Hopeless

Hopeless
S2. - Bab 37



Luna bangun dari tidurnya dan meregangkan otot – ototnya yang sedikit kaku. Gadis itu menatap k arah tangan kanannya dan mencium cincin berhias berlian yang sangat cantik. Gadis itu tak menyangka kemarin dia akhirnya menerima lamaran Darrel dan sebentar lagi ia resmi menjadi nona Atmaja. Masalah dia harus kembali ke luar negeri, sepertinya itu akan ditunda.


" Selamat pagi calon nyonya Atmaja, Lo harus jadi cantik buat hari ini dan bikin kak Darrel gak menyesal udah pilih Lo sebagai calon istrinya. Ah, gimana coba rasanya jadi istri? Gimana rasanya hamil dan punya anak? Astaga, Cuma mikir aja udah bikin gue deg – deg an," ujar Luna memegang dadanya sendiri.


Gadis itu segera beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia memilih merendam tubuhnya di bathup berisi air hangat. Dia menyalakan lilin relaksasi yang akan membuat pikirannya relax. Gadis itu menghabiskan waktu hampir satu jam untuk berendam dan keluar dari kamar mandi menggunakan handuk kimono.


" Kenapa gue malah jadi bingung mau pakai baju apa ya? Biasanya gue biasa aja kalau mau pergi – pergi. Aduh, gue harus pakai baju mana?" tanya Luna yang membongkar isi lemarinya. Entah mengapa gadis itu merasa mulai saat ini dan seterusnya dia harus berubah agar Darrel bangga memilikinya. Padahal Darrel tak pernah mempermasalahkan hal itu.


Pilihan Luna akhirnya jatuh pada rok hitam selutut dan kaos putih berlengan pendek, gadis itu juga mengambil kardigan rompi berwarna coklat muda yang panjangnya sampai ke lututnya, gadis itu segera merapikan rambutnya yang lurus dan memoleskan liptint berwarna merah yang tak terlalu mencolok pada bibirnya. Gadis itu juga menggunakan Blush on tipis untuk pipinya.


" Sempurna, kak Darrel harus suka, kalau gak suka ya gue paksa buat suka deh," ujar Luna yang akhirnya merasa puas dan merapikan alat make upnya. Gadis itu mengambil tas berwarna putih yang santai dan mengisi tas tersebut engan dompet, power bank, liptint dan juga ponsel.


Gadis itu lantas berjalan ke arah lemari sepatu dan memilih sepatu yang dia pakai. Akhirnya dia menjatuhkan pilihannya pada sepatu berwarna cream yang santai namun juga sangat manis. Luna langsung mengecek ponselnya untuk mencari keberadaan Darrel. Lelaki itu ternyata sudah sampai di rumahnya dan menunggu di ruang bawah.


Luna langsung berjalan keluar kamar dan menutupnya, lalu berjalan ke arah lift yang akan membawanya turun ke lantai dasar. Gadis itu melihat ke arah cermin tanpa henti, memastikan penampilannya sudah sangat baik untuk bertemu dengan Darrel, padahal mereka hanya ingin pergi ke taman hiburan untuk melaksanakan janji Darrel agar lamarannya di terima oleh Luna.


Darrel duduk di sofa memainkan ponselnya. Lelaki itu hanya memakai celana jeans selutut, kaos berwarna hitam dan sneakers berwarna putih, sangat sederhana. Memang benar kata orang, jika sudah dasarnya tampan, mau bagaimanapun penampilannya akan tetap tampan. Buktinya Darrel meski tak memakai pakaian pun tetap tampan #eh.


" Ka.. kamu mau pergi kemana? Kita Cuma ke taman hiburan kan?" tanya Darrel saat Luna berdiri di hadapannya. Luna langsung menatap penampilannya saat melihat Darrel yang malah bingung menatapnya. Gadis itu langsung merasa takut penampilannya berlebihan dan Darrel malah merasa malu melihatnya. Gadis itu langsung kehilangan senyumnya.


