
Waktu berjalan cepat, tanpa terasa tiga bulan mereka bersama dan selama tiga bulan itu Luna sudah belajar banyak hal. Gadis itu belajar cara memasak, mengurus suaminya dan juga hal lain yang Darrel ajarkan dengan cara yang menyenangkan. Membuat pandangan Luna tentang pernikahan yang menyeramkan langsung hilang seketika. Atau mungkin karna Luna yang terlalu beruntung karna Darrel tak pernah menuntutnya sedikitpun?
Saat ini Luna sedang berada di dapur. Wanita itu membuat roti tawar dengan selai coklat serta keju mozarella lalu memasukkan roti itu ke dalam panggangan. Luna berdiri dan melihat agar roti itu tidak hangus, namun tiba – tiba saja Darrel datang dan memeluknya dari belakang. Lelaki itu datang dan langsung meletakkan kepalanya ke pundak Luna.
" Kak Darrel belum mandi ya? Kok bau nya gak enak banget sih? Sana ah mandi dulu," ujar Luna dengan galak dan menyikut perut Darrel. Lelaki itu memekik karna Luna menyerangnya tiba – tiba dan dia tak bisa menghindar.
" Kenapa hari ini galak banget sih?" tanya Darrel dengan nada bercanda, namun Luna tak menganggap hal itu sebagai candaan, Luna malah menatap Darrel dengan mata yang berkaca – kaca, Darrel langsung bingung dan mendekat, namun Luna menutup hidungnya dan melarangnya untuk mendekati Luna. Darrel tentu makin bingung dengan sikap itu.
" Iya aku bau, aku mndi lagi deh. Habis itu boleh loh dipeluk," ujar Darrel yang langsung pergi dari hadapan Luna. Luna menganggukan kepalanya dan kembali fokus pada roti yang ada di dalam panggangan. Wanita itu mengeluarkan dengan hati – hati dan menatap hasil karyanya, namun kembali merengut.
" Jelek, coklatnya gak rata," ujar Luna yang menyingkirkan roti itu dan mengambil beberapa helai roti yang baru. Gadis itu mengulang dari awal dan kembali memasukkannya ke dalam pemanggang. Begitu sampai dia merasa bosan dan menginggalkan semua hasil karyanya di meja. Wanita itu berjalan ke arah sofa dan duduk di sana.
Sementara itu Darrel yang sudah selesai mandi (lagi) sekaligus memakai parfume dengan jumlah yang banyak, pria itu langsung menghampiri Luna dan duduk di samping wanita itu, namun Luna malah menghindar dan menjauhi Darrel, lelaki itu tentu saja merasa bingung dengan sikap Luna yang tiba – tiba, padahal tadi malam Luna masih baik – baik saja dan bahkan sangat manja padanya.
" Kamu kenapa? Aku ada salah? Kenapa diam begitu?" tanya Darrel yang malah membuat Luna menangis. Wanita itu langsung terisak dan mendorong Darrel yang mencoba mendekat padanya. Wanita itu langsung masuk ke dalam kamar tamu dan menguncinya dari dalam, Darrel sendiri mencoba mengejar, namun Luna sudah menutup pintu itu terlebih dahulu.
Darrel tak tahu apa yang Luna lakukan di dalam kamar, dia juga tidak pengalaman dengan masalah seperti ini, satu – satunya hal yang bisa dia lakukan hanya menunggu Luna sambil menelpon Jordan, siapa tahu pria itu memiliki pengalaman dan bisa memberinya saran.
" Lo 'main' sama dia tiap hari?" tanya Jordan saat Darrel selesai menceritakan hal itu.
" Gak tiap hari juga sih, capek juga kalau tiap hari," ujar Darrel yang membuat Jordan berdecak. Bagaimana bisa lelaki seperti Darrel menjadi suami?
" Maksudnya, selama sekitar 3 bulan ini Lo nikah, Lo gak pernah berhenti satu minggu gitu?" tanya Jordan yang dibenarkan oleh Darrel. Jordan langsung paham apa yang terjadi pada Luna, bagaimana bisa Darrel tak menyadari hal seperti itu? Harusnya lelaki itu banyak belajar setelah menikah dan bukan hanya meminta Luna yang melakukannya.
" Lo mending bawa Luna ke dokter deh sekarang," ujar Jordan yang kembali membuat Darrel bingung sekaligus panik dalam waktu yang bersamaan.
" Dokter? Dokter apa? Emang Luna sakit?" tanya Darrel yang membuat Jordan gemas.
" Dokter gigi! Ya dokter kandungan lah!" seru Jordan dengan keras sampai membuat Darrel menjauhkan ponselnya dan kemudian Darrel terdiam. Dokter kandungan? Apakah itu artinya Luna?
