Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 66



Radith dan Darrel sudah sampai di negeri kulit hitam itu. mereka menghirup udara segar dan segera menyingkir, takut jika ada mata – mata dari pihak musuh yang senantiasa mengintai mereka. Setelah masuk ke dalam mobil dan pergi menuju sebuah hotel yang sudah disiapkan oleh tuan Wilkinson, mereka diminta untuk menunggu di hotel itu.


Darrel dan Radith yang sedari tadi belum menyalakan ponsel langsung menyalakan ponsel mereka. Betapa kagetnya mereka setelah menerima banyaak notif dari ponsel mereka. Terutama Radith, lelaki itu mendpat banyak notif yang membuat wajahnya berubah. Lelaki itu langsung membaca satu persatu pesan yang masuk, lelaki itu kemudian menempelkan ponselnya ke telinga.


" Lo serius? Gimana bisa? Kenapa gak kabarin gue dari tadi? Ah iya, gue lagi flight tadi. Lo serius? Oke, Lo tunggu kabar dari gue," ujar Radith yang langsung mematikan sambungan telponnya. Lelaki itu manatap Darrel yang juga menatapnya. Darrel masih belum membaca pesan yang dia dapat karna tertarik dengan obrolan Radith.


" Luna diculik, dan kita gak ada petunjuk sama sekali tentang dia. Pengawal juga gak ada yang tahu dan nyadar kalau di hilang," ujar Radith yang membuat Darrel menegak, lelaki itu masih tak menjawab, namun dia segera mencari tasnya dan mencari sesuatu yang ada di tas itu, dia langsung berdecak kesal saat tak menemukan yang dia cari.


" Ipad gue ketinggalan di Indonesia. Kalau Luna pakai kalung yang gue kasih, kita bisa tahu dimana dia pakai Ipad itu. Gue coba telpon dulu deh," ujar Darrel cepat yang langsung menghubungi orangnya yang ada di Indonesia dan minta orang itu mengecek lokasi Luna dengan Ipad khusus miliknya.


" Pantesan perasaan gue gak enak, gue kira karna gue kangen sama dia. Lo dikasih tahu siapa dia diculik? Kan yang dikirim buat jaga dia semua orang gue," ujar Darrel yang membuat Radith berdecak, lelaki itu menatap Darrel dengan sinis.


" Orang yang Lo kirim gak beres berarti. Gimana ceritanya Luna malah jadi diculik? Lo gimana ngirim orangnya?" sentak lelaki itu yang membuat Darrel terdiam. Orang – orang yang dia kirim untuk Luna adalah yang terbaik, itu artinya mereka yang menculik Luna jauh lebih baik lagi, yang jelas bukan karna harta karna Luna tak hidup mewah di negara itu.


" Lo jawab dulu siapa yang kasih tahu Lo?" tanya Darrel dengan curiga. Dia melihat Radith yang terus memainkan ponselnya, sampai akhirnya Radith tak tahan karna Darrel terus mendesaknya. Radith menurunkan ponselnya dan terdiam, dia ragu untuk memberi tahu Darrel, namun rasanya percuma juga dia sembunyikan fakta ini.


" Gue tahu dari Lira," ujar Radith cepat, lelaki itu langsung fokus pada ponselnya lagi, tak mau menanggapi Darrel, namun Darrel masih tak puas karna dia tak tahu siapa itu Lira. Dari namanya dia seorang wanita, namun Darrel tak pernah tahu ada pengawal yang bernama Lira, Darrel mencoba mengingat siapa saja yang ada di sekeliling Luna.


" Atau jangan – jangan cwek yang jadi penerjemah Luna? Yang tinggal sama dia? Dia namanya Lira? Gue abru tahu namanya. Tapi, dia ada hubungan apa sama Lo?" tanya Darrel lagi, Radith memilih tak menanggapi Darrel dan langsung memejamkan matanya. Dia langsung 'tertidur' dan tak mendengar desakan Darrel.


