
" Menurut kamu filmnya gimana?" tanya Keysha usai mereka keluar dai gedung bioskop. Luna tampak berpikir untuk menilai, karna dia memang tak begitu suka film dengan genre drama. Dia lebih suka horor atau action meski akan membuatnya berdebar dan takut, namun lebih baik dibanding menyaksikan film drama yang satu sama lain nyaris sama.
" Sebenarnya bagus sih, Cuma Luna gak begitu suka drama, apalagi kalau Indonesia. Walau Luna mengakui dan harus kasih apresiasi buat pemeran cowoknya, dia menjiwai banget dan bisa berlagak layaknya anak bupati di masa itu, padahal dia kan artis muda kekinian," ujar Luna yang disetujui oleh Keysha, karna dia juga berpikir begitu.
" Padahal waktu di film lain dia kayak alay banget gitu, puitis banget bagi Luna. Emang dasarnya Luna gak suka sama alurnya sih, hahaha. Tapi yang di film ini dia ada wibawanya dan Luna bahkan tadi nangis waktu istrinya dipaksa pergi dari Indonesia. Untung aja Kak Darrel orang Indoensia juga," ujar Luna yang membuat Keysha terkekeh.
" Orang Indonesia yang jarang ada di Indonesia. Sama aja dong, KTP doang orang – orang kayak abang kamu atau tunangan kamu. Untung aja mereka masih bisa komunikasi pakai bahasa Indoensia, kalau engga kan susah," ujar Keysha sambil tertawa, dia membayangkan jika suaminya benar – benar lupa bagaimana berbicara dengan bahasa Indonesia, hal itu membuatnya menggelengkan kepala.
" Mau dimanapun kaki berpijak, jika hati sudah Indonesia, selamanya akan cinta tanah air Indonesia. Uuuhhh Luna puitis banget nih, habis nonton Film tentang kebudayaan jadi kebawa," ujar Luna sambil tertawa geli, Keysha juga ikut tersenyum melihat Luna yang bahagia.
" Mau pulang sekarang atau kemana dulu?" tanya Keysha yang dijawab oleh Luna agar mereka segera pulang, Luna ingin beristirahat karna besok rencananya dia mau menyusul Danesya ke tempat usaha gadis itu. Gadis itu membuka Usaha fotografi yang juga diikuti oleh Roy, meski Danesya berencana melepas bisnis itu untuk di kelola Roy sepenuhnya.
Mereka sampai di rumah, namun Luna bingung melihat sebuah mobil terparkir di rumahnya. Jika Jordan datang, lelaki itu langsung meminta satpam untuk memasukkan mobilnya ke dalam garasi yang luas itu. Siapa yang bertamu ke rumahnya di hari kerja? Bahkan mobil ini tidak dikenali Luna sama sekali.
Luna masuk ke dalam rumahnya dan melihat seonggok daging manusia sedang tiduran di sofanya. Melihat sekilas saja Luna sudah tahu siapa manusia itu. Luna langsung berlari ke arah manusia itu dan menubruk tubuh lelaki itu dengan tubuhnya yang kian berat karna dia jarang beraktivitas namun sering makan.
" Aaah, sakit, berat, astaga, kamu ngagetin ih," ujar orang yang ada di bawah Luna. Luna tertawa dan tak mau tahu, dia masih menubruk manusia itu. Membuat Keysha yang baru masuk langsung melongo melihat keduanya. Apakah Luna tidak di luar batas mengingat gadis itu masih belum sah, namun sudah melakukan hal seperti itu.
" Salah siapa pulang ke Indonesia gak ngabarin, tadi juga Luna telpon gak aktif nomernya. Kan Luna khawatir, malah tahu – tahu udah ke sini aja," ujar Luna dengan senang, gadis itu makin memeluk lelaki yang ada di bawahnya dan mulai menangis. Bahkan lelaki itu langsung menaydari Luna menangis. Dia bangkit untuk duduk dengan Luna yang masih melingkarkan tangannya di lehernya.
" Hehehe, maaf ya kak Key. Ini gak seburuk yang kakak pikirin. Iman Darrel kuat kok, Darrel tahan," ujar Darrel yang seakan mengerti pikiran Key. Membuat wanita itu langsung mengangguk lega jika memang hal itu yang terjadi. Darrel terdengar sangat dewasa dan bertanggung jawab.
" Nih kak, Darrel buktiin kalau Darrel kuat," ujar lelaki itu yang langsung bangkit dari sofa, namun Luna tak melepaskan pelukannya. Gadis itu malah melingkarkan kakinya di pinggang Darrel, membuat gadis itu terlihat seperti monyet yang menggendong paada induknya. Keysha dibuat melongo sekali lagi karna hal itu.
