My Kenzo

My Kenzo
Bukan Ayahmu



Dentingan suara dua buah gelas berisikan minuman beralkohol terdengar. Menemui klien? Jangan bercanda, George tidak dapat menolak permintaan sekertarisnya. Namun, dapat membantah dengan tegas permintaan anak dan istrinya. Sungguh pria yang benar-benar baik...


"Happy birthday ..." ucapnya membuka sebuah kotak, berisikan kalung berlian yang cantik.


"Terimakasih," Sera tersenyum, menatapnya.


"Biar aku pakaikan," George segera bangkit, memakaikan kalung pada leher sang sekretaris, menyingkap leher jenjangnya. Putih? Tidak, kulit eksotis yang terlihat indah, dengan tubuh yang benar-benar menggoda.


"Aku menyukainya..." Sera meraba rangkaian berlian yang bersinar kontras di atas kulitnya.


George kembali duduk, mengiris daging di hadapannya,"Hari ini kita akan merayakannya dimana? Bagaimana jika hotel, aku sudah pesan kamar yang terbaik..."


"Aku ingin yang berbeda, di rumahmu tidak ada orang kan? Cindy terlalu sibuk di sanatorium..." ucapnya meminum Vodka di hadapannya.


"Tapi jika dia pulang..." kata-kata George terpotong.


"Ini kesalahannya, bukan kesalahanmu. Dia tidak bisa menjaga penampilan, bahkan lebih mementingkan anak dibandingkan suami. Pria mana yang tidak akan berpaling, seharusnya sebagai seorang wanita dia menyerahkan ke dua putranya pada baby sitter dan lebih memperhatikan suaminya..." Sera menyakinkan.


George terdiam sejenak, kemudian tersenyum,"Ini memang kesalahannya, terimakasih, sudah membahagiakanku..."


Entah otak mereka berada dimana, memperhatikan suaminya? Cindy sudah berusaha semampunya. Menunggu dengan setia hingga George pulang, namun pria itu selalu mengatakan lembur, sejatinya menginap di apartemen sang sekretaris. Sarapan, makan malam semua ditinggalkan dingin, tanpa tersentuh oleh sang suami pekerja keras.


Hingga, Cindy yang harus bulak-balik ke sanatorium memutuskan untuk membawakan makan siang untuk suaminya. Setidaknya dia berusaha mengurus George yang jarang pulang dengan baik.


Perlahan Cindy lelah menunggu, seorang suami yang dianggapnya bekerja siang dan malam, hingga tidak sempat pulang untuk keluarganya. Hingga wanita itu memutuskan lebih sering menginap di sanatorium, mengurus anaknya yang berjuang antara hidup dan mati.


***


Makan malam romantis penuh senyuman, berakhir dengan mobil yang melaju menuju kediaman besar milik George. Sesekali berpangut mesra dalam mobil, hingga pada akhirnya mobil terparkir sempurna. Dan benar saja, Cindy tidak pulang, mobilnya berada di sana. Namun, sang security mengatakan Cindy keluar tanpa mengendarai mobil.


Tak...


Suara lampu rumah menyala, "Sayang kamu tidak takut ketahuan?" tanyanya, berbisik dengan nada menggoda.


"Tidak, Cindy kini hanya memiliki 40% saham, jika dia mengadakan rapat pemegang saham untuk memecatku pun tidak bisa. 21% saham sudah beralih atas namaku, hampir semua pemegang saham berpihak padaku..." jawab George menurunkan resleting gaun Sera, hingga gaun indah itu tergeletak di lantai ruang tamu.


"Mengambil 21%, itu hakmu, bahkan pantas mendapatkan lebih. Selama 7 tahun kamu sudah bekerja keras untuk perusahaan,"


"Sedangkan, wanita itu terlalu lama vakum, membuang segalanya. Dasar ibu rumah tangga pemalas, orang tidak becus..." gumam Sera dengan napas tidak teratur, kala mulut nakal George, menjelajahi tubuhnya.


"Em..." George yang telah tidak dapat menahan hasratnya lagi, mulai membimbing tubuh Sera ke dalam kamar utama. Membiarkan pintu sedikit terbuka.


Helai demi helai pakaiannya berserakan di lantai, suara erangan dan decitan tempat tidur terdengar.


Kamar indah yang berhiaskan kelopak bunga mawar 7 tahun yang lalu seolah dilupakan seorang George.


Kala seorang karyawan imigran berhasil mendapatkan rasa cinta sepenuhnya dari anak pemilik perusahaan. Wanita yang dahulu mencintainya dengan tulus, membungkuk untuk mengangkat derajatnya. Benar, George melupakan Cindy sang pemilik kamar yang masih menganggapnya suami yang baik.


Namun, akankah semuanya akan sama? Cindy meminjam mobil dokter di sanatorium. Meminta ijin membawa Agam pulang sehari saja. Hanya untuk membuat anak itu bahagia sebelum Agam kembali menjalani pengobatannya.


Cindy menyetir mobil penuh senyuman, mendengar candaan dan tawa yang keluar dari mulut mereka. Amel saat ini tengah memangku Agler, sedangkan Kenzo memangku Agam.


"Kakak, nyaman seperti beruang..." ucap Agler memeluk Amel yang hanya melepaskan kostum di bagian kepalanya.


"Memang, karena itulah dia menjadi Teddy Bear seorang Kenzo," Kenzo ikut tersenyum, untuk pertama kalinya dirinya merasakan hangatnya sebuah keluarga.


Keluarga yang sejatinya belum pernah dimilikinya.


Apa begini rasanya? Jika tidak dapat memiliki ibu dan ayah. Menjadi seorang ayah juga menyenangkan, tapi Amel... Kenzo mengenyitkan keningnya berpikir.


