Hopeless

Hopeless
Chapter 99



" LUNETTA!!!!" Jordan berteriak kaget dengan lutut yang sudah bertumpu pada dinginnya tanah basah itu. Kakinya lemas, dia mengira Luna dan Darrel langsung mengikuti mereka keluar dari tempat itu karna Jordan sudah mencium bau minyak tanah yang saat mereka masuk masih belum ada.


Jordan bangkit dari posisinya dan berlari menuju pintu masuk, namun tangannya digenggam erat oleh pengawal hingga tubuhnya tak bisa lari dari sana. Jordan mengamuk dan meronta, air matanya sudah jatuh dari pelupuk menuju pipi.


Lunetta, dia tak boleh celaka. Luna pasti sedang ketakutan disana, bagaimana jika gadis itu pingsan karna menelan begitu banyak asap? Tidak, Jordan tak bisa membiarkan semua hal itu terjadi. Jordan merasa dia yang bertanggung jawab untuk keselamatan semua orang yang ada disini, terutama Lunetta.


Lelaki itu bahkan tak peduli dengan panas dan perihnya lengan kiri yang di awal tadi tertembak oleh timah yang meluncur dari senjata api musuh disini. Lengan kiri yang tadi sudah dibungkus kini mulai mengeluarkan darah lagi karna dia banyak bergerak. Sekali lagi, Jordan tak peduli.


" LEPASIN GUE! ADEK GUE ADA DI DALAM SANA, DIA BISA MATI! LEPASIN GUE! BANGST LO SEMUA! MINGGIR LO!" Jordan semakin berteriak dan memelintir tangan serta menendang nendang orang yang mengunci pergerakannya, membuat orang itu meringis kesakitan dan memanggil beberapa orang lain untuk membantunya.


" Bawa tuan muda menjauh dari tempat ini dan kerahkan tim untuk mencari Nona Lunetta dan Tuan muda Atmaja," titah orang itu pada yang lain. Mereka mengangguk patuh dan menyeret Jordan pergi dari sana demi keamanannya.


Jordan adalah pewaris utama dari keluarga Wilkinson, mereka sudah disumpah untuk melindungi Jordan bagaimanapun caranya. Meski mereka bekerja untuk Jordan, bos besar mereka tetaplah Mr. Wilkinson, tentu di saat seperti ini mereka diperbolehkan mengambil keputusan yang bersebrangan dari perintah Jordan.


Jordan dimasukkan ke dalam mobil dan dipagari oleh banyak orang yang mengelilingi mobil itu, membuat lelaki itu berteriak frustasi karna tak dapat membantu Luna. Jordan mulai memejamkan mata dan berdoa, entah sudah berapa lama dia tak berdoa, kali ini dia sungguh berdoa pada Tuhan agar Lunetta dan Darrel dapat ditemukan dengan selamat.


" Tuan muda! Nona Lunetta sudah ditemukan," ujar seseorang yang tiba tiba membuka pintu mobil dan memberikan kabar itu. Hati Jordan bercampur aduk, dia senang karna Luna ditemukan, namun dia juga harus cemas karna belum mengetahui kondisi gadis itu.


Jordan tak banyak bertanya dan langsung keluar dari mobil itu. Mereka langsung mengawal Jordan karna takut masih ada jebakan atau ancaman lain yang disiapkan oleh penculik gila ini.


Jordan berlari saat melihat dua manusia yang terbaring lemah di tanah berumput, mereka mengurungkan niat untuk mengangkat kedua tubuh itu saat melihat Jordan berlari ke arah mereka. Lelaki itu menyeka air matanya dan terduduk di tanah itu, mengangkat kepala Luna dan membaringkannya di kaki Jordan.


" Luna, mana yang sakit?" Tanya Jordan dengan lembut. Luna hanya memejamkan matanya, tak menjawab pertanyaan Jordan. Lelaki itu memeriksa napas Luna yang nyaris hilang, namun nadi yang ada di lehernya masih berdetak meski terasa lemah.


Jordan langsung mengangkat tubuh Luna dan bangun, berlari seketika untuk menyelamatkan Luna. Lelaki itu menengok ke belakang dan minta mereka menggoyong Darrel yang juga tak sadarkan diri, bahkan baju lelaki itu tampak koyak (sobek) dan sedikit hangus.


- Beberapa Saat sebelum terjadi ledakan -


" Selamat tinggal kawan, beristirhatlah dengan tenang," ujar Luna lirih sambil terduduk seketika. Darrel yang mendengar itu pun ikut kaget dan melemas, namun dia harus segera memikirkan cara agar bisa selamat dari tempat itu.


