
" Lo gak baik loh Lun bersikap kayak tadi. Bunda sama anak – anak di sana itu gak salah apa – apa," ujar Radith yang membuat Luna tersenyum miring. Gadis itu seperti kerasukan dan tak percaya siapapun lagi. Gadis itu hanya menunduk dan menurup wajahnya dengan rambut, tak mau mendengar apa yang Radith katakan.
" Lun, Lo gak beneran mau hancurin panti asuhan itu kan? Panti itu udah ada bahkan sebelum Lo lahir. Lo gak mungkin kan seegois itu?" tanya Radith hati – hati, Luna langsung mengangkat kepalanya dan menatap Radith dengan tatapan yang dalam, hal itu tentu membuat Radith terkejut, karna gadis itu tak pernah menatapnya seperti itu.
" Lo pernah gak sih ngerasain capek yang paling capek jadi orang baik? Ketika Lo tutlus sama ornag tapi smua orang Cuma anggap Lo main – main dan gak ngerhargain Lo sama sekali? Gue capek dith, gue capek jadi oranag baik. Semua Cuma manfaatin gue dan nusuk gue dari belakang, buat apa?" tanya Luna yang membuat Radith terdiam.
" Tapi gak gini Lun. Lo boleh marah, Lo boleh capek dan Lo boleh kecewa, tapi Lo gak bisa lampiasin semua hal itu ke orang yang gak bersalah. Mereka gak salah apa – apa," ujar Radith dengan tenang dan lmbut, dia tak mau Luna salah paham jika dia memakai cara bicara yang biasanya.
" Terus salah gue dimana? Gue salah apa sampai semua orang kayak gini ke Gue? Lo gak akan ngerti rasanya saat Lo udah percaya dan akhirnya Lo dikecewain berkali – kali. Lo gak tahu Dith. Lo bahkan salah satu diantara mereka yang udah bikin hancur rasa percaya gue," ujar Luna dengan lirih. Radith langsung terdiam mendengar hal itu.
Bertahun – tahun Luna tak pernah membahas masalah ini, mereka juga tak pernah mengungkitnya, namun kini Luna membuka luka itu lagi. Atau sebenarnya luka itu tak pernah sembuh? Apa selama ini gadis itu bertindak ceria di depan semua orang namun hatinya tetap terluka? Radith tentu akan merasa sangat bersalah jika memang demikian.
" Oke, Lo boleh lakuin itu. Lakuin apa yang buat Lo bahagia, walau gue yakin Lo gak akan bahagia setelah melakukan itu. Lakuin apapun yang buat Lo lega, gue bakal ada di belakang Lo," ujar Radith yang tak dijawab oleh Luna, lelaki itu meninggalkan Luna sendiri, membiarkan gadis itu merenung dan mengambil keputusannya.
" Halo bang? Gue mau kasih kabar tentang Luna. Lo harus tahu masalah ini, tapi gue minta Lo gak bertindak apapun," ujar Radith setelah jauh dari Luna, lelaki itu langsung menelpon Jordan yang memiliki peran serta kenangan di panti asuhan itu. Tentu Jordan tak akan terima jika dia tak diberitahu sama sekali.
" Luna kenapa lagi? Lo apapin dia lagi?" tanya Jordan dengan jengah, lelaki itu cukup sering mendapat laporan tentang Luna dari orang – orangnya, namun kebanyakan hanya seputar Luna galau dia menyukai siapa, dan tentu tak jauh dari Radith dan Darrel.
Radith pun menceritakan apa yang terjadi, mulai dari dia menemukan Luna berdarah, dia datang ke Darrel dan lelaki itu mengaku akan menikahi Karel, sampai kejadian di panti asuhan hari ini. Radith tak mengurangi cerita yang dia tahu. Radith menyadari Jordan masih menjadi kakak kandung Luna dan berhak tahu tentang adiknya itu.