" Kalian udah biasa kayak gitu kalau ketemu? Gak remuk badan kamu ngegendong anak sapi kayak dia? Dia udah makin gendut loh, pasti berat," ujar Keysha yang tak segan menghina Luna. Padahal Luna tidak gendut, dia hanya tambah berisi tiap harinya, tapi tak bisa masuk dalam kategori gendut. Oke baiklah, mari hentikan topik body shamming ini.
" Darrel malah rasanya enteng kak, lebih berat selama ini nahan rindu sama Luna, ngegendong gini mah gak ada apa – apanya," ujar Darrel yang langsung memeluk Luna. Gadis itu menurunkan kakinya namun tidak dengan tangannya. Dia lebih nyaman mengalungkan tangannya di leher lelaki yang sudah dia tunggu kepulangannya.
" Aku bakal di Indonesia satu bulan ini, kamu gak usah sebegitunya ih, aku gak pergi kemana – mana kok," ujar Darrel berbisik ke telinga gadis itu , tak ingin membuat Luna mearasa dipermalukan di depan Keysha. Gadis itu langsung melepaskan tangannya dari leher Darrel dan mundur satu langkah.
" Serius kak Darrel bakal di Indonesia satu bulan? Masalah kemarin udah selesai? Kak Darrel gak lagi bohongin Luna biar luna bahagia aja kan? Ini serius kan?" tanya Luna yang membuat Darrel terkekeh. Padahal dia tak pernah melakukan hal seperti itu pada Luna, memberikan janji manis agar gadis itu bahagia.
" Kamu udah kasih List mau kemana aja? Jangan ke pantai terus loh tapi, nanti bosen," ujar Darrel memperingati, Darrel melakukan itu karna Luna selalu menuliskan pantai saat mereka hendak pergi ke suatu tempat, padahal Darrel melihat semua pantai itu sama, hanya ada yang sepi dan ada yang ramai.
" Luna belum, tapi nanti deh gampang, yang penting kak Darrel udah di sini dan kak Darrel bakal di sini lama, jadi Luna gak perlu nyiapin list panjang – panjang," ujar Luna dengan senang. Gadis itu bahkan meringis sedang ke arah Keysha yang menggelengkan kepalanya melihat Darrel dan Luna. Kini dia percaya bahwa Darrel sangat sayang pada Luna.
Lelaki itu selalu memanjakan Luna dan menuruti apapun mau Luna. Lelaki itu tahu apa yang membuat Luna bahagia dan bahkan tahan dengan sikap ajaib Luna yang jika Key ada di posisi itu pasti tak akan sanggup. Terlebih gadis itu tak bisa melakukan sesuatu dengan benar di usianya sekarang, sangat parah.
" Kalau gitu kak Key ke kamar dulu, kalian senang – senang dulu aja, ingat batas ya," pesan Keysha sebelum meninggalkan kedua orang itu dan beristirahat di kamar. Padahal perutnya masih rata, namun dia sudah mudah lelah jika melakukan kegiatan berlebih. Bagaimana nanti jika dia sudah hamil besar?
" Kak Darrel gak bawa oleh – oleh buat Luna? Kan kak Darrel harusnya pergi ke tempat – tempat bagus selama di luar negeri," ujar Luna setelah dia menyadari Darrel tak membawa apapun untuk dirinya. Lelaki itu menggaruk kepalanya, boro – boro pergi belanja, pergi ke rumah singgahnya saja jarang, dia selalu tidur di kantor untuk mempersingkat waktu.
" Maaf karna aku gak bawa apa – apa buat kamu, karna aku yakin kamu bakal suka semuanya. Gimana kalau aku bawa kamu buat pilih sendiri barang – barang yang ada di negara – negara itu? Sekalian belajar jadi nonya Atmaja yang bakal sering pergi ke luar negeri," ujar Darrel yang membuat Luna menggelengkan kepalanya.
" Luna Cuma mau ngehabisin waktu sama kak Darrel, Luna gak mau malah tenaganya habis buat ke luar negeri, Luna mau minta oleh – oleh yang berharga aja kalau kak Darrel ke luar negeri, lebih menyenangkan buat Luna," ujar Luna dengan senyumnya.
"Kita jalan – jalan atau sepedaan di sekitar sini aja yuk," ujar Darrel sambil merangkul Luna untuk keluar dari rumah. Sebenarnya Luna lelah karna pergi bersama Keysha, namun dida tak bisa menolak Darrel, apalagi memang suasana seperti ini akan terasa canggung, mengingat mereka sudah lama tak bercakap secara langsung.