" Norak ya dandanan Luna? Luna gak banyak dandan kok, Cuma skincare sama make up biasa. Gak menor kan? Bajunya juga biasa aja perasaan. Apa Luna harus ganti baju dulu?" tanya Gadis itu yang dijawab gelengan kepala oleh Darrel, lelaki itu mendesah dan berdecak tanpa melihat ke arah Luna.


" Ini kenapa cantik banget coba. Kalau digodain sama cowok – cowok yang ada di sana gimana? Kalau dia dia malah suka sama cogan dan cogannya suka sama dia gimana? Ah, tau gini gue bawa karung deh tadi," desis Darrel pelan, namun semua masih bisa didengar oleh Luna. Gadis itu bahkan sampai tertawa dan tak menyangka Darrel bisa seperti anak kecil.


" kita tuh bukan ABG menye – menye yang gampang baper sama orang lain kak. Lagian luna Cuma pakai cantai gini kok, ayo ah berangkat, keburu anak – anaknya pada pulang, besok sekolah," ujar Luna yang langsung menarik Darrel agar berdiri dari posisinya. Lelaki itu menurut saja ditarik tarik oleh Luna sampai masuk ke dalam mobilnya.


" Aku ragu mau bawa kamu ke sana. Ke tempat lain aja yuk yang Cuma berdua," ujar Darrel sebelum menyalakan mesin mobilnya. Luna menggelengkan kepala dan menunjukkan tangannya yang sudah terpasang cincin, membuat Darrel langsung menyalakan mesin mobilnya dengan semangat, Luna pun terkekeh melihat perubahan instan itu.


" Tombol buat buka atapnya dimana sih? Luna mau melihat sekitar karna seluruh kota merupakan tempat bermain yang asing asal sang gajah gak kena flu aja, nanti Luna malah pilek tiada henti – tentinya lagi," oceh Luna yang membuat Darrel langsung terkonek pada salah satu film animasi yang dulu sering dia tonton. Entah anak itu sudah bertumbuh dewasa atau masih menjadi anak TK sampai sekarang.


" Gak usah dibuka, polusi, ini kan juga Acnya nyala. Aturan mah kalau kita ada di daerah yang sejuk baru dibuka, kalau gini nanti rambut kamu bau solar. Mau?" tanya Darrel yang mencoba untuk menakut – nakuti Luna, gadis itu menggelengkan kepala, namun memencet semua tombol yang dia lihat.


" Astaga. Iya iya, ini nih, pencet yang ini. Kalau kamu pencet sembarangan nanti pintunya malah kebuka sendiri, malah dikira kamu mau akrobat loh," ujar Darrel yang akhirnya menyerah dan membiarkan Luna membuka atap sementara dia mematikan AC agar tidak boros. Luna tampak tersenyum melihat sekitar.


Mobil – mobil berhenti dan berjejer menunggu giliran berjalan. Motor yang bergeliat ke sana kemari mencari celah agar bisa terus maju ke depan. Asap bus metropolitan yang berwarna hitam pekat serta beberapa pengemudi tak sabaran yang terus memencet klakson padahal posisinya sedang macet parah seperti ini.


" Ah, panas, tutup aja deh," ujar Luna yang memencet kembali tombol yang sama, membuat atap kembali tertutup. Sebenarnya gadis itu hanya iseng dan ingin pamer pada orang – orang di sekitarnya, mereka pasti melihat kan? Siapa tahu ada yang mengabadikannya dengan video dan mobil Darrel masuk ke akun gosip mulut sisa.


Darrel tak menjawab, lelaki itu hanya menyalakan kembali AC dalam mobilnya sekaligus menyalakan filter agar asap yang terjebak di dalam dapat segera hilang dan tak menyebabkan penyakit untuk mereka berdua. Darrel kembali fokus pada stir mobilnya sementara Luna tetap sibuk dengan dunianya sendiri.


" Kak, kenapa gak pasang boneka anjing yang suka angguk – angguk sih kak? Kan lucu kalau dipsang di sini, bisa angguk – angguk gitu, atau yang emoji yang ada pernya, kalau jalannya gak rata dia bisa geter sendiri," ujar Luna sambil menunjuk bagian kosong di mobil itu, biasanya orang – orang meletakkan hiasan di situ.


