
Darrel berlari ke dalam mobilnya dan langsung mengambil tabung oksigen kecil yang selalu dia bawa kemanapun. Lelaki itu menghirup alat berisi oksigen itu beberapa kali sampai napasnya kembali normal. Dia tak mau membuat Luna khawatir dengan kondisinya, dia harus menutup tentang kondisinya rapat – rapat, Luna sudah cukup menderita dengan penyakitnya, tak mungkin gadis itu harus kepikiran tentang kondisi Darrel.
" Astaga, mentang – mentang Author jadi Tuhan di novel ini. Semua dibuat penyakitan. Gue gak papa thor sakit, asal gantinya sembuhin pacar gue," ujar Darrel sambil mengambil obat yang dia sembunyikan di mobilnya. Lelaki itu mengambil satu butir obat yang yang ada di wahag itu dan meminumnya dnegan bantuan air mineral.
Darrel memejamkan matanya sebentar, dia menghirup oksigen sebanyak – banyaknya dan melihat ke arah kaca spion yang ada di mobil itu. Saat dia melihat wajahnya sudah tak pucat lagi, dia menyalakan mesin mobilnya, jika sudah seperti ini, dia harus pergi ke rumah sakit, mungkin memang sudah waktunya dia melakukan cuci darah.
" Ya Tuhan, tolong Darrel untuk menemukan donor yang tepat, Darrel gak kuat ya Tuhan, Darrel gak mau ninggalin Luna sendiri," gumam lelaki itu sambil melihat ke arah sekitar sebelum dia akhirnya masuk ke ramainya jalan. Dia langsung menuju rumah skait yang memang sudah menjadi langganannya beberapa bulan ini.
Alasan Darrel pergi ke luar negeri, selain untuk urusan bisnis, lelaki itu berusaha mencari donor ginjal yang cocok untuk tubuhnya. Berulang kali dia melakukan tes, namun smeua calon pendonor tak pernah cocok untuknya. Baik Darrel, Jordan dan Mr. Wilkinson, semua membantu Darrel untuk menyembunyikan hal ini dari Luna dan yang lain.
Lebih baik Luna mengira lelaki itu sibuk dengan pekerjaan dan menjadi sosok yang gila kerja dibanding Luna tahu kondisinya yang sebenarnya dan mengasihani lelaki itu. Darrel tak ingin Luna mau berada di dekatnya atas dasar kasihan, dia mau semua alami karna Luna nyaman dan merasa aman berada di dekatnya.
Darrel berjalan ke arah ruang dokter yang biasa menanganinya. Lelaki itu berjalan cepat karna dia sudah merasa sakit di sekujur tubuhnya, bahkan tangannya mulai menunjukan lebam yang diakibatkan racun dalam tubuhnya sudah banyak. Meski kondisinya tak sebegitu buruk, dia tetap harus melakukan cuci darah satu bulan sekali agar tubuhnya tetap fit.
" Kak Darrel? Lo ngapain di sini?" Darrel langsung berbalik dan menatap kaget sosok lelaki yang memakai bantuan tongkat untuk berjalan. Lelaki itu berjalan ke arah Darrel denagn tatapan wajah bingung. Darrel sudah kesakitan, namun dia berusaha setenang mungkin agar lelaki di hadapannya ini tak tahu tentang kondisinya.
" Gue mau kontrol kesehatan rutin, maklum lah, gue kan sibuk, jadi sering kecapekan. Lo sendiri gak sembuh – sembuh dari kecelakaan itu? Tumben terapinya di sini bukan di rumah skait Wilkinson?" tanya Darrel mengalihkan pembicaraan. Radith langsung menjawab jika dia hanya kontrol ke rumah skait terdekat.
" Lo sendiri kak? Kalau kontrol kesehatan kenapa gak di rumah sakit Wilkinson? Ini kan cukup jauh dari apartemen Lo, dari rumah Lun juga, bukannya lebih ceoat kalau ke sana ya?" tanya Radith dengan curiga. Darrel mengedikkan bahunya, dia menjawab bahwa dokter yang dia percaya kini bekerja di sini, hingga dia ikut berpindah rumah sakit untuk kontrol.
" Gue udah ditunggu dokternya. Lo mau gue bantu antar atau gimana gitu gak? Kalau enggak gue duluan," ujar Darrel yang membuat Radith berdecak. Lelaki itu tahu Darrel hanya berbasa – basi, jika ingin membantu, kenapa tidak langsung membantu Radith? Ah, lagipula Radith masih bisa melakukannya sendiri.
Mereka berpisah karna Radith harus berbelok sementara Darrel berjalan lurus. Meski masih merasa janggal, Radith memilih untuk tidak ikut campur dan fokus pada kesembuhannya sendiri. Dia yakin Darrel cukup bijak dan cukup memiliki uang untuk kesehatannya. Radith tak perlu terlalu mengkhawatirkan lelaki itu.