Darrel baru menyadari pintu bagian atas tempat itu terdapat kabel bom yang juga mengunci pintu itu, dan Bom waktu itu akan langsung meledak jika Darrel berhasil membuka pintu yang ada disana. Untung saja Luna segera memberitahunya dan menyadari bahaya besar di depan mereka.


Lelaki itu berjinjit untuk melihat waktu yang tersisa. Hanya satu menit, bagaimana caranya mereka keluar dari dalam sini hanya dalam waktu satu menit sementara tidak ada jendela di tempat ini.


Luna sudah terduduk dan pasrah, tak mungkin mereka bisa keluar dari tempat ini, mereka sudah terkunci dan dipastikan untuk mati. Gadis itu memejamkan mata dan mohon doa agar semua dosanya diampuni dan mereka tak terlalu merasakan sakit lagi.


Sementara Darrel langsung menggunakan insting mencari peluang, Lelaki itu melihat sekitar dan langsung mendapat jalan keluar. Darrel segera mendekati Luna dan mengangkat gadis itu, Luna memandang Darrel sayu seakan sudah hilang harapan, namun Darrel menggeleng dan tersenyum manis.


" Do you trust me?" Tanya Lelaki itu sambil menggiring Luna dari tempat gadis itu terduduk. Luna menatap Darrel dan tersenyum lalu mengangguk. Tak ada pilihan selain percaya pada lelaki itu.


Darrel mengajak Luna untuk masuk ke dalam lemari jati yang ada di sana. Darrel menutup pintu lemari itu rapat rapat dan memeluk Luna erat, melindungi seluruh tubuh mungil Luna dengan tubuhnya. Tersisa beberapa detik sebelum pendeteksi waktu dalam benda itu menunjukkan angka nol.


Mereka sangat ketakutan, mereka memejamkan mata karna tak berani melihat, membayangkan atau merasakan yang sebentar lagi terjadi.


" Lunetta, I Love you, kamu gak akan tahu sebesar apa rasa sayang dari aku buat kamu. I love you," ujar Darrel lirih persis di telinga Luna. Tangan lelaki itu bergetar takut, keringat dingin membasahi seluruh wajah dan badannya, namun dia tetap erat memeluk Luna dan memastikan Luna akan baik baik saja.


~ DUUUAAARRRR


Ledakan pertama terdengar, terasa getaran keras meski mereka tidak tah apa yang terjadi karna pintu almari tertutup rapat. Luna semakin ketakutan, Darrel semakin medekat dan melindungi gadis itu.


~ DUAARRR


~ DUUAAAARRR


~ DUAAAARRRR


Ledakan demi ledakan terdengar, namun cukup jauh dari tempat mereka saat ini. Mereka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menyadari hawa yang ada di sekitar mereka semakin panas, Darrel yang pertama menyadari hal itu.


" Luna, kita harus keluar dari sini sekarang," ujar Darrel yang melihat wajah Luna, gadis itu tak mengatakan apapun, dia memandang Darrel dengan tatapan ragu. Namun Darrel tersenyum hangat di tengah hawa panas ini.


" Percaya sama aku ya, kita bakal keluar dari rumah ini dengan selamat," ujar lelaki itu sambil membuka pelan lemari kayu yang tebal ini. Darrel terkejut karna ternyata satu ruangan ini sudah terbakar, untung dia membuka pintu hingga bisa mengetahui keadaan ini, sehingga dia tidak perlu mengorbankan diri menjadi Darrel bakar.


" Pakai masker kamu," ujar Darrel menendang pintu lemari itu agar tidak tertimpa atau terkena kobaran api.


Darrel berjalan dengan tangan yang merangkul Luna membuka jalan agar mereka aman. Dengan  hati hati Darrel menendang dan menyingkirkan beberapa benda yang membahayakan. Lelaki itu bergegas agar bisa lekas keluar dari tempat ini.


" KAK DARREL!" Seru Luna saat sebuah potongan kayu yang cukup besar jatuh dari arah atas, Darrel dengan siap menarik tubuh Luna dan potongan kayu dengan Api itu menimpa tubuhnya, membuatnya terjatuh dengan Luna yang ada di bawahnya.


" Aiihh, aaahh!" Teriak Darrel merasakan panas pada punggungnya, sepertinya ada sesuatu yang tajam pada kayu itu sampai menyobek baju serta sedikit kulitnya.