" Pantas aja Lo tenang – tenang waktu tahu Luna eprgi, pantas aja Lo gak pernah tanya gue gimana kondisi Luna. Ternyata Lo punya orang dalam. Lo yang kirim dia buat jagain Luna? Wah, gue terlalu menganggap remeh Radithya David Putra Galeno," ujar Darrel menggelengkan kepalanya.


Darrel sengaja mengatakan hal itu karna dia tahu Radith masih mendengarnya, dia tak menyangka Radith sangat matang dalam melindungi Luna, lelaki itu sudah mempersiapkan banyak hal, bahkan sampai menyiapkan orang yang berperan sebagai penerjemah sekaligus pengawal pribadi Luna. Darrel kira Radith memilih lepas tangan dan membiarkan dirinya mengatai masalah ini sendiri.


" Mungkin memang Lo yang ditakdirkan buat jagain dia Dith. Gue bisa tenang kalau gue tahu Lo masih peduli sama Luna," ujar Darrel pelan dan tersenyum lelak iitu kembali fokus pada ponselnya dan menunggu kabar dari orangnya. Sampai akhirnya mereka sampai di hotel khusus yang disiapkan oleh Mr. Wilkinson.


Mereka turun dari mobil, tentu setelah Darrel membangunkan Radith yang tertidur, ternyata lelaki itu akhirnya benar- benar tertidur setelah Darrel terdiam. Mereka masuk melalui pintu utama dan masuk ke sebuah lift. Uniknya, lift itu malah berjalan turun satu lantai, bukan ke lantai atas. Ya, Mr. Wilkinson menyiapkan ruang bawah tanah untuk mereka.


" Gue suka heran sama orang – orang yang nyiapin markas di ruang bawah tanah," ujar Darrel tanpa sadar. Radith pun menanyakan alasan Darrel karna dia sendiri merasa umum dengan ruang rahasia yang ada di bawah tanah, lebih sulit untuk terdeteksi dan bisa jadi tempat persembunyian yang bagus.


" Lo coba abayangin kalau kita lagi ngumpet terus ada gempa bumi sampai lantainya kebelah. Kita gak bakal bisa apa – apa loh, mau keluar juga susah, mau diem ntar ketelan, harus gimana coba?" tanya Darrel yang juga membuat Radith berpikir, dia tak berpikir sejauh itu, dia hanya tahu jika ruang bawah tanah aman untuk bersembunyi.


" Oke lah, kalau gempa bumi mungkin kejauhan karna gak semua tempat berpotensi gempa. Coba Lo bayangin aja kita lagi dikejar, terus kita ngumpet di ruang bawah tanah. Bukankah Kita malah menjebak diri sendiri? Kita gak akan bisa kemana - mana kan?" tanya Darrel lagi.


" Benar juga, gue setuju sama Lo, tapi untuk maslaah ini, gue yakin Tuan Wilkinson tuh gak ceroboh. Mungkin aja dia udah bikin jalan rahasia biar kita bisa keluar gitu kan? Gak penting juga dibahas, orang kita Cuma sementara di sini," ujar Radith yang diangguki oleh Darrel. Mereka duduk di sofa yang ada di ruang bawah tanah itu.


" Maksud Lo cewek yang bakal Lo nikahin itu Lira? Lo kirim pacar Lo sendiri buat jagain Luna? Kalau pacar Lo yang kenapa – napa gimana?" tanya Darrel yang membuat Radith mengangkat tangannya, lelaki itu meminta Darrel untuk segera diam.


" Lo gak usah ngomong hal yang gak perlu dulu, sekarang Luna ada dimana? Lo itu tunangannya, kenapa Lo malah santai gitu sih? Jangan – jangan Lo dalangnya?" tuduh Radith yang membuat Darrel secara reflek menjitak kepala lelaki itu. Radith langsung memegang kepalanya yang sedikit pusing karna Darrel memukulnya cukup keras.


" teori macam apa itu? gue bukannya tenang, gue juga penasaran kenapa Lo kenal sama Lira dan kalau emang ida pacar Lo, kenapa Lo tega kirim dia ke zona bahaya? Kan aneh," ujar Darrel yang membuat Radith menutup mulut lelaki itu, entah apa yang Luna suka dari Darrel, lelaki itu sungguh brisik untuk hal yang tak perlu.


