My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Pinguin



Air shower mengalir deras, tidak berendam menjadi pilihannya agar tidak terlalu lama berada dalam kamar mandi. Namun ingin rasanya mengetahui bagaimana kehidupan orang kaya yang mandi dengan air hangat berbusa. Berendam dalam bathtub, namun sekali lagi, tidak bisa.


Dirinya harus segera bangun dari mimpinya, hanya ada bak mandi dan gayung yang menunggu di rumah. Di masa dulu, masa kini, maupun masa depan.


Dengan cepat Glory mengeringkan dirinya, kemudian memakai pakaian yang diberikan Ferrell. Terlihat seperti pakaian wanita yang cukup mahal, apa Ferrell sering membawa wanita ke rumahnya hingga memiliki pakaian wanita? Entahlah, yang penting baju ini terlihat bersih, dan sesuai dengan seleranya.


Pintu perlahan dibukanya, pemuda itu terlihat hanya mengenakan jubah mandi yang tidak menutup tubuhnya secara sempurna, mungkin memutuskan untuk mandi di kamar mandi lain rumahnya. Otot-otot dada dan perutnya sedikit terlihat, terlalu sibuk untuk berolahraga? Memang, namun pola hidup makan-makanan yang sehat, kesibukannya yang juga memerlukan banyak gerak dan tenaga membuatnya memiliki bentuk tubuh proporsional.


Glory segera mengalihkan pandangannya, dari seorang pemuda yang tengah mengirim pesan pada seseorang.


"Sudah selesai?" tanyanya mengalihkan pandangannya pada Glory,"Duduklah! Biar aku keringkan rambutmu!"


Dengan ragu, remaja itu duduk di hadapan meja rias. Meja dengan cermin berbentuk kotak besar di atasnya, warna dasar hitam. Benar-benar bukan dekorasi kamar wanita. Tidak banyak benda yang ada di atasnya, beberapa perawatan kulit khusus pria serta parfum. Hairdryer mulai menyala, pemuda itu perlahan mengeringkan rambut Glory, menyisirnya tidak canggung sedikitpun.


Glory menatap ke arah cermin di hadapannya, wajah itu terlihat jelas. Hatinya berdebar cepat, benar-benar tampan, sesuatu yang tidak terjangkau olehnya, mungkin hanya akan menjadi kenangan masa lalu.


Perasaan yang sama kala menatap Ken, dua pemuda dengan wajah dan status sosial berbeda. Ken sudah menjadi pilihannya, dirinya tidak boleh memikirkan pemuda ini lagi.


Tapi semakin lama menatap cermin, Glory terdiam, pemuda yang benar-benar bagaikan bintang iklan. Tubuh di balik jubah mandi itu sedikit terlihat, Glory menelan ludahnya berkali-kali. Pemuda dengan rambut setengah kering yang tengah membelai rambutnya dengan udara hangat dari hairdryer. Tidak bisa begini terus, jika orang ini mengangkat tubuhnya ke tempat tidur maka otaknya akan kembali kelu untuk menolak pesona berbahaya namun memabukkan itu.


"Bi...biar aku saja!!" Glory gelagapan hendak merebut hairdryer dan sisir.


"Aku saja, ayahku sering melakukan ini pada ibuku untuk mendapatkannya," bisiknya dengan suara berat menggoda.


"Ki...kita sudah sepakat setelah ini tidak akan bertemu lagi!!" ucap remaja itu cepat.


"Terkadang ada hal tidak terduga yang dapat terjadi. Mungkin suatu hari nanti, kamu akan datang kembali ke rumah ini. Berbaring pasrah di tempat tidur, menyerahkan diri padaku, untuk mengandung anak kita ..." Ferrell tersenyum, terlihat tidak tahu malu.


"Tidak mungkin! Aku akan tetap mengejar Ken! Setia padanya jika sudah jadi pacarnya! Lalu menikah suatu hari nanti..." tegasnya.


Itu sama saja, kamu akan menyerahkan diri padaku. Pasrah berbaring di tempat tidur suatu hari nanti... batinnya, tetap tersenyum tidak terlihat kecewa sedikitpun.


"Kamu menyukai warna apa, jika ingin mendekorasi kamar?" tanyanya.


"Putih, aku suka warna putih," jawab Glory tersenyum.


Syukurlah kamar ini tidak akan berubah menjadi pink. Sementara waktu aku akan tetap menjadi Ken, hingga tiba saatnya untuk melamarmu... fikir Ferrell, menarik tubuh Glory, agar menghadap dirinya.