" Maksud Lo? Luna hamil?" tanya Darrel dengan kaget sekaligus takjub.
" Ya gue gak tahu, gue bukan dukun. Makanya Lo bawa dia dan biar dokter yang periksa. Udah ah, gue sibuk, gitu aja pakai tanya ke gue Lo," ujar Jordan yang langsung mematikan sambungan secara sepihak.
Darrel langsung sedikit berlari ke arah laci dan menemukan kunci cadangan. Memang selain kamar mereka berdua, semua kamar di rumah ini hanya seperti kamar pad aumumnya dan menggunakan kunci yang biasa pula. Lelaki itu segera mengambil kunci serep dan membuka pintu kamar tamu itu. Darrel menengok pelan dan memastikan Luna baik – baik saja, namun apa yang dia lihat sungguh tak biasa.
" Luna! Kenapa loncat – loncat di kasur gitu? Nanti kamu jatuh astaga!" seru Darrel yang langsung berlari ke dalam kamar dan memegang Luna agar istrinya tidak terjatuh. Benar saja, tepat setelah Darrel sampai, Luna tergelincir bantal dan terjatuh di pelukan lelaki itu. Luna tertawa saat Darrel menangkapnya.
" Hahaha, tangkapan bagus. Suami Luna menangkap ikan besar!" seru Luna dengan gembira dan mencium singkat Darrel. Luna yang snagat agresif makin membuat Darrel bingung. Namun lelaki itu juga penasaran. Dia melihat perut Luna dan seidkit merabanya, namun Luna segera menepis tangan itu.
" Kamu belakangan ngerasa mual atau pingin makan yang asam – asam gak?" tanya Darrel yang membuat Luna mengerutkan keningnya. Wanita itu langsung menggeleng dan kembali tertawa dan kini mengalungkan tangannya ke leher Darrel, meminta lelaki itu untuk menggendongnya. Darrel pun tertawa dan mengangguk menurut.
Lelaki itu segera menggendong Luna untuk keluar dari dalam kamar dan mengambil kunci mobilnya. Luna yang tahu Darrel membawanya keluar rumah tentu menjadi bingung. Lelaki itu sedang tak memiliki jadwal yang padat karna Jordan yang baik hati mau menggantikan tugasnya selama empat bulan.
" Kita mau kemana?" tanya Luna tanpa ingin melepaskan rangkulan pada lehr Darrel. Lelaki itu pun memberi isyarat Luna untuk diam.
Luna dan Darrel akhirnya sampai di sebuah rumah sakit khusus Ibu dan anak yang paling dekat dengan rumah mereka. Mereka segera turun dengan Luna yang masih berusaha untuk bertanya, namun Darrel masih memintanya untuk diam. Lelaki itu langsung membawa Luna masuk dan mendaftar sampai akhirnya namanya dipanggil.
" Ibu, kapan terakhir kali ibu datang bulan?" tanya dokter itu setelah selesai memerika Luna. Wanita itu memicingkan matanya, mencoba untuk mengingat kapan terakhir kali dia kedatangan tamu. Namun wanita itu tak sungguh bisa mengingatnya.
" Udah lama sih dok, Saya lupa, saya kira itu wajar. Itu gak wajar ya?" tanya Luna dengan polos, membuat dokter itu jadi bingung bahkan sampai melihat ke arah Darrel yang juga menggaruk kepalanya. Lelaki itu juga tak tahu harus melakukan apa.
" Tapi saya gak mual sama sekali kok Dok, saya kira saya tambah buncit karna sering makan," ujar Luna yang membuat dokter itu kembali mendongak dan mengangguk serta tersenyum, lalu kembali menuliskan resep untuk ditebus.
" Berarti calon anak Kalian pintar, tidak ingin membuat Ibunya dalam kesulitan, karna tidak mual, saya hanya akan mmeberi Ibu vitamin untuk diminum. Ibu bisa mengurangi dosis obat lain jika Ibu mengkonsumsi obat karna itu juga tidak baik untuk perkembangan janin. Setelah ini jika Ibu dan Bapak ingin melihat perkembangan anak kalian, kalian bisa melakukan USG."
" Terima kasih banyak dokter," ujar Luna yang tersenyum lebar. Darrel pun ikut tersenyum, namun dia juga bingung dengan situasi ini, tentu saja dias enang, namun dia sampai tak bisa mengekpresikan kebahagiaannya.
" Maaf jika saya lancang, tapi mengapa reaksi kalian biasa saja? Seakan kalian tidak menunggu calon kedatangan anak ini, atau.."
" Enggak kok dok, kami menikah resmi, Cuma saya juga bingung harus berekpresi bagaimana, saya bahagia dan takut di waktu yang sama," ujar Luna yang membuat dokter tersebut mengangguk paham.
