Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 3



" Jadi gini rasanya ditinggal sama banyak orang? Apa dulu mama juga ngerasa gini waktu nikah sama papa? Apa kayak gini rasanya tinggal di lingkungan CEO? Menyedihkan banget. Gue punya segalanya, tapi gue gak bisa bahagia yang seutuhnya." Luna menidurkan dirinya di sofa dan menatap langit – langit rumahnya yang dipenuhi oleh hiasan lampu kristal.


" Kenapa sedih terus sih? Maaf ya aku baru sempat pulang ke Indonesia, aku kangen banget sama kamu." Luna langsung terkejut dan menatap ke sumber suara. Lelaki yang terlihat sangat matang, dengan jas yang membuat ketampanannya terasa maksimal, Luna langsung bangkit dari duduknya dan menyerbu lelaki itu dengan pelukan hangat. Lelaki itu tertawa renyah melihat sikap Luna yang tak kunjung dewasa.


" Kak Darrel pulang? Udah selesai memang? Ayo kita nginap di Villa atau manapun kak, ayo, ayo." Luna dengan heboh. Darrel tertawa dan mengelus kepala Luna dengan gemas. Gadisnya memang masih seperti anak SMA yang polos dan lucu, membuatnya meradang rindu saat tak bisa bertemu.


" Kita gak bisa nginap, aku Cuma sebentar di Indonesia, nanti malam aku harus terbang lagi, aku kangen banget sama kamu, makanya aku sempatin pulang ke rumah," ujar Darrel dengan lembut, meminta pengertian Luna, membuat gadis itu kembali suram karna Darrel tidak bisa lama berada di Indonesia.


" Hei, hei, hei wajah macam apa yang aku lihat ini? Jangan sedih dong, Cuma satu bulan, habis itu aku bakal lama di Indonesia, kita bakal lakuin apapun yang pingin kamu lakuin. Okay?" tanya Darrel yang tak dijawb oleh Luna, gadis itu masih diam, membuat Darrel menurunkan senyumnya dan menatap Luna dengan sedih.


" Maaf karna aku gak pernah ada waktu untuk kamu. Papa aku sakit dan aku harus handle semua hal yang sebelumnya gak pernah aku handle. Tapi kalau kamu merasa keberatan, aku bakal lepas semua, karna kamu selalu jadi prioritas aku," ujar Darrel yang membuat Luna menarik napasnya dengan panjang dalam satu tarikan.


" Jangan begitu, kak Darrel melakukan semua buat kebahagiaan Luna juga kan? Luna bakal berusaha ngerti," ujar Luna dengan tenang, gadis itu mencoba untuk tak menjadi egois, namun Darrel bisa merasakan kalau Luna memang sungguh merasa kesepian. Dulu kala mereka masih remaja, Darrel akan selalu menyempatkan waktu untuk bertemu dengan Luna.


Kini banyak hal yang harus dia urus, dia haruss menjalankan perusahannya, perusahaan papanya dan bahkan dia dipercaya untuk menjalankan anak perusahaan dari keluarga Wilkinson. Tanggung jawab yang sangat besar, bahkan jika bisa, dia ingin melepaskan semua dan lari ke pulau tak terdefinisi, menikmati sisa waktunya bersama Luna, hanya mereka berdua.


" Kak Darrel capek banget ya? Kantong matanya kelihatan jelas, kenapa Kak Darrel bekerja seperti robot?" tanya Luna yang prihatin melihat Darrel, bahkan ada beberapa kerutan halus di samping mata dan dahinya, menandakan lelaki itu terlalu bekerja keras dan tak memiliki waktu untuk beristirahat.


" Iya, rasanya capek banget, rasanya aku pingin menyerah aja, tapi aku sadar, aku harus ngumpulin banyak uang, aku harus cari dokter terbaik di dunia biar penyakit kamu bisa sembuh dan kamu gak harus minum obat itu lagi," ujar Darrel dengan tulus, Luna langsung menunduk dan tak menjawab apapun. Darrel yang tahu hal itu langsung mendekat dan memeluk Luna dengan hangat.


" Kamu jangan pernah nyalahin diri kamu sendiri atau karna kamu aku harus melalui semua ini. Ini murni karna keinginan aku Lun, aku mau kamu sembuh, aku mau kita bahagia nantinya. Kamu bantu aku ya? Bantu aku wujudin mimpi aku dan bahagia," ujar Darrel tepat di telinga Luna.