" Kamu kok tumben little quite? Biasanya kalau telpon aku kamu selalu banyak cerita," ujar Darrel membuka perasaan saat mereka mulai menyusuri jalanan yang sepi. Mereka menuju taman kecil yang ada di perumahan itu, Luna menggelengkan kepalanya untuk menjawab Darrel, entah mengapa banyak hal yang ingin dia ceritakan langsung hilang saat lelaki itu ada di sini.
" Kak Darrel aja yang cerita. Luna mau dengar keluh kesahnya kak Darrel juga, masak Luna terus yang ngeluh? Kan gak baik," ujar Luna yang membuat Darrel tersenyum dan mengusap kepala gadis itu dengan pelan. Sebenarnya dia tak berharap Luna jadi seperti ini, jujur saja, dia lebih suka Luna yang ceria dan banyak bicara.
" Aku gak ada keluhan sama sekali. Selama aku jauh, aku Cuma mikir pada akhirnya aku bakal balik ke kamu. Itu kayak jadi motivasi aku buat semangat kerja, walau sering banget aku ngerasa bersalah karna ninggalin kamu di sini, aku gak bisa ajak kamu pergi – pergi," ujar Darrel sambil tertawa pelan, tawa yang terdengar hambar.
" Luna tadi cerita – cerita sama kak Keysha kak. Kata kak Keysha jadi istri bos itu gak enak. Kak Darrel gak bisa ngumpulin uang terus nanti berhenti kerja, kita usaha kecil – kecilan dan hidup sederhana yang penting kita banyak waktu berdua?" tanya Luna dengan polosnya, membuat Darrel terkaget dengan pikiran itu.
" Tapi kan Luna gak papa kak, daripada kak Darrel harus forsir tiap hari, kak Darrel masih muda, tapi wajahnya udah kayak orang tua gini," ujar Luna yang mengelus guratan halus yang ada di dekat pelipis mata lelaki itu. Tanda lelaki itu terlalu bekerja keras selama ini.
" Jadi kamu gak mau nih sama Om – om kayak aku? aku harus perawatan biar jadi mas – mas lagi gitu?" tanya Darrel yang sengaja menghindari topik tentang pekerjaannya. Dia sudah bertekad untuk bekerja keras agar bisa membahagiakan Luna tanpa bantuan dana dari orang tua Luna.
" Iya, tapi perawatannya gak sama mba – mba, nanti mba – mbanya ganjen," ujar Luna saat mengingat terakhir kali mereka pergi bersama ke tempat seperti itu, pekerja yang ada di tempat itu malah menggoda Darrel, membuat Luna menjadi geli dan memblack list tempat itu untuk ke depannya.
" Kalau sama mas – mas, terus mas – masnya juga godain aku gimana dong? Bukannya malah lebih seram?" tanya Darrel sambil bergidik geli, namun Luna menyetujui hal itu. Lebih baik daripada melihat Darrel digoda oleh wanita lain, baiklah, padahal Luna sendiri yang bilang dia tidak posesif terhadap lelaki ini.
" Aku di chat sama bang Jordan loh tadi, katanya kamu udah bisa masak ya? Emang bener?" tanya Darrel mengalihkan pembicaraan agar mereka tak sunyi. Luna langsung cerah dan tersenyum senang, gadis itu mengangguk lucu di hadpaan Darrel dan langsung menceritakan semua hal yang dia alami selama ini, Darrel dengan senang hati memasang telinganya untuk mendengar semua yang diceritakan gadis itu.
" kak, ke minimarket yuk, Luna pingin beli ketoprak, biasanya mangkal di sana soalnya gak boleh masuk ke sini," ujar Luna yang disetujui oleh Darrel, akhirnya mereka melanjutkan banyak obrolan untuk berjalan lebih jauh lagi, namun semua tak terasa karna memang mereka menikmati setiap tapak yang mereka lakukan.
" Pak, Ketoprak dua ya pak, pedesnya di tengah aja, gak usah pedas – pedas," ujar Luna yang diiyakan oleh penjual. Mereka duduk di kursi yang disediakan dan menunggu pesanan mereka disiapkan. Mereka menunggu sepuluh menit sebelum akhirnya dua piring ketoprak yang tampak enak diberikan pada mereka.
" Aaa," ujar Darrel yang mendekatkan sendoknya pada Luna, gadis itu dengan senang hati membuka mulutnya dan memakan lontong yang diberikan oleh Darrel kepadanya. Luna mengunyahnya dengan nikmat. Banyak mata yang melihat mereka dengan tatapan iri, melihat seorang pangeran bersama seorang puteri, keduanya menawan, siapa yang tak iri?
