Hopeless

Hopeless
Chapter 146



" Lun, besok Lo ke sini lagi gak?" tanya Radith sambil memakan anggurnya.


" Iya kalik, kenapa memang?" tanya Luna sambil mengunyah angur yang ada di dalam mulutnya.


" Gue mau minta diantar ke suatu tempat, anterin ya, masih di rumah sakit ini kok, oke? Oke ya? Please," bujuk Radith dengan wajah memelasnya. Luna menghela napas dan mengangguk, menyetujui permintaan Radith.


*


*


*


Sekitar pukul sembilan Luna masuk ke dalam kamar inap Radith yang ternyata lelaki itu telah siap dengan kursi roda di sebelahnya. Entah dari mana dan bagaimana lelaki itu mendapatkan kursi roda ini. Luna masuk dan duduk di kursi roda itu lalu menjalankannya seakan kursi roda itu adalah mainan baru baginya.


" Lo tuh, gue minta orang buat bawain ini biar Lo gampang nemenin gue suatu tempat yang gue bilang, malah Lo mainin, ntar kalau rusak gimana?" tanya Radith dengan galaknya, membuat Luna memandang Radith dengan kesal sambil berdecih.


" Ini juga punya gue kok dith, kasur yang Lo tidurin juga punya gue, kalau ini rusak ya gak masalah lah, kayak orang susah aja sih Lo," ujar Luna yang membuat Radith terdiam karna baru menyadari hal itu. Kan memang semua yang ada di rumah sakit ini juga milik Luna pada akhirnya.


" Ya udah lah terserah Lo, bantuin gue jalan samai ke kursi roda itu, terus temenin gue ke kamar mawar," ujar Raith yang membuat Luna makin kesal sambil berdiri dan bersandar pada lemari kecil yang ada di sana.


" Coba deh dith Lo kalau minta tolong itu gak ngegas, gue yang nolongin kan jadi iklas gitu nolongin Lo, Lo tuh udah tahu butuh bantuan, masih aja gak santai," ujar Luna tak kalah galak dari Radith, lelaki itu langsung memutar bola matanya malas, Luna sudah tahu sifat dan sikapnya, masih saja baper dan kaget seperti itu.


" Yaudah iyaa, Luna, bantuin gue yuk, gue bener – bener urgent ada perlu sama seseorang di kamar mawar, Lo mau kan bantuin gue?" tanya Radith dengan nada lembut yang di buat buat, namun cukup untuk membuat Luna terkekeh dan mengangguk.


" Lo mau apa ke kamar mawar? Blenda di pindahin ke sana kah? Di sana kan tempatnya mereka yang kena kanker," ujar Luna yang baru menyadari tujuan Radith, namun yang dikatakan Luna malah membuat Radith lebih terkejut dan terdiam.


" Lo tahu dari mana kalau kamar mawar itu tempat khusus buat kanker?" tanya Radith yang tak mau terlihat sekali dia tak nyaman dengan Luna yang membahas Blenda. Yang lebih penting, dari mana gadis itu taahu jika Blenda mengidap kanker? Apakah Darrel membocorkan fakta itu ke Luna?


" Gue pernah jenguk orang di sana, dan memang di sana itu tempat khusus kanker, makanya gue heran kenapa Lo mau kesana, apa Blenda di pindahin ke sana?" tanya Luna yang masih tak menyadari perubahan wajah Radith yang sangat kentara.


" Gak usah dibahas, bukan Blenda, gue ada perlu sama orang lain, kalau udah ketemu baru deh gue ceritain, jadi Lo gak usah banyak tanya lagi dan ayo anterin gue sebelum semua tambah runyam dan tambah lama, gue gak mau didatengin sama dia terus," ujar Radith yang melirik pintu dimana Elena sudah hadir lagi dengan wajah ceria dan penuh senyum.