Mereka mengakhiri percakapan setelah membicaran banyak hal, Radith langsung menghampiri Luna yang tak bergerak sedikitpun, gadis itu menghembuskan napasnya berkali – kali dan menatap pohon yang dahulu menjadi tempat bermainnya, pohon dengan usia yang lebih tua darinya.
" Gimana? Lo masih tetap mau hancurin panti asuhan itu?" tanya Radith setelah beberapa saat terdiam dan ikut melihat pemandangan dari rooftop ini. Luna menganggukkan kepalanya dan mengambil ponsel yang ada di sakunya. Dia segera menelpon orang untuk menghancurkan bangunan itu besok pagi. Radith hanya diam, dia sudah memutuskan untuk menuruti apapun keputusan Luna, dan dia akan melakukan apa yang dia katakan.
" Gue mau berangkat ke Jepang aja besok," ujar Luna tiba – tiba, membuat Radith menganga dan tak menyangka gadis itu sudah memikirkan banyak hal selama dia tinggal. Tapi kenapa Jepang? Bahkan keluarga Luna tak pernah sekalipun berlibur ke negeri sakura itu. Apa yang ada di pikiran Luna saat ini?
" Gue lagi gak mau ketemu siapapun yang gue kenal di hidup ini. Entah itu Semua pembantu dan pengawal, Lo, Danesya, Kak Key, Bang Jordan, bokap, terutama Kak Darrel. Gue udah benar – benar capek hidup di keluarga ini," ujar Luna yang kembali membuat Radith terkejut.
" Lo gak bisa gitu dong Lun. Lo mau hidup sama siapa? Lo mau hidup kayak gimana kalau Lo gak kenal siapa – siapa? Paling gak biarin gue ikut dan gue bisa jagain Lo," ujar Radith yang sedikit mendesak gadis itu. Luna menggelengkan kepalanya pelan.
" Gue takut, gue takut jadi suka lagi sama Lo. Gue takut bakal terluka berkali – kali, mungkin bahkan gue udah gak punya hati sekarang, terlalu banyak tusukan, mungkin hati gue udah mati Dith," ujar Luna dengan tenang. Radith hanya terdiam dan menunggu Luna untuk selesai bicara.
Di satu sisi lelaki itu merasa kasihan dan tentu merasa bersalah karna dia salah satu orang yang membuat Luna sampai seperti ini. Namun di sisi lain dia merasa bangga dan bahagia Luna tak menangis sedikitpun sejak pulang dari panti asuhan. Gadis itu sudah benar – benar terluka, sampai air matanya pun tak mau menetes lagi.
" Terus kalau Lo hidup di sana sendiri, Lo mau hidup kayak gimana? Lo emang punya uang buat biaya hidup? Lo harus mikir panjang Lun, jangan membuat keputusan saat Lo marah, jangan buat janji saat Lo bahagia, dan jangan berpikir tentang masa depan saat Lo sedih. Semua bakal Lo sesali di kemudian hari."
" Gue gak peduli sama kemudian hari, yang gue tahu. Hari ini, Luna yang lama udah mati. Luna yang bodoh dan hanya dimanfaatkan banyak orang. Luna yang pemaaf, Luna yang percaya sama orang lain, hari ini dia udah mati. Gue bakal cari kehidupn baru, dengan orang yang baru, dan dengan pribadi yang baru."
Radith menunduk. Dia tak bisa membantah lagi, dan yang paling berat, dia harus mendukung keputusan Luna karna tadi dia sendiri yang bilang akan menuruti Luna dan berdiri di belakang gadis itu. Dia tak bisa menentang keinginan Luna, apalagi gadis itu sudah terlau sering dikhianati oleh orang yang ada di sekelilingnya, Radith bisa mengerti tentang perubahan ini.
*
*
*
Keesokan harinya, Luna benar – benar engirim orang untuk menghancurkan bangunan itu. Dia sangat membenci tempat itu, Luna sendiri tahu jika Jordan akan membantu orang – ornag itu sehingga Luna tak perlu khawatir bagaimana nasib mereka setelah ini.