Naasnya, masker Darrel terjatuh dan pecah seketika, dia tak sanggup untuk bangun lagi, sementara Luna yang sudah lemas tidak bisa menyingkirkan Darrel dari atasnya. Napas lelaki itu tersendat sendat. Luna langsung melepas maskernya dan memakaikan masker itu ke Darrel.


Dengan keadaan setengah sadar Luna memandang wajah Darrel yang matanya sudah tertutup rapat, kepala lelaki itu terasa basah dan berwarna merah.


Luna memejamkan mata dengan tangan yang mengelus kepala Darrel, setidaknya dia tenang jika hidupnya harus berakhir saat ini. Gadis itu menghela napasnya pelan, sebelum kehilangan kesadarannya gadis itu berkata


" Luna juga sayang sama kak Darrel, Love you too kak," ujar Luna lirih, setelah itu dia tak merasakan apapun lagi.


" Tuan muda, luka tembak tuan muda harus segera diobati sebelum terjadi Infeksi."


Mereka yang ada di depan ruang UGD terus membujuk Jordan untuk mengobati lukanya yang semakin parah karna dia memaksa otot lengannya bekerja saat menggendong Luna.


" Saya mau pastikan Luna baik baik saja, diam atau akan saya buat kalian tidak bisa bicara lagi," ujar Jordan dengan dingin dan menusuk, mereka yang mendengar ancaman Jordan tentu patuh karna Jordan tak pernah main main dengan ancamannya.


Tak lama dua orang berbaju putih dan memakai masker keluar dari ruang UGD itu, mereka melepas masker dan sarung tangan sambil berjalan ke arah Jordan.


" Keadaan pasien saat ini sudah membaik, kami harus memompa paru parunya karna pasien menghirup banyak asap, setelah ini pasien akan dipindahkan ke ruang inap biasa dan diberi tabung oksigen untuk membantu pernapasannya sementara waktu," ujar Dokter itu saat Jordan menatapnya dengan tatapan penasaran.


" Terima kasih banyak dokter," ujar Jordan yang menggangguk dan tersenyum sopan. Tak lama kemudian Luna dikeluarkan dari ruang itu dan dibawa ke ruang inap biasa, barulah Jordan menghampiri dokter untuk mengobati lukanya.


" Gimana keadaan Darrel?" Tanya Jordan pada orang suruhan yang ada di sebelahnya saat dokter mulai mengobati lukanya.


" Keadaan tuan muda Darrel kritis, sebuah balok yang ada pakunya menimpa tubuh tuan muda dan membuat kepalanya mengeluarkan banyak darah, dokter sudah melakukan tranfusi darah, namun keadaan tuan muda masih belum membaik," ujar orang itu menjelaskan berdasarkan informasi dokter yang menangani Darrel.


" Gue bakal bunuh siapapun yang udah rencanain ini, gak peduli siapapun pelakunya, gue bakal bunuh dia pakai tangan gue sendiri," ujar Jordan penuh kebencian dan tangan yang terkepal.


Mereka yang ada di sekitar Jordan memilih diam, tidak mau menjadi sasaran kemarahan Jordan yang meledak ledak, apalagi Luna sampai terluka, bahkan jika mempertaruhkan nyawapun Darrel tak masalah asalkan bisa membunuh orang itu.


Jordan keluar dari ruang IGD dan masuk ke dalam kamar Luna. Pria itu menggenggam tangan Luna yang pucat, wajah putihnya semakin memutih dengan selang oksigen yang menutup hidungnya.


" Maaf abang udah bikin kamu kayak gini, maaf abang gak becus jagain kamu. Kamu harus baik - baik aja biar Abang gak ngerasa bersalah. Abang mohon Lun," ujar Jordan dengan sedih sambil menciumi tangan Luna.


Perlakuan Jordan ternyata membuat Luna tak nyaman, gadis itu membuka matanya perlahan dan menatap Jordan dengan sayu. Gadis itu menyadari dia ada di ruang rumah sakit, artinya dia belum tewas, dia masih bisa melihat indahnya dunia ini.


" Kak Darrel gimana kak?" Tanya Luna saat tersadar sepenuhnya, meski suaranya menjadi tidak jelas karna oksigen yang menutup hidungnya. Jordan menghela napasnya dengan sedih, membuay Luna yakin Darrel tak baik baik saja.


" Darrel kritis," ujar Jordan singkat yang membuat Luna menegakkan kepalanya. Jordan melanjutkan dengan menyampaikan kondisi Darrel menurut orang suruhannya. Luna menitikkan air mata mengetahui kodisi Darrel yang mengenaskan menurutnya.