" Dia? Dia siapa dith? Emang kemarin ada yang ke sini ya?" tanya Luna lagi yang membuat Radith menatapnya dalam diam. Luna langsung menyengir saat paham arti tatapan wajah Radith, gadis itu mengangguk dan laangsung saja membantu Radith untuk berdiri. Radith berjalan pincang dibantu oleh Luna dan duduk di kursi roda itu dengaan nyaman.


" Gue ikut ya, tapi gue mau nembus lantai aja biar langsung sampai, bye Radith, thanks before," ujar Elena saat Radith sampai di pintu dan membukanya agar Luna bisa mendorong kursi rodanya dengan mudah. Radith mengangguk dan Elena lenyap seketika.


" Mimpi apa gue jadi kayak gini, etdah, gak bisa gitu gue dapat hidup normal?"


" Hah? Apa dith? Lo kalau ngomong tuh keras dikit, gue nya jadi kayak orang budeg gini," ujar Luna dengan kesal.


" Gue gak ngomong sama Lo, gue ngomong sendiri, gak usah baper gitu," ujar Radith yang membuat Luna membulatkan mulutnya.


Kedua orang itu menuju lift dan sampai di lantai 5 dimana ruang mawar berada. Mereka harus memakai masker, jubah biru dan penutup kepala yang merupakan prosedur kebersihan dan kesetahan ynag diwajibkan oleh pihak rumah sakit. Luna kembali mendorong kursi Roda Radith sementara lelaki itu mencari kamar inap nomor 23.


" Ini Lun kamarnya, Lo coba nengok dh, di dalam ada orang gak?" tanya Radith yang memang tak bisa melihat ke arah jendela yang ada di pintu karna kondisinya.


" oke wait," ujar Luna yang langsung meenuturi permintaan Radith. Gadis itu menengok nengok memastikan apakah ada orang di dalam sana selain seorang pasien yang terlelap dengan segala macam alat yang menempel di tubuhnya, membuat Luna sedikit ngeri melihat hal itu.


" Kalian cari siapa?" tanya seseorang dari arah belakang yang membuat Luna dan Radith menengok kaget dan mengelus dada mereka bersamaan, seakan baru saja kepergok mencuri, padahal Radith hanya ingin mencari orang tua Elena dan meminta orang tua gadis itu melepaskan Elena.


" Maaf tante, kami mencari orang tua Elena, gadis yang ada di dalam sana Elena kan tante? Saya teman Elena tante," tanya Radith yang membuat seorang ibu di depannya terkejut, namun ibu itu mengangguk sebagai jawaban, membukakan pintu kamar itu dan mempersilakan mereka berdua untuk masuk.


" Kamu teman Elena kan? Teman apa?" tanya orang itu yang membuat Radith berpikir keras, dia bahkan tak tahu apapun tentang Elena. Radith menengok ke pojok kamar dan mendapati Elena sedang memberikan isyarat di ujung sana.


" Saya teman satu band Elena tante," ujar Radith setelah memahami tanda yang diberikan oleh Elena. Arwah gadis itu mengangguk puas dan menunjukkan jempolnya, sementara ibu Elena mengangguk paham dan melihat ke arah anaknya yang terbaring lemas.


" Terimakasih ya sudah datang, Elena, lihat nak, ada teman kamu disini, kamu buka mata kamu nak, setelah itu kamu jalani pengobatan biar sembh terus bisa main band lagi sama teman – teman kamu, ayo nak, mama percaya kamu bisa dengan mama, kamu bangun ya nak," ujar Ibu Elena yang membuat Luna merasa kasihan dan mulai berkaca – kaca. Bagaimana sanggup dia melihat seoang ibu yang sampai sehancur ini melihat kondisi anaknya?


" Tapi tante, Elena kelihatan sedih sekali, makanya saya datang kesini untuk menyampaikan pesan Elena ke tante," ujar Radith yang memberi isyarat pada Luna untuk meninggalkan mereka berdua. Luna paham dan mengangguk.


" Tante, Luna ijin keluar dulu ya tante," ujar gadis itu yang melangkah menjauh dan keluar dari ruangan, menyisakan Radith yang menyiapkan mentalnya untuk mengatakan hal yang sejujurnya pada ibu Elena dan berusaha membuat ibu itu menerima kenyataan.


