Hopeless

Hopeless
Mulai Luluh



Kinan benar-benar sakit hati, kecewa, dan entah apa lagi namanya. Bagaimana bisa Novi begitu tega kepadanya. Selama ini selalu bersikap baik dan manis di depannya. Kinan sungguh tidak menyangka jika Novi menjadi mata-mata untuk orang tua Beni.


Ponselnya berdering, panggilan dari Beni. Kinan menjawabnya dengan segera untuk mendengar apa lagi yang mau disampaikan pria itu.


"Apa lagi?" Kinan bertanya dengan nada ketus. Sebisa mungkin pria itu selalu membela dirinya. Tapi mau kemana lagi Kinan melampiaskan kemarahannya jika bukan pada pria itu. Jika ditelusuri, semuanya bermula dari kebohongan yang diciptakan pria itu. Kesimpulannya, kesalahan memang ada pada Beni.


"Abang tidak bisa terima semua ini. Abang tidak sanggup, Kinan. Tapi jika Abang tidak bisa memohon lagi, ya sudah, Abang meminta maaf atas semua kesalahan Abang, yang disengaja atau tidak. Abang juga meminta maaf atas nama Ibu, Bapak Abang. Semoga Kinan bahagia." Beni memutuskan sambungan telepon setelah mengucapkan kata-kata yang terdengar seperti kata perpisahan. Suara Beni terdengar serak seperti sedang menangis.


Kinan merasa terusik, tapi enggan untuk menghubungi kembali. Mencoba meyakinkan diri bahwa Beni juga sudah menerima bahwa hubungan mereka memang tidak ada ujungnya. Baguslah jika Beni mulai mengerti, pikirnya. Seperti ada yang hilang dari hatinya, tapi Kinan yakin semuanya akan membaik, luka akan sembuh dengan seiring berjalannya waktu.


Di waktu yang sama di lain tempat, Beni sedang berusaha membujuk orang tuanya untuk memberi restu. Menyesalkan perbuatan orang tuanya juga Novi, tapi Beni tidak mengungkit hal itu. Ia hanya memohon kelapangan hati orang tuanya untuk menerima Kinan. Kinan adalah wanita terbaik menurutnya, wanita yang akan mengerti dirinya dan wanita yang selalu bisa menenangkannya.


"Ibu, Bapak, Beni sudah dewasa, tidak bisakah kalian mengerti dan menerima keputusanku?"


Ibu, Bapaknya hanya diam. Desas desus tentang Beni yang mulai kacau di luar sana mulai terdengar di telinga mereka. Beni yang saat ini di hadapan mereka juga berbau alkohol yang sangat menyengat.


"Kinan wanita yang baik, Ibu. Kinan selalu mendengarkan apa pun ceritaku. Selalu mampu membuat aku tenang. Kinan gadis sederhana yang tidak banyak neko-neko."


"Kau hanya dibutakan oleh cinta sesaat, Beni!"


Narkoba yang sudah masuk ke tubuhnya membuat Beni sangat mudah terpancing emosi.


"Akan kutunjukkan kepada semuanya, apa itu cinta buta. Baiklah, semoga tidak ada penyesalan." Beni beranjak dari tempatnya, segera mengambil motor dan meninggalkan rumah dengan amarah.


Otak Beni yang sudah tidak waras menganggap bahwa hanya dia satu-satunya di dunia ini yang mempunyai masalah. Baginya, semua manusia terlihat egois. Ia menyalahkan semuanya. Pun ia melajukan motor dengan kecepatan tinggi ke rumah Jefri. Jefri tidak ada di sana. Padahal ia butuh asupan yang bisa menenangkan dirinya. Pun ia pergi ke tempat temannya yang lain. Temannya tersebut juga tidak memiliki stok barang.


Tidak mendapatkan apa yang ia butuhkan, Beni pergi membawa motornya berkeliling tidak jelas.


Hari sudah semakin larut dan Beni masih tidak ada tujuan. Ia menggila di tengah jalan. Uji nyali dengan beradu kecepatan dengan angin. Dan kecelakaan pun tidak terhindar. Beni menabrak patung tugu pahlawan di tengah kota. Motor hancur dan ajaibnya Beni tidak pingsan sama sekali. Hanya saja ia merasakan kaki sebelah kirinya patah.


