
“ Baik anak – anak, silakan kalian berfoto dengan benda yang diijinkan untuk difoto, jangan lama – lama ya karna kita harus segera melanjutkan perjalanan ke Kodim,” ujar salah seorang pembimbing yang dijawab oleh seluruh siswa yang ada disana.
Luna mengambil banyak sekali foto, entah bersama Radith, Arka, atau teman teman cici lainnya, jarang sekal kan Lua bisa berfoto dengan benda benda langka ini? Tentu diaa harus memanfaatkan setiap moment dengan baik.
Para siswa akhirnya menyelesaikan sesi foto mereka dalam waktu lima belas menit dan berjjalan beriringan menuju pintu keluar museum itu.
“ Haah, kaki gue rasanya mau lepas kalua gini,” ujar Luna yang mulai mengeluh karna kakinya terasa pegal, gais itu harus berjalan mengelilingi museum dan kini harus berjalan lagi menuju parkiran dengan jarak yang bisa dibilang jauh.
“ Kalau copot atau patah beneran, gue orang pertama yang ngadain syukuran,” ujar Radith tepat di telinga Luna dan berbisik.
Luna terkaget karena kehadiran Radith yang tiba – tiba. Apakah lelaki itu arwah? Tapi bagaiamna dia bisa melihat Radith jika lelaki itu adalah arwah?
“ Gue bukan setan, gue manusia. Dari tadi gue ngikutin Lo, Lo gak nengok – nengok, yauddah gue samperin diam diam, eh ternyata lagi marah marah gak jelas, ngedumel kayak emak – emak.”
Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Radith mengatakan fakta yang sangat dibenci oleh Luna.
“ Gue kan calon emak, wajar dong kalau besok gue anak biar bisa main sama gue, kalau cowok gue kasih eyeshadow warna biu, kalau cewek warna merah.”
Radith tidak menyangka Luna menjawabnya dengan kalimat itu. Dia kira Luna hanya berpura pura atau nanti akan memarahinya karna mengganggu.
Setelah sekitar satu jam Tour di museum senjata itu, rombongan itu melanjutkan perjalanan menuju tempat yang akan digunakan untuk kegiatan pendidikan karakter ini.
Pihak Sekolah memilih Kodim yang ada si Kota itu, dimana para tentara akan fokus untuk melatih mereka perihal kedisiplinan dan tanggung jawab.
" Masih lama ya dith?" tanya Luna yang tampak gusar di tempat duduknya.
" Enggak, bentar lagi sampe. Kenapa? Kebelet Lo?" tanya Radith yang melirik Luna, gadis itu tampak memeras perutnya. Apakah perut gadis itu mulas?
" Gue mual, mau mun... Hueekk huekk."
Luna mengeluarkan suara seakan orang mau muntah, gadis itu sudah merasa sangat mual, hasrat ingin memuntahkan isi perutnya.
Radith yang melihat itupun langsung berdiri, dia tidak ingin menjadi korban yan terkena muntahan Luna. Pria itu segera menuju guru pembimbing dan meminta kantong muntah.
Luna masih tampak menutup mulutnya agar muntahan itu tidak keluar dari mulutnya. Astaga, perjalanan jauh membuat perut gadis itu terkocok sempurna. Biasanya jika perjalanan jauh Luna memilih untuk menggunakan pesawat.
Lebih praktis, tidak memakan waktu lama dan bisa tidur dengan nyaman meski ada perasaan khawatir pesawat akan jatuh sewaktu waktu.
" Nih nih, jangan muntah sembarangan, kasihan yang bersihin," ujar Radith mengulurkan kantong itu dan duduk di samping Luna.
Tampak wajah lelaki itu sangat khawatir dan panik. Luna terlihat pucat, bahkan bibir gadis itu memutih, Radith yang tak tega langsung memaksa Luna memuntahkan isi perutnya ke dalam kantong itu.
Radith mengurut leher Luna perlahan, membuat gadis itu tak bisa menahan lagi dan langsung mengeluarkan semua yang membuat perutnya merasa tak nyaman.
Gadis itu sampai nyaris menangis antara sakit, tidak nyaman, dan malu karna semua penghuni disekitarnya menontonnya. Sementara Radith dengan sabar mengurus Luna, persis seperti abang yang mengurus adiknya.
