidak peduli pada wanita yang tengah tertunduk menangis terisak. Menyesali segalanya? Tentu saja, andaikan dirinya membiarkan Kenzo menjadi ayah asuh putrinya ini tidak akan pernah terjadi.
***
"Berhenti..." ucap Amel tersenyum, setelah motor melaju beberapa ratus meter.
"Kenapa berhenti?" sang pemuda mengenyitkan keningnya. Menghentikan laju motornya.
"Aku akan kembali memesan taksi online disini saja. Nanti suamiku bisa cemburu..." Amel menjawab dengan suara kecil, menunjukkan cincin pernikahannya.
"Aku berharap suamiku juga menganggap hal yang sama. Pulang dengan cepat, dari menjalankan tugasnya kali ini. Karena jika tidak, aku akan membelanjakan semua uangnya, hingga dia dinyatakan pailit," Amel berucap penuh senyuman.
Pemuda itu tertawa, menghela napas kasar,"Suamimu sangat beruntung, dia mungkin sedang menaiki kendaraan tercepat. Agar pria lain tidak mendekatimu,"
"Mungkin saja, sudah pulang sana!! Taksi onlineku hampir sampai," ucap Amel, mendekap Sany erat.
"Iya...iya... boleh kita berkenalan?" sang pemuda mengenyitkan keningnya.
"Tidak, terimakasih..."
***
Sang pemuda tetap menunggu hingga taksi online membawa gadis rupawan itu pergi. Menghela napasnya berkali-kali, sembari tersenyum.
Sudah menikah? Sudah punya anak? Namun wanita yang paling menarik baginya. Tidak berpura-pura baik, tidak mudah ditindas, cerdas dan cantik. Ibu yang baik, itulah yang terpenting.
"Untuk pertama kalinya aku menyukai wanita, sayangnya sudah menikah..." pemuda itu tertawa melajukan motornya pergi. Tetap tersenyum membedah jalan perkotaan. Hingga sampai di rumah besar, rumah gubernur kota tersebut. Membatalkan pertunangannya itulah hal pertama yang akan dilakukannya.
***
Beberapa minggu berlalu, Amel menghela napas kasar, mengelus perutnya yang masih rata. Melemparkan bunga Hydragea putih ke lautan, koper hitam besar berada di sampingnya.
"Aku harus pergi bersama Frans. Maaf, tidak dapat mencari keberadaanmu dengan mengandalkan media. Harga saham W&G Company menurun karena berita kematianmu,"
Air mata Amel mengalir, jemari tangannya mengepal. "Karena itu, kami memutuskan untuk menampik semua berita tentangmu. Seolah kamu masih berada bersama kami, hanya menggerakkan kami bagaikan boneka,"
"Karena itu... karena itu cepatlah pulang...Aku mencintaimu..." bibirnya bergetar, seolah sulit melanjutkan kata-katanya.
"Tentang Sany, ibuku merasa kesepian jika dia tidak ada. Jadi Sany akan tetap tinggal disini bersama ibu. Beberapa orang suruhan Frans akan tetap mencari informasi keberadaanmu,"
"Maaf, untuk sementara waktu aku dan ketujuh anak kita akan tinggal di negara lain. Berpindah-pindah, menggantikan peranmu. Menjaga W&G Company yang kamu cintai..."
"Kenzo...aku mohon segeralah pulang..." Amel kembali meneteskan air matanya.
Bunga Hydragea putih tersapu ombak, terombang-ambing di tengah lautan. Mengantarkan kerinduan dan permintaan maaf seorang istri pada suaminya.
***
Angin menerpa rambut seorang pemuda, pemuda yang memiliki bekas luka memanjang di dahinya, menatap wajahnya di cermin. Duduk di ruang rawat inap kelas tiga sebuah rumah sakit, belum dapat pulang akibat luka tembakan di bahu dan kakinya.
Ruangan rawat yang tidak begitu luas berbagi dengan empat orang pasien lainnya. Bersekatkan tirai besar berwarna biru tua.
"Jadi namaku Dava?" tanyanya, tersenyum di hadapan wanita dan pria paruh baya di hadapannya.
"I...iya..." sang wanita paruh baya gugup, berusaha tersenyum.
"Kamu terjatuh dari kapal Ferry wajahmu sempat terluka parah. Kare.. karena itu, fotomu tidak mirip dengan yang kami simpan..." pria paruh baya itu mengepalkan tangannya. Menahan rasa dukanya, menemukan dua pemuda bersama tim SAR, setelah tiga hari pencarian.
Pemuda yang terbujur kaku dengan sebagian tubuhnya telah termakan ikan. Tubuhnya rusak terkena baling-baling kapal Ferry namun masih dapat dikenali sebagai putra kandungnya yang telah tenggelam selama tiga hari di lautan.
Dan seorang pemuda yang baru saja terjatuh di lautan tanpa identitas. Memiliki luka tembakan di bagian bahu dan kakinya. Ditinggalkan oleh kapal expedisi yang melaju dengan cepat.
Pemuda yang tidak memiliki luka benturan apapun di kepalanya. Dokter yang menanganinya, mengatakan pemuda itu tidak mengingat apapun, karena mengunci ingatannya sendiri. Akibat terlalu banyak terutama psikologis yang dialaminya. Bagikan mempertahankan diri dengan menyimpan semua luka hatinya di ruang memori yang berbeda.
Mungkin ini pemberian Tuhan untuk menggantikan putra mereka. Pasangan suami-istri yang hidup tidak berkecukupan di usia renta mereka. Kehilangan putra tunggal yang seharusnya menjaga mereka di usia tuanya.
Wajah pemuda itu tersenyum,"Tidak apa-apa, aku terlihat lebih tampan dari pada di foto. Kalian ayah dan ibuku, kenapa berdiri begitu jauh?" tanyanya.
Pasangan suami istri paruh baya itu mendekat, berusaha menghidupkan sosok putra mereka pada pemuda itu. Walaupun terasa jauh berbeda, pemuda yang jauh lebih hangat.
Tersenyum, tertawa bersama...
Bersambung