" Hal itu wajar jika kalian menantikan anak pertama. Setelah ini kalian bisa lakukan USG dan menyimpan hasil fotonya agar kalian bisa mengenang masa pertumbuhan bayi kalian," ujar dokter yang diangguki oleh Luna. Darrel tersenyum dan kini lelaki itu menggenggam tangan Luna cukup erat, mengekspresikan rasa bahagia yang dia miliki saat ini.
Mereka keluar dari ruang itu dan segera melakukan proses untuk USG. Setelah menunggu, mereka akhirnya dipersilakan masuk. Luna diminta untuk tidur dan dokter mulai menoleskan cairan kental ke perut Luna dan menempelkan sebuah alat ke perut itu. Luna dan Darrel sama - sama mengamati layar yang ada di hadapan mereka.
" Dokter, itu janinnya?" tanya Luna menunjuk ke arah layar. Dokter itu mengangguk dan tersenyum.
" Yang berdetak cepat itu adalah anak Ibu dan bapak, memang dalam usia ini, jantung janin akan bertedak lebih cepat," ujar dokter itu yang membuat Luna mengangguk, namun gadis itu kembali terdiam dan melihat lagi.
" Tapi dok, kenapa ada di sini, di sini sama di sini?" tanya Luna yang kembali dibuat penasaran. Darrel pun juga penasaran, namun dia tak bisa berkata – kata karna kagum dengan layar yang ada di hadapannya. Anaknya sangat kecil, namun entah mengapa Darrel merasa sangat hangat melihat detak jantung anaknya.
" Iya, seperti yang Ibu dan bapak lihat. Di rahim ibu terdapat tiga denyut jantung yang berdetak," ujar dokter itu yang membuat Darrel mengalihkan pandangannya ke arah dokter.
" Maksud Dokter? Istri saya hamil anak kembar? Anak kembar 3?" tanya Darrel yang masih tak percaya, namun dokter itu mengangguk, membuat Darrel tak bisa lagi menahan kebahagiaanya dan segera memeluk Luna saat itu.
" Anak kita kembar. Anak kita kembar 3. Terima kasih, terima kasih kamu udah kasih banyak kebahagiaan buat aku, terima kasih kamu udah kasih aku anak sekali langsung tiga. Aku janji bakal jaga kamu dan anak kita sampai anak ini lahir, sampai anak ini dewasa dan bahkan sampai kita gak bisa apa – pa lagi di hari tua. Aku sayang sama kamu."
Darrel langsung mencium dahi Luna lama. Luna bahkan bisa merasakan dahinya ditetesi oleh air hangat. Luna tahu Darrel sampai bahagia dan bahkan menangis. Wanita itu juga menangis bahagia saat ini. dia menatap perutnya yang memiliki sedikit tonjolan.
" Sayang, kalian dengar mama kan? Mama bakal jaga dan sayangi kalian dengan segenap hidup Mama. Mama janji sama kalian," ujar Luna pada perutnya.
Luna tahu, banyak hal sudah terjadi, semua menyebabkan air mata dan luka dalam hidupnya. Namun dia tahu, dibalik luka yang dia terima, Tuhan sudah menyiapkan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Tuhan hanya meminta Luna untuk bersabar dan menghadapi semua dengan percaya. Kini Luna menikmati buah dari semua air mata yang dia keluarkan.
" Bahkan sejak dulu, hidup Luna selalu tanpa harapan, tak pernah sesuai dengan yang Luna mau. Tapi sekarang, Luna mau ubah semua itu, Luna mau ubah dari yang tak memiliki harapan menjadi penuh harapan. Ke depannya, hidup Luna akan penuh kebahagiaan, bersama kak Darrel dan tiga calon anak kita."
" Terima kasih, Terima kasih sudah mengisi lembar kisahku di masa lalu. Sekarang, di hadapan kita akan ada lembar kisah yang baru, yang akan kita tulis bersama mulai detik ini sampai seterusnya. I Love You My Sweetheart Lunetta Azura Wilkinson."
" Ya, Let's write our Journey together. I Love You Too My Lovely Husband, Giovan Darrel Atmaja."
Luna tahu, ini bukanlah akhir, tapi ini adalah langkah awal menuju keluarga yang bahagia. From Hopeless to Happiness.
Luna berdoa semua yang mengalami kekecewaan, semua orang yang merasa hidup selalu tak adil akan percaya Bahagia akan datang pada waktunya setelah membaca kisahnya ini.
" Percayalah, ada saatnya badai mereda dan pelangi akan menyapa. Tetap percaya dan berusaha. Jangan lupa bahagia💞."
~ T.A.M.A.T~
Sampai Jumpa di series berikutnya.