"Kamu cantik," satu kecupan diberikan pada kening Glory. Berjalan meninggalkannya menuju ruang ganti.


Sialnya hati remaja itu berdegup lebih cepat lagi. Dirinya tidak akan bertemu dengan Ferrell lagi setelah ini, tidak dipungkiri hatinya terasa berat.


Tidak ada yang menyadari Damian dan Vanya tengah menguping di depan kamar cucu mereka. Menunggu mendengarkan suara jeritan remaja yang dibawanya, serta suara sensual dari cucunya.


Antara takut, cemas, dan lega. Takut karena yang dibawa Ferrell mungkin remaja dengan usia di bawah 19 tahun, tidak mungkin untuk segera dinikahi jika hamil. Cemas, jika mereka menghentikan cucunya yang baru pertama kali jatuh cinta, Ferrell akan membeli rumah baru memutuskan untuk tinggal terpisah. Lega? Alasannya Ferrell tidak pernah memiliki teman kecuali saudara-saudaranya. Dan kali ini pacar? Ferrell memiliki pacar? Cucu kaku yang mulai menikmati hidupnya sebagai pemuda berusia 21 tahun normal.


"Kenapa tidak kedengaran?" Vanya mengenyitkan keningnya.


"Jangan!! Bagaimana jika Ferrell marah dan pindah rumah!? Lalu membawa anak gadis itu ke sana, kita tidak dapat mengawasi," Vanya menghentikan suaminya.


Pasangan yang kembali menghela napasnya, tidak dapat berbuat apapun. Hanya kembali menguping dan menunggu.


***


Beberapa puluh menit berlalu, Ferrell kembali pergi bersama sang remaja entah kemana. Sementara Damian dan Vanya mengantar kepergian mereka hingga teras.


Beberapa saat pasangan itu tersenyum, sejenak kemudian senyuman di wajah mereka menghilang."Vanya tolong periksa sprei dan selimut di kamar Ferrell ada darah atau cairan putih seperti lendir tidak," ucapnya pada istrinya, memijit pelipisnya sendiri.


"Akan aku periksa," Vanya segera berjalan menuju lantai dua, diikuti seorang pelayan.


Sedangkan di dalam mobil yang melaju dua orang diam-diam saling melirik. Ferrell tersenyum-senyum sendiri, memikirkan apa yang terjadi padanya, dirinya menyukai remaja di bawah umur?


Tapi sentuhan bibir itu benar-benar membuatnya gila. Tidak memiliki pijakan kala merasakannya, nutrisi yang membuatnya memiliki tenaga lebih menjalani hari.


Sedangkan Glory, mengigit bagian bawah bibirnya sendiri. Tetap menentang keras perasaannya pada Ferrell, yang dicintainya adalah Ken. Perasaannya pada Ken benar-benar nyata. Namun perasaannya pada Ferrell....


"Aku bukan seorang playgirl..." gumamnya dengan suara kecil.


"Kamu memang bukan playgirl, hanya pinguin polos yang lucu..." suara tawa Ferrell terdengar nyaring.


"Pinguin?" tanyanya kesal, berusaha tersenyum.


Ferrell mengangguk,"Benar-benar polos, lugu, dan manis,"


Entah ini benar atau tidak, tapi ada penelitian pinguin hewan yang setia pada pasangannya, Monogami (hanya kawin dengan satu pasangan). Menunggu untuk bertemu pasangannya saat musim kawin. Namun, jika pasangannya mati terbunuh oleh anjing laut atau paus orca. Maka pasangan yang menunggunya akan memutuskan untuk tidak kawin sama sekali...


Saat mereka memiliki telur, menjaganya secara bergantian. Jika pasangannya tidak datang, mati saat mencari makan, maka pinguin yang menjaga telur tidak akan meninggalkan telurnya, mati kelaparan untuk menunggu pasangannya yang telah tiada...


Bisakah kita seperti mereka...


"Aku mencintaimu..." lagi-lagi Ferrell mengucapkannya, melepaskan salah satu tangannya dari stir menggenggam jemari tangan Glory.


Gadis yang hanya terdiam, merasakan darahnya yang mengalir lebih cepat dalam setiap organ tubuhnya. Ini benar-benar gila, dirinya memang memiliki jiwa playgirl.


***


Seorang remaja berusia 16 tahun, masih tertidur nyenyak, tepat melewati pukul 00.00 sudah merupakan hari ulang tahunnya.


Lily terdiam sejenak membelai rambutnya,"Kakak menyayangimu, tetaplah hidup..." pintanya, berurai air mata.


Bersambung