Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 49



Luna menggeliatkan tubuhnya ke kiri dan kanan karna dia tak bisa tidur. Gadis itu sudah menyiapkan segala keperluan bahkan undangan juga sudah siap disebar. Hal itu tentu membuat Luna semakin grogi karna beberapa hari lagi dia akan sah menjadi istri Darrel Atmaja, status yang tak pernah dia bayangkan akan disandangnya di usia muda.


Gadis itu kembali memutar tubuhnya ke kiri dan kanan, bahkan dia belum memejamkan matanya sama sekali sampai jam tiga pagi meski dia sudah menyetel berbagai tayangan di ponselnya yang biasanya bisa membuatnya bosan, namun kini dia malah semakin memikirkan kehidupannya setelah beberapa hari ini berlalu. Membuat gadis itu merasa frustasi sendiri.


" Bakal enak gak ya? Bakal betah gak ya? Atau gue malah bakal berantem sama dia kayak di film film istri yang tersaikiti gitu? Astaga, baru mikirin aja udah bikin malu," ujar Luna yang memegang pipinya. Gadis itu mengambil ponselnya untuk menghubungi Darrel meski dia yakin lelaki itu tak akan mengangkat karna saat ini maih pukul lima pagi.


" Halo Luna? Kamu kenapa telpon jam segini? Kamu udah bangun tidur?" tanya Darrel yang membuat Luna kaget, gadis itu tak menyangka Darrel sudah bangun, atau lelaki itu belum tidur sama sekali? Lelaki itu memang tak pernah mau mendengar kata – kata Luna. Awas saja jika mereka sudah menikah, Luna akan memaksa lelaki itu untuk istirahat.


" Kak Darrel belum tidur ya? Kan Luna udah bilang, kak Darrel itu masih belum sehat, kak Darrel gak usah capek – capek gitu loh, nanti malah masuk angin, kasihan anginnya salah alamat," ujar Luna yang mulai mengomel seperti biasanya. Dia tak bisa mendengar Darrel menjawab, apakah lelaki itu tertidur?


" eerggh, siapa yang telpon kak?" Tubuh Luna menegang mendengar suara yang asing dari ponsel Darrel. Gadis itu memastikan jika yang dia telpon benar Darrel. Tangan Luna langsung bergetar dan menatap ponselnya dengan tatapan yang nanar, dia kembali menempelkan ponselnya lagi ke telinga dan menunggu Darrel bicara.


" Eem Lun, aku tutup dulu ya, nanti aku telpon lagi, aku ngantuk banget nih sampai ketiduran dan gak dengar kamu ngomong apa. Kamu tidur juga ya, gak baik loh kalau cewek kurang tidur," ujar Darrel yang hendak menutup telponnya, namun Luna mencegah lelaki itu.


" Kak Darrel lagi dimana ini? Kak Darrel masih kerja kah?" tanya Luna hati – hati, lelaki itu tampak bingung dan hanya berkata 'eem, eeh.' Yang membuat Luna yakin lelaki itu berbohong dan mencari alasan untuk menjawab pertanyaannya. Luna merasa hatinya seperti teremas mengetahui Darrel membohonginya.


" Aku lagi di rumah, nih lagi di kamar, aku baru tidur jam dua belas tadi, makanya masih ngantuk banget. Mungkin karna efek aku lagi libur kalik," ujar Darrel yang terdengar gugup. Ya, bahkan hanya mendengar saja Luna tahu lelaki itu sedang gugup. Jika Darrel tak melakukan apapun yang salah, mengapa lelaki itu bingung? Mengapa lelaki itu gugup? Dan mengapa lelaki itu berbohong.


" Ohh, ya udah kak, jangan capek – capek, seminggu lagi kita nikah loh, heheh," ujar Luna yang langsung mematikan sambungan telponnya. Gadis itu langsung sesenggukan sambil memeluk boneka besar yang biasanya dia jadikan bantal. Gadis itu tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini dari Darrel.


" Gak, Lo gak boleh berpikir negatif, siapa tahu itu suara Dara kan? Iya kan? Itu pasti suara Dara. Kak Darrel gak mungkin bohong sama Lo Lun, dia tuh sayang banget sama Lo. Apa Lo gak ingat waktu dia benar – benar mertahanin Lo padahal Lo jelas – jelas suka sama Radith? Gak mungkin dia khianatin Lo segampang itu," ujar Luna yang menatap boneka kecil yang dia masukkan ke sebuah lemari kaca kecil.


" Popng – pong, kamu pasti sesak ya di dalam elmari kaca ini? Besok aku bikinin ventilasi buat kamu ya biar kamu bisa napas. Atau kamu mau di sini aku kasih AC kecil? Aku bakal pesen ke Daddy buat kamu kalau kamu mau," ujar Luna dengan gemas dan memeluk boneka itu. air mata gadis itu kembali terjatuh.