Darrel masuk ke salah stau ruang VIP yang memang dia sewa khusus untukproses dialisis tersebut. Darrel tidur di kasur menunggu dokter yang sudah dia hubungi. Tak lama dokter pun masuk dan mulai memeriksa lelaki itu, lalu memasang selang di tangan Darrel untuk memasukkan dan mengeluarkan darah yang ada di tubuh Darrel.
" Saya sudah bilang kamu gak boleh minum dan makan sembarangan. Kamu makan atau minum apa belakangan hari ini? Kamu tahu kan kalau ginjal kamu udah gak bisa memproses racun – racun dalam makanan itu dengan baik? Kenapa kamu susah sekali dibilangi," ujar Dokter yang merapikan alat – alat dan meletakkannya di tempatnya semula.
" Maaf dok, saya khilaf. Tadi malam saya kondnagan dok, makanannya enak – enak, ya udah saya makan aja. Terus juga lupa malah minum soda. Serius dok, bukan sengaja, Cuma khilaf aja," ujar Darrel sambil menyengir pada dokter itu. Dokter itu meraup wajahnya sendiri dengan gemas. Darrel memang kekanak – kanakan dan masih seenaknya sendiri jika masalah kesehatannya.
" Tidak ada soda, tidak ada kafein, tidak ada makanan berlemak atau yang terlalu manis. Batasi porsi makan, apa ada yang kurang jelas?" tanya Dokter itu dengan kesal. Dokter itu berusia tiga puluh tahunan, dia masih menganggap Darrel sebagai adiknya dan tentu ingin yang terbaik untuk Darrel.
" Siap dokter, Cuma kemarin aja kok khilaf, besok – besok diusahakan gak khilaf lagi," ujar Darrel dengans antai. Dokter itu menyerah dan langsung pamit dari dalam ruangan Darrel untuk melanjutkan tugasnya. Lelaki itu memerlukan waktu satu sampai dua jam untuk proses ini, dan Darrel melaluinya sendirian karna tak mau memberitahu orang di sekitarnya.
" Apa kau kemari mengemudi mobilmu sendiri? Dengan kondisimu sekarang? Apa kau memang berniat untuk mengakhiri hidupmu secepatnya?" tanya dokter yang menyadari jika Darrel mengemudi sendiri. Hal itu membuat Darrel terkekeh dan mengangkat tangannya, meminta damai pada dokter baik hati yang selalu menanganinya dengan maksimal.
" Nyatanya Darrel masih bisa sampai di tempat ini dan beremu dokter dengan keadaan selamat. Dokter tak perlu terllau khawatir karna saya kuat dan ajaib," ujar Darrel sambil tertawa. Dokter itu kembali menghela napasnya dan benar – benar keluar dari dalam ruangan, meninggalkan Darrel sendiri dengan ponsel yang selalu dia bawa, dia menunggu kabar calon pendonor untuknya.
" Rel, Rel, kenapa juga kondisi tubuh Lo langka? Kenapa juga gak semua ginjal cocok ke Lo? Kenapa juga Lo harus ngalamin yang kayak begini? Astaga," ujar Darrel yang frustasi karna dia belum bisa menemukan donor yang tepat. Lelaki itu memejamkan matanya dan tertidur, menunggu darahnya habis dan diganti darah yang baru memang melelahkan.
Satu jam berlalu, dokter kembali masuk ke kamar Darrel dan melihat wadah berisi Darah yang kental dan sedikit menfhitam. Darah yang penuh dengan racun, darah yang membuat Darrel lemas jika telat melakukan dialisis. Dokter membangunkan Darrel dan melepas jarum yang menancap di tangannya. Lelaki itu sedikit menahan perih saat dokter mencabut jarumnya.
" Dok, bisa gak kalau nusuk jarumnya besok di tempat yang sama? Ini bakal ada bekasnya kan? Saya gak mau bekasnya terlalu banyak, tangan saya gak ganteng lagi," ujar Darrel melihat tangannya yang sudah ditambal perban kecil, dokter menggelengkan kepalanya dengan dramatis.
" Yah, kalau saya sih pasti saya pasang ke tempat yang saya lihat, kalau saya lihat pembunuh darah kamu di tempat yang sama ya saya tusuk di sana. Lagipula kalau kamu mau tangan kamu tetap ganteng, kamu harus sembuh, kamu jaga pola makan biar gak sering – sering cuci darah, kan enak kalau gitu," ujar dokter yang mmebuat Darrel memutar bola matanya.
" Mau kondisi saya sesehat apapun, tetap aja saya harus cuci darah satu bulan sekali. Entah itu di Indonesia ataupun di luar negeri. Sama saja kan Dok jatuhnya?" tanya Darrel yang sedih dengan dirinya sendiri. Dokter itu mendekat dan menepuk pundak Darrel agar lelaki itu tetap semangat dan terus berusaha untuk sembuh.