" Aku gak suka. Yah, bagi orang lain emang bagus, tapi bagi aku kayak norak gitu, lagian itu kan di lem, kalau dilepas nanti lemnya susah hilang, kotor mobilnya. Masalah selera aja sih, tapi aku gak suka," ujar Darrel dengan santainya. Lelaki itu membelokkan mobilnya pelan untuk mencari jalan lain karna macet yang tak terurai ini.


" Ya udah besok Luna mau beli, terus dipasang di sini. Gak boleh dilepas biar gak kotor. Cerdan kan Luna? Kak Darrel gak boleh nolak," ujar Luna sambil menyengir lebar, gadis itu langsung mengambil ponselnya dan memesan barang tersebut. Darrel hendak membantah, namun melihat Luna begitu antusias, dia jadi tak tega.


Darrel memilih untuk mendiamkan Luna dan kembali fokus agar mereka bisa sampai ke tempat tujuan lebih cepat. Mereka memasuki parkir taman bermain itu dan Luna segera turun setelah mobil Darrel berhenti sempurna, mereka beriringan menuju loket untuk membeli tiket masuk.


Sejak mereka turun dari mobil, Luna tak henti tersenyum, membuat Darrel ikut merasakan aura positif dan kebahagiaan yang Luna pancarkan. Sepertinya gadis itu memang sangat suntuk dan bosan di rumah, diajak ke tempat ini pun sudah membuatnya bahagia. Gadis itu tak henti memandang wahana yang tampak dari luar.


Setelah mendapat tiket, mereka langsung masuk ke dalam dan Luna makin antusias karna tempat ini sudah ramai meskipun belum lama buka. Mereka tampak berjalan – jalan bersama keluarganya. Meski dia terlihat excited, Luna tak bisa melupakan misi utamanya untuk datang ke tempat ini. Dia segera mencari orang yang berpakaian badut.


Luna akhirnya menemukaannya setelah berputar – putar cukup lama, Luna langsung menyampaikan niatnya pada badut itu, namun badut berkostum khas itu tampak ragu dan tak mau mengambil resiko, apalagi dia bisa terkena sanksi dari pihak pengelola jika ketahuan melalaikan tugasnya.


" Kamu yang bakal tanggung jawab pak, kami bakal kasih fee juga ke bapak. Nah kalau nanti bapak di pecat, kami bakal kasih kompensasi dan janji bakal cariin bapak kerjaan lain, boleh ya pak? Boleh ya pak?" bujuk Luna yang masih tak dijawa oleh badut itu. Luna langsung mengerucutkan bibirnya dan menatap ke arah Darrel untuk mencari pertolongan.


" Pak, istri saya ini lagi hamil muda, saya juga sebenarnya gak mau, tapi saya kasihan sama anak saya yang ada di kandungan, saya juga gak mau nanti kalau lahir anak saya ileran. Boleh ya pak, bapak sebut aja harga sewa kostum ini, pasti saya bayar," ujar Darrel yang membuat orang itu ragu. Namun akhirnya orang itu mengalah dan melepas kepalanya ( kostum kepala gaes)


" Baiklah, ini. Saya jadi teringat sama istri saya di rumah yang lagi hamil anak ke lima. Yah, semoga aja anak kalian sehat sampai nanti lahiran ya, ini kalian pakai saja dulu," ujar orang itu yang membuat Darrel tersenyum sementara Luna langsung melongo mendengar perkataan orang itu.


" Udah gak papa, yang penting bapaknya mau kasih pinjam kostum ini. Kamu telpon orang yang aku suruh buat bawa balon gih, aku mau ganti dulu nih," ujar Darrel yang diangguki oleh Luna. Gadis itu menurut saja dan segera menelpon orang yang Darrel maksud. Orang itu datang bersama tukang balon yang tersenyum bahagia karna dagangannya diborong semua oleh Darrel.


Darrel mulai mmbagikan balon – balon itu ke setiap anak yang lewat. Tak cukup dengan anak kecil, bahkan lelaki itu juga memberikan pada pasangan yang lewat dengan balon hati yang lucu sambil mendoakan hubungan mereka akan langgeng. Luna yang melihat itu tentu tersenyum senang. Lelaki itu dipenuhi rasa cinta terhadap semua orang.