Radith menali kantong itu dan membungkusnya dengan kantong lain sampai berlapis lapis lalu menaruhnya di pojokan agar tidak terinjak.
" Masih mual?" tanya Radith dengan penuh perhatian pada Luna. Gadis itu menggeleg lemah sebagai jawaban, membuat Radith lega mendengarnya.
Radith merogoh tasnya dan mengambil selembar koyo dan sebuah gunting, lelaki itu menggunting koyo tersebut menjadi beberapa bagian dan memberikannya pada Luna.
" Taruh di leher bagian bawah, pusar sama telapak kaki," ujar Radith saat Luna hanya menatapnya. Gadis itu menurut dan mulai memasang koyo di leher dan kakinya.
" minggir dulu, jangan ngelihatin," ujar Luna yang malu karena harus membuka kancing bagian perutnya, Radith yang melihat itupun menghela napasnya dan menuruti permintaan Luna, dia membelakangi Luna agar gadis itu tertutupi.
“ Udah,” ujar Luna yang selesai mengancingkan lagi seragamnya dan duduk nyaman menikmati aroma terapi koyo tersebut.
“ udah enakan kan?” tanya Radith mengamati Luna dnegan seksama. Jika gadis itu tenyata sakit bagaimana? Radith yang ada du sebelah Luna lah yang akan menjadi sasarannya.
“ Udah, makasih ya,” jawab Luna sambil mengelus perutnya dari luar, hangatnya koyo tersebut membuat rasa mualnya berkurang.
“ Lubang puser Lo lucu juga ya bentuknya,” ujar Radith tiba – tiba, membuat Luna menengok kearahnya dan memandangnya dengan sengit.
“ Lo ngintip?” tanya Luna dengan nada pelan dan menusuk, bahkan Radith sampai takut sendiri melihat Luna yang menatapnya sedingin itu. Itukah yang dirasakan orang orang yang selama ini dia tatap?
“ Enggak, gue gak ngintip,” jawab Radith jujur karena takut menjadi sasaran amukan dari Luna, gadis itu tampak menggelng tak percaya dengan apa yang dikatakan Radith.
“ Bohong. Kalua Lo gak ngintip gimana caranya Lo tahu kalua puser gue bentuknya lucu?” tanya Luna menodong Radith dengan telunjuknya. Seakan jari itu adalah sebuah pisau yang siap menusuk tenggrokan Radith kapan saja
“ Beneran, gue aja hadap kesana, gimana gue mau ngintip,” ujar Radith membela diri dan menunjuk kea rah yang memang berlawanan. Lantas bagaimana Radith tahu perihal Luna yang memiliki pusar dengan bentuk yang lucu?
“ Lo pernah pakai croptee tanpa singlet waktu gue main ke rumah Lo dan PS –an sama bang Jordan,” jawab Radith menghela napasnya. Wajah saja cantik, namun pikiran dan memorinya memendek.
“ Lo bahkan gak inget? Gue kan jarang Lun main ke rumah Lo, kalau hari itu gak ada bang Jordan, udah pasti Lo bakal lebih parah dari sekadar tidak memakai tank top,” ujar Radith dengan wajah heran.
Luna tampak berpikir beberapa detik sebelum akhirnya menyerah pada pikirannya sendiri. Gadis itu memandang Radith dengan melas dan menunduk.
“ Nyerah gue dith, gak bisa ingat apa apa gue,” ujar Luna emngangkat kedua tangannya ke atas, membuat Radith menggelengkan kepala dan menatap Luna dengan tatapan heran.
Tak terasa Bis sudah berhenti, percakapan mereka juga ikut berhenti dan mendengarkan instruksi dari guru pembimbing. Ternyata mereka diminta untuk masuk ke Aula utama mebawa barang bawaan mereka.