" Luna dimana sekarang?" tanya Radith yang membuat Darrel teringat, lelaki itu langsung mengambil ponselnya, namun saat tak mendapat kabar, lelaki itu langsung menelpon orang yang dia minta. Orang itu menjawab, namun ternyata dia tak bisa menemukan Ipad Darrel karna memang lelaki itu menyimpan di kamarnya.


" Asli, Lo ceroboh banget. Kalau tuh orang udah hancurin pintu itu sendiri dan dia tewas karna bom yang Lo pasang, Lo benar – benar ya," ujar Radith yang membuat Darrl meringis, dia juga lupa sudah memasang keamanan sampai seperti itu di kamarnya, dia memang tak suka ada orang yang masuk ke dalam kamarnya sembarangnya.


" Nah, udah ada suara ledakan," ujar Darrel pelan, lelaki itu tak mematikan panggilan pada orang di seberang sana untuk memastikan orang itu masih selamat dari jebakan yang dia pasang. Lelaki itu menyahut, membuat Darrel melega karna orang itu baik – baik saja.


" Lo buruan masuk, terus Lo lihat di dekat kasur gue ada nakas, itu loh meja kecil. Nah itu kan ada kolongnya. Lo masuk ke kolong terus ada tuh tombol. Nah Lo pencet, tapi hati – hati ntar muka Lo yang ketimpuk sama tutupnya. Lo tutup atau halangin pakai tangan."


Orang itu mengikuti apa yang Darrel Instruksikan.dan Darrel tertawa karna lelaki itu mengaduh setelah ada suara benda berbenturan, lelaki itu pasti tak mengikuti instruksi yang dia berikan. Dia saja selalu memakai kaki untuk membuka lemari itu agar tak mengenai wajah tampannya. Orang itu mengatakan bisa menemukan Ipad yang dimaksud oleh Darrel.


" Lo nyalakan tombol powernya, terus Lo jalan ke lemari, di sana ada foto wajah gue, cari yang wajahnya datar, itu buat buka kunci Ipadnya, nah setelah Lo buka, di Ipad itu Cuma ada satu aplikasi, tinggal buka aja," ujar Darrel yang kembali memasang wajah serius. Orang itu mengikuti Intruksi yag diberikan oleh Darrel.


" Lo kenapa simpan Ipad itu sampai sebegitunya sih? Itu bakal bikin ribet di saat genting kayak gini. Buat apa Lo bikin keamanan kalau bakal rivuet gitu?" tanya Radith yang sedari tadi hanya mendengar, lelaki itu ikut merasa greget dengan apa yang dilakukan oleh Darrel.


" Karna gue takut kalau gampang diambil, gue bakal nyusul Luna. Gue bikin ribet biar gue gak gampang atau malas buat buka – bukanya. Gue kan juga gak pernah nyangka kalau kejadiannya bakal kayak gini," ujar Darrel yang merasa bersalah, dia kembali fokus dengan suara yang ada di seberang sana.


" Saya sudah menemukan dimana Nona Lunetta berada, Nona Lunetta ada di titik 2.805742, 45.158845 tuan," ujar orang itu yang membuat Darrel menganga, jika dia sedang mengirim pesan, mungkin Darrel akan mengerti, namun mereka sedang berbincang melalui telpon, Darrel bahkan tak mendengar dengan jelas apa yang lelaki itu katakan.


" Lo gak sayang sama nyawa Lo sendiri? Lo gak mau berumur panjang atau gimana?" tanya Darrel yang membuat lelaki itu berdehem. Sebentar tuan, saya akan cek dimana itu karna di gps ini hanya menunjukkan letak tersebut," ujar orang itu yang membuat Darrel menghela napas. Harusnya dia meminta sistem yang lebih mudah saat membuat alat pelacak itu.


" Ada di sebuah hutan di negara Somalia tuan, itu ada di daerah Afrika Timur," ujar orang itu yang membuat Darrel menatap Radith dengan kaget. Radith yang tak bisa mendengar apa yang dikatakan orang itu tentu meminta jawaban pada Darrel, namun Darrel hanya memandang Radith dalam diam.


