My Kenzo

My Kenzo
Tipe



Perlahan bibir itu bergerak menyapu seluruh permukaan bibir wanita di hadapannya. Bukan sebuah ciuman intens penuh nafsu, namun bagaikan mengalirkan rasa kasihnya.


Hingga ciuman itu terlepas, menghirup oksigen dalam diam. Mata Amel yang terpejam, menikmati sentuhan pemuda di hadapannya perlahan terbuka.


"Ciuman pertamaku!!" ucapnya tiba-tiba menangis, tidak sadar diri. Jika dirinya ikut memejamkan mata, menggerakkan bibirnya refleks, tanpa ada niatan mendorong Kenzo.


Kenzo mengenyitkan keningnya, menatap ke arah Amel. "Sudah jangan menangis, cepat atau lambat kamu akan mengetahui, tadi bukan ciuman pertamamu..." ucapnya, mendapat pukulan dari Amel.


***


Suasana hening dalam mobil yang masih berada di parkiran. Kenzo duduk di kursi pengemudi, menutup matanya sejenak.


Amel menghela napas kasar memulai pembicaraan,"Kenapa tiba-tiba memanggilku keluar dari ruang sidang!?" tanyanya ketus.


"Aku butuh energi ..." hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Kenzo, masih menyenderkan punggungnya di kursi pengemudi, sembari memejamkan matanya.


Orang aneh... cibir Amel dalam hati, menahan kesalnya.


"Ada orang yang meninggal, karena aku terlambat membawanya ke rumah sakit. Seorang ibu hamil yang tidak sadarkan diri di pinggir jalan. Dia ..." kata-kata Kenzo terpotong.


Amel melirik jemari tangan Kenzo yang terluka, akibat memukul dinding mungkin karena menyalahkan dirinya sendiri, "Kamu punya obat luka?" tanyanya, membuka beberapa tempat penyimpanan kecil dalam mobil, hingga menemukannya, obat luka namun tanpa kapas.


Jemari tangannya disentuh, diobati perlahan, bahkan sedikit mengotori jemari tangan Amel,"Semua orang akan mati, jangan menyalahkan dan menyakiti dirimu sendiri,"


"Kamu sudah berusaha, itu cukup..." ucapnya tersenyum.


Jemari tangan mereka dikotori oleh obat luka yang digunakan tanpa kapas. Pemuda itu tertegun, Amel tidak jijik padanya, tidak sungkan mengobati lukanya.


Air mata Kenzo kembali mengalir dalam senyumannya,"Bisakah kamu tidak akan pernah mati?"


"Em?" Amel mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Aku membutuhkan pelayan yang tidak pernah membantah sepertimu..." ucap Kenzo cepat.


Aku membutuhkanmu, sebagai tujuanku untuk pulang...


"Kamu punya banyak uang, kenapa tidak beli robot pelayan saja di Jepang? Aku dengar robot disana canggih-canggih tidak akan membantah perintah majikannya," ucapnya tetap tersenyum, menyembunyikan rasa kesalnya.


Kenzo mengenyitkan keningnya,"Aku sudah mengontrakmu selama dua tahun. Jadi jangan menahan diri untuk marah,"


Amel yang biasanya penurut hidup datar, tanpa kemarahan, mulai menatap tajam ke arah Kenzo,"Pria br*ngsek!! Mesum!! Sudah memelukku ditambah mengambil ciuman pertamaku!! Aku tidak bisa terima!! Walaupun jelek, seorang pelayan, aku juga memiliki harga diri!! Dasar b*jingan!!"


Kenzo refleks menutup kedua telinganya menggunakan tangan, suara memekik tiada henti mencaci.


"Jika bukan karena Glen aku tidak akan..." Kenzo membuka telinganya, menangkup pipi Amel.


"Dua tahun ini, jangan ingat, jangan melihat, dan jangan fikirkan pria lain. Hanya boleh aku..." ucapnya penuh kesungguhan.


"Glen kakakku, lagi pula apa hakmu..." kata-kata Amel terhenti bibirnya dikecup singkat.


"Dia tidak memiliki hubungan darah denganmu, selama menjadi pelayanku. Kamu hanya boleh melihat padaku. Jika melihat pada pria lain, itulah hukumannya..." ucapnya tersenyum tanpa ragu.


Jangan melihat pada pria lain, saat aku berusaha membuatmu mencintaiku...


"Ja...jangan menciumku lagi!!" ucap Amel gelagapan, mengalihkan pandangannya.


***


Akhirnya hari itu tiba, Amel menarik kopernya. Berdiri diarea keberangkatan penumpang bersama Kenzo dan Frans.


Sedangkan, Wina yang menggendong Sany, ditemani Nindy disampingnya.


"Aku ingin bicara secara pribadi denganmu..." ucap Nindy menatap tajam menarik tangan Kenzo.


Hingga beberapa belas meter jauhnya dari mereka, barulah Nindy angkat bicara,"Kamu menyukai kakakku?" tanyanya.


"Iya, tentu saja..." Kenzo menjawab dengan tegas penuh senyuman.


"Ka...kamu tidak membantah?" Nindy memastikan pendengarannya, dijawab dengan anggukan oleh Kenzo.


Tidak disangka ada orang super kaya, tampan, sedikit tidak waras untuk jatuh cinta pada gajah gemuk seperti kakak... Tapi ini berkah dari Tuhan... gumamnya dalam hati.