Mereka harus berjalan lagi dari Bus berhenti sampai ke aula. Mata Luna gatal tak genti melihat setiap bangunan, kolam dan lahan lapangan yang memang semua menarik perhatiannya
“ Malam, malam, malam, Luar biasa, tetap semangat!” Jawab siswa – siswi itu dengan setentak, membuat bapak tentara itu bertepuk tangan karena kagum
“ Wah, hebat ya kalian sudah tahu salamnya, diajarkan di sekolah ya?” tanya tentara itu dengan wajah yang sumringah, kumis tebalnya tampak bergoyang mengikuti bibirnya yang tersenyum, Luna nyaris saja tertawa jika tidak sekuat tegana menahannya.
“ Siap sudah!” jawab Siswa siswi masih dengan serentak.
“ Wah, STM Taruna bagus ya didikannya, disini kalian akan didik dengan lebih baik lagi agar saat kembali ke Sekolah kalian sudah semakin berkarakter dan siap memajukan nama STM Taruna, Kalian Siap?” tanya tentara itu dengan suara keras.
“ Siap!” jawab siswa yang juga tak kalah keras Karen pancingan itu.
Mereka menyimak apa yang akan tentara itu lakukan, ternyata acara berikutnya adalah penyerahan sepenuhnya siswa kepada Para tentara selama lima hari ini, pihak Sekolah tidak akan emrotes dan siswa menjadi tanggung jawab para Tentara sepenuhnya.
Tak ada yang special dengan acara itu, Luna malah mengantuk karna hanya menyaksikan sambutan sambutan dari kedua orang itu, gadis itu sampai mencubit tangannya sendiri agar tidak mengantuk lagi.
Akhirnya sesi itu selesai disambut tepuk tangan dari seluruh siswa ( tepuk tangan karna siswa gembira semua sudah berakhir. Hahaha)
“ Pertama, disini saya akan menjelaskan tata tertib selama kalian disini, apa yang boleh dan tidak boleh kalian lakukan. Disini kami juga menyediakan sarapan, snack, makan siang dan makan malam untuk kalian jadi kalian tidak akan kelaparan, tapi jika kalian tetap lapar, ada kantin di dekat ruang tidur putri.”
Luna masih belum tahu dimana kantin itu, ya iyalah, dia tidak pernah kemari sebelumnya, oke Luna lebih baik kau fokus pada perkataan beliau agar tidak seperti orang bingung nantinya.
“ Namun untuk membeli makanan di kantin, kalian harus memakai seragam yang dipakai saat sesi terakhir, nanti akan dijelaskan lebir rinci,” ujar tentara itu menjelaskan sedikit perihal makan yang sebenarnya sudah membuat semua siswa lapar.
“ Sebentar lagi kita akan makan malam, namun sebelum itu, saya ingin kalian meletakkan semua abrang ke ruang masing – masing, Putra ke arah timur Aula, dan Putri ke arah Barat Aula.”
“ Nah, teman kalian satu banjar barisan ini adalah kelompok kalian selama disini, jadi silakan ingat anggota kelompok kalian dan untuk yang paling depan, silakan ambil ponsel teman kalian dan kumpulkan disini.”
Wait, tanpa ponsel? Selama lima hari? Luna tidak memiliki paket data selama dua hari saja sudah seperti orang purba yang tidak tahu berita apapun. Apalagi harus sampai lima hari? Apakah semua pendidikan karakter seperti ini?
“ Nah, untuk yang duduk dari tengah ke kanan, kalian adalah kompi satu Dan untuk yang duduk dari tengah ke kanan, kalian adalah kompi dua. Sampai sini paham?” Tanya tentara itu yang mulai tegas, sepertinya kelucuannya hanya Intermeso agar siswa siswi tidak tegang,
“ Siap Paham!” seru siswa secara serentak.
“ Nah, dari pojok, satu banjar kalian adalah peleton, dari sana Peleton 1 .” Luna mulai menghitung dan ternyata dia mendapat Kompi satu Pleton 3, Luna mencari keberadaan Radith yang ternyata ada di kompi dua, membuatnya sedikit merasa kesal.
“ KOMPI SATU PELETON SATU, KOMPI DUA PELETON LIMA, DUDUK SIAP GRAK!” Seru Tentara itu tiba tiba membuat siswa siswi yang masih gaduh langsung berdiri tegak.
“ SIAP!” Jawab kedua Peleton itu.
“ SIKAP BERDIRI, LAKSANAKAN.”