Radith merebut ponsel yang dipegang oleh Darrel, lelaki itu meminta orang suruhan Darrel mengulangi posisi Luna, orang itu kembali menyebutkan hal yang sama, memebuat Radith tanpa sadar mengumpat. Sepetinya ini adalah puncak dari masalah yang harus mereka hadapi. Mereka kecolongan, ternyata orang – orang itu juga mengincar Luna.


" Kita harus segera ke sana. Gue yakin orang itu orang yang kita cari, mereka udah nangkap Luna, nyawa Luna dalam bahaya," ujar Radith yang membuat Darrel mengangguk, dia terlalu sibuk memikirkan keselamatan Luna, dia sampai linglung dan bingung, membuat Radith yang juga tegang langsung memegang pundak lelaki itu.


" Bukan Luna yang mereka mau, mereka Cuma jadikan Luna sebagai sandera, mereka pasti mau sesuatu dari Tuan Wilkinson, Lo tenang, selama tuan Wilkinson belum ke sana, nyawa Luna masih aman," ujar Radith dengan suara yang tegas. Darrel menghembuskan napasnya berkali – kali dan mengangguk, percaya dengan apa yang disampaikan oleh Radith.


Mereka segera keluar dari persembunyian itu dan menaiki helicopter untuk sampai ke negara itu. Darrel juga sudah meminta lokasi akurat dimana Luna berada. Mungkin orang itu tak tahu jika kalung yang Luna gunakan sebenarnya sebuah GPS (bahkan Luna pun tidak mengetahuinya). Mereka berharap orang – orang itu tak sadar sampai mereka menemukan orang - orang itu.


" Gue udah kasih kabar ke Tuan Wilkinson, dia udah kirim semua orang buat datang ke sini. Tapi kita gak bisa naik helicopter sampai ke sana, takut mereka punya peneteksi sinyal. Kita turun terus naik mobil, habis itu kita harus jalan atau kita nunggu tuan Wilkinson datang."


" Gue gak bisa nunggu lagi. Gue gak tahu apa yang bakal mereka lakuin ke Luna, gue gak akan ambil resiko buat itu. gu bakal datang ke sana dulu buat pastikan Luna baik – baik aja," ujar Darrel yang masih tak bisa menunjukkan wajah yang santai. Radith tahu jawaban itu akan keluar dari mulut Darrel.


" Oke, kita bakal ke sana duluan, tapi gue minta Lo jangan gegabah, sekali kita salah langkah, nyawa Luna gak akan bisa diselamatkan. Bentar, Lo minggir dulu kak," ujar Radith yang membuat Darrel menyingkir. Lelaki itu menurunkan kursi yang ada di mobil itu.


Rupanya Radith menyimpan berbagai senjata api yang sangat canggih dan tak nampak seperti senjata. Pistol pistol itu disimpan di sebuah lipstick, laser dan juga sebuah gantungan kunci yang lucu. Radith memang menyiapkan benda – benda seperti ini karna dia tahu suatu saat akan dibutuhkan.


" Lo gak usah terlalu tegang. Kalau Lo atau gue tegang, kita gak akan dapat apa – apa. Pokoknya kita datang Cuma buat cek situasi, kalaupun kita tertangkap, kita harus ulur waktu selama mungkin sampai tuan Wilkinson punya cara aman buat selametin kita semua," ujar Radith yang diangguki oleh Darrel.


Darrel diam karna dia mmeikirkan banyak hal, termasuk menahan rasa sakit yang mulai muncul. Dia tak bisa tumbang sekarang, dia harus memastikan gadisnya dalam keadaan yang baik, tak peduli bagaimana kondisinya dan apa yang akan terjadi padanya.


" Luna, aku mohon, aku mohon kamu baik – baik aja. Jadi anak baik, jangan bikin mereka marah, aku mohon," ujar Darrel pelan, dia berharap pesannya tersebut akan menjadi telepati untuk Luna dan gadis itu mengikuti keinginannya.