Gadis itu mendongakkan kepalanya dan menatap Darrel dengan wajah ynag dipenuhi air mata. Darrel mengusap air mata itu dan merangkul Luna ke arah kamar Luna. Eitts, adegan yang mungkin kalian tunggu belum bisa ditayangkan di bagian ini karna Darrel hanya menunggui Luna yang berganti baju.


" Kamu mau kita kemana? Aku bakal sam akamu sampai nanti malam, terus akhir minggu aku usahakan datang, tapi kamu jangan nungguin aku, aku gak mau kamu terPHP sama aku, biar kayak hari ini, aku tiba – tiba datang ketemu kamu," ujar Darrel saat Luna sudah keluar dari kamar dan bersiap pergi.


" Udah lama aku ga ketemu sama Bunda, kita main ke panti aja yuk, mau kan?" tanya Luna yang diangguki oleh Darrel. Mereka segera pergi dari rumah Luna menuju panti asuhan, mereka mampir untuk membeli beberapa oleh – oleh untuk anak – anak yang ada di sana.


*


*


" Lunetta, sudah lama sekali kamu tidak kemari, Bunda kira kamu sudah lupa sama Bunda." Sambutan hangat langsung Luna terima saat dia sampai di rumah itu dan menyalimi bunda yang kini tampak semakin rapuh dan tua. Luna bertemu dengan anak – anak yang ada di sana da bermain dengan mereka.


" Kalian itu sangat sayang terhadap anak – anak yang ada di sini. Saya yakin kalian bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak – anak kalian. Tapi, kapan kalian akan memiliki anak kalian sendiri?" tanya Bunda pada Luna dan Darrel dengan pandangan yang menggoda mereka.


" Bunda apa deh, Luna kan masih kecil bunda, masak udah mikir nikah – nikah aja" ujar Luna dengan malu dan menatap Darrel untuk mencari perlindungan, namun Darrel hanya tersenyum dan paham jika bund ahanya menggoda mereka. Walau sebenarnya Darrel juga berharap bisa segera memiliki anaknya sendiri bersama Luna. Namun saat ini bukanlah waktu yang tepat.


" Kok masih kecil sih? Kamu udah dua puluh dua kan? Kamu kan satu tahun atau dua tahun lebih tua dari Karel. Umur segitu itu udah cukup umur untuk punya anak, kenapa kalian menundanya?" tanya Bunda yang membuat Luna tertawa hambar, gadis itu bingung harus menjawab bagaimana, dia takut salah bicara.


" Luna umur dua puluh dua, tapi kan Darrel masih dua puluh tiga bunda. Darrel juga lagi menabung buat biaya pernikahan kami. Agar setelah menikah Kami gak perlu bergantung pada harta keluarga Luna. Darrel mau bertanggung jawab penuh untuk Luna, pernikahan kan bukan hal sepele bunda," ujar Darrel membantu Luna karna gadis itu tampak kebingungan.


" Ah, kamu kan sudah mapan, bund ayakin kamu bisa jadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga kalian. Yah, semoga kalian segera siap ya, menunda ibadah itu gak baik loh." Luna dan Darrel terkekeh dan mengangguk saja, mereka harus terbiasa dengan pertanyaan seperti itu mulai dari sekarang.


Ah ya, kalian belum tahu jika bang Jordan pun sekarang sudah menikah dengan kekasihnya, Keysha. Mereka menikah dua tahun lalu, namun sampai saat ini mereka belum dikaruniai seorang anak pun. Mungkin karna bang Jordan dan Kak Keysha terlalu sibuk dengan urusan mereka, sehingga tak memiliki waktu untuk memproduksi anak. Ahahhaa.


" Huh, bahkan bang Jordan menikah saat usianya tiga puluh tahun, mengapa Luna baru dua puluh dua sudah ditanyai pertanyaan semacam ini?" tanya Luna pada Darrel saat bunda masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan makanan. Darrel sampai tertawa dan mengusap kepala Luna dengan gemas.