“ STEMTA, STEMTA, STEMTA.”
Tentara itu mengangguk dan mulai memerintah semua peleton untuk berdiri, mereka diminta untuk jalan berdua – dua menuju kamar mereka. Luna sudah bahagia karena akhirnya bisa merebahkan diri.
Mereka keluar dari ruangan itu dengan rapi, membawa semua abrang bawaan mereka menuju makar. Luna penasaran bagaimana wujud kamar yang akan mereka tempati?
Gadis itu menganga karna kamar yang akan ditempati jauh dari ekspetasinya, ternyata kamar itu hanya berupa satu ruangan besar yang di dalamnya terdapar banyak Kasur yang dijejer, astaga, mereka ahrus tidur di tempat ini selama empat malam? Sanggupkah Luna?
Gadis itu mulai berjalan ke pojok untuk menemukan Kasur kosong, dan dia mendapat tiga Kasur dipojok yang akhirnya dipakai oleh Luna, Ghea dan Farisa, sementara sisa teman mereka terpisah entah dimana, mereka akan menemukannya nanti jika semua sudah beres.
“ Gilak, kasurnya gaka da empuk empuknya njir,” ujar Ghea yang duduk diatas Kasur itu.
“ Hmm, bener banget, ini mah kita kayak tidur diatas dipan, gak ada rasa empuknya,” sahut Farisa yang mengamati sekitar.
Luna memilih untuk tidak mengeluh, belum. Gadis itu berdiri karena ada sebuah lemari untuk dua orang. Luna membuka lemari itu dan melihat ternyata isinya bersih. gadis itu memasukkan barang barangnya ke dalam sana, berbagai dengan Farisa dan sisa barang yang tak muat dia masukkan dia tititpkan di lemari Ghea.
“ Sirine cuy! Buruan kita ke tempat makan!” seru salah seorang siswi yang membuat keadaan heboh dan panic, Luna yang ad dipojok langsung bergegas memasukkan sisa barangnya dengan asal dan sedikit berlari untuk sampai di pintu depan.
Mereka berbaris sesuai intruksi ( berjalan dua – dua) dan menuju tempat yang akan mereka pakai untuk makan. Luna cukup bersemangat karena memang dia sudah lapar, apalagi isi perutnya tumpah semua dan Radith dengan baik hati mau membuangkan sampah itu untuk Luna.
“ Yang kompi dua, silakan kalian langsung kesana, dan yang kompi satu, silakan baris lima banjar kebelakang,” ujar tentara itu membariskan para siswa. Mereka berbaris dengan rapi seperti seekor anak ayam yang ingin meminta makan.
“ Baiklah, silakan dua dua masuk, dan hormat kepada ketua yang memimpin makan kalian hari ini dengan mengucapkan salam, Paham?”
“ Siap paham!”
Mereka mulai berbaris dan melakukan apa yang di instruksikan kepada mereka, mencari tempat duduk yang masih kosong dan berdiri dengan tenang. Mereka tidak diperbolehkan duduk bila semua belum mendapat kursi.
Setelah semua anak mendapat kursi mereka, mereka duduk secara serempak, perasaan Luna mendadak tak enak, entah apa yang membuatnya berpikir makan kali ini tidak akan sama seperti makan malam pada umumnya.
Ada salah satu anak meminpin doa saat semua meja terisi lauk, sayur, nasi dan buah. Melihat makanan itu Luna menjadi hilang selera. Apakah makanan itu bersih? tapi piring Luna saja rasanya masih ada nasi kering kecil yang membuat piring halus itu bergerinjal.
“ Silakan makan,” ujar Tentara memberi instruksi saat doa usai dibacakan.
Mereka makan dengan nikmat, namun Luna hanya mengambil sedikit untuk mengganjal perutnya.
Tiba – tiba tentara itu mengucapkan instruksi yang membuat semua orang terkejut.
“ Waktu makan kalian tinggal lima menit, semua lauk dan buah yang ada di meja kalian harus habis.”
Saat itulah Luna merasa, dapat menikmati makan malam buatan chef rumahnya tanpa terburu – buru dan aturan yang ketat seperti ini sangat menyenangkan.