Hopeless

Hopeless
Tak Kenal Maka Tak Sayang



"Lele yang lain?" tanya Nezia dengan polos.


"Iya, Nez. Lele dumbo punya Kang Faris." Terdengar sahutan dari arah belakang mereka berdua.


Faris dan Nezia langsung menoleh ke arah sumber suara.


Duta yang menggandeng mesra sang istri, tersenyum nyengir. "Pengantin baru malam-malam gini, ngapain kelayapan sejauh ini?" tanyanya kemudian.


"Ke warung, ya mau makanlah, Mas. Masak mau berenang," balas Faris dengan asal, hingga membuat Nezia dan Heni, tersenyum. Sementara Duta, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Assem! Bisa aja kamu, Ris. Ngeles kayak bajai," balas Duta seraya meninju lengan Faris.


"Memangnya, kalian tadi tidak ikut makan malam bersama keluarga usai acara?" lanjut Duta bertanya, dengan dahi berkerut.


"Tidak, Mas. Tadi Neng Ganis buru-buru ngajak balik ke kamar, sudah enggak sabar kayaknya pengin aku ...." Faris menghentikan ucapannya karena tiba-tiba perutnya ada yang mencubit.


"Aw, Neng. Kalau mau minta x jangan di sini, napa. Malu 'kan banyak orang," ucap Faris, semakin menjadi.


"Siapa yang minta?" Nezia belum melepaskan cuitannya.


"Ini, Neng. Tangan kamu, meleset dikit aja, pasti langsung membangunkan leleku," balas Faris, seraya terkekeh pelan.


Nezia mengerucutkan bibir dan kemudian melepaskan tangannya dari perut sang suami, wajahnya merona karena terus digoda oleh suaminya tersebut.


Sementara Duta dan Heni hanya geleng-geleng kepala menyaksikan sikap Faris yang tetap saja konyol dan tidak berubah.


"Sudah sana, isi amunisi yang banyak untuk persiapan nanti. Kalau udah selesai makan, langsung balik ke hotel, jangan diajak kelayapan lagi," pesan Duta yang langsung berlalu dari hadapan Faris dan Nezia, seraya menggandeng mesra tangan istrinya.


Faris kemudian menuntun sang istri menuju tempat lesehan di belakang warung tenda tersebut. Dia kemudian memesan makanan yang terenak dari warung tersebut, yaitu pecel lele dumbo terbang dengan lalapan sambal terasi.


"Minumnya apa, Neng?" tanya Faris, setelah memesan makanan untuk mereka berdua.


"Jeruk panas saja, Kang," balas Nezia.


"Takut gendut, ya?" tanya Faris kembali seraya tersenyum.


"Mas, jeruk panas sama teh panas!" seru Faris, memesan minuman.


Nezia menggeleng. "Memangnya, kalau Inez gendut, Akang enggak mau lagi ya, sama Inez?" tanya Nezia, menyelidik.


Gantian Faris yang menggeleng. "Enggak juga, Neng. Mau gendut mau kurus, aku tetap sayang kok, sama kamu, karena cintaku datang dari hati," balas Faris dengan tatapan dalam, membuat Nezia berdebar.


Wajah bersih itu merona dan terlihat semakin cantik, di bawah penerangan lampu kota.


Tiba-tiba, Faris melabuhkan ciuman di pipi sang istri. Membuat Nezia terpaku untuk sesaat.


"Cuma di pipi, yang lain nanti," bisik Faris seraya menepuk pelan punggung sang istri dan menyadarkan Nezia kembali.


"Akang, ih! ? Malu 'kan, kalau dilihat orang," protesnya, setelah tersadar.


Nezia nampak masih akan melancarkan protes, tetapi pelayan warung yang datang membawa makanan pesanan mereka berdua, membuat istri Faris tersebut mengurungkannya.


"Kang, lelenya besar sekali?" Netra Nezia membulatkan mata, melihat lele dumbo goreng yang dibelah tengah tersebut, memenuhi cobek.


"Memang sebesar inilah, Neng, kalau lele dumbo," balas Faris.


"Berarti, apa yang dibilang sama Mas Duta tadi?" Nezia mengerutkan dahi, menatap ke arah kepala ikan lele tersebut.


Tiba-tiba wanita cantik itu bergidik ngeri. "Sebesar lele dumbo?" gumamnya, dengan tangan yang mulai berkeringat dingin.


Faris yang mendengar gumaman sang istri dan mengerti kemana pikiran istrinya, tersenyum lebar. "Lele ini belum seberapanya, Neng," ucap Faris, menahan tawa.


Nezia langsung menoleh ke arah sang suami. Mulutnya membuka, tetapi Nezia tak kunjung bersuara. Hingga membuat Faris, gemas sendiri.


"Neng, bibirnya jangan seperti itu. Mau, aku cium di sini," bisik Faris di telinga sang istri.


Nezia menggeleng keras. "Jangan, Kang!" tolaknya. "Ayo, Kang, kita buruan makan!" ajak Nezia, kemudian.


"Udah enggak sabar, ya, pengin lihat lele dumbo yang besar?" goda Faris, bertanya.


"Bukan, Kang! Tiba-tiba, perut Inez agak nyeri. Biasanya kalau kayak gini, tanda-tanda mau datang bulan," balas Nezia yang sengaja mencari-cari alasan agar malam ini dirinya terbebas dari serangan lele dumbo, yang kepalanya sangat besar tersebut.