" Pong – pong, kak Darrel gak mungkin jahat sama aku kan? Kamu tahu kan kak Darrel baik? Dia yang dapetin kamu buat aku, dia sayang kan sama aku? Pong – pong, kamu harus jamin kalau kak Darrel gak mungkin nakal sama aku, kalau engga kamu bakal aku bikin kopong (kosong), aku keluarin semua isi perut kamu," ujar Luna dengan sadis. Gadis itu mengelap air matanya dan memasukkan boneka itu lagi.


" Aku udah janji pong – pong buat percaya sama kak Darrel, buat nurut sama apapun yang dia katakan. Tapi entah kenapa aku ngerasa gak enak Pong, ada apa ya? Aku masih penasaran sama suara yang aku dengar tadi. Kalau kamu tahu, kamu kasih tahu aku lewat mimpi ya," ujar Luna yang menguap dan memejamkan matanya. Gadis itu akhirnya bisa tertidur.


Terima kasih pada air mata yang terus keluar dengan derasnya, air mata itu membuat Luna lelah dan akhirnya tidur dengan sendirinya. Mengira semua yang dia alami malam ini adalah mimpi meski sakitnya terasa nyata, biarlah bintang saja yang tahu tentang apa yang terjadi malam ini.


*


Luna bangun dari tidurnya saat wkatu menunjukkan pukul sebelas siang, gadis itu meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Dia bisa merasakan pipinya basah dan matanya bengkak. Ternyata dia tetap menangis meski dia sudah tertidur. Luna mengelap air mata itu dan menatap kaca dengan bingung.


" Mimpinya terasa kayak nyata banget. Untung aja semua Cuma mimpi dan semua udah berakhir. Munkin ini karna gue terlalu khawatir sama kak Darrel, mungkin gue harus lebih rileks dan biarin semua berjalan sesuai yang semestinya," ujar Luna menarik Rambutnya ke belakang dan mengambil karet untuk menali rambutnya dengan asal.


Gadis itu turun dari kasur menuju kamar mandi dan berkaca di kaca yang ada di kamar mandi. Gadis itu berdecak dan mengambil es batu yang ada di lemari es kecil beserta alat kompresnya. Gadis itu menempelkan es tersebut ke area yang terlihat bengkak sambil berjalan ke arah bath up untuk merendam dirinya di air hangat.


Akhirnya Luna bisa merasa lebih rileks dan badan yang tadinya terasa pegal sudah kembali seperti normal. Gadis itu menyudahi acara berendam dan segera mandi agar tubuhnya tidak mengembang dan berkerut seperti saat dia baru saja selesai berenang. Gadis itu memakai handuk kimono dan keluar dari kamar mandi menuju lemari.


Setelah berganti pakaian, Luna segera keluar dari kamarnya dan langsung terkaget karna di depan kamarnya Darrel sudah berdiri dengan wjaah tertunduk, Luna bahkan sampai kaget dan memundurkan langkahnya, nnamun Darrel tak menyadari jika Luna sudah keluar dari dalam kamar, memang apa yang lelaki itu pikirkan? Apakah sangat berat?


" Aku baru sampai kok, tadi aku mau ngetuk, tapi aku tahu kamu bakal keluar, jadi aku tunggu," ujar Darrel dengan senyum yang dipaksakan. Luna bahkan sampai mengangkat alisnya karna tingkah lelaki itu sangat aneh, siapa yang tak curiga melihat tingkah yang seperti itu?


" Kak Darrel memang ada perlu apa ke sini? Aah, Luna baru ingat, kita kan harusnya nyebar undangan hari ini ke orang yang dekat, maaf kak Luna bangun siang, soalnya Luna gak bisa tidur, bahkan Luna mimpi buruk loh kak," ujar Luna dengan wajah polosnya. Darrel mengangkat alisnya mendengar hal itu.


" Tumben? Memang mimpi apa? Kamu gak berdoa tadi malam?" tanya Darrel yang dijawab gelengan oleh Luna, bukan untuk menjawab masalah berdoa, tapi dia tak mau memberi tahu Darrel mengenai mimpinya, dia tak mau Darrel malah jadi kepikiran dan nanti mereka yang sama – sama merasa tak enak. Lebih baik Luna simpan sendiri, toh semua hanya mimpi.


" Dasar kamu, ya udah, kita makan yuk, aku udah bikin nasi goreng buat sarapan. Eh makan siang," ujar Darrel setelah melihat waktu yang ada di tangannya. Lelaki itu mengajak Luna untuk turun, dia sengaja untuk memasak di lantai bawah dan bukan dapur yang ada di lantai tiga ini, entah untuk apa.


Luna bisa mencium bau harum saat dia mendekati meja makan. Gadis itu langsung menatap dengan nikmat semua hidangan yang ada di sana. Gadis itu langsung tahu jika Darrel berusaha keras untuk membuat semua ini. Luna bahkan sampai terharu, dia tak pernah kepikiran membuat kejutan kecil seperti ini untuk Darrel, tapi lelaki itu sering melakukannya untuk Luna.


" Wah, kak Darrel memang hebat, apa sih yang gak dibisa sama kak Darrel? Luna mau tahu deh, kayaknya gak ada kan? Kak Darrel bisa melakukan semua kan?" tanya Luna sambil memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya menggunakan sendok, gadis itu menatap Darrel yang seperti tak mendengar ucapannya.