" Dulu Radith yang celaka karna Luna, sekarang kak Darrel. Kenapa mereka yang ada di sekitar Luna selalu celaka?" Jordan langsung memeluk Luna untuk menenangkan gadis itu. Jordan paham Luna akan menyalahkan dirinya, seperti saat dia menyalahkan diri sendiri karna kematian Shilla.


" Rencana kita udah rapi, tapi orang itu masih bisa menyiapkan semua jebakan itu, bahkan gak ada yang tahu kita mau nyergap Villa itu. Rencana kita gak bocor kemanapun, gimana bisa?" Tanya Jordan dengan frustasi karna rencananya malah membawa malapetaka bagi semua.


Luna menunduk karna masih merasa sedih dengan semua yang terjadi, namun gadis itu langsung menegakkan tubuhnya saat menyadari sesuatu. Luna menatap Jordan dengan wajah yang seperti mengingat sesuatu.


" Abang, Luna cerita tentang penculikan kak Dara dan rencana penyergapan kita ke teman teman Luna kemarin," ujar Luna dengan pandangan mata yang mengawang, gadis itu hanya menceritakan hal ini pada sahabatnya, kecuali jika Darrel atau Jordan menceritakan hal ini ada orang lain lagi.


" Luna, kayaknya salah satu temen kamu itu ada seorang pengkhianat," ujar Jordan memandang Luna dengan sorot mata lurus dan serius, Luna sampai menatap Jordan dengan tatapan kaget. Mana mungkin sahabatnya mengkhianati dirinya seperti ini?


Namun tetap saja itu kemungkinan besarnya karna hanya mereka yang tahu semua ini. Tapi siapa?


Seorang gadis memakai celana panjang berwarna hitam, memakai kaos hitam dan jaket, serta kacamata hitam dan sepatu hitam berjalan memasuki area dimana setiap orang dimasukkan ke dalam 'kandang' raksasa.


Dalam satu 'kandang' itu mungkin terdiri dari lima sampai sepuluh orang, tergantung dari alasan mereka masuk ke tempat ini. Orang itu mengisi data diri dan melakukan penggeledahan sebelum akhirnya diijinkan masuk ke dalam tempat itu.


Salah satu orang yang mengenalnya langsung bangkit dan antusias saat seorang petugas memintanya keluar dan menemui orang berpakaian serba hitam itu.


" Akhirnya Lo datang juga, ini udah lama banget. Lo datang mau bebasin gue dari sini kan?" Tanya gadis itu dengan mata yang berbinar. Orang di depannya tersenyum miring dan melepas kacamata hitamnya perlahan.


" Syifa, Syifa. Lo bahkan udah gagal bunuh Luna dan Lo sendiri yang bodoh sampai masuk ke jebakan mereka. Lo kira gue mau dan sudi lepasin Lo dari sini?" Tanya orang itu sedikit meninggikan nada bicaranya dan menatap Syifa dengan remeh.


" Ta.. tapi Lo ... Lo bilang.." Syifa yang mendengar perkataan gadis itu tentu tergagap dan takut seketika. Dia sudah nekat dan mengorbankan segalanya karna mengira orang yang ada dihadapannya akan menolongnya.


" Gue udah kasih semua ke keluarga Lo. Lo tenang aja, mereka gak akan kelaparan dan gue juga udah bilang Lo aman di suatu tempat. Jadi Lo nikmati aja waktu Lo di tempat ini, Jangan sampai membusuk ya," ujar orang itu dengan santai dan memakai kembali kacamatanya.


" Lo.. Lo janji bakal ngeluarin gue dan jamin apapun itu! Lo nipu gue ya? Anjing Lo! Bebasin gue dari sini!" Seru Syifa menggila, namun orang dihadapannya malah tersenyum miring dan bangkit begitu saja.


" GUE BAKAL KASIH TAHU LUNETTA! DIA BAKAL TAHU SEMUA!! GUE JAMIN DIA BAKAL TAHU!"


Orang yang diancam pun berbalik dan menatap Syifa dengan kacamata hitam yang masih bertengger di hidung dan matanya.


" Selamat Mencoba," ujar orang itu sambil tersenyum manis. Dia keluar dari tempat itu sementara Syifa di kembalikan ke dalam Sel yang berisi anak seusianya.


" It's show time," ujar orang itu pelan dan berjalan menuju parkiran mobil.