Luna melihat seorang anak yang berlari menghampiri Darrel dan minta untuk berfoto bersama. Setelah itu Darrel memberikan balon pada anak itu. Anak itu sangat senang dan berlari bersama balonnya, namun entah bagaimana, kaki anak kecil itu malah tersandung dan terjatuh. Balon yang dia pegang terbang ke angkasa.


Anak kecil itu menangis, Darrel sendiri dengan sigap menghampiri anak yang sudah diangkat oleh orang tuanya itu. Anak itu masih menangis sedih dan merasakan sakit, namun kedatangan Darrel membuat fokusnya teralihkan. Darrel berjongkok dan memeluk anak itu dengan penuh kasih sayang lalu berdiri lagi.


" Om badut bisa menari, adik kecil mau temenin om badut nari gak? Om badut gak bisa menari sendirian," ujar Darrel yang membuat anak kecil itu menghapus air matanya meski bibirnya masih terisak. Darrel tersenyum di balik kostumnya dan mulai menari meski sangat susah karna kostum ini cukup berat, terutama bagian kepala.


Gerakan Darrel yang ringan membuat anak kecil itu tanpa sadar mengikutinya. Mereka jadi mnari bersama walau tak ada musik yang mengiringi mereka. Anak keecil itu bahkan sampai tertawa karna Darrel menunjukkan gerakan – gerakan konyol dan hendak salto meski akhirnya gagal.


" Jangan menangis lagi ya anak manis, nanti manisnya hilang dimakan semut. Sini, om badut kasih balon lagi buat kamu," ujar Darrel menggandeng anak kcil itu untuk berjalan ke arah 'petugas' balon yang dia siapkan. Darrel menyerahkan dua balon sekaligus untuk gadis kecil itu.


" Om sebenarnya mau kasih semua buat kamu. Tapi nanti kamu malah terbang kayak balon tadi. Jadi om badut kasih dua aja ya." Anak itu menerima balon dari Darrel dengan senang dan mengucapkan terima kasih lalu berjalan ke arah orang tuanya dengan riang, kali ini tanpa terjatuh lagi.


Luna yang melihat semua itu tentu saja merasa senang dan sedekit terharu dengan sikap Darrel. Lelaki itu sangat kebapakan dan sangat menyukai anak kecil. Membuat Luna yakin dia akan menajdi ayah yang baik nantinya. Apalagi melihat gelagat Darrel yang berusaha menghibur anak tadi, tampak sekali lelaki itu tak tega melihat anak kecil menangis.


" Cie yang udah cocok jadi bapak, cie yang bahagia banget jadi badut padahal tadi nolak waktu disuruh," sindir Luna saat Darrel beristirahat dan duduk di sebelahnya. Darrel melepaskan kostum yang menutupi kepalanya dan menaruhnya di sebelahnya. Lelaki itu mengacak rambutnya yang basah oleh keringat, membuat ketampanannya bertambah beberapa tingkat.


" Aku mah ayo – ayo aja jadi bapak asal kamu udah siap jadi ibunya. Besok juga ayok lah," ujar Darrel yang balik menyerang Luna. Membuat gadis itu langsung tersipu dan menunduk seketika. Membuat Darrel langsung tertawa melihat Luna yang salah tingkah, gadis itu sangat imut jika sudah seperti ini.


" Aku tuh senang banget loh waktu lihat mereka bahagia waktu dapat balon gratis dari aku. Cuma satu hal aja yang bikin aku sedih dan bikin aku agak eneg," ujar Darrel menggantungkan kata – katanya.


" Kenapa memang?" tanya Luna yang juga penasaran. Darrel langsung mendekatkan rambutnya ke arah Luna dan meminta gadis itu untuk mencium aromanya.


" Kostumnya tengik Lun, rambut aku udah wangi jadi bau banget nih," ujar lelaki itu sambil merengut, membuat Luna tertawa ngakak karna lelaki itu tampak sangat kesal dan tersiksa.