"Aarghhh..." Kinan yang sedang menonton drama korea bersama Vita tiba-tiba menjerit.


"Apaan sih, Kak?"


"Kamu dengar benturan, tidak?"


"Benturan apa?" Vita mengernyit bingung. Ia tidak mendengar apa-apa sama sekali.


Kinan melirik ponselnya. Haruskah ia menghubungi pria itu? Kinan menggeleng. Menghubungi Beni sama saja memberi celah pada pria itu untuk membujuknya lagi. Kinan berusaha membuang jauh-jauh pikirannya tentang sesuatu yang buruk menimpa Beni.


Setengah jam kemudian, ponselnya berdering dari nomor tidak dikenal. Kinan mengabaikannya. Berulang kali panggilan tersebut masuk, masih saja Kinan mengabaikannya. Hingga 15 menit kemudian, rumahnya diketok seseorang. Kinan dan Vita saling beradu pandang, melihat jam dinding yang sudah menunjuk hampir ke angka 12 malam.


"Siapa?" Seru Kinan sambil beranjak dari tempatnya untuk membuka pintu. Tidak ada sahutan dari luar, tapi Kinan tetap membukanya. Betapa terkejutnya ia melihat kedua orang tua Beni yang berdiri di depan pintu rumahnya.


"Om, Tante?" firasatnya mulai berbisik bahwa memang terjadi sesuatu yang buruk dengan Beni.


"Beni mengalami kecelakaan dan tidak bersedia masuk ruangan untuk diperiksa sebelum kamu datang." Ucap Ibu Rosa tanpa basa basi.


Ya, Beni memang menggila dan histeris di rumah sakit. Memaki siapa pun yang hendak menyentuhnya. Dahinya sudah bercucuran darah begitu pun dengan beberapa bagian tubuh lainnya. Beni tidak bisa menggerakkan salah satu kakinya, tapi tetap ia tidak membutuhkan bantuan para dokter di sana. Ia berteriak memanggil nama Kinan, seolah Kinan adalah obat di atas obat. Ia hanya akan mau diperiksa jika Kinan ada di sana. (Sinting emang ya, lama-lama saya pun emosi menulis karakter si Beni ini).


"Sa-sayang." Beni mengulurkan tangan begitu melihat Kinan. Ia tersenyum tapi matanya mengeluarkan tangisan. Lagi, Kinan merasakan hatinya serasa dicubit. Mengapa Beni sampai segila ini. Dia menjadi serba salah. Di satu sisi, siapa yang tidak bangga dicintai begitu gila oleh seorang pria yang kita cintai. Tapi di sisi lain, Beni terlihat menakutkan.


"Ka-kamu kenapa?" Kinan menyambut tangan Beni dan menggenggamnya dengan kuat.


"Kaki Abang sepertinya patah."


"Biarkan dokter memeriksanya dulu." Tangan Kinan terulur gemetar mengusap kening Beni yang terluka.


"Ya, tapi kamu harus tetap di sini. Jangan kemana-mana."


Sepanjang dokter membersihkan dan juga menjahit luka Beni, pria itu hanya memandang wajah Kinan, dan tidak melepaskan genggaman tangan mereka sama sekali.


"Sayang, sudah makan?" Sempat-sempatnya di keadaan kritis seperti ini Beni menanyakan kesejahteraan perut Kinan.


"Sudah. Sakit, tidak?"


"Hmm, tapi tidak apa-apa selagi Sayang ada di sini." Beni dengan kegilaannya.


Beni harus mendapat perawatan, juga operasi pemasangan pen di kaki. Selama di rumah sakit, Kinan selalu berada di sampingnya, menemaninya. Mengurus makan juga obatnya.


Melihat kepedulian Kinan pada putra mereka, Ibu Rosa dan Pak Untung mulai luluh. Mereka menyaksikan seperti apa Kinan memperlakukan Beni dan mereka juga melihat cara putra mereka menatap Kinan. Mereka pun akhirnya memutuskan tidak akan ikut campur dengan hubungan keduanya. Biarlah keduanya yang mengambil keputusan. Seperti yang dikatakan Beni, ia sudah dewasa, biarkan Beni yang menentukan jalan hidupnya.