" Elena datang ke kamu? Kenapa dia gak datang ke tante, tante sudah rindu sekali ke dia, kalau dia datang algi ke kamau, tolong bilang ke dia buat segera pulang ya, masuk lagi ke badannya, udah cukup jalan – jalannya, tante dan semua keluarganya sudah rindu sama dia, kamu mau kan menyampaikan pesan tante ini?"


" Tante bisa sampaikan sendiri ke Elena kok, saat ini juga Elena ada di dekat kita. Tapi bukan itu yang Elena mau tante," ujar Radith dengan lembut karna tak mau membuat Ibu Elena jadi terllau terkejut.


" Maksud kamu apa?" tanya Ibu itu sambil mengusap matanya yang berair. Radith cukup ragu apakah dia harus menyampaikan hal ini pada ibu itu atau tidak. Amun Elena meyakinkannya hingga dia mengambil napas panjang dan melanjutkan kalimatnya.


" Elena mau tante lepasin Elena, gadis itu sudah gak kesatikan lagi tante, Elena sebentar lagi bisa masuk ke surga, gadis itu tertahan di suatu tempat karna alat penunjang hidup ini, dia gak bisa lepasin segala kesakitannya selama ini tante, Elena mau tante iklas dan lepasin dia," ujar Radith yang membuat ibu itu menatap Radith sambil menggelengkan kepalanya.


" Gak, gak mungkin Elena berkata seperti itu, pasti yang kamu temui itu Elena yang lain, anak tante itu kuat dan gak gampang menyerah, dia bakal bangun lagi suatu saat nanti, kalau tante lepas dia, bisa aja dia malah marah sama tante karna tante lepas dia dengan mudah." Kini Radith yang menggeleng karna pernyataan Ibu Elena.


" Elena merasa sudah cukup untuk berjuang di dunia ini tante, Elena ingin istirahat dan 'pulang'. Namun jalannya terasa gelap karna tante belum iklasin dia. Elena yang datang ke saya dan minta saya untuk menyampaikan hal ini pada tante. Elena yang mau tante lepasin Elena dan tak membiarkan Elena sakit lebih lama lagi."


" saya tahu tante sangat menyayangi Elena, namun tante tak bisa terus menahan Elena dengan serangkaian alat bantu ini, semua alat ini membuat Elena sesak dan tak bisa melepaskan hidupnya. Saya mewakili Elena memohon pada tante untuk meniklaskan Elena pergi ke tempat yang lebih baik lagi," ujar Radith yang membuat Ibu itu makin menangis dan tiba – tiba saja menatap Radith dengan tatapan tak suka.


" Kmau tahu apa tentang anak saya? Saya Ibunya! Kamu lebih baik pergi dari sini dan tak usah kembali lagi jika hanya ingin membunuh Elena, silakan kamu pergi sekarang," ujar ibu itu dengan tegas. Radith menatap ke arah Elena yang kini menunduk sedih melihat Ibunya yang sebegitu terlukanya.


" kalau gitu saya permisi tante," ujar Radith yang masih menatap Elena. Gadis itu mengangguk dan mengijinkan lelak iitu pergi, toh Radith sudah menepati perkataannya untuk membantu Elena, meski hati ibunya masih belum bisa menerima kenyataan dan masih belum bisa mengiklaskannya.


" Ayo Lun, kita balik ke kamar," ujar Radith dengan lesu saat sudah sampai di luar ruangan. Luna mengangguk dan tak menanyai Radith apapun, dia yakin Radith akan menceritakan semua padanya karna lelaki itu sudah berjanji tadi. Mereka sampai ke ruangan Radith dan Luna membantu Radith untuk kembali ke kasurnya.


" semalam ada arwah cewek yang datang ke gue. Dia minta tolong ke gue buat bujukin ibunya biar lepasin dia karna sebenernya dia udah meninggal kalau gak pakai alat bantu itu, dia bahkan gak akan pernah balik lagi ke tubuhnya dan udah waktunya dia pulang ke alamnya yang sekarang, makanya gue minta bantuan Lo buat ketemu ibunya, tapi gue gagal."