" Kak Darrel lagi banyak pikiran ya? Kak Darrel kenapa Cuma diam aja dari tadi? Kak Darrel ke sini gak mungkin Cuma mau masakin Luna kan? Kak Darrel ada sesuatu yang mau diomongin sama Luna kan?" tanya Luna yang membuat Darrel tersadar dari lamunannya, lelaki itu memandang Luna dengan lekat tanpa melakukan apapun.


" Kak Darrel cerita aja, ada masalah apa? Ini bukan Cuma karna hari ini kita mau sebar undangan kan? Atau ada masalah sama gaun, catering, atau gedungnya?" tanya Luna sambil mengambil gelas berisi air putih dan mendekatkannya pada mulutnya. Gadis itu tak melepaskan pandangannya dari Darrel yang kembali menunduk sesaat.


" Aku mau kita batain pernikahan kita," ujar Darrel cepat tanpa memandang ke arah Luna. Lelaki itu bahkan tak menjeda perkataannya. Namun Luna masih bisa mendengar hal itu, Luna bahkan sampai menganga dan tak jadi minum


~pyaaarr


Gelas yang tak berdosa itu harus berakhir sadis. Gelas itu remuk dan terpecah menjadi beberapa bagian, seperti hati Luna saat ini, dia merasa wajahnya panas dan hatinya langsung terasa nyeri. Bahkan tangan gadis itu langsung tremor, membuat Darrel menatap gadis itu dengan khawatir.


" Kak Darrel bercandanya gak lucu banget, ngomong sama Luna sekarang kalau itu bercanda, Luna bakal maafin kak Darrel, kalau Kak Darrel gak ngomong sekarang, Luna bakal marah sama Kak Darrel," ujar gadis itu dengan mata yang berkaca – kaca. Darrel kembali menunduk tanpa mengatakan apapun, tangan lelak itu bahkan sedikit bergetar.


" Maaf, maafin aku, tapi aku gak bercanda, aku serius. Aku mau pernikahan kita batal, aku mau kita akhiri sampai di sini. Maaf," ujar Darrel yang kini memberanikan diri menatap Luna yang masih menatapnya dengan mata yang sudah mengabur karna air mata yang tak bisa terbendung lagi, gadis itu mengedipkan matanya dan air itu langsung menetes ke pipi Luna.


" Gak lucu kak. Luna gak lagi ulang tahun, kita gak lagi Anniv, kak Darrel kenapa prank yang kayak gini? Udah kak, gak usah ada prank prank lagi, ini bukan masalah yang bis adibercandain," ujar Luna dengan suara yang serak. Gadis itu menghapus air matanya dan menatap Darrel yang menggeleng lemah. Membuat Luna makin merasa sesak.


" Apa alasannya kak? Kasih tahu Luna apa alasannya dan Luna akan mengerti. Kenapa tiba – tiba? Kita tinggal nyebar undangan kak, bahkan gedung, cincin, catering, gaun, semua udah siap, kenapa kak? Kenapa?" tanya Luna yang tak sanggup lagi melanjutkan kata – katanya. Gadis itu langsung menunduk dan menangis sejadi – jadinya.


Darrel mengepalkan tangannya dan langsung berdiri dari duduknya. Lelaki itu mengucapkan maaf sekali lagi dan langsung pergi dari hadapan Luna, meninggalkan gadis itu yang terus menangis dan bahkan sampai jatuh ke lantai yang penuh dengan beling. Luna tak peduli dengan sakit di tangannya, dia bahkan berharap semua sakit di hatinya bisa berpindah ke tangan.


Gadis itu memukul – mukulkan tangannya ke dada, membuat baju gadis itu langsung dilumuri Darah dan parahnya, beling yang tadinya hanya menempel malah jadi semakin menempel di tangan Luna. Gadis itu berharap Darrel akan kembali, berlari ke arahnya dan memeluknya.


Ya, Luna berharap lelaki itu hanya bercanda untuk mengetes dirinya seperti sebelumnya, namun lelaki itu tak kembali, lelaki itu membiarkan Luna merasakan sakit di tangannya dan sakit di hatinya. Jika ini mimpi seperti sebelumnya, tolong bangunkan Luna segera, Luna tak mau berada di mimpi yang seperti ini, Luna tidak mau.


" Sakit, sakit banget. Kenapa? Kenapa? Gue salah apa? Luna salah apa kak? Kenapa sakit? Bangun, bangun! Lo pasti lagi mimpi, bangun, hiks hiks, bangun bodoh! Lo gak boleh diam aja kalau mimpi buruk gini! Bangun, hiks, hiks, kak Darrel, kak Darrel," ujar Luna yang terus menangis tersedu – sedu.


" Semua bukan mimpi, sakitnya nyata. Itu artinya tadi malam gue juga gak mimpi, itu artinya kak Darrel.. kak Darrel tadi malem.. Kak Darrel, suara perempuan, hiks hiks hiks, kenapa? Kenapa?" tanya Luna dengan frustasinya.