" Di luar negeri gak ada yang jual kayak gini kak, kak Darrel puas – puasin, tema kita bulan ini makan makanan Indonesia. Jadi kita bakal wisata kuliner ke seluruh negeri ini," ujar Luna dengan cukup langka, membuat banyak orang menatap Luna dengan kesal, mungkin mereka merasa terganggu denagn suara Luna yang cukup keras.
Namun tidak dengan Darrel, lelaki itu malah tertawa dan menyetujui apa yang diidekan oleh Lunaa tanpa mempermasalahkan orang – orang yang ada disana. Mereka bukan sedang berada di perpustakaan atau sedang melakukan rapat sehingga harus tenang. Bahkan mereka berada di ruangan terbuka, apa salahnya menjadi berisik?
Mereka menghabiskan makanan dan Darrel mengembalikan piring kotor mereka ke penjual. Darrel merogoh kantongnya untuk mencari dompetnya. Namun lelaki itu tidak bisa menemukan dompetnya. Luna mendekati Darrel dan menanyakan ada masalah apa.
" Kamu bawa dompet atau uang gak? Dompet aku masih di tas dan tasnya ada di rumah kamu. Kamu bawa uang gak buat bayar?" tanya Darrel dengan cukup panik, namun Luna langsung menggeleng. Dia tadi melempar tasnya sebelum menubruk ke arah Darrel saat lelaki itu datang, semua uang dan dompet bahkan ponselnya ada di tas itu.
" Bang, kalau kita balik ke rumah dulu boleh gak? Lupa gak bawa dompet," ujar Darrel pada penjual tersebut. Beberapa orang yang ada di sana bahkan tak segan langsung tertawa, menertawakan Darrel dan Luna karna mereka tidak bisa membayar ketoprak yang mereka beli.
" Wajahnya aja ganteng, cantik, tapi beli ketoprak ngutang. Paling juga mereka alasan aja terus gak balik lagi, modus banget. Gak sesuai sama wajahnya." Begitulah yang mereka katakan. Luna merasa tak terima dan hendak menghampiri mereka, Luna ingin mengingatkan mereka untuk menjaga mulutnya.
Bagaimana mungkin Luna tak bisa membayar dua porsi ketoprak di saat bahkan dia bisa membeli semua sumpah serapah yang diucapkan oleh orang – orang memuakkan itu? Hal itu sangan menyebalkan bagi Luna. Namun Darrel menahan Luna agar gadis itu tak anarki, Darrel punya cara lain untuk membalas mereka.
" Datang ke sini bawa tas uang saya, kamu punya waktu lima menit dari lokasi saya," ujar Darrel pada smart watch yang ada di tangannya. Untung dia ingat jika dia memiliki jam ini hingga dia tak harus berjalan lagi ke rumah Luna.
Tak sampai lima menit, dua orang berbadan tegap membawakan tas Darrel dan lelaki itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Tas yang berbeda dari milik Darrel yang biasanya. Luna sendiri hanya menunggu apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu.
" Ini pak saya bayar, kembaliannya buat bapak aja," ujar Darrel mengambil sejumlah uang yang sudah dijadikan satu dengan label 7 digit angka nol yang ada di sana. Luna langsung membuka mulutnya. Darrel bahkan bisa mendapat kembalian jika membayar satu lembar dari 100 lembar yang ada di sana.
" Kalian, bagikan uang ini untuk mereka. Kalau kurang, berikan cek kosong yang ada di sini untuk mereka, biar mereka isi dengan angka berapapun yang mereka mau. Saya rasa uang ini cukup untuk membeli mulut sampah mereka," ujar Darrel dengan lantang, membuat oranag – orang itu terdiam kaget.
" Yuk pulang," ujar Darrel merangkul Luna dan memberikan tas itu pada ajudannya. Luna melongo tak percaya, begitu pula banyak orang yang ada di sana. Luna tak menyangka Darrel akan melakukan hal seperti ini hanya demi membalas dendam.
" Kalau semua orang tahu, pasti semua orang langsung hina – hina kak Darrel, jadi orang kaya dadakan mereka," ujar Luna dengan polos, yang membuat Darrel terkekeh karna tingkah lugu gadis itu.
*
*
*
Note : Marahnya Sultan beda Gaes:v Darrel marah aja masih bagi bagi duit🤣🤣🤣 Yakin gak mau jadi selirnya Darrel? Hahaha.
Kalian team manapun, tetap ingat author punya tangan ajaib, semua bisa terjadi 🤣🤣🤣🤣