"Begini, aku tidak bermaksud menyinggung, tapi kamu sama sekali bukan tipe kakakku. Untuk mendekati kak Amel, kamu harus merubah penampilan..." ucapnya.


"Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Kenzo mengenyitkan keningnya tidak mengerti. Mengamati dirinya dari atas hingga bawah. Tidak ada yang salah.


"Kacamata tebal, dengan kawat gigi, dan rambut dilumuri pome bagaikan lem yang menempel di kulit kepala," jelasnya.


"Dia menyukai tipe seperti itu!?" Kenzo sedikit melirik ke arah Amel yang tengah mengelus pipi Sany.


"Iya, itu adalah pria yang disukainya kurang lebih selama dua tahun. Tapi pria itu tidak menyukai kak Amel. Jadi aku sarankan, jika kak Kenzo menyukai kakakku, rubah penampilanmu," saran yang diberikan Nindy.


Kenzo mengenyitkan keningnya tersenyum miring...


Aku berharap dalam dua tahun mereka menikah, sehingga aku dapat menempuh pendidikan lebih tinggi. Menjadi desainer muda, mengikuti Milan Fashion Week... Tidak disangka gajah gemuk disukai sultan... Nindy kembali bergumam dalam hati menatap heran pada sosok Kenzo.


***


"Proses adopsi sedang diurus orang kepercayaanku," ucap Frans tersenyum, menatap Wina, Amel dan Sany yang seakan tidak ingin terpisah.


"Bukan hanya Malaysia kan? Setelah ini akan kemana lagi?" Amel mengenyitkan keningnya, sudah bisa sedikit menerka.


"Jadwal tuan tidak tetap..." hanya itu jawaban ambigu yang dilayangkan Frans.


Dengan penuh rasa penasaran Wina mendekat,"Sebenarnya, Kenzo seberapa kaya? Apa dia mempunyai rumah? Berapa mobil?" jiwa matre nya bagaikan meronta-ronta.


"Tuan tidak memiliki rumah," jawabnya jujur.


Karena dia lebih sering tidur di jalanan, mungkin jika tempat tinggal hanya memiliki beberapa hotel dan apartemen di berbagai negara... fikir Frans enggan menjelaskan.


"Mobil?" Wina tidak menyerah.


"Kami biasa menyewa mobil, tidak memiliki mobil pribadi..." Frans kembali menjawab apa adanya.


Mobil? Setiap beberapa bulan kami pindah negara. Biasa memakai mobil dinas W&G Company (perusahaan milik Kenzo), mobil pribadi tidak begitu diperlukan. Lagi pula jika ingin, hanya perlu pesan, pilih model, akan diantar kurang dari 24 jam ... gumamnya kembali dalam hati yang memesan mobil bagaikan memesan seporsi bakso, enggan menjelaskan pada Wina.


"Jadi apa profesinya?" tanya Wina dengan wajah pucat, anaknya pergi dengan pria yang bahkan tidak memiliki rumah?


"Imposter..." Frans menyunggingkan senyuman mengerikan.


"Imposter? Semacam game? Membuat aplikasi?" tanya Wina tidak mengerti.


Semacam mengadu domba dua perusahaan, kemudian mengambil keuntungan setelah hancur. Membeli sahamnya dengan harga murah... Benar-benar Imposter kejam, karena itulah aku memutuskan mengikutinya. Dari pada mengikuti majikan lamaku... Frans masih tersenyum, tidak menjelaskan apapun.


Wina menarik putrinya sedikit berbisik,"Amel, jika dia macam-macam padamu jangan mau. Dia seperti penipu internasional, pria yang tidak memiliki masa depan..." sarannya.


"Sudah aku bilang, aku hanya bantal guling baginya!!" ucap Amel tegas.


"Benar juga ya..." Wina menghela napas lega, menatap penampilan putri sambungnya.


Hingga Kenzo dan Nindy kembali berjalan mendekati mereka.


Amel memeluk adiknya erat, kemudian mengecup kening Sany.


"Ibu, aku berangkat..." ucapnya pada Wina.


Ketiga orang itu mulai berjalan pergi ke area keberangkatan penumpang. Tidak rela rasanya pergi ke tempat asing. Amel melirik pada pria rupawan yang berjalan di sampingnya.


Orang yang harus diikuti semua perintahnya dua tahun ini... Tidak waras... cibirnya dalam hati, sembari tersenyum.


"Kakak!! Pakaian tidur yang lebih ekstrim sudah aku siapkan di kopermu!! Buatlah anak yang banyak..." teriak Nindy dari jauh.


Seketika wajah Amel memerah... Nindy sialan!! Dia memasukkan pakaian maksiat lagi...


"Pakaian apa?" Kenzo menatap layar phonecellnya, pura-pura tidak peduli.


"Pakaian petani..." jawab Amel asal.


Pakaian orang untuk bercocok tanam, Nindy sialan... kesalnya dalam hati.


"Owh..." ucap Kenzo seakan acuh, namun matanya melirik koper yang ditarik Amel. Mati-matian menahan tawanya, berusaha memasang wajah sedingin mungkin.


***


Glen keluar dari penjara, membawa sebuah ransel di punggungnya. Melewati gerbang tempatnya terkurung selama lebih dari sebulan ini. Matanya menatap ke arah langit, sebuah pesawat melintas.


Pemuda itu hanya tersenyum, menyambut kepergian adiknya...


Bersambung