" Kak, kak Darrel ingat gak masih hutang janji sama Luna? Kak Darrel harus mengabulkan permintaan Luna," ujar Luna yang sudah melupakan hal itu,Darrel menganggukan kepalanya santai sambil merangkulkan tangannya ke pundak Luna. Luna merasa nyaman dan menyenderkan kepalanya ke bahu lelaki itu, seolah tak ada orang lain lagi di dunia ini.


" Kamu mau minta apa? Kamu boleh minta apapun, lebih dari sepuluh, dua puluh, seratus sekalipun, aku bakal turutin semuanya. Kamu mau minta apa?" tanya Darrel yang membuat Luna meletakkan jarinya di dagu dan berpikir. Gadis itu tersenyum dan menatap Darrel penuh arti.


" Aku mau kak Darrel ambil foto bumi dari bulan sambil bawa tulisan 'Lunetta Sranghaeyo.' Katanya pasti dikabulin kan?" tanya Luna dengan geli. Darrel tampak melongo mendengar permintaan yang tak masuk akal itu. Bahkan jika dia pria terkaya di bumi ini, belum tentu dia bisa melakukan hal itu.


" Bunuh aku aja sayang, bunuh aku. Daripada kamu nyuruh aku mati di luar angkasa, terus pemakamannya di black hole gitu? Atau dimakan sama anak bulan?" tanya Darrel yang tentu saja membuat Luna tertawa sampai terbahak – bahak, bahkan gadis itu memukul dada bidang Darrel karna geli. Darrel ikut bahagia karna meski waktu dia dan Luna singkat, mereka bisa merasakan qualitynya.


" Loh, kalian di sini? Halo Kak Lunetta, udah lama gak ketemu sama Aku." Luna langsung menegakkan tubuhnya, bahkan gadis itu langsung berdiri karna terkejut dengan kehadiran gadis yang menjadi inspirasinya untuk melanjutkan hidup beberapa tahun yang lalu. Luna memeluk gadis itu dengan hangat sebagai salam.


" Kak Darrel ke sini lagi? Apa kabar kak?" tanya gadis itu dengan riang, membuat senyum manis Luna langsung hilang dan menatap Darrel untuk meminta penjelasan. Bahkan Darrel hampir satu bulan tidak pulang ke Indonesia dan Luna sendiri sudah sangat lama tidak berkunjung ke tempat ini. Mengapa Darrel ke tempat ini tanpa dirinya dan tanpa sepengetahuannya?


" Kak Darrel ke sini? Kapan?" tanya Luna pada gadis yang kini sudah bisa kembali melhat indahnya dunia. Ya, gadis itu adalah Karel. Karel memiringkan kepalanya dan menatap Luna dengan bingung, lalu menatap kak Darrel yang menatap ke arah Luna.


" Kamu memang gak tahu ya? Kak Darrel kemari dua minggu lalu, aku kira kamu tahu. Kak Darrel gak bilang ke kamu?" tanya Karel dengan wajah bingung nan polosnya. Gadis yang kini berusia dua puluh tahun itu menyadari sesuatu dan mengulum mulutnya karna merasa salah bicara. Luna memandang kak Darrel dengan tatapan tak enak.


" Nanti aku jelasin semua," bisik Darrel teapt di telinga Luna, namun tak membuat gadis itu merasa puas, gadis itu langsung berpura – pura mencari bunda dan pergi dari tempat itu segera. Darrel membiarkan saja Luna melakukan itu, toh semua akan baik – baik saja saat dia menjelaskan semua.


Luna akhirnya menghabiskan waktunya bermain bersama anak – anak kecil yang ada di sana. Sementara Darrel berbincang dengan bunda yang sedang duduk bersama Karel. Gadis itu tertawa – tawa dan sesekali memukul pundak Darrel karna candaan lelaki itu. Luna tersenyum melihatnya. Gadis itu tak bisa melihat hal ini lebih lama lagi.


Gadis itu pergi dari sana tanpa pamit terlebih dahulu. Dia sudah cukup merasa dibohongi oleh Darrel, lebih baik dia kembali ke rumahnya dan tidak melihat adegan yang memuakkan. Darrel tak segera mengajaknya pulang untuk menjelaskan, dia malah lebih suka bersenang – senang dengan Karel dan bahkan melupakan kehadirannya.