Darrel yang datang menggunakan mobilnya tentu terkejut dengan kehadiran alat – alat ini. Lelaki itu berteriak untuk menghentikan mereka semua, namun mereka tak mau mendengar Darrel sama sekali. Mereka tetatp tenang dan meminta semua orang keluar dari gedung, jika mereka tak mau, mereka akan hancur bersama bangunan itu. Darrel sampai gemetar melihat anak – anak itu menangis.
" APA YANG KALIAN LAKUKAN?! KALIAN TIDAK BISA BERTINDAK TANPA IJIN SAYA! SAYA MEMILIKI KEWENANGAN PENUH DI WILAYAH INI!" Teriak Darrel yang mendorong mereka satu persatu, membuat mereka memundurkan langkahnya dan berpandangan satu sama lain sampai salah satu di antara mereka maju ke depan.
" Maaf, kami memiliki perintah resmi dari nona muda di keluarga Wilkinson, bahkan surat ini sudah diberi cap keluarga Wilkinson yang artinya surat ini memiliki kewenangan penuh sampai nona muda sendiri yang mencbut surat ini, mohon tuan muda Darrel menghargai pekerjaan kami, kami hanya menjalankan perintah," ujar orang itu yang membuat Darrel melongo, Darrel menatap bunda yang sudah menangis kencang.
" Saya yang akan minta Luna untuk menghentikan ini, jadi kalian jangan lakukan apapun! Kalian diam di tempat kalian," ujar Darrel dengan tegas sambil mengambil ponsel miliknya. Lelaki itu berusaha menghubungi Luna, namun Luna tak mau mengangkat sama sekali. Sampai ke sekian kali, akhirnya gadis itu mengangkat panggilannya.
" Kenapa kamu lakuin ini Lun? Kenapa kamu suruh orang – orang ini buat ngehancurin Panti? Ini bukan kamu, ini bukan Luna yang aku kenal." Darrel berkata dengan lembut, dan menarik napasnya sebentar
'dan ini bukan Luna yang aku sayang.' Sambungnya dalam batin.
" Siapa peduli? Kalau kak Darrel mau, datang saja ke sini dan memohon. Luna akan berangkat setengah jam lagi," ujar Luna yang langsung mematikan sambungan telpon. Darrel langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku dan pergi dari sana.
" Darrel, tunggu. Kamu mau bertemu Lunetta? Biarkan aku ikut, bagaimanapun ini juga salahku," ujar Karel yang diangguki oleg Darrel. Dia tak punya waktu untuk berdebat, dia harus melakukan ini untuk keselamatan orang banyak.
Mereka sampai di rumah luna bertepatan gadis itu membawa kopernya, dengan Radith yang selalu ada di samping gadis itu. Darrel menatap Radith sebentar, lalu pandangannya langsung beralih ke Luna. Lelaki itu menatap Luna dengan dalam. Tersirat Luka dan kerinduan yang dipancarkan oleh Darrel, namun lelaki itu tak bisa melihat hal yang sama di mata Luna.
" Aku mohon, aku mohon jangan lakuin ini. Aku salah, aku minta maaf, aku juga gak nyangka bakal jadi kayak gini. Aku, aku gak tahu harus apa. Maaf aku udah nyakitin kamu dan aku bikin kamu marah. Tapi mereka gak salah Lun, orang – orang yang ada di sana gak ada sangkut pautnya sama masalah ini. Kalau kamu mau hukum, hukum aku, hancurkan aku, tapi jangan mereka."
Luna masih memandang Darrel dengan sorot dingin, entah mengapa dia tak bisa merasa sedih atau terharu terhadap apa yang dilakukan oleh Darrel, namun gadis itu mengambil ponselnya dan langsung meminta orang – orang yang ada di panti asuhan itu menghentikan pekerjaan mereka dan membubarkan diri segera.