"Amel, apa kamu tidak berniat menggunakan pakaian petani?" tanyanya.


Amel menghela napas kasar berusaha bersabar, menganggap Kenzo tidak mengetahui arti sebenarnya dari pakaian petani,"Tidak!! Itu pakaian keramat yang hanya digunakan setelah acara pernikahan..."


"Kapan!?" Kenzo mengenyitkan keningnya.


"Kapan apa?" tanyanya kembali tidak mengerti.


Namun, anggapan Amel berbeda, Kenzo tengah menghina dirinya yang tidak diinginkan pria manapun. Bagi orang yang sudah memiliki pasangan ditanyakan kapan menikah mungkin wajar. Namun, bagi para barisan orang-orang kesepian tanpa pasangan? Sebuah pertanyaan canggung yang menusuk.


"Aku akan menikah jika ingin!! Dan aku sedang tidak ingin!!" kesal Amel berucap penuh penekanan, menatap ke arah jendela mobil.


"Aku ingin..." Kenzo menghela napas kasar tersenyum, kembali menatap Agam yang tengah memainkan game di phoncell miliknya.


***


Mobil mulai terhenti, tidak ada yang kurang dari rumah itu, semua fasilitas bermain anak-anak terdapat disana.


Cindy mulai memarkirkan mobilnya, menatap aneh pada mobil suaminya yang telah terparkir disana. Namun, kedua anak itu terlihat antusias, bahkan Agam segera berlari dari pangkuan Kenzo. Setelah pintu mobil terbuka.


"Ayah sudah pulang..." ucapnya dengan nada ceria, mendahului semua orang masuk ke dalam rumah yang tidak terkunci. Diikuti Kenzo berjalan lebih cepat. Sedangkan Agler menunggu Amel dan ibunya yang tengah menurunkan barang-barang mereka.


Namun apa yang dilihatnya, sang anak menitikan air matanya di ambang pintu kamar utama. Kamar ibu dan ayahnya, mungkin karena pengaruh alkohol Sera maupun George yang tengah tertidur tanpa busana, tidak menyadari kedatangan beberapa orang berisik tersebut.


Ayah ...ayah bersama orang lain? Lalu ibu? Ayah bersamanya dan melupakanku, tidak ingin menemuiku yang sakit-sakitan...


Kenzo berjalan cepat mengejarnya, menatap sebuah gaun wanita di ruang tamu. Dengan segera berlari berlutut di hadapan Agam yang diam tertegun tidak bergerak dengan air mata menetes tiada henti, pemuda itu memeluknya erat. "Pejamkan matamu, jangan melihatnya, jika terlalu menyakitkan..."


"Ayah...dia ayahku... apa dia ayahku?" ucapnya menagis, mengikuti perintah Kenzo, memejamkan matanya.


"Bukan, orang itu adalah kekasih wanita yang berada di tempat tidur. Ayahmu orang baik, pasangan dari ibumu..." kata-kata hangat keluar dari mulut sang pangeran berhati kejam.


Jemari tangan kecil itu mulai membalas pelukannya, menangis terisak,"Dia bukan ayahku..." gumamnya, memeluk Kenzo erat.


"Iya, kita kembali ke sanatorium ya?" tanyanya. Sang anak mengangguk, pemuda itu mendekapnya, menggendong dalam pelukannya. Seakan tidak membiarkan Agam memiliki kenangan pahit. Tidak, ingin sang anak seperti dirinya menjadi monster yang terjerat dalam dendam selama bertahun-tahun.


Lebih baik tidak pernah mengakui ayahnya, dari pada menyimpan dendam pada sang ayah. Begitulah mungkin yang ada dalam fikiran Kenzo...


"Ada apa?" tanya Amel yang masih baru sampai di ambang pintu ruang tamu bersama Agler dan Cindy


"Kita kembali ke sanatorium," Kenzo tidak ingin menjelaskan apapun, mendekap Agam yang masih menangis tiada henti.


***


Beberapa obat-obatan disuntikkan dalam infusnya. Kondisi fisik Agam drop secara tiba-tiba.


Cindy yang tidak melihat sendiri, mulai melangkah mendekati Kenzo, pemuda yang duduk seorang diri.


"Apa yang terjadi, kenapa Agam..." kata-katanya terhenti,


Kenzo memberikan sebuah alat perekam dengan isi hasil dari alat penyadap yang dilakukannya tadi siang."Putramu melihat segalanya,"


"Jika kamu bertanya identitasku, dan bagaimana aku mendapatkan rekaman ini. Aku adalah Kenzo, pemilik W&G Company, orang yang akan menguasai perusahaan mu..." ucapnya mulai bangkit, menatap tajam pada Cindy.


"Jangan libatkan Amel dalam masalah keluargamu. Atau kamu akan tau akibatnya..." lanjutnya berjalan beberapa langkah. Meninggalkan Cindy yang menggenggam alat perekam di tangannya.


"Kenzo..." panggil Amel baru datang dari minimarket bersama Agler.


"Agler, paman dan boneka Teddy Bear harus pulang..." ucapnya pada sang anak, Agler hanya mengangguk, sembari tersenyum.


"Ayo pulang, jika tidak mau pulang, besok tidak ada daging hanya makan sayur..." komat-kamit mulut ketus itu kembali menarik Amel. Wanita yang telah membuat masalah baru untuknya.


Mungkin kekacauan yang dicintainya...


Benar-benar Dugong yang merepotkan...


***


Sedangkan Cindy mulai duduk memakai headset, memutar isi rekaman dengan ragu...


Bersambung