" Kalau kamu sudah menemukan donor yang pas, saya yakin kamu akan sembuh seperti semula. Kamu jangan perah patah semangat dan minum obat yang saya kasih, itu bisa membantu darah kamu biar gak terlalu beracun." Darrel mengangguk dan keluar dari dalam kamar bersama dokter itu. Mereka berpisah karna Darrel lurus dan dokter berbelok.
" Loh kak? Lo masih di sini? Ngapain aja Lo?" Darrel membalikkan tubuhnya dan menatap lelaki yang ada di depannya dengan wajah malas. Untung saja dia bertemu dengan Radith saat proses dialisis sudah berakhir. Lelaki itu akan banyak bertanya jika tahu tentang hal ini.
" Gue habis konsultasi sama Dokter, terus ini gue donor darah sekalian," ujar Darrel menunjukkan tangannya yang sudah diplester. Radith merasa ada yang tak beres dengan Darrel, namun lelaki itu tetap mengangguk dan percaya saja dengan apa yang Darrel katakan. Mereka akhirnya berjalan bersama menuju parkiran.
" Jangan – jangan Lo itu jodoh gue? Kenapa gue selalu ketemu sama Lo coba? Apa dosa yang gue perbuat di masa lalu?" tanya Darrel pada Radith. Radith ingin sekali memukul kepala lelaki tampan itu, namun dia masih tak berani melakukannya, apalagi Darrel memang lebih tua darinya.
" Jangan sombong Lo kak, kalau gak ada gue, pacar Lo udah sering dalam bahaya. Aturan mah Lo makasih sama gue kak, mau ngejagain pacar orang, untung gue jomblo, kalau gak jomblo mah gue pasti udah ribut sama pacar gue sendiri," ujar Radith dengan wajah angkuhnya. Hal itu membuat Darrel terdiam.
" Lo benar. Gue berterima kasih banget sama Lo karna udah mau jagain Luna selama gue gak bisa jagain dia. Gue berterima kasih sama Lo untuk banyak hal, termasuk Lo yang sering ngorbanin diri sendiri buat nyelametin Luna. Gue pacarnya, tapi gue bahkan gak bisa melakukan banyak hal untuk dia," ujar Darrel yang tersenyum masam. Jawaban Darrel tentu di luar ekspetasi Radith.
" Apa sih Lo kak. Gue kan Cuma bercanda. Mau gimana pun juga Luna kan tunangan Lo, Lo yang nantinya bakal nikah sama dia, Lo juga lagi kerja keras biar hidup kalian enak," ujar Radith yang membuat Darrel kelihangan senyumnya dan menatap Radith dengan serius.
" Selama ini Lo korbanin diri buat Luna, Lo jagain dan Lo turutin semua mau dia. Lo memposisikan diri sebagai apa?" tanya Darrel dengan wajah serius. Radith tampak kaget dengan apa yang lelaki itu katakan. Apakah Darrel selama ini merasa dan tahu? Tapi dia diam saja? Ah, Radith terlalu banyak berpikir.
" Ya gue anggap dia sebagai teman kak. Gue kan teman dia sejak masih di SMK, jadi udah biasa sama semua sikap ajaibnya," ujar Radith sesantai mungkin, tak ingin membuat Darrel berpikiran yang macam – macam kepadanya. Toh selama ini dia tak pernah menghampiri Luna, Luna yang datang kepadanya.
Tanpa Radith tahu, Darrel merasa sedih dengan jawaban Radith. Entah lelaki itu yang tak jujur, atau memang Radith memposisikan dirinya sebagai teman Luna. Darrel merasa sangat bersalah sering meninggalkan Luna, dan saat Luna sendiri, Radith lah yang ada di samping gadis itu. Apa dia masih mau mengaku dia pacar yang baik?
" Gue harap Lo tetap mau jadi teman baik Luna, jagain Luna di saat gue gak ada. Emang salah gue yang terlalu sibuk dan gak bisa jaga dia sampai ngelibatin Lo. Sekali lagi maaf dan makasih," ujar Darrel yang berjalan ke arah mobilnya. Namun tangannya ditahan oleh Radith.
" Makanya Lo harus cepat kembali kak, Lo harus cepat selesaiin semua urusan Lo. Gue gak mau kalau lama – lama jagain pacar orang. Gue juga mau punya pacar dan menikah. Jadi Lo gak boleh terlalu gila kerja dan urusin pacar Lo itu sendiri," ujar Radith menepuk pundak Darrel dan langsung pergi dari hadapan lelaki itu setelah selesai dengan 'dialog'nya.
Darrel menghela napas panjang. Dia melihat ke arah tangannya yang diplester dan tersenyum singkat.
" Semoga saja."