" Terima kasih." Luna langsung menengok ke arah suara itu. Wanita yang tampak lemah dan terus memegang perutnya, kata 'terima kasih' yang sama sekali tak terdengar tulus, malah Luna langsung tahu jika orang itu hanya mau mencari muka di depannya. Luna tak peduli, toh setelah ini mereka tak akan pernah berhubungan lagi.
" Ikut aku sebentar," ujar Darrel yang langsung menarik Luna pergi dari sana. Luna tak menolak meski dia juga tak mengiyakan, namun entah mengapa langkah kakinya mengikuti kemana lelaki itu membawanya, kakinya tak mau menolak untuk melangkah. Radith yang melihat itu tentu saja membiarkannya, mungkin Darrel sendiri yang akan berhasil menenangkan Luna karna dirinya tak bisa melakukan itu.
Pandangan Radith beralih ke wanita yang terus mengelus perutnya dengan senyum, membuat Radith tersenyum melihatnya, namun di sisi lain dia juga merasa iba, samapai akhirnya dia tak tahan untuk menanyakan hal yang dia pendam selama ini.
" Lo serius bakal nikah sama Darrel? Lo yakin Lo bakal bahagia sama dia? Kenapa Lo paksain dia buat ada di dekat Lo padahal Lo tahu dia cinta mati sama Luna?" tanya Radith yang meembuat Karel terkejut, namun wanita itu segera tersenyum manis kepada Radith.
" Aku juga gak pernah nyangka bakal nikah sama Darrel, padahal aku tahu kalau Darrel udah cinta banget sama Luna, tapi aku yakin kok kalau Darrel pada akhirnya akan belajar buat cinta sama aku, kemarin aja dia beliin aku barang mahal padahal aku gak minta, dia kasih barang berkualitas ke aku sebagai bentuk perhatiannya," ujar Karel yang membuat Radith terkekeh.
" Lo ngukur besarnya perhatian dan cinta orang dari apa yang dia kasih buat Lo? Kok gue jadi kasihan sama Lo? Apa bedanya Lo sama cewek bayaran yang ada di luar sana?" tanya Radith yang membuat Karel tertusuk, tertusuk sangat dalam. Padahal wanita itu tak bermaksud mengarah ke sana, namun Radith bisa menghantamnya dengan sangat keras.
" Lo tahu kan seumur hidup Darrel gak akan pernah cinta sama Lo? Lo yakin bakal bahagia setelah ini? Gue aja gak yakin Loh. Gue ngomong gini karna gue kasihan sama Lo, gue gak mau Lo menyesal seumur hidup Lo," ujar Radith yang membuat Karel terdiam, namun wanita itu segera menggelengkan kepalanya dan kembali tersenyum.
" Walau Darrel gak cinta sama aku, dia bakal cinta sama anaknya, itu udah lebih dari cukup buat aku," ujar Karel yang membuat Radith tertawa, wanita itu bahkan sampai terkejut karna Radith tiba – tiba tertawa.
" Lo naif atau bodoh? Lo masih bisa banggain anak itu? Lo tahu gak kalau anak itu bakal jadi boomerang buat Lo sendiri? Gimana Lo bisa setenang sekarang saat yang Lo hadapi itu keluarga Wilkinson? Lo gak bayangin apa yang bakal Darrel lakuin sama Lo dan anak itu kalau dia tahu itu bukan anaknya?" tanya Radith yang membuat Karel kicep.
" Maksud Lo apa?" tanya Darrel yang tiba – tiba sudah muncul bersama Luna di sebelahnya, mereka sama – sama terkejut dengan apa yang Radith katakan.
" Radith? Maksud Lo apa!" sentak Darrel dengan cepat. Radith menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
" Darrel Atmaja, gue gak tahu Lo kenapa, tapi ini bakal jadi tindakan paling bodoh yang pernah Lo lakuin."
" Maksud Gue itu ……"
*
*
*
Sini sini yang mau hujat sini, sekarang yaaaaa, mumpung menghujat di sini gak bayar dan gak neglukain orang, hahahahha.