"Masak, sih?" tanya Faris, dengan nada kecewa.


"Sepertinya begitu, Kang," balas Nezia seraya menghitung dalam hati, kapan terakhir kali dirinya menstruasi.


Mereka berdua kemudian makan dalam keheningan. Tak ada lagi yang bersuara, masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.


Faris dengan rasa khawatir, jika benar-benar sang istri kedatangan tamu bulanan. Sementara Nezia cemas, karena waktu datang bulannya masih cukup lama.


'Buat alasan apalagi ya, nanti? Aku benar-benar belum siap, jika segede ini?' batin Nezia seraya memotong kepala lele dumbo yang ada di dalam cobek miliknya dengan gemas dan kemudian menyingkirkan kepala lele tersebut, jauh dari jangkauan pandangannya.


Nezia makan masih sambil bergidik, bayangan kepala lele super besar tersebut, memenuhi kepalanya.


Makan malam dalam keheningan itu pun usai. Faris segera mengajak sang istri untuk kembali ke hotel, tempat mereka berdua menginap.


Sepanjang perjalanan pulang pun, keheningan tercipta di kabin mobil milik Faris tersebut. Hingga hampir selama tiga puluh menit, keduanya sama-sama terdiam, seperti orang yang tak saling mengenal.


"Kenapa, Neng?" tanya Faris, mengurai keheningan. Pemuda tersebut seolah dapat menebak kegalauan hati sang istri.


"Tidak apa-apa, Kang," balas Nezia, gugup.


Faris masih ingin bertanya, tetapi mobilnya telah memasuki area parkir hotel, sehingga suami Nezia tersebut, menundanya.


Mereka berdua kemudian menaiki lift untuk sampai ke lantai di mana kamar mereka berada.


"Neng, apa kamu takut?" tanya Faris menebak, ketika tangannya merasakan tangan sang istri yang dingin dan berkeringat.


Nezia terdiam, hanya anggukan kecil sebagai jawaban atas pertanyaan Faris barusan.


"Mau kenalan dulu, biar enggak takut?" tawar Faris seraya tersenyum, menatap sang istri.


Nezia tak menyahut. Wanita cantik itu semakin cemas dan tangannya semakin dingin, seperti dinginnya dinding kotak besi yang membawa mereka berdua naik ke lantai atas.


"Aku tuntun, ya." Faris yang masih menggenggam tangan sang istri, yang terasa dingin sejak tadi itu, kemudian menuntunnya untuk berkenalan dengan lele dumbo.


Nezia memejamkan mata seraya menggigit bibir bawah, tangannya gemetaran. Faris menyaksikan semua itu dengan senyuman yang terus mengembang lebar.


Faris memejamkan mata, ketika tangan Nezia berhasil berkenalan dengan lele dumbo miliknya yang sudah mulai terbangun.


Gantian Nezia yang membuka mata dan kemudian tersenyum lega, ternyata milik suaminya tak semengerikan seperti apa yang ada dalam bayangannya.


"Kalau yang ini, Inez enggak takut, Kang," bisik Nezia, membuat Faris membuka matanya.


"Jadi, malam ini kamu enggak kedatangan tamu bulanan 'kan, Neng?" tanya Faris dengan tatapan penuh harap.


Nezia menggeleng pasti dengan senyuman yang mengembang lebar, bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.


Tak sabar, Faris segera menggendong sang istri menuju kamar pengantin.


Setelah membuka pintu dengan kartu akses dan memasuki kamar, pemuda yang terus menyunggingkan senyuman di bibirnya itu membaringkan sang istri di ranjang pengantin.


Tanpa mengganti lampu utama dengan lampu tidur, Faris langsung melancarkan aksinya, menjalankan tugas pertamanya sebagai seorang suami.


"Neng, lele dumbonya boleh masuk, kan? Tadi 'kan, sudah kenalan. Berarti sudah sayang, dong. Karena tak kenal, maka tak sayang."


☕☕☕☕ T A M A T ☕☕☕☕


Terimakasih banyak, Best... sudah mengikuti kisah Neng Ganis dan Akang Faris 🤗


Moga kalian syuka, yah 🥰🙏🙏


Yang belum kenal dengan karyaku yang lain, yuk kenalan... sudah tamat semua, yah 😍


Jika sudah kenal, pasti langsung sayang... kata si akang, loh 🤭



Ketulusan Cinta Nabila


Akhir Sebuah Penantian


All About KEVIN


Menjagamu Dengan Do'a


Finding Love


Dia Hanya Anakku


Bertahan Atau Lepaskan


Om Doni, I Love You


Harta, Tahta dan Perjaka


Pesona Mas Jaka


Aqidah Cinta



On going,



Hanya Sekadar Pengasuh.


Pesona Rumput Tetangga.



Next ... 'Mengejar Bintang', rilis entah kapan? 😄🤭


Dan, pemenang GA sesuai S&K yang berlaku pada kesempatan kali ini, jatuh kepada ; (bacanya yang formal, yah 😁)



Jeng... jeng...


aku umumkan malam ini di GC 😄


so, yang belum gabung di GC, yuk, gabung, yuk... 🥰