" Apa enam tahun bikin kak Darrel bosan sama Luna kak? Apa enam tahun bikin kak Darrel suka sama cewek lain, dan nemuin cewek itu tanpa sepengetahuan Luna?" tanya Luna pada jalanan yang dia lewati. Gadis itu penantiannya sia – sia. Apakah mungkin tinggal menunggu waktu Darrel akan mengkhianati hatinya? Apakah tinggal menunggu waktu hubungannya dengan Darrel berakhir.


" Ayolah, ini masih episode tiga di season dua. Kenapa nasib gue udah ngenes kayak gini sih? Kenapa kak Darrel mau gue bawa ke sana dan malah gue tahu hal kayak gitu? Apa dia mau gue ajak ke sini buat ketemu dia? Mana dipegang – pegang lagi calon suami gue. Ih, males ah." Luna langsung berjalan cepat dari tempat itu.


Sementara itu, Darrel masih bersenda gurau dengan bunda dan mendapati Lunetta sudah tidak bermain dengan anak – anak, pria itu segera bangkit dari duduknya dan meminta ijin pada bunda untuk mencari Luna. Lelaki itu tidak bisa menemukan Luna dimanapun, membuat Darrel panik bukan main.


Darrel sedikit berlari ke arah mobilnya dan menemukan ponsel serta tas Luna ada di dalam mobil itu. Apakah Luna terlalu bodoh untuk pergi dari tempat itu tanpa membaa ponsel dan tas? Apakah gadis itu tidak tahu jika jarak panti asuhan ini dengan jalan raya sangat jauh?


" Bunda, ada sedikit masalah. Darrel pamit cari Luna dulu ya," pamit Darrel pada Bunda. Bunda menatap ke arah Karel yang menunduk dan mengangguk ke arah Darrel, membiarkan lelaki itu pergi untuk mencari Luna. Darrel segera menyalami Bunda dan berlari dari tempat itu menuju mobilnya.


" Harusnya gue tanam alat pelacak tuh ke dalam dagingnya bukan ke ponselnya. Kalau kayak gini kan percuma," ujar Darrel sambil menengok ke kiri dan kanan untuk mencari Lunetta yang entah dimana. Dia tak yakin Luna tahu jalan kembali, bagaimana jika gadis itu berjalan ke arah sebaliknya dan semakin jauh dari rumah? Bahkan gadis itu tak membawa uang sama sekali.


" Apa kau sengaja melakukannya?" tanya Bunda pada Karel dengan pandangan kecewa. Gadis itu menggeleng pelan sebagai jawaban, dia tak berani mndongakkan kepalanya dan menatap Bunda saat bicara. Bahkan untuk saat ini, dia tak berani mengeluarkan suaranya. Bunda langsung menggeleng takjub karna jawaban Karel.


" Kamu sudah di sini untuk waktu yang lama, dan bunda tahu saat kamu berbohong. Kenapa kamu lakuin itu? Darrel dan Luna sudah sangat baik pada Kita, bahkan mereka mencarikan donor mata untuk kamu. Kenapa kamu melakukan semua itu?" tanya Bunda dengan nada kecewa. Karel menghela napasnya dan mendongakkan kepalanya.


" Justru karna kak Darrel sudah sangat baik pada kita, makanya Karel merasa kagum pada sosok kak Darrel. Lagipula, apa Karel mengatakan kebohongan? Apa Karel berbohong agar kak Darrel dan kak Luna bermusuhan? Semua yang Karel katakan kan benar, memang dua minggu lalu kak Darrel datang ke tempat ini."


" Bunda tidak membesarkan kamu untuk menjadi bodoh dan egois. Memang benar Darrel pergi ke tempat ini, tapi bukan porsi kamu untuk mengatakan hal itu di depan Lunetta. Kamu menyukai Darrel? Lebih baik kamu lupakan dan cari lelaki lain. Mereka akan segera menikah, kamu tidak boleh menjadi penganggu."


" Apa karna Karel Cuma yatim piatu? Apa karna Karel orang miskin yang gak berhak buat suka sama orang? Karel Cuma suka sama Kak Darrel kok, tapi Karel sadar diri Karel gak mungkin bisa bersanding sama dia. Karel tahu diri."


" Karel!" Bunda memanggil Karrel yang langsung pergi ke kamarnya setelah mengatakan hal itu.