" Wait, Lo bisa ngelihat arwah? Sejak kapan?" tanya Luna dengan tatapan bertanya.


" Sejak kecelakaan kemarin sih sebenernya. Gue juga kaget kenapa gue tiba – tiba bisa ngelihat arwah arwah gitu, tapi kayaknya bukan kebetulan Elena yang gue lihat, mungkin Tuhan emang kirim gue buat bantu dia lepas dari dunia ini," ujar Radith mengedikkan bahunya.


" Terus, Elena ada di sini gak?" tanya Luna melihat sekitarnya dengan penasaran dan rasa merinding karna ketakutannya sendiri. Radith menengok sekitar dan menggeleng, namun sesaat kemudian Radith menunjuk ke arah pintu dimana Elena baru saja masuk tanpa membuka pintu. Luna menengok ke arah yang ditunjuk Radith dan tak melihat apapun di sana.


" Kemarin dia juga disini, dan Lo ngerasa dingin tiba tiba kan? Itu karna dia lewat nembus Lo, makanya rasanya dingin, Lo tenang aja, dia baik kok," ujar Radith tersenyum pada Elena yang juga tersenyum padanya. Luna mengangguk dan berusaha menghilangkan rasa takutnya pada sosok Elena yang memang tak bisa dia lihat.


" Hai Elena, kenalin, nama gue Lunetta, Lo bisa adengar gue kan? Maaf ya karna gue gak seistimewa itu yanag bisa lihat Lo, maaf juga karna Radith gagal bujukin Ibu Lo," ujar Luna yang membuat Elena terkekeh, pantas saja Radith menyukai Luna ( bagi Elena) gadis itu polos dan tulus, Elena bisa merasakan hal itu.


" Kata Elena gakpapa, bukan salah gue sama Lo juga, dia juga gak berharap ibunya mau gitu aja, memang mungkin belum waktunya dia pergi dari dunia ini," ujar Radith yang menyampaikan apa yang Elena katakan.


" Eeemm, sebenernya gue punya usul, mungkin Lo bisa pakai usul gue ini, kenapa gak Lo sendiri yang minta ke nyokap Lo buat lepasin Lo? Dengan Lo bilang Lo bahagia, Lo baik – baik aja sekarang dan Lo ingin pergi dari dunia ini dengan tetang. Gue rasa Ibu Lo pasti bakal turutin apa mau Lo. Beliau nolak pasti karna ngira Lo yang mau bertahan sampai ke titik ini."


Radith langsung menatap Elena yang masih menatap Luna. Mengapa dia tidak kepikiran akan hal ini? Tapi dengan menemui ibunya, apakah dia sanggup untuk mengutarakan semua? Apakah dia sanggup melihat wajah Ibunya menjadi sedih dan terluka karna kehilangan dirinya? Tapi, semua memang sudah jalannya, sudah saatnya dia pergi dari dunia ini.


" Makasih ya Lunetta, gue bakal coba saran Lo, makasih karna Lo udah kepikiran cara yang bahkan gue sendiri gak kepikiran. Gue bakal coa saran itu. Pantas aja Radith jatuh cinta sama Lo, Lo baik banget sih," ujar Elena dengan tulus.


" Elena bilang, makasih karna Lo udah kasih saran itu, dia bakal coba," ujar Radith yang menyampaikan perkataan Elena meski tak lengkap. Elena terkekeh dan menjulurkan lidahnya pada Radith, lalu pergi dari sana setelah berpamitan dan mengucapkan terimakasih pada Radith.


" Elena udah pergi dith?" tanya Luna saat Radith tak mengatakan apapun lagi.


" Yep," jawab Radith singkat.


" Semoga aja Ibu Elena lekas membaik setelah Elena datang dan minta hal itu, semoga aja beliau iklasin Elena